Share

Bab 7

Auteur: Alwee Chan
last update Dernière mise à jour: 2026-01-22 21:27:57

Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan.

Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.

Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat.

"Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi.

"Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah.

Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.

Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.

Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan Calista.

"Gimana hasilnya?" Viona menyenggol lengan Calista.

Calista tidak menjawab, sejak tadi dirinya terus memandangi kertas di tangannya.

"Kasih tau dong. Aku penasaran banget nih. Sesuai harapan?"

Calista melirik viona dan tersenyum lebar dengan lesung pipinya yang semakin terlihat. Serta anggukan kepalanya.

"Yes, akhirnya." Viona memeluk Calista.

"Ini tuh rumah sakit yang udah aku idamkan dari lama. Aku pingin banget magang di sana. Kalau bisa sih kerja juga di sana nanti setelah selesai. Harapannya sih gitu. Kalau kamu gimana?"

Viona memasang wajah sedih dan menggelengkan kepalanya.

"Kenapa? Gak sesuai keinginan? Ck, kamu kurang kenceng sih doanya. Coba kalau kamu ikut saran dari aku, pasti dapat. Tapi gak apa-apa, kita bakal sering ketemuan biar kamu gak sedih." Kini Calista yang berbalik memeluk Viona.

"Siapa yang sedih."

"Tuh muka kamu udah mewakili banget."

"Justru itu, aku tuh terharu."

"Terharu kenapa? Bisa di jelaskan dengan singkat." Calista melepas pelukannya menatap Viona menunggu penjelasan.

"Kita gak bakal pisah, Ca. Kita magang di tempat yang sama." Teriak viona sambil mmegang pipi Calista.

"Wait? Bukannya kamu mau magang di tempat pacar kamu kerja." Calista mengernyitkan alisnya, bingung iya.

"Ck, ya gak dong. Kalau di sana, yang ada aku tuh bakal pacaran mulu. Gak bisa fokus nanti."

"Akhirnya, otak kamu bisa berpikir lebih bijak."

"Ya dong, aku tuh gak mau mempertaruhkan masa depan aku yang udah di depan mata dengan sia-sia, yang rugi aku dong."

"Good, kali ini kamu bijak banget, Vio. Aku tuh sampe gak kenal tau."

"Dari dulu," jawab Viona sambil mengibaskan rambutnya.

"Iya, sayangnya otaknya baru nyampe sekarang," lanjut Calista tertawa.

"Aku harus berhasil, Ca. Tanggungjawab aku berat ke depannya. Jadi aku gak boleh main-main untuk magang."

"Me too." Keduanya saling mengangguk.

"Pulang kampus, aku rencananya mau ke sana. Mau liat dulu rumah sakitnya seperti apa. Mau ikut?"

"Ogah ah, besok aja biar sekalian. Aku mau pulang cepat hari ini. Aku mau ke kantor mama."

"Yakin gak mau ikut? Siapa tau bisa ketemu jodoh di sana. Bakal cepat mewujudkan keinginan mama kamu."

Viona cukup tahu apa yang terjadi pada Calista. Mereka sering berbagi cerita hal pribadi satu sama lain. Bagi Calista, Viona orang yang bisa ia percaya untuk menyimpan rahasianya, meski terkadang sifatnya membuat Calista pusing.

"Jodoh skip dulu lah. Cita-cita aku lebih penting."

"Kalau bisa sekalian kenapa gak. Ada juga orang udah nikah tapi tetap sambil sekolah." Viona menopang dagunya.

"No, no, itu bukan aku. Kamu aja duluan." Calista menggeleng cepat kepalanya.

"Aku tuh gak dikejar deadline nikah," ujar Viona dengan santai.

"Ck, males bahas itu. Udah ahh, aku balik duluan ya. Besok kita ketemu lagi," ucap Calista sambil meletakkan tas di bahunya.

"Hati-hati, jangan ngebut."

"Udah kebiasaan."

"Sayangi nyawa lo."

"Selalu," ucap Calista dengan senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipinya.

Calista mengendarai mobilnya menuju Allarick Corp. Ingin memberi kabar mengenai magangnya. Sepanjang jalan Calista tersenyum membayangkan reaksi ibunya.

Tibalah Calista di sana, seperti biasa Calista akan menyapa siapapun yang ia temui. Sifatnya yang ramah membuat semua orang di kantor mengenalnya.

"Mama ada di ruangan?" Calista bertanya pada salah satu karyawan saat berpapasan.

"Ibu baru aja di bawa ke rumah sakit. Tadi ibu pingsan," jawab karyawan yang bernama Zeze.

Seketika detak jantung Calista berdegup kencang. Ia menjadi panik, buru-buru keluar, kembali ke parkiran. Ia mengendarai mobilnya lagi menuju rumah sakit.

"Mama sakit apa," batin Calista dengan mata berkaca-kaca.

Tujuannya ke rumah sakit di mana Dimas bekerja. Calista yakin ibunya pasti di bawa ke sana.

Sesampainya di sana, langkah Calista terburu-buru memasuki rumah sakit. Napasnya tak beraturan, dadanya naik turun saat matanya melihat setiap wajah yang lewat. Calista menuju resepsionis mencari satu nama yang terus berputar di kepalanya, ibunya.

"Mama…" gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar.

Jemarinya gemetar saat menyebutkan nama ibunya, berusaha terdengar tenang meski tenggorokannya terasa tercekat.

"Ibu Ririn Allarick, tadi dibawa kemari sama dokter Dimas." Sebisa mungkin Calista berusaha tetap tenang.

Perawat itu menunduk memeriksa layar komputer, lalu mengangguk singkat.

"Sudah masuk. Sudah ditangani dokter. Sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ruang mawar kosong dua lantai tiga."

Jawaban itu tak sepenuhnya menenangkan. Calista melangkah menyusuri lorong rumah sakit kemudian naik lift ke lantai tujuan, dadanya terasa semakin sempit. Bermacam-macam pikiran buruk mulai bermunculan dipikirnya.

Calista berlari agar cepat sampai di ruangan itu. Kini dirinya sudah berdiri di depan ruang mawar kosong dua. Tangannya membuka pintu pelan.

"Sebaiknya mbak bicarakan perjodohan ini dengan Caca. Bagaimanapun Caca harus tau mbak. Dia yang akan menjalaninya. Pendapat Caca itu penting."

Deg!

"Perjodohan? Apa-apaan ini," batin Calista. Tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

"Calista harus ada yang jagain. Angga itu anak yang baik, dari keluarga baik-baik juga."

"Aku bukan barang titipan, Ma!"

Suara Calista mengagetkan semuanya. Ririn dan Dimas saling pandang. Tidak menyangka Calista akan tahu dengan cara seperti ini.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 71

    Calista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 70

    Calista berdiri di dekat pintu, bersiap pergi. Mira menemaninya sampai ke depan untuk memastikan semuanya aman.Tinggallah Angga dan Pak Arman di dalam ruangan."Bisa minta waktunya sebentar, Pak Arman?"Pak Arman menutup map dokumen di depannya, lalu menatap Angga dengan serius."Tentu, ada apa Pak Angga?""Saya ingin tau detailnya mengenai perusahaan.""Pak Angga, saya akan terbuka, lagipula hubungan antara Pak Angga dan Bu Calista, suami dan istri. Sejujurnya situasi perusahaan sekarang memang tidak sederhana."Angga berdiri dengan kedua tangan di saku celana."Berapa besar tekanan yang Alex lakukan?"Pak Arman menarik napas pelan."Jika dia berhasil menguasai lebih dari empat puluh persen saham, dia bisa memaksa rapat pemegang saham. Dari situ dia bisa menekan keputusan manajemen."Angga mengangguk pelan. "Berapa yang dibutuhkan untuk menutup celah itu?"Pak Arman sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Maksud Pak Angga?""Dana." Suara Angga tenang. "Berapa yang dibutuhk

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 69

    Mobil Angga melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ia sukai.Calista bukan tipe orang yang pergi malam-malam tanpa memberi tahu siapa pun. Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia terlihat sangat lelah.Angga mencoba menelepon lagi. Masih tidak diangkat.Rahangnya menegang. "Calista, kamu lagi apa sebenarnya?"Angga menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Instingnya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan Alex.***Sementara itu, di ruang rapat kantor perusahaan milik mendiang Ririn.Pak Arman menutup map dokumen di depannya. "Kalau kita bicara secara teknis, menjual lima puluh satu persen saham berarti Ibu kehilangan kendali penuh terhadap perusahaan."Calista mengangguk. "Saya paham."Mira masih berdiri dengan wajah tegang. "Bu, kita masih punya opsi lain. Kita bisa cari investor lain. Kita bisa restrukturisasi saham.""Gak cukup cepat," potong Calista pelan. "Pak Alex bergerak terlalu cepat." Pak Arman menatapnya dengan serius."Apa

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 68

    Kay sudah masuk kamar lebih awal karena besok harus bangun pagi untuk sekolah dan latihan basket. Rita juga kembali ke kamarnya setelah cukup lama berbicara dengan Angga mengenai langkah hukum jika Alex benar-benar mulai bergerak.Calista duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, berpura-pura membaca laporan. Padahal pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Pesan terakhir yang ia kirim masih terngiang di kepalanya. 'temui aku jam delapan malam ini.'Belum ada balasan dari Alex. Namun Calista tahu satu hal, Alex pasti datang.Calista menarik napas pelan. Langkah kaki Angga terdengar dari arah dapur. Pria itu membawa dua gelas air hangat."Kamu masih kerja?" tanyanya.Calista mengangguk kecil. "Sedikit lagi."Angga menaruh gelas di meja. "Jangan terlalu dipaksakan.""Iya, Mas."Tatapan Angga berhenti beberapa detik di wajah Calista."Aku temenin?""Gak usah, Mas."Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Tapi Angga tidak menanyakannya."Kalau udah selesai, langsung istirahat."Ca

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 67

    Keesokan paginya."Kay, mau bareng gak?" tanya Calista.Kay menimbang. "Aku mau bawa motor hari ini.""Oh, oke." Calista mengulas senyum. "Kalau perlu apa-apa kabari aja nanti."Alis Kay berkerut, terdengar sedikit aneh baginya. "Oh, oke.""Kay," panggil Calista, lagi."Apa?""Gak ada apa-apa. Cuma mau bilang hati-hati di jalan."Dari kejauhan Angga melihat keduanya mengobrol dan sedikit penasaran. Langkah Angga cepat mendekati mereka.Kay menangkap pergerakan Angga. "Pa, aku berangkat dulu!" ucap Kay sambil menyambar tas.Angga yang baru saja akan bergabung kemudian berkata. "Sopir yang akan antar kamu sampai depan gerbang sekolah. Jangan jalan sendiri."Kay mendengus pelan. "Pa, aku bisa sendiri.""Di antar, lebih aman juga.""Gak hari ini Pa.""Kay, tolong. Papa cuma khawatir, kamu ingat, kamu pernah masuk ke rumah sakit gara-gara jatuh dari motor. Ujian sebentar lagi. Kamu gak boleh kenapa-kenapa."Ingatan Kay berputar pada kejadian waktu itu. Calista di samping Kay menyadari sesu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 66

    "Gara-gara aku di sini. Mas Angga harus tidur di sofa."Calista memandangi Angga yang masih tertidur lelap dengan tangan bersilang di atas dada. Pagi datang terlalu cepat bagi Calista. Setelah sedikit drama tempat tidur.Semalam Calista dan Angga harus tidur di kamar yang sama. Karena tidak mungkin tidur terpisah, Rita pasti akan mempertanyakan itu.Meski satu kamar, namun mereka tidur terpisah. Calista di ranjang dan Angga di sofa. Angga memberi ruang untuk Calista merasa nyaman.Pernikahan mereka dadakan dan bukan atas dasar cinta. Pernikahan karena sebuah sandiwara yang berakhir dengan pernikahan yang di terima keduanya.Calista memijat pelan kepalanya. Ia terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena cukup istirahat justru karena pikirannya tidak pernah benar-benar tidur.Di satu sisi, ia adalah dokter magang yang harus datang tepat waktu, belajar, mengikuti instruksi, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.Di sisi lain, ia adalah pimpinan perusahaan peninggalan ibunya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status