Share

Melihat

last update publish date: 2026-09-08 21:55:04

Langit sore meredup begitu cepat, membiarkan jelaga abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung sekolah yang mulai sepi. Angin dingin meniup ranting-ranting pohon di halaman, menyisakan desir halus yang berbaur dengan derap langkah Alana di koridor. Di luar pintu kelasnya, Alfa berdiri bersandar pada dinding marmer. Cowok itu mengenakan jaket hitam kesayangannya, berdiri dengan posisi kaku dan tatapan tajam yang langsung mengunci kehadiran Alana—sebuah tatapan yang menyisakan desakan gelis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tersimpan dalam Diam   Melihat

    Langit sore meredup begitu cepat, membiarkan jelaga abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung sekolah yang mulai sepi. Angin dingin meniup ranting-ranting pohon di halaman, menyisakan desir halus yang berbaur dengan derap langkah Alana di koridor. Di luar pintu kelasnya, Alfa berdiri bersandar pada dinding marmer. Cowok itu mengenakan jaket hitam kesayangannya, berdiri dengan posisi kaku dan tatapan tajam yang langsung mengunci kehadiran Alana—sebuah tatapan yang menyisakan desakan gelisah dan kepanikan terselubung."Ada yang mau gue omongin," kata Alfa begitu Alana melangkah melewati ambang pintu. Suaranya terdengar rendah dan bergetar tipis, memecah keheningan koridor. "Di ruang OSIS. Sekarang."Alana menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh perlahan, menatap Alfa lurus-lurus. Tidak ada lagi pendar cemas atau jemari gementar yang dulu biasa menghampirinya tiap kali berhadapan dengan cowok itu. Yang tersisa di dalam manik mata Alana kini hanyalah ketenangan dingin yang dilapi

  • Tersimpan dalam Diam   Status

    Dua minggu sejak hari di mana Alfa secara terbuka mulai mengekor di sekitarnya, Alana masih harus membiasakan diri dengan atmosfer baru di sekolah. Menjadi seseorang yang selalu berada dalam jangkauan radar seorang Alfa Raynard berarti harus bersiap menerima sorot mata penasaran dari seisi koridor, bisik-bisik yang tak kunjung padam, dan spekulasi dari siswa-siswi.Namun, yang paling melelahkan bagi Alana bukanlah tatapan orang lain, melainkan garis kabur yang sengaja diciptakan oleh Alfa. Cowok itu selalu hadir dengan ketegasan yang nyata—melarangnya dekat dengan Darel, mengantarnya pulang, hingga menatapnya seolah Alana adalah satu-satunya objek yang berarti. Tapi di atas semua gestur posesif itu, tidak ada satu kata pun yang menegaskan apa arti kehadiran Alana dalam hidupnya.Dan kedatangan Kirana siang itu menjadi martil yang menghancurkan pondasi rapuh yang selama ini dicoba Alana pertahankan.***Suasana ruang OSIS siang itu terasa lebih riuh dan formal dari biasanya. Rapat eval

  • Tersimpan dalam Diam   Makna

    Malam itu, hening di dalam mobil Alfa terasa begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan, ketegangan yang penuh tanda tanya, atau batasan dingin yang menyiksa. Yang tersisa hanyalah ruang tenang yang dipenuhi kehangatan sisa jemari Alfa yang baru saja melepaskan punggung tangan Alana.Alana menatap lurus ke depan melalui kaca mobil yang agak berkabut, berusaha keras meredakan degup jantungnya yang belum juga kembali normal. Di sampingnya, Alfa telah kembali memegang kendali setir. Garis wajah cowok itu tampak tenang dan fokus menatap jalanan malam yang lengang, tetapi Alana bisa melihat lirikan sekilas dari sudut matanya—seolah Alfa sedang memastikan bahwa Alana tidak lagi berniat untuk menarik diri atau berjarak darinya.Lampu-lampu jalan membiaskan cahaya keemasan yang berpendar lembut di dalam kabin mobil, menciptakan atmosfer syahdu yang membuat waktu seakan berputar lebih cepat.Ketika mobil akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah A

  • Tersimpan dalam Diam   Posesif

    Sejak percakapan itu, Alfa berubah. Tidak lagi sekadar dingin dan misterius, tapi lebih dari itu—ia menjadi seseorang yang selalu ada di sekitar Alana, dalam jarak yang cukup dekat untuk membuatnya sadar, tapi cukup jauh untuk tetap terasa asing.Pagi itu, Alana baru saja tiba di sekolah saat Bianca menepuk pundaknya dengan ekspresi penuh arti.“Kayaknya lo harus denger sesuatu,” ujar Bianca sambil menarik Alana ke bangku taman sekolah.Alana menghela napas. “Tentang apa?”“Alfa.”Jantung Alana berdegup sedikit lebih cepat. “Kenapa dengan dia?”Bianca melirik ke arah lapangan, di mana Alfa berdiri dengan posisi santai, tangannya di saku celana, sementara matanya mengamati sesuatu.Atau lebih tepatnya, mengamati seseorang.Darel.Alana mengikuti arah pandangan Bianca dan baru menyadari betapa intensnya tatapan Alfa. Darel yang berdiri bersama beberapa teman sekelasnya tampak tidak menyadari keberadaan Alfa, tapi ada sesuatu dalam cara Alfa menatap yang membuat bulu kuduk Alana berdiri.

  • Tersimpan dalam Diam   Jarak yang Tercipta

    Alana selalu percaya bahwa perasaan adalah sesuatu yang bisa dikendalikan. Bahwa jika ia memutuskan untuk tidak peduli, maka seharusnya semuanya akan baik-baik saja. Namun, kenyataan tidak pernah sesederhana itu.Sejak pertemuan di mal beberapa hari lalu, sejak tatapan mereka bertemu dan ia memilih untuk berbalik tanpa satu kata pun, ada sesuatu yang berubah. Tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga dalam cara ia menghadapi Alfa.Ia mulai menjaga jarak.Bukan dalam bentuk sikap yang mencolok, melainkan dalam hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari orang lain.Jika biasanya ia akan mencari sosok Alfa di antara kerumunan tanpa sadar, kini ia menahan diri. Jika biasanya ia akan membiarkan pandangan mereka bertemu meski hanya sepersekian detik, kini ia memilih untuk mengalihkan mata lebih cepat.Ia tidak ingin lagi terjebak dalam kebingungan yang sama. Tidak ingin mencari jawaban yang mungkin tidak pernah ada.Dan yang paling penting, ia tidak ingin merasakan perasaan yang sama setiap kal

  • Tersimpan dalam Diam   Sorot Mata yang Tak Terbaca

    Langit sore mulai berwarna jingga keemasan ketika bel pulang sekolah berbunyi, menandakan akhir dari hari yang panjang. Alana mengemasi buku-bukunya dengan gerakan santai, menikmati suara gaduh khas kelas yang mulai kosong. Beberapa teman sekelasnya sudah berhamburan keluar, meninggalkan deretan meja yang mulai lengang.Saat ia hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, sebuah suara yang familiar menghentikan gerakannya."Alana, bentar."Alana menoleh dan menemukan Darel—salah satu teman sekelasnya—berdiri di dekat mejanya dengan ekspresi santai. Rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya tetap terukir jelas di wajahnya."Lo sibuk nggak nanti sore?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.Alana mengernyit, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Kenapa?"Darel mengangkat bahunya dengan ringan. "Gue butuh bantuan lo buat ngerjain tugas Matematika. Lo kan jago di pelajaran itu. Kalau lo ada waktu, mungkin kita bisa ngerjain bareng di kafe depan sekolah?"Alana berpikir sejenak. Ia memang

  • Tersimpan dalam Diam   Resonansi Tanpa Suara

    Hujan telah reda, meninggalkan jejak embun di jendela dan aroma tanah basah yang masih tertinggal di udara. Matahari sore mengintip malu-malu dari balik awan, seakan ragu untuk kembali bersinar penuh.Di sudut perpustakaan yang sepi, Alana duduk dengan buku terbuka di depannya. Namun, pikirannya ti

  • Tersimpan dalam Diam   Antara Logika dan Perasaan

    Rapat pertama kepengurusan OSIS berjalan lebih lambat dari yang Alana harapkan. Ia tidak tahu apakah ini karena pikirannya yang terlalu penuh atau karena ruangan ini memang dipenuhi orang-orang yang terlalu sibuk dengan pikiran mereka sendiri.Ia duduk di kursinya dengan punggung tegang, tangannya

  • Tersimpan dalam Diam   Jarak yang Tak Terlihat

    Pagi menjelma dalam pendar keemasan, menyeruak melalui tirai yang sedikit terbuka. Udara dingin masih membekas di dinding kamar, menyisakan jejak malam yang belum sepenuhnya pergi. Seperti biasa, alarm berbunyi nyaring, tetapi Alana hanya menatapnya tanpa niat untuk segera bangun.Pagi datang terla

  • Tersimpan dalam Diam   Semua Tentang Hati

    Keesokan harinya, Alana berdiri di depan cermin kamarnya, menatap refleksi dirinya dengan tatapan kosong. Seragam putih abu-abunya sudah rapi, rambutnya dikuncir kuda seperti biasa, tapi ada sesuatu dalam matanya yang tidak bisa ia sembunyikan—keraguan.Ia menarik napas dalam-dalam. Namun, bayanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status