LOGIN“Do you find me disgusting after the kiss? Was I a bad kisser?” Bianca let out, standing up as well. “Would this surface?” Felix asked as he pulled her closer to his chest! Before she could utter another word from her lips, Felix had covered her lips with his. The kiss panned out to be pecking on the lips but got intense every minute, the small touch her boss gave her was a new experience for Bianca. Every kiss increases the rate of her heartbeat. Her skin where in hot flames, Bianca couldn't help it as a soft moan escaped her lips. She didn't know if what they were doing was right, his lips became more demanding as their tongues intertwined together. Her lips seemed to meet his demand as she clutched her hands on his shirt. After Felix had pulled away, he placed a tingling kiss on her nose. “Would this answer your question?” Felix asked, staring keenly at her eyes. Both of them seemed to be breathing hard from the kiss they had shared. “I don't get you?” Bianca let out stepping away from him a little, she didn't know if she could hold herself from not kissing her boss again. Her hormones were getting the best of her already and she needed to run for her life. She wanted to leave when his next word stopped her. “I like kissing you, Bianca, I was so busy with work that I didn't know that you were affected. I didn't know if you would be uncomfortable if I had brought It up when we were in the car that night, why don't you just quit asking more questions or running away? Just kiss me since you want to,” Felix let out, Bianca was stunned by her boss's words.
View More"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Bianca woke up to a bright morning but she couldn't help but notice Mitchell, she seemed busy on her phone and she kept calling Alex's name while she kept placing the phone on her ear.It seemed like he wasn't picking and that had kept her on the edge.“This is Alex, leave a message!” the phone uttered.“Alex, this is Mitchell and I think you should call me back when you get this. Bye!” Michelle said a little frustrated.Bianca's attention was diverted the minute her phone began to buzz uncontrollably in her bag. She rubbed her eyes before tapping on the answer button of her phone, “I’m sorry Ethan but I can not meet up with you because my boss wouldn't allow me, I’m truly sorry okay!” Bianca said on the other line while his boss trudged down the stairs.“Alright, bye Ethan!” she said before hanging up.She twirled around to notice her boss. “Okay Bianca, you can meet up with him!” Felix simply said.“Sir?” Bianca said, wondering if she had just heard her boss quite well. “You want
Bianca was in the kitchen trying to bake some cupcakes before she was distracted by both Daniella and Ria.“Uhmmm Bianca, can you ask the person who is eating across you if she is done? You see that I’m almost done watching the dishes and right now I’m just waiting for her plate and utensil!” Daniella said to Bianca who gaped at Ria who was eaten slowly like a snail. “Okay!” Bianca responded nonchalantly.“She is taking so long and I can’t finish my work early!” Daniella added.“Ria, Daniella want to know if you are not yet done with…” Bianca said but stopped half way.“Hold on, what’s happening? Is your war not over yet?” Bianca asked, staring at both of them in amusement. “She is the one ignoring me, she is so full of it!” Ria said with a scoff while she continued eating.Bianca kept breathing the agonizing and quiet atmosphere but she seemed tired of it.“Guys, Daniella and Ria, could the both of you just stop whatever you are doing already?” Bianca pleaded with the both of them
The flowers which Bianca's boss had given to her the other day had begun to facilitate and Bianca couldn't help but seem worried. She had been in the kitchen trying very hard to at least revive some part of the flower while she lamented worriedly. “My beautiful flowers, please don't perish just yet!” she said in a sad tone.“You can't stop that anymore, why don't we just cook that!” Ria who was wiping the glass cup clean.“What's wrong with you Ria, this ain't some vegetable,” Bianca simply told her.“Bianca, I’m looking for the wiper, have you seen it?” Daniella who had walked into the kitchen asked but she instantly frowned the moment her eyes met with Ria's.She huffed angrily before twirling around to leave.“Hey, Daniella?” Ria called but she was ignored. “What's going on? Are you guys having a fight again?” Bianca asked Ria who ignored her.“Hey, you guys better make peace because this is not good!” Bianca said, spraying the flowers.“Hey, Bianca?” Mitchell said the moment sh
The pizza had arrived and everyone was seated on the dining chair while they all had some pizza and Milkshake together.“Felix, look at their nails and how pretty they look?” Mitchell said excitedly. She raised her milkshake while her lips drew some long sips before gaping at Felix for a response,“It's a trendy thing called nail art!” She said the moment she dropped the milkshake on the table. “Oh, don't tell me you don't like it?” Mitchell asked when she noticed his odd-looking expression.“No, I like clean plain nails!” he responded while he stared at both Bianca's and Fiona's painted nails. “Eat some more baby!” Bianca said to Anna who nodded before taking a huge bite.“I honestly think that they are cute and you are only jealous!” Mitchell said. Meanwhile, Ria held Bianca's phone while she chuckled hard as the phone kept ringing. “Uhmm, but excuse me everyone!” she said respectfully before turning to face Bianca.“Bianca, your phone has been beeping non-stop. It's Ethan!” Ria






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.