Share

Bab 7

Author: Meong
Sikap Ziva yang keras kepala dan sama sekali tidak mau mendengarkan, bahkan sedikit menyindir, benar-benar membuat Felix murka.

"Baik! Baik!" Dadanya naik turun dengan hebat karena marah. Felix langsung mencengkeram pergelangan tangan Ziva begitu kuat hingga membuatnya mengernyit kesakitan. "Sekarang juga aku bakal membawamu menemui wartawan yang mengunggah video itu! Biar dia melihat sendiri, apa itu benar-benar kamu atau bukan! Aku mau tahu sebenarnya apa yang mau kamu lakukan!"

Dia menyeret Ziva menuju pintu.

Ziva terseret hingga langkahnya terhuyung-huyung. Pergelangan tangannya terasa sangat sakit.

Saat mobil melaju di tengah perjalanan, ponsel di saku Felix tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah asistennya.

Dia mengangkat telepon itu dengan kesal. "Ada apa?"

Entah apa yang dikatakan orang di seberang telepon, wajah Felix seketika berubah drastis. Dia langsung menginjak rem dengan keras.

"Apa katamu? Di mana Vira? Apa dia sudah keluar? Aku segera ke sana!"

Dalam sekejap, Felix melupakan amarahnya dan keinginannya untuk menemui orang yang mengunggah video itu. Dia langsung membanting setir, memutar arah, lalu menginjak pedal gas. Mobil itu melesat seperti anak panah ke arah lain.

Mobil itu akhirnya berhenti di luar sebuah kompleks perumahan mewah.

Dari kejauhan, terlihat salah satu gedung di dalam kompleks itu diselimuti kepulan asap tebal. Suara sirene mobil pemadam kebakaran yang memekakkan telinga menggema di langit malam. Lampu-lampu darurat berkedip, dan suasana di lokasi sangat kacau.

Bahkan sebelum mobil berhenti sepenuhnya, Felix sudah membuka pintu dan menerjang keluar. Dia berusaha menerobos garis pengaman seperti orang gila, tetapi beberapa petugas pemadam kebakaran menahannya dengan sekuat tenaga.

"Tuan, kamu nggak boleh masuk! Api di dalam terlalu besar! Sangat berbahaya!"

"Lepaskan aku! Temanku ada di dalam! Dia belum keluar!" Felix menggeram dengan mata memerah. Tenaganya begitu besar hingga beberapa petugas pemadam kebakaran hampir tidak sanggup menahannya.

"Tuan! Tolong tenang! Tim kami sudah masuk buat melakukan pencarian dan penyelamatan! Kalau kamu masuk, itu sama saja dengan mencari mati!"

"Kalau terjadi sesuatu padanya, buat apa aku hidup?" Felix nyaris berteriak. Dia tiba-tiba melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya, lalu di tengah tatapan semua orang yang tercengang, dia tanpa ragu menerobos masuk ke dalam gedung yang dilalap api.

Ziva duduk di dalam mobil. Dari balik jendela, dia hanya memandangi sosok yang pergi dengan tegas itu hingga menghilang di antara asap tebal dan kobaran api.

Entah berapa lama berlalu, di tengah seruan kaget orang-orang, sesosok tubuh yang sempoyongan terlihat menerobos keluar dari lokasi kebakaran sambil menggendong seseorang yang terbungkus rapat dengan selimut basah.

Itu Felix dan Vira.

Felix penuh luka, tetapi Vira yang berada dalam pelukannya tampaknya baik-baik saja, selain sedikit terkejut.

Setelah menyerahkan Vira kepada petugas medis, Felix sendiri langsung ambruk dan pingsan karena kehabisan tenaga.

Suasana seketika menjadi kacau.

Di rumah sakit, udara dipenuhi bau menyengat cairan antiseptik.

Saat Felix terbangun, seluruh tubuhnya terasa sakit. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit putih.

Begitu kesadarannya pulih, dia langsung berusaha bangkit. "Vira!"

"Dia nggak apa-apa." Suara seorang perempuan yang tenang terdengar dari sampingnya.

Felix menoleh dan melihat Ziva duduk di kursi di samping ranjang, memandanginya dengan tenang.

"Dia ada di kamar sebelah. Cuma sedikit terkejut, nggak ada cedera serius. Lukamu lebih parah, ada beberapa bagian yang terbakar dan kamu juga mengalami cedera inhalasi. Kamu perlu dirawat dan menjalani observasi."

Felix mengembuskan napas lega. Kemudian, dia kembali menatap Ziva dan menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah, seolah ingin menjelaskan sesuatu. "Ziva, aku ...."

"Aku tahu." Ziva kembali menyodorkan segelas air. Dengan kapas lidi yang dibasahi, dia perlahan melembapkan bibir Felix yang kering dan pecah-pecah. "Apinya terlalu besar dan situasinya mendesak. Kamu mengkhawatirkannya, jadi kamu menerobos masuk. Aku bisa mengerti."

Lagi-lagi, aku tahu dan aku bisa mengerti.

Felix memandangi wajah Ziva yang tenang tanpa riak, juga gerakannya yang merawat dirinya seolah hanya sedang menjalankan tugas. Perasaan sesak di dadanya kembali muncul, bahkan terasa lebih menyakitkan daripada luka bakar di tubuhnya.

Baru saja dia hendak mengatakan sesuatu lagi, ponsel Ziva yang diletakkan di sampingnya berdering.

Ziva mengambilnya dan melihat layar ponsel. Itu panggilan dari pusat visa.

"Ya, saya Ziva. Saya harus datang sendiri sekarang untuk melengkapi dokumen? Baik, saya mengerti. Saya akan segera datang untuk mengurusnya."

Setelah menutup telepon, dia kembali ke sisi ranjang dan mengambil tasnya.

"Kamu mau ke mana?" Felix tiba-tiba mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan Ziva.

"Ada urusan yang harus kuselesaikan."

"Sekarang?"

Ziva memandang tangannya yang dicengkeram Felix, lalu menatap mata Felix yang sedikit membelalak karena cemas.

Tidak heran jika Felix merasa terkejut. Dulu, setiap kali Felix sakit sedikit saja, Ziva akan mengambil cuti dan menjaganya tanpa beranjak sedikit pun, takut jika dia merasa tidak nyaman meski hanya sedikit.

Namun, sekarang, ketika Felix terluka separah ini, Ziva justru hendak pergi untuk mengurus urusan lain.

Jadi, Felix merasa kecewa? Terkejut? Atau tidak terbiasa?

Ziva merasa semua itu agak menggelikan.

Dia perlahan melepaskan tangan Felix dari pergelangan tangannya. Nada suaranya tetap datar. "Dulu, waktu kamu ada urusan dan nggak bisa menjagaku, aku memanggil perawat pendamping. Di sekitarmu ada banyak asisten, pengawal, dan pembantu. Bahkan tanpa perawat pendamping pun, kamu pasti nggak kekurangan orang yang merawatmu. Aku juga nggak perlu tetap di sini."

Saat Ziva melepaskan tangannya, hati Felix seolah ikut terasa kosong. Tanpa sadar, dia langsung berkata, "Tapi kamu pacarku! Dalam keadaan seperti ini, bukannya seharusnya kamu menemaniku? Apa urusanmu itu lebih penting daripada aku?"

Ziva terdiam selama beberapa detik.

Kemudian, dia menatap Felix dan menjawab dengan jelas serta tenang.

"Ya. Lebih penting daripada kamu."

Setelah mengatakan itu, Ziva tidak lagi memedulikan wajah Felix yang seketika berubah muram. Dia berbalik dan keluar dari kamar rawat tanpa menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status