MasukAda sesuatu yang salah. Nalurinya menjerit, lebih keras dari rasa lelah. Getaran tanah semakin jelas. Aura asing menekan dari kejauhan, menusuk nalurinya.
Tanpa ragu, tumbuhan itu bertindak.
Sulur-sulurnya bergerak cepat, membungkus tubuh Qu Cing rapat-rapat, melilitnya berlapis-lapis hingga membentuk buntalan hijau kecokelatan. Daun-daun lebar menutup rapat, menyamarkan bau darah dan energi manusia.
Ia menyeret buntalan itu masuk ke balik semak berduri, menyelipkannya di antara akar besar yang menonjol dari tanah.
“Diam… diamlah…” bisiknya cemas, seolah Qu Cing bisa mendengar.
Getaran itu semakin dekat.
Tiba-tiba—
Whuuush!
Sesuatu melesat dari balik pepohonan.
Bayangan putih besar melompat keluar dengan kecepatan mencengangkan. Tubuhnya ramping, bulunya putih bersih dan lebat, matanya menyala tajam di kegelapan hutan.
Seekor kucing putih cukup besar, mulutnya terbuka, taringnya mengilap. Dan dalam satu gerakan cepat, ia meraih buntalan itu dengan mulutnya.
Tumbuhan merambat itu tersentak.
“Eh?!”
Sulur-sulurnya refleks menegang, mencoba menarik kembali, tapi sudah terlambat.
Kucing putih itu mendarat ringan, lalu berbalik dan menghilang di antara pepohonan, membawa buntalan Qu Cing bersamanya.
Hutan kembali sunyi.
Tumbuhan merambat itu tertinggal, sulur-sulurnya gemetar pelan.
“Tidak… tunggu…!”
Namun jawabannya hanyalah desiran angin malam.
...
Bayangan putih itu melesat cepat di antara pepohonan.
Dari sudut pandangnya, hutan bukan labirin gelap, melainkan aliran bayangan dan celah aman. Akar-akar besar, dahan patah, kabut rendah, semuanya terbaca jelas dalam matanya yang berkilau. Buntalan hijau kecokelatan di mulutnya dijaga dengan hati-hati, gigitan cukup kuat untuk menahan, cukup lembut agar tak melukai isinya.
Getaran tanah masih terasa di kejauhan.
Kucing putih itu mengubah arah, melompat ke jalur sempit yang tertutup semak rapat, lalu menuruni lereng kecil menuju cekungan tersembunyi. Di sana, batu-batu besar membentuk dinding alami, dan aliran energi hutan terasa lebih tenang, terlindung dari deteksi kasar.
Ia berhenti.
Hening...
Setelah memastikan tak ada aura asing menyusup, kucing putih itu menurunkan buntalan dengan perlahan. Cahaya tipis kehijauan merembes dari tubuhnya. Siluetnya meregang, berubah tulang, daging, dan bentuk menyatu dalam satu tarikan napas sunyi.
Sesosok wanita berdiri di sana. Wanita berambut perak dengan mata hijau zamrud.
Ia berlutut, membuka lilitan sulur dan daun dengan lembut. Tubuh kecil Qu Cing terbaring tak berdaya, napasnya tipis, wajahnya pucat, bibirnya kering, tubuhnya dingin.
“Rapuh sekali…” gumamnya pelan. Jemarinya berhenti sepersekian detik, sebelum ia melanjutkan.
Wanita itu duduk, menarik tubuh Qu Cing ke pangkuannya. Gerakannya tenang, penuh kehati-hatian. Ia mengusap dahi bocah itu sejenak, lalu menengadahkan tangan kanannya.
Telapak tangan itu terbuka. Tanda matahari terlihat jelas.
Retak...
Garis-garisnya pecah tak beraturan, berlumur darah kering dan segar. Energi di dalamnya bergejolak liar, seperti aliran yang dipaksa melewati bendungan runtuh. Segel yang pernah menahannya… telah jebol.
Mata hijau wanita itu meredup sesaat.
“Kau memaksakan diri sejauh ini…” bisiknya.
Ia mengangkat tangan Qu Cing sedikit lebih tinggi. Jemarinya menyentuh perlahan tepi tanda itu. Sinar hijau lembut yang mengalir seperti embun pagi.
Sentuhannya menembus kulit.
Bukan sekadar menutup luka, melainkan menyusuri bagian terdalam. Meridian yang retak disentuh satu per satu, jaringan yang robek dijahit ulang dengan kesabaran yang hampir tak manusiawi. Energi liar dipeluk, ditenangkan, diarahkan kembali ke jalurnya.
Darah berhenti mengalir.
Retakan pada tanda itu mulai menyempit, tidak sepenuhnya pulih, tapi cukup untuk menghentikan kehancuran lebih lanjut.
...
Hutan kembali bernapas.
Namun bagi si tumbuhan merambat, napas dunia terasa pincang.
Sulur-sulurnya merayap perlahan di tanah, menyusuri jejak yang nyaris tak tersisa. Bau lumpur yang terganggu. Cabang patah. Rumput yang rebah ke arah yang tidak wajar. Semua tanda itu terlalu samar bagi makhluk biasa, namun tidak baginya.
“Ke mana… ke mana kau membawanya…” gumamnya lirih.
Ia terus bergerak.
Beberapa kali ia berhenti, sulur-sulurnya terangkat, bergetar ragu. Aura kegelapan dari kejauhan masih terasa, menekan nalurinya. Jika ia salah arah, jika ia terlambat, maka—
Sulurnya tiba-tiba menegang.
Di antara semak yang terinjak dan batu yang tergores, ia menemukan sesuatu.
Sobekan kecil.
Serat hijau kecokelatan yang tercabik, ujungnya masih memancarkan denyut lemah, bagian dari lilitan yang tadi membungkus Qu Cing.
“Ketemu…!”
Harapan yang hampir padam menyala kembali.
Tanpa ragu, tumbuhan itu mempercepat gerakannya. Sulur-sulurnya meluncur mengikuti jejak robekan itu, dari satu tanda ke tanda lain, semakin jelas, semakin dekat. Energi hutan di sekitarnya berubah, lebih tenang dan dalam.
Lalu ia sampai. Di balik formasi batu besar yang membentuk cekungan tersembunyi, tumbuhan itu berhenti.
Sulur-sulurnya membeku.
Di hadapannya, Qu Cing terbaring dalam dekapan seseorang.
Sesosok wanita duduk diam, tubuhnya sedikit condong, seolah menahan beban yang tak terlihat. Cahaya hijau lembut mengalir dari jemarinya ke tubuh Qu Cing, berdenyut perlahan, menyusuri jalur-jalur yang tak kasatmata.
Tumbuhan merambat itu terpaku. Ia bisa merasakan apa yang terjadi.
Meridian yang nyaris runtuh… sedang ditahan. Energi liar… sedang ditenangkan.
“Itu…” bisiknya, nyaris tak bersuara.
“Penyembuhan… tingkat ini…”
Sulur-sulurnya bergetar hebat. Ini bukan sekadar menyembuhkan luka. Ini adalah mempertaruhkan diri sendiri.
Cahaya hijau itu semakin redup. Alirannya mulai tersendat. Napas wanita itu terdengar sedikit lebih berat, bahunya bergetar halus, seolah menahan sesuatu yang ingin pecah dari dalam. Hingga akhirnya setetes darah mengalir dari ujung bibirnya.
Wanita itu tidak menghentikan aliran energi. Seolah rasa sakit itu bukan harga yang layak dihitung, selama bocah di dalam dekapannya masih bernapas.
Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s
Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it
Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar
Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan
Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang
Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya







