Share

3. Hutan Lembah Siluman Kera

Author: Donat Mblondo
last update Last Updated: 2026-01-26 13:20:04

Di kedalaman Hutan Lembah Siluman Kera, sebuah portal rusak terbuka di antara pepohonan.

Tubuh kecil Qu Cing terlempar keluar, menghantam tanah berlumpur, tak bergerak. Di sampingnya, tumbuhan merambat asing berdenyut pelan… seolah bernapas.

Portal itu bergetar sekali… lalu runtuh sepenuhnya.

Cahaya memudar, menyisakan keheningan hutan yang pekat.

Di antara akar-akar besar dan pepohonan menjulang, tubuh kecil Qu Cing tergeletak di tanah berlumpur. Bajunya basah oleh darah dan lumpur, napasnya lemah. Dingin malam merayap perlahan, menyusup ke tulang.

Di sampingnya, tumbuhan merambat asing itu berdenyut pelan.

Daun-daunnya bergerak halus, naik turun, seperti dada yang bernapas. Batangnya berkilau samar kehijauan, merespons lingkungan sekitar. Perlahan, sulur-sulurnya menjulur, melilit tubuh Qu Cing dengan hati-hati menyelimutinya.

Daun-daun lebar menutupinya dari angin malam. Udara di sekitarnya terasa sedikit menghangat.

Hutan Lembah Siluman Kera sebenarnya tidak pernah benar-benar sunyi. Di kejauhan terdengar suara lolongan rendah, gesekan cabang, dan langkah makhluk yang bergerak di antara pepohonan. Namun, tidak satu pun siluman kera menyadari keberadaan bocah manusia itu.

Tongkat sakti Sun Ji Gong, sebagai penanda bahwa dirinya adalah raja dari para bangsa kera, kini, berada dalam genggaman Seo Rang.

Tanpa itu, ia hanyalah tubuh kecil yang nyaris mati, tersembunyi di tengah hutan yang luas dan berbahaya.

Tumbuhan merambat itu bergetar.

Sulur-sulurnya berhenti sejenak, lalu bergerak lebih cepat. Daun-daunnya menegang, seolah menangkap sesuatu yang tak terlihat. Getaran halus merambat dari batang ke akar.

"Ada bahaya, aku harus segera membawamu pergi dari sini," kata si tumbuhan.

Jejak portal memang telah menghilang, namun bau kegelapan belum sepenuhnya lenyap dari dunia. Makhluk-makhluk yang mengejar tidak akan berhenti begitu saja.

Tumbuhan itu tidak menunggu.

Sulur-sulurnya menyusup ke bawah tubuh Qu Cing, mengangkatnya perlahan dari lumpur. Gerakannya hati-hati, lembut, bertolak belakang dengan kesan liar hutan di sekitarnya.

Ia mulai bergerak.

Merambat di atas tanah, menyelinap di antara akar-akar besar, menjauh dari titik kemunculan portal. Setiap kali terdengar suara mencurigakan, tumbuhan itu berhenti, menahan napas dan menyembunyikan Qu Cing dalam dekapannya. Lalu melanjutkan lagi dengan jalur yang berbeda.

Qu Cing tetap tak sadarkan diri.

Wajahnya pucat, alisnya sedikit berkerut, seolah tubuhnya masih bertarung di ambang hidup dan mati. Namun di balik lilitan sulur dan daun itu, napasnya mulai teratur.

Di sisi lain, di pelataran Perguruan Long Ji masih dipenuhi retakan dan sisa kehancuran. Asap tipis kegelapan telah lama menghilang, namun jejak pertempuran itu masih terasa berat di udara.

Jia Gong An terbaring di tanah yang dingin.

Kesadarannya naik turun, seperti ombak kecil yang nyaris tenggelam. Pandangannya buram, dunia tampak berlapis bayangan. Namun di tengah kabut itu, satu sosok berdiri dengan jelas.

Wanita bermata hijau.

Cahaya lembut memancar dari tubuhnya, membuat reruntuhan di sekitarnya tampak pucat dan tak berarti.

“Kau…”

Kata itu lepas begitu saja dari bibir Jia Gong An, lirih dan nyaris tanpa suara.

Bukan karena ia yakin sepenuhnya. Melainkan karena ada sesuatu yang terasa… mirip dengan energi itu.

Wanita itu tidak menjawab. Ia berlutut di samping Jia Gong An, ekspresinya tenang, seolah luka menganga di dada wanita itu bukanlah sesuatu yang mendesak.

Dua ujung jarinya, telunjuk dan jari tengah, menyentuh tepat di atas luka terakhir Jia Gong An.

Sekejap, cahaya hijau menyala.

Cahaya yang lembut dan dalam, seperti cahaya yang hidup. Partikel hijau berkilau mengalir masuk ke dalam luka, menyusuri daging dan tulang, menjahit jaringan yang hancur, menenangkan meridian yang porak-poranda.

Rasa sakit lenyap seketika.

Luka itu menutup sempurna, bahkan bekasnya nyaris tak tersisa. Aliran energi yang tadinya kacau kini kembali stabil, seolah tubuh Jia Gong An baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Wanita bermata hijau itu menarik kembali tangannya.

Wajahnya sedikit memucat.

Ia berdiri perlahan, menoleh ke arah langit yang masih retak samar oleh sisa aura iblis.

“Maaf,” ucapnya singkat. Suaranya lembut, namun terburu-buru. “Aku tidak punya banyak waktu.”

Ia menatap Jia Gong An tajam. “Di mana anak itu?”

Jia Gong An terdiam.

Pertanyaan itu membuat pikirannya berputar cepat. Gambaran Qu Cing, energi penyembuh yang aneh, semuanya bertumpuk menjadi satu.

Ia menatap wanita di hadapannya lebih saksama.

‘Energi ini… begitu mirip…'

Jantungnya berdebar pelan.

Mungkinkah…

Namun ia menepis dugaan itu. Sekarang bukan waktunya berspekulasi.

Jia Gong An menarik napas dalam, lalu menjawab jujur, meski suaranya masih lemah.

“Jika teleportasi itu tidak meleset…” katanya pelan, “kemungkinan besar… anak itu berada di Hutan Lembah Siluman Kera.”

Mata hijau wanita itu menyempit.

Cahaya di sekelilingnya bergetar halus, seperti dedaunan yang tersentuh angin.

“Hutan Lembah Siluman Kera…” gumamnya.

Ia menoleh ke arah yang jauh, seolah pandangannya mampu menembus jarak dan kabut dunia.

“Kalau begitu…” ucapnya lirih, nyaris seperti janji, “aku masih belum terlambat.”

Angin lembut berhembus.

Daun-daun kering di pelataran berputar, dan ketika Jia Gong An berkedip, Wanita bermata hijau itu telah menghilang.

...

Angin di Hutan Lembah Siluman Kera berembus tidak wajar.

Di antara pepohonan raksasa dan kabut tipis yang menggantung rendah, wanita itu berdiri di atas dahan tinggi, tubuhnya nyaris menyatu dengan bayangan dedaunan. Gaun putih kehijauannya kini meredup, cahayanya ditekan rapat-rapat, seolah tak pernah ada.

"Mereka telah tiba. Hutan ini… sudah berubah," ujarnya.

Di kejauhan, aura asing merayap seperti jaring tak kasatmata. Bau kegelapan tipis bercampur dengan aroma tanah basah dan bulu siluman kera. Wanita itu menyipitkan mata.

Seo Rang sudah lebih dulu bergerak.

Di beberapa titik, ia merasakan resonansi penaklukan. Bangsa Siluman Kera belum musnah… tapi telah berada di bawah bayang-bayang kekuasaan iblis.

“Cepat sekali…” gumamnya hampir tak terdengar.

Ia menahan napas, menurunkan keberadaannya hingga sedekat mungkin dengan alam. Detak jantungnya melambat, energi spiritualnya berbaur dengan aliran hutan. Bahkan siluman kera yang berjaga di bawah tidak menyadari ada mata lain yang mengamati dari atas.

Lalu, pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu. Wanita itu menoleh perlahan, fokusnya mengunci satu arah.

“Di sana…”

Tumbuhan merambat itu bergetar hebat. Seluruh sulurnya menegang, daun-daunnya merapat, berdesir panik.

“Celaka… celaka!” ucapnya tergesa, suaranya bergetar. “Mereka benar-benar datang…!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   12. Sang penjaga wilayah

    Jemarinya yang gemetar tinggal satu inci lagi menyentuh kain jubah itu. Harapan membuncah di dadanya, sebuah pertolongan yang sudah di depan mata.Namun, harapan itu hancur dalam sekejap.Sosok itu mundur selangkah. Gerakannya tenang, anggun, namun mengandung penolakan yang mutlak. Tangan Qu Cing hanya mencengkeram udara kosong, lalu jatuh terkulai menghantam tanah yang dingin.Qu Cing mendongak susah payah, matanya yang buram mencoba mencari wajah di balik bayangan itu, tapi yang ia temukan hanyalah aura yang membekukan darah."Wilayah Inti bukan tempat pengungsian bagi yang sekarat," suara sosok itu terdengar, nadanya datar dan dingin laksana kristal es yang menusuk gendang telinga. Tidak ada belas kasihan di sana, hanya penghakiman. "Jika kau mati di garis ini, artinya kau memang hanya sampah yang kebetulan membawa cahaya."Kata-kata itu menghantam Qu Cing lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Napasnya tercekat. Ia pikir ia telah mencapai garis finis, tapi ternyata ia baru s

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   11. Wilayah Inti

    Di dalam anyaman hijau yang membawanya lari, Qu Cing bisa merasakannya. Bukan melalui mata atau telinga, melainkan melalui pori-pori kulitnya yang meremang ngeri. Hawa itu dingin, lengket, dan berbau kematian sedang merayap mendekat.Para iblis. Mereka tidak lagi sekadar bayangan di kejauhan. Hawa keberadaan mereka menusuk menembus anyaman tanaman, seperti jarum-jarum es yang mencari sela tulang rusuknya. Jantung Qu Cing berdegup tidak beraturan. Ia tahu tas ini bergerak secepat yang ia bisa, menyeret tubuhnya menjauh dari medan tempur, tapi itu tidak cukup.Di belakang sana, Bibi Miao Meng sedang mempertaruhkan nyawa menghadapi monster berwajah manusia itu.'Lagi,' batin Qu Cing, gigi-giginya beradu menahan rasa sakit di dadanya. 'Lagi-lagi aku harus dilindungi. Lagi-lagi mereka harus berdarah agar aku bisa bernapas.'Rasa muak menjalar lebih cepat daripada racun mana pun.Ia tidak bisa pingsan sekarang. Jika ia membiarkan kesadaran ini lolos, maka pengorbanan wanita bermata hijau it

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   10. Keraguan

    Miao Meng menegang. Bukan karena ia terlambat melihat, melainkan karena memang tidak ada apa pun untuk dilihat. Mata tembus pandangnya membaca jalur, aliran, dan bekas keberadaan… namun sosok di depannya tidak meninggalkan satu pun. Dia tidak bersembunyi ataupun menyamarkan diri. Seo Rang berdiri di sana seolah dunia sendiri tidak pernah mencatat kedatangannya.Seo Rang tersenyum.Langkahnya ringan saat ia mendekat, seolah tanah sendiri enggan bersuara di bawah telapak kakinya.“Istriku Miao Meng,” ucapnya lembut, nada itu terlalu akrab untuk situasi seperti ini. “Mengapa wajahmu begitu dingin melihatku?”Ia memiringkan kepala sedikit, senyumnya menipis.“Bukankah,” lanjutnya pelan, “kau merindukan wajah suamimu ini?”Udara di sekitar mereka menegang.Miao Meng tidak menjawab.Namun saat tangan Seo Rang terangkat, gerakannya lambat, ujung jarinya mengarah ke wajahnya, tubuh Miao Meng bereaksi lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia mundur selangkah, mata hijaunya menyala tajam, cakar

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   9. Getaran hati

    Lu Tung tidak langsung bergerak.Tongkat di tangannya masih terangkat setengah, berhenti di udara. Mata kusam itu menatap bocah di hadapannya… begitu lama untuk sebuah keputusan membunuh.Kabut di sekeliling mereka berputar pelan.“Bocah,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, seperti batu yang digeser paksa. “Kau seharusnya sudah mati.”Beberapa kera di belakangnya menggeram pelan. Ada yang mencengkeram tanah. Ada yang memalingkan pandangan, seolah nama itu membawa sisa rasa tidak nyaman.Lu Tung melangkah satu langkah ke depan.“Tongkat Sakti berada di tangan iblis berwajah manusia itu,” lanjutnya. “Dan semua yang menentangnya… mati di tangannya.”Ia menyipitkan mata.“Kami melihatnya. Atau setidaknya… kami dipaksa untuk percaya.”Hening jatuh.Angin berhenti.Lu Tung mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi, lalu... berhenti lagi.“Aura ini…” gumamnya lirih. "lemah, rapuh, hampir putus."Nada itu bukan ejekan. Justru merasa bingung.“Tetap saja…” rahangnya mengencang, “…rasan

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   8. Dihadang para kera

    Langkah Miao Meng tidak melambat.Ia melompat dari akar ke batu, dari batu ke batang tumbang, tubuhnya bergerak ringan meski napasnya mulai terseret. Kabut terbelah setiap kali ia menerobosnya, dedaunan basah menyapu bahunya, meninggalkan jejak aroma darah yang semakin sulit disembunyikan.Di punggungnya, tas anyaman hijau itu bergoyang pelan.Di dalamnya, kesadaran Qu Cing kembali mengapung.Dentum langkah berat. Retakan ranting. Dan lolongan panjang, kasar, saling bersahutan, mengoyak udara hutan tanpa henti. Suara itu menembus dinding tidur yang rapuh, memaksa pikirannya naik ke permukaan.‘…Lari…?’Kelopak matanya bergetar. Ia tidak benar-benar membuka mata, hanya menyisakan celah sempit di antara bulu mata yang terasa berat seperti timah.Dari celah anyaman tas, dunia tampak terpotong-potong.Hijau gelap dedaunan. Kabut yang terbelah kasar. Dan... merah.Goresan darah mengalir di lengan Miao Meng. Tipis, mengikuti garis pergelangan hingga menetes jatuh, hilang di tanah hutan yang

  • Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]   7. Kesadaran

    Jari Qu Cing bergerak sekali lagi.Di dalam kepalanya, sesuatu runtuh… lalu menyatu kembali. Kesadarannya muncul terputus-putus, seperti serpihan mimpi yang tak sempat dirangkai.Ada rasa dingin. Tidak menyakitkan. Justru… ringan.Cairan itu mengalir turun di tenggorokannya, meninggalkan jejak segar yang menyebar ke dada, ke perut, ke jalur-jalur yang terasa kosong dan retak. Tubuhnya masih berat, sangat berat untuk digerakkan, tapi rasa sesak yang menekan jantungnya… berkurang.'Ini…'Ingatan kecil muncul.Daun panjang. Air bening. Rasa segar yang terlalu sederhana.'Degan…?'Pikiran itu muncul tanpa suara, tanpa tenaga. Namun begitu nama itu terlintas, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.'Ramuan yang sering kuandalkan."Bukan ramuan agung. Bukan pula teknik rahasia. Hanya air kelapa muda yang ia poles alirannya, sekadar untuk menyamarkan pemulihan energinya sendiri.Kesadaran itu hanya bertahan sekejap. Rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya, mengikuti aliran energi ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status