Share

Bab 8

Author: Meong
Ziva pergi sendiri ke pusat visa dan menyelesaikan semua urusannya.

Setelah itu, dia tidak kembali ke rumah sakit. Dia mulai mengurus beberapa hal terakhir sebelum pergi.

Selama itu, orang-orang dari pihak Felix terus meneleponnya satu per satu.

Pembantu rumah tangga menelepon dan dengan hati-hati memberi isyarat bahwa tuan tidak terbiasa dengan makanan rumah sakit. Dia bertanya apakah Ziva bisa memasak sesuatu untuk diantarkan kepadanya. Ziva menolaknya dengan sopan dan mengatakan bahwa dia sedang sibuk mengurus sesuatu.

Pengawal Felix juga menelepon. Dengan ragu-ragu, dia mengatakan bahwa tuan sedang sangat emosional, tidak mau bekerja sama menjalani pengobatan, bahkan melempar barang. Dia bertanya apakah Ziva bisa datang untuk membujuknya. Ziva hanya menjawab bahwa dia tidak bisa membujuknya dan meminta mereka untuk lebih bersabar.

Kepala pelayan juga menelepon. Dia tampak ragu untuk berbicara, lalu mengatakan bahwa tuan sedang tidak dalam suasana hati yang baik dan terus mengatakan ingin bertemu dengannya. Ziva hanya menjawab aku tahu, lalu menutup telepon.

Ziva tidak pergi menjenguknya sekali pun.

Akhirnya, tibalah hari keberangkatannya.

Ziva memeriksa sekali lagi dokumen-dokumennya dan satu-satunya koper yang dibawanya. Setelah memastikan semuanya lengkap, tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika ....

Ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar adalah Felix.

Ziva menatap nama itu. Ujung jarinya sempat terhenti di udara sesaat, tetapi pada akhirnya, dia tetap menggeser layar untuk menerima panggilan.

"Halo?"

Dari seberang telepon, terdengar suara Felix yang masih serak setelah baru sembuh dari sakit.

"Ziva." Dia terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan kata-katanya. "Aku tahu. Kamu nggak mau datang selama ini karena masih marah padaku gara-gara kejadian di tempat ski waktu itu dan karena aku menerobos masuk ke dalam kebakaran, bukan?"

Felix menghela napas seolah sudah memahami semuanya. Nada suaranya terdengar seakan-akan dialah yang telah mengalah.

"Sudahlah, jangan marah lagi. Hari ini, aku keluar dari rumah sakit. Aku sudah memesan tempat di restoran Fransca yang selama ini ingin sekali kamu datangi. Restoran yang buka empat tahun lalu itu, yang terus kamu bicarakan. Aku bakal menjemputmu sekarang, kita makan bersama." Suaranya sedikit melunak, seperti sedang berusaha menunjukkan perhatian dengan cara yang tidak biasa dia lakukan. "Ziva, aku nggak terbiasa membujuk orang. Jadi, jangan marah lagi, ya?"

Ziva menggenggam ponselnya sambil berdiri di ruang tamu yang begitu kosong hingga hampir terasa seperti bisa mendengar gema.

Restoran itu ....

Empat tahun lalu, saat baru dibuka, restoran itu sangat populer dan sulit mendapatkan tempat. Saat itu, Ziva beberapa kali dengan antusias mengajaknya pergi ke sana untuk mencobanya.

Namun, setiap kali, Felix selalu berkata baik, nanti kalau ada waktu, atau, akhir-akhir ini aku sibuk, lain kali saja.

Lain kali, lalu lain kali lagi.

Hingga akhirnya Ziva berhenti membicarakannya. Hingga restoran itu berubah dari tempat yang sedang populer menjadi restoran ternama yang sudah lama berdiri. Hingga akhirnya dia mengerti bahwa bukan karena Felix tidak punya waktu. Hanya saja, baginya, meluangkan waktu untuk makan bersama Ziva bukanlah sesuatu yang penting.

Sekarang, akhirnya dia punya waktu.

Tepat pada hari ketika Ziva memutuskan untuk pergi.

Ziva merasa semua itu sedikit lucu, tetapi juga sedikit menyedihkan. Dia terdiam cukup lama.

"Ziva? Kamu masih mendengarkan?"

"Ya." Ziva akhirnya berkata dengan suara datar, "Nggak perlu. Hari ini, aku ...."

"Sudah, begitu saja. Aku berangkat sekarang buat menjemputmu. Tunggu aku!"

Nada sambungan terputus. Felix menutup telepon dengan begitu cepat dan tegas.

Ziva menurunkan ponselnya. Layar ponsel itu perlahan menggelap, memantulkan wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi.

Dia berjalan menuju kulkas. Di sana masih tertempel beberapa catatan lama, sebagian besar berisi pengingat kecil untuk Felix, seperti menyuruhnya makan tepat waktu atau mengingatkannya membawa kunci.

Ziva mengambil sebuah kertas catatan tempel berwarna kuning muda yang masih baru, lalu mengambil pena dan menulis dua baris.

[Untuk Felix.

Mari kita putus.

Semoga kamu dan dia mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Ziva.]

....

Bandara, terminal keberangkatan internasional.

Ziva menarik satu-satunya koper yang dibawanya, menyelesaikan proses keberangkatan, lalu melewati pemeriksaan keamanan.

Di ruang tunggu, dia baru saja duduk di kursi dekat jendela ketika ponselnya bergetar. Ternyata, itu sebuah pesan dari Felix.

[Ziva, maaf, Vira mengalami sedikit masalah lagi. Aku harus pergi menemuinya dulu. Makan di restoran lain waktu saja. Jangan marah, tunggu teleponku.]

Benar saja.

Ziva menatap pesan itu tanpa sedikit pun bergeming.

Dia bahkan bisa membayangkan seperti apa Felix saat mengirim pesan tersebut. Mungkin ada sedikit rasa bersalah, tetapi lebih dari itu, pasti ada kegelisahan untuk segera pergi menemui orang lain.

Jarinya bergerak, lalu dengan tenang dia membalas tiga kata.

[Aku nggak marah.]

Bagaimanapun, mereka sudah bukan sepasang kekasih lagi.

Untuk apa dia marah?

Dengan beberapa sentuhan jari, Ziva langsung memblokir nomor telepon Felix, WhatsApp, dan semua akun media sosialnya.

Gerakannya begitu lancar, tanpa sedikit pun keraguan.

Setelah melakukan semua itu, dia mengaktifkan mode pesawat di ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Pengumuman untuk naik pesawat terdengar. Ziva berdiri dan mengikuti arus penumpang menuju gerbang keberangkatan.

Di luar jendela pesawat, kota itu perlahan mengecil di bawahnya, hingga akhirnya tertutup oleh hamparan awan.

Pesawat menanjak, menerobos langit biru yang luas tanpa batas.

Ke depannya, hidup Ziva yang tidak lagi mencintai Felix akan jauh lebih indah.

Dia tahu itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status