Se connecter"Dengerin mama dulu, sayang."
Ririn berusaha bangkit untuk duduk, tubuhnya tampak lemah hingga Dimas sigap membantu menopang punggungnya. "No, aku gak mau dengar." Suara Calista bergetar menahan emosi. "Aku kemari mau pastikan keadaan mama, tapi mama malah membicarakan perjodohan." "Caca tenang dulu, mama kamu lagi sakit. Jangan keras-keras." Dimas mencoba menenangkan dengan suara hati-hati. "Lepasin bahu aku." Calista menepis tangan Dimas. "Aku gak butuh ditenangin siapapun. Oh, jangan-jangan Om Dimas juga setuju dengan ide mama." "Ini rumah sakit, Caca. Kita bicarakan semuanya di rumah. Kamu tenang dulu ya." Bujuk Dimas lagi. Calista tertawa, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kekecewaan yang mendalam. "Aku bukan barang Ma. Aku gak perlu dijagain, aku bisa jaga diri aku sendiri. Mama gak perlu sampe cariin aku jodoh. Apalagi melakukan perjodohan tanpa tanya persetujuan aku." Napasnya tersengal. "Aku kecewa sama mama." Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan tanpa ragu. Ririn terdiam, matanya berkaca-kaca. Sementara Dimas bingung, harus berpihak pada siapa saat ini. Keponakan yang ia sayangi atau kakaknya. Tanpa menunggu jawaban, Calista berbalik dan berlari keluar dari ruangan. Langkahnya cepat, dadanya sesak. Tujuannya datang ke rumah sakit untuk melihat ibunya, tapi justru membuat ia mendengar hal yang menyakiti perasaannya. "Mama jahat, mama egois," gumamnya sambil berjalan cepat. "Aku belum mau menikah, aku mau kejar impianku dulu. Sukses dan hidup berdua sama mama, bahagiain mama gak perlu menikah dulu." Suaranya pecah. "Aku gak suka mama." Cairan bening itu meluap, membasahi pipinya. "Pernikahan gak akan menjamin hidup aku bakal baik-baik aja. Aku gak ingin nikah muda." Sepanjang koridor rumah sakit keluhan Calista tidak berujung. Ia marah dan kesal. Di dalam ruangan, Dimas menatap pintu yang tertutup lama. "Aku harus kejar Caca." "Gak usah Dim," ucap Ririn lirih. "Biar dia tenangin dirinya dulu," lanjutnya dengan mata sendu. "Tapi mbak." "Calista itu keras kepala," Ririn memotong, suara terdengar lemah. "Dia gak akan dengerin siapapun saat emosinya meledak." Ririn menghela napas panjang. "Maka dari itu mbak perlu orang untuk jagain dia." Dimas diam. "Mbak takut Dim, takut Calista gak ada yang jagain." Ririn menunduk. "Kamu punya tanggungjawab sendiri dan mbak gak mau membebani kamu jika harus menjaga Calista juga. Hidup mbak gak akan lama lagi, sebelum itu mbak akan pastikan keamanan putri mbak." "Makanya perjodohan itu?" tanya Dimas pelan. Ririn mengangguk. "Itu solusinya. Angga anak baik. Mbak kenal lama dengan ibunya. Calista pasti aman sama mereka." "Terserah mbak." Dimas mengepalkan tangannya. "Tapi mengenai penyakit mbak, lebih baik Caca tau. Aku takut gak bisa menghadapinya nanti." "Mbak pasti akan kasih tau dia." Potong Ririn cepat. "Beri mbak waktu." Wajah Ririn terlihat pucat saat ini dan Dimas tidak bisa menahan diri lagi. "Kita akan melakukan operasi. Aku udah hubungi rumah sakit lain. Ada dokter spesialis bedah handal di sana. Mbak akan sehat," ucap Dimas tegas. "Gak perlu repot Dim." Ririn tersenyum lemah. "Batalkan saja operasinya. Kemungkinannya cuma satu persen kan. Mbak gak mau berharap." "Satu persen bisa menjadi seratus persen mbak." Dimas menahan emosi. "Mbak harus yakin. Mbak harus berjuang untuk sembuh." "Mbak lelah berharap Dim. Kamu tau itu." "Dia dokter handal mbak. Aku akan ketemu langsung dengan dokternya." "Terserah kamu," ucap Ririn sambil merebahkan tubuh dan membelakangi Dimas. Senyumnya getir. "Mungkin kamu lebih suka lihat mbak mati di meja operasi." "Ibu dan anak sama-sama keras kepala," ucap Dimas tanpa sadar. "Mbak bisa dengar Dim," sahut Ririn lirih. Akhirnya Dimas memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Memberi ruang untuk Ririn menyendiri, menenangkan dirinya. Sementara Calista, mobil yang ia kendarai melaju cepat membelah jalan seakan-akan jalanan itu sepi tanpa ada manusia lainnya. Suara klakson mobil yang ia lewati seakan tidak terdengar. Tanpa rasa takut Calista melewati semua mobil secepat kilat. Semuanya dilakukan untuk menumpahkan semua rasa di hatinya. Tidak ada tujuan, Calista hanya ingin pergi untuk menenangkan dirinya. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gang sempit. Calista memejamkan mata, membiarkan air matanya tumpah. Berharap semuanya lega. "Maaf, Ma. Aku terlalu kasar. Kata-kata aku tadi pasti menyakiti hati mama. Aku nyesal Ma," gumamnya lirih. Hingga suara gaduh membuat perhatiannya teralihkan. Terdengar suara yang familiar di telinganya. Calista menoleh ke samping dan melihat sosok yang familiar di matanya. Alisnya berkerut, melihat ada sekelompok remaja. "Kay?"Calista tidak langsung menjawab. Ia menatap Alex beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan wajah pria itu.Alex tampak santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mengakui rencana besar."Kalau begitu Pak Alex datang ke sini bukan untuk negosiasi," ucap Calista Alex mengangkat gelasnya, memutar minuman di dalamnya. "Aku datang untuk memberi tau.""Mengancam lebih tepatnya," potong Calista tegas dengan sedikit senyum.Alex ikut membalas dengan senyuman liciknya. "Kalau kamu menganggapnya ancaman, silakan."Di meja lain, rahang Angga mengeras. Ia bisa melihat punggung Alex dari tempat duduknya. Setiap kata yang keluar dari Alex membuat darahnya mendidih. Namun Angga menahan diri. Karena Calista masih duduk di sana dan Alex masih belum menyadari kehadirannya.Sementara itu Calista mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Pak Alex pasti berpikir Kay akan langsung menerima begitu saja?"Alex menatapnya. "Anak laki-laki selalu penasaran tentang ayahnya.""Kay pun
Calista berdiri di dekat pintu, bersiap pergi. Mira menemaninya sampai ke depan untuk memastikan semuanya aman.Tinggallah Angga dan Pak Arman di dalam ruangan."Bisa minta waktunya sebentar, Pak Arman?"Pak Arman menutup map dokumen di depannya, lalu menatap Angga dengan serius."Tentu, ada apa Pak Angga?""Saya ingin tau detailnya mengenai perusahaan.""Pak Angga, saya akan terbuka, lagipula hubungan antara Pak Angga dan Bu Calista, suami dan istri. Sejujurnya situasi perusahaan sekarang memang tidak sederhana."Angga berdiri dengan kedua tangan di saku celana."Berapa besar tekanan yang Alex lakukan?"Pak Arman menarik napas pelan."Jika dia berhasil menguasai lebih dari empat puluh persen saham, dia bisa memaksa rapat pemegang saham. Dari situ dia bisa menekan keputusan manajemen."Angga mengangguk pelan. "Berapa yang dibutuhkan untuk menutup celah itu?"Pak Arman sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Maksud Pak Angga?""Dana." Suara Angga tenang. "Berapa yang dibutuhk
Mobil Angga melaju cepat meninggalkan halaman rumah. Pikirannya dipenuhi kemungkinan yang tidak ia sukai.Calista bukan tipe orang yang pergi malam-malam tanpa memberi tahu siapa pun. Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia terlihat sangat lelah.Angga mencoba menelepon lagi. Masih tidak diangkat.Rahangnya menegang. "Calista, kamu lagi apa sebenarnya?"Angga menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Instingnya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan Alex.***Sementara itu, di ruang rapat kantor perusahaan milik mendiang Ririn.Pak Arman menutup map dokumen di depannya. "Kalau kita bicara secara teknis, menjual lima puluh satu persen saham berarti Ibu kehilangan kendali penuh terhadap perusahaan."Calista mengangguk. "Saya paham."Mira masih berdiri dengan wajah tegang. "Bu, kita masih punya opsi lain. Kita bisa cari investor lain. Kita bisa restrukturisasi saham.""Gak cukup cepat," potong Calista pelan. "Pak Alex bergerak terlalu cepat." Pak Arman menatapnya dengan serius."Apa
Kay sudah masuk kamar lebih awal karena besok harus bangun pagi untuk sekolah dan latihan basket. Rita juga kembali ke kamarnya setelah cukup lama berbicara dengan Angga mengenai langkah hukum jika Alex benar-benar mulai bergerak.Calista duduk di ruang tamu dengan laptop terbuka, berpura-pura membaca laporan. Padahal pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Pesan terakhir yang ia kirim masih terngiang di kepalanya. 'temui aku jam delapan malam ini.'Belum ada balasan dari Alex. Namun Calista tahu satu hal, Alex pasti datang.Calista menarik napas pelan. Langkah kaki Angga terdengar dari arah dapur. Pria itu membawa dua gelas air hangat."Kamu masih kerja?" tanyanya.Calista mengangguk kecil. "Sedikit lagi."Angga menaruh gelas di meja. "Jangan terlalu dipaksakan.""Iya, Mas."Tatapan Angga berhenti beberapa detik di wajah Calista."Aku temenin?""Gak usah, Mas."Ada sesuatu yang terasa berbeda malam ini. Tapi Angga tidak menanyakannya."Kalau udah selesai, langsung istirahat."Ca
Keesokan paginya."Kay, mau bareng gak?" tanya Calista.Kay menimbang. "Aku mau bawa motor hari ini.""Oh, oke." Calista mengulas senyum. "Kalau perlu apa-apa kabari aja nanti."Alis Kay berkerut, terdengar sedikit aneh baginya. "Oh, oke.""Kay," panggil Calista, lagi."Apa?""Gak ada apa-apa. Cuma mau bilang hati-hati di jalan."Dari kejauhan Angga melihat keduanya mengobrol dan sedikit penasaran. Langkah Angga cepat mendekati mereka.Kay menangkap pergerakan Angga. "Pa, aku berangkat dulu!" ucap Kay sambil menyambar tas.Angga yang baru saja akan bergabung kemudian berkata. "Sopir yang akan antar kamu sampai depan gerbang sekolah. Jangan jalan sendiri."Kay mendengus pelan. "Pa, aku bisa sendiri.""Di antar, lebih aman juga.""Gak hari ini Pa.""Kay, tolong. Papa cuma khawatir, kamu ingat, kamu pernah masuk ke rumah sakit gara-gara jatuh dari motor. Ujian sebentar lagi. Kamu gak boleh kenapa-kenapa."Ingatan Kay berputar pada kejadian waktu itu. Calista di samping Kay menyadari sesu
"Gara-gara aku di sini. Mas Angga harus tidur di sofa."Calista memandangi Angga yang masih tertidur lelap dengan tangan bersilang di atas dada. Pagi datang terlalu cepat bagi Calista. Setelah sedikit drama tempat tidur.Semalam Calista dan Angga harus tidur di kamar yang sama. Karena tidak mungkin tidur terpisah, Rita pasti akan mempertanyakan itu.Meski satu kamar, namun mereka tidur terpisah. Calista di ranjang dan Angga di sofa. Angga memberi ruang untuk Calista merasa nyaman.Pernikahan mereka dadakan dan bukan atas dasar cinta. Pernikahan karena sebuah sandiwara yang berakhir dengan pernikahan yang di terima keduanya.Calista memijat pelan kepalanya. Ia terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena cukup istirahat justru karena pikirannya tidak pernah benar-benar tidur.Di satu sisi, ia adalah dokter magang yang harus datang tepat waktu, belajar, mengikuti instruksi, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.Di sisi lain, ia adalah pimpinan perusahaan peninggalan ibunya







