Share

Bab 8

Penulis: Alwee Chan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 23:55:48

"Dengerin mama dulu, sayang."

Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya.

"No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan."

"Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati.

"Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama."

"Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.

Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam.

"Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."

Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Ririn terdiam, matanya berkaca-kaca.

Sementara Dimas bingung, harus berpihak pada siapa saat ini. Keponakan yang ia sayangi atau kakaknya.

Tanpa menunggu jawaban, Calista berbalik dan berlari keluar dari ruangan. Langkahnya cepat, dadanya sesak. Tujuannya datang ke rumah sakit untuk melihat ibunya, tapi justru membuat ia mendengar hal yang menyakiti perasaannya.

"Mama jahat, mama egois," gumamnya sambil berjalan cepat. "Aku belum mau menikah, aku mau kejar impianku dulu. Sukses dan hidup berdua sama mama, bahagiain mama gak perlu menikah dulu." Suaranya pecah. "Aku gak suka mama."

Cairan bening itu meluap, membasahi pipinya.

"Pernikahan gak akan menjamin hidup aku bakal baik-baik aja. Aku gak ingin nikah muda." Sepanjang koridor rumah sakit keluhan Calista tidak berujung. Ia marah dan kesal.

Di dalam ruangan, Dimas menatap pintu yang tertutup lama. "Aku harus kejar Caca."

"Gak usah Dim," ucap Ririn lirih. "Biar dia tenangin dirinya dulu," lanjutnya dengan mata sendu.

"Tapi mbak."

"Calista itu keras kepala," Ririn memotong, suara terdengar lemah. "Dia gak akan dengerin siapapun saat emosinya meledak." Ririn menghela napas panjang.

"Maka dari itu mbak perlu orang untuk jagain dia."

Dimas diam.

"Mbak takut Dim, takut Calista gak ada yang jagain." Ririn menunduk. "Kamu punya tanggungjawab sendiri dan mbak gak mau membebani kamu jika harus menjaga Calista juga. Hidup mbak gak akan lama lagi, sebelum itu mbak akan pastikan keamanan putri mbak."

"Makanya perjodohan itu?" tanya Dimas pelan.

Ririn mengangguk. "Itu solusinya. Angga anak baik. Mbak kenal lama dengan ibunya. Calista pasti aman sama mereka."

"Terserah mbak." Dimas mengepalkan tangannya. "Tapi mengenai penyakit mbak, lebih baik Caca tau. Aku takut gak bisa menghadapinya nanti."

"Mbak pasti akan kasih tau dia." Potong Ririn cepat. "Beri mbak waktu."

Wajah Ririn terlihat pucat saat ini dan Dimas tidak bisa menahan diri lagi.

"Kita akan melakukan operasi. Aku udah hubungi rumah sakit lain. Ada dokter spesialis bedah handal di sana. Mbak akan sehat," ucap Dimas tegas.

"Gak perlu repot Dim." Ririn tersenyum lemah. "Batalkan saja operasinya. Kemungkinannya cuma satu persen kan. Mbak gak mau berharap."

"Satu persen bisa menjadi seratus persen mbak." Dimas menahan emosi. "Mbak harus yakin. Mbak harus berjuang untuk sembuh."

"Mbak lelah berharap Dim. Kamu tau itu."

"Dia dokter handal mbak. Aku akan ketemu langsung dengan dokternya."

"Terserah kamu," ucap Ririn sambil merebahkan tubuh dan membelakangi Dimas. Senyumnya getir. "Mungkin kamu lebih suka lihat mbak mati di meja operasi."

"Ibu dan anak sama-sama keras kepala," ucap Dimas tanpa sadar.

"Mbak bisa dengar Dim," sahut Ririn lirih.

Akhirnya Dimas memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Memberi ruang untuk Ririn menyendiri, menenangkan dirinya.

Sementara Calista, mobil yang ia kendarai melaju cepat membelah jalan seakan-akan jalanan itu sepi tanpa ada manusia lainnya. Suara klakson mobil yang ia lewati seakan tidak terdengar.

Tanpa rasa takut Calista melewati semua mobil secepat kilat. Semuanya dilakukan untuk menumpahkan semua rasa di hatinya.

Tidak ada tujuan, Calista hanya ingin pergi untuk menenangkan dirinya. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gang sempit. Calista memejamkan mata, membiarkan air matanya tumpah. Berharap semuanya lega.

"Maaf, Ma. Aku terlalu kasar. Kata-kata aku tadi pasti menyakiti hati mama. Aku nyesal Ma," gumamnya lirih.

Hingga suara gaduh membuat perhatiannya teralihkan. Terdengar suara yang familiar di telinganya.

Calista menoleh ke samping dan melihat sosok yang familiar di matanya. Alisnya berkerut, melihat ada sekelompok remaja.

"Kay?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 9

    Calista membuka mata. Alisnya mengernyit saat mendengar suara yang terasa familiar."Kay? Ngapain dia di gang sempit begini."Calista buru-buru turun dari mobil. Di ujung gang, beberapa anak remaja mengepung. "Apa mereka mau berkelahi. Gak bisa di biarin nih."Langkahnya cepat mendekati Kay yang sudah menunduk sambil menutup kepalanya."Hei kalian, mau keroyokan. Gak gentleman banget sih." Suara Calista membuat Kay menoleh. Begitu juga sekelompok anak-anak seusia Kay mundur beberapa langkah. Itu kesempatan untuk Kay pergi dari sana."Tante ngapain di sini?" Kay sudah berdiri di samping Calista. "Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini, di gang sempit. Kalian mau berkelahi," ucap Calista masih dengan emosi."Ya gak lah, buang-buang waktu.""Nah, itu pintar. Trus ngapain juga di sini.""Ck, ribet."Kay sudah memasang kuda-kuda siap berkelahi."Kamu mau mukul mereka?""Ck, ini namanya membela diri, Tan."Calista dan Kay sibuk berdebat kecil di sana."Mending kita pergi aja, itu

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 8

    "Dengerin mama dulu, sayang." Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya."No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan.""Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati."Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi.Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama."Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Rir

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 7

    Di Allarick Corp, semua karyawan tengah panik. Bagaimana tidak, tiba-tiba suara ambulan terdengar di depan perusahaan. Kabar pemilik perusahaan jatuh pingsan menyebar ke seluruh lantai. Banyak diantara mereka berbisik dan bertanya apa yang terjadi.Dimas tidak bisa menunda untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Rasa khawatir akan hal buruk yang menimpa Ririn. Oleh sebab itu Dimas memutuskan melarikan Ririn ke rumah sakit secepatnya untuk pemeriksaan yang lebih akurat."Bertahan mbak, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Dimas tidak henti-hentinya berdoa berharap hal buruk tidak akan pernah terjadi."Jangan beritahu Calista," ucap Ririn dengan nada sangat lemah. Dengan berat hati Dimas menganggukan kepalanya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan kakaknya.Sesampainya di rumah sakit, Ririn langsung di larikan ke IGD. Dimas turun tangan langsung untuk semuanya.Di tempat yang berbeda, di kampus tepatnya. Calista tengah duduk kantin dengan Viona, teman satu tingkatan dengan

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 6

    "Stop paksa aku, Ma. Aku gak berniat untuk menikah lagi."Angga berdiri membelakangi Rita. Tidak ingin saling berhadapan dengan ibunya lagi demi meredamkan emosinya."Jangan mengurung diri dengan masa lalu. Kamu berhak bahagia. Jangan sampai kamu lupa cara untuk bahagia, Angga."Rita menepuk pundak Angga sebelum pergi meninggalkan Angga seorang diri di ruangan penuh tumpukan buku. Sepanjang malam Angga duduk di ruangan kerjanya menyibukkan dirinya dengan tumpukan jurnal. Hanya suara kertas yang menemaninya hingga ia larut dengan kesibukannya.Matahari pagi masih malu-malu menampakkan dirinya. Sementara Angga sudah selesai bersiap untuk berangkat."Udah mau berangkat?" Suara Rita dari ujung lorong menghentikan langkah Angga."Ada urusan penting.""Sepagi ini?" Alis Rita terangkat."Iya," ucap Angga sambil berpamitan pada Rita.Suara deru mobil terdengar, begitu juga suara gerbang yang tengah dibuka oleh satpam. Dari jendela, Rita melihat putranya pergi."Sampai kapan kamu menutup diri

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 5

    "Gak gitu cara bicara sama anak yang baru beranjak remaja. Beneran kaku deh. Harus di kasih tau nih.""Non, ini minumannya." Kaget bukan main, Calista buru-buru berdiri. Gerakannya yang tergesa membuatnya tanpa sengaja menyenggol gelas berisi minuman.Prang!"Aww!""Sorry, maaf aku gak sengaja. Mbok luka? Sini aku periksa. Aku kaget, aku gak liat mbok," ucap Calista panik.Suara benda jatuh membuat pembicaraan antara Angga dan Kay teralihkan. Kay berlari cepat ke sana."Tante kenapa? Ada darah," ucap Kay."It is oke, ini aman banget kok, cuma luka kecil. Accident kecil. Itu biasa terjadi." Calista masih jongkok membantu membersihkan serpihan gelas yang pecah. "Gak usah non, biar mbok aja.""Gak apa-apa, ini juga salahku. Dikerjain bareng lebih cepat selesai," ucap Calista sambil membereskan serpihan gelas pecah."Tangan Tante ada darahnya loh," ucap Kay."Luka dikit, dikasih plester, beres," jawab Calista.Kay menarik tangan Calista, mengelap darah itu dengan bajunya."Apa ini sakit

  • Tertusuk Jarum Mas Dokter   Bab 4

    "Angga, kenalin ini Tante Ririn, teman mama."Perkenalan singkat, dengan sopan Angga mengulurkan tangannya membalas dengan sapaan dan senyum setipis tisu dibagi sepuluh yang hampir tidak terlihat."Jangan ambil hati dengan sikap Angga. Dia emang begitu anaknya. Tidak heran udah hampir kepala empat masih jomblo."Angga menatap dingin ibunya "Masih keliatan muda," ucap Ririn tersenyum."Keberuntungan yang harus disyukuri. Oh ya Tante Ririn datang bersama putrinya. Tapi dimana dia," tanya Rita.Rita melihat ke sekeliling."Tuh dia, di meja pantry. Kok Kay ada di sana. Mereka ngobrol?" Rita tercengang.Angga hanya memperhatikan tanpa berkomentar."Anak Tante Ririn," batin Angga.Dari jauh Rita memanggil Kay, begitu juga Calista ikut melihat ke arah suara. Ririn juga memberi isyarat pada putrinya untuk mendekat.Keduanya berjalan mendekat, sementara Angga mencerna semuanya. Rita dan Ririn tersenyum bersamaan."Kay, kalian saling kenal?" Tanya Rita hati-hati."Iya, aku kenal.""Kalian ngob

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status