تسجيل الدخولTiga hari sejak pagar seng raksasa itu berdiri, toko "Amerta Green" benar-benar seperti kuburan. Tidak ada satu pun pelanggan yang datang karena dari luar jalan raya, tempat itu terlihat seperti lahan kosong yang sedang digusur. Ghea menatap tumpukan pembukuan tokonya yang kosong melompong minggu ini. Kalau begini terus bahkan sebelum dua minggu, dia sudah mati kelaparan duluan.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Arga?" Ucap Ghea sambil menatap kartu nama firma arsitektur milik Arga yang sempat ia temukan terselip di map dokumen tempo hari. Dirgantara Landscape & Architecture. Sebuah kantor mentereng di pusat kota. Ghea menyambar tas kainnya, memakai jaket denim kesayangannya lalu melangkah keluar dia tidak akan membiarkan iblis itu mencekik bisnisnya pelan-pelan, dia akan menuntut haknya langsung di sarang pria itu. Kantor Dirgantara Landscape & Architecture, tempat ini serba putih, minimalis, dingin, dan dipenuhi orang-orang berpakaian rapi yang berjalan terburu-buru. "Maaf, Mbak, apakah sudah membuat janji dengan Pak Arga?" tanya resepsionis dengan senyum formal, "Belum. Tapi tolong sampaikan, Ghea Kirana dari Amerta Green ada di sini. Dan saya tidak akan pergi sebelum dia menemui saya," ujar Ghea tegas. Resepsionis itu tampak ragu, namun setelah melakukan panggilan telepon singkat, wajahnya berubah agak tegang. "Silakan naik ke lantai empat, ruangan paling ujung. Pak Arga bersedia menerima Anda." Ghea menarik napas dalam-dalam saat melangkah masuk ke dalam lift. Begitu sampai di depan pintu kayu jati berpelat nama Arga Dirgantara, Dia langsung membuka pintu tersebut, *Cklek.* Arga mendengar pintu terbuka kasar, dia sama sekali tidak terkejut pria itu bersandar di kursi kerjanya, menatap Ghea dengan pandangan sedingin es, persis seperti pertemuan pertama mereka. "Sopan santun tampaknya memang bukan keahlianmu, Saudari Ghea," ucap Arga datar, "Saya beri waktu lima menit sebelum security menyeretmu keluar." "Maksud Anda apa memasang pagar seng itu?!" Ghea langsung mengebrak meja Arga, "Anda sengaja memutus akses jalan ke toko saya supaya tidak ada pelanggan yang datang, kan? Itu cara yang sangat kotor dan licik!" "Itu disebut prosedur keselamatan kerja. Pembersihan lahan fase awal memang membutuhkan pembatas agar material proyek tidak membahayakan warga sekitar. Semua legal secara hukum." Jawab Arga "Bohong! Fase awal apanya? Proyeknya bahkan belum mulai!" Emosi Ghea mulai memuncak. "Anda cuma balas dendam karena masalah air siraman tanaman kemarin, kan? Akui saja, Arga! Anda kekanak-kanakan!" Mendengar kata 'kekanak-kanakan', rahang Arga mengeras. Dia bangkit berdiri, membuat postur tubuhnya yang tinggi menjulang langsung mengintimidasi Ghea. "Balas dendam?" Arga tersenyum sinis, "Kalau saya mau balas dendam saya sudah melaporkanmu atas tindakan pengrusakan dan perbuatan tidak menyenangkan, pagar itu murni urusan pekerjaan." "Tapi gara-gara pagar itu, penghasilan saya minggu ini nol! Saya punya hak hidup selama dua minggu ini!" suara Ghea gemetar, campuran antara marah dan frustrasi. Arga menatap mata Ghea yang mulai berkaca-kaca namun tetap menolak untuk tunduk. Ada desiran aneh yang mendadak lewat di dada Arga melihat kegigihan gadis ini, namun ego kaku sang arsitek langsung menepisnya. "Baik," Arga melipat tangannya di dada. "Kamu mau akses tokomu dibuka kembali?" Ghea mengernyit curiga. "Apa syaratnya?" Arga kembali duduk dikursi kerja nya, mengambil selembar kertas baru dan sebuah pulpen, lalu menyodorkannya ke hadapan Ghea. "Kita buat kesepakatan dan garis batas profesional yang ketat. Selama sisa dua minggu ini, saya akan memerintahkan pekerja untuk membuka sebagian pagar seng di siang hari agar pelangganmu bisa masuk." "Lalu?" "Syaratnya, kamu dilarang keras mengganggu jalannya pengukuran lahan yang dilakukan tim saya di area luar tokomu. Dan yang paling penting..." Arga menatap tajam mata Ghea. "...jaga jarakmu setidaknya dua meter dari saya. Jangan pernah membuat keributan, apalagi menyiram saya lagi dengan air menjijikkan itu. Tanda tangani ini, atau tokomu akan tetap terkubur di balik seng sampai hari penggusuran tiba." Ghea menatap kertas di depannya, lalu menatap wajah Arga yang tampak sangat angkuh. Gengsi Ghea meronta-meronta, rasanya ingin sekali dia merobek kertas itu dan melemparkannya ke wajah Arga. Tapi wajah pot bunga Lily milik ibunya terbayang di ingatan. Demi Amerta Green, Ghea harus bertahan. Dengan tangan yang mengencang, Ghea menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya dengan kasar. "Deal," desis Ghea, melempar pulpen itu ke meja. "Dua minggu, Arga. Dan setelah itu, saya harap saya tidak perlu melihat wajah iblis Anda lagi seumur hidup saya!" Arga mengambil kertas itu dengan senyum tipis, "Kesepakatan tercatat. Silakan keluar dari ruangan saya." Ghea berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras, membanting pintu ruangan Arga hingga menimbulkan suara berdentum. Di balik meja kerjanya yang luas, Arga memperhatikan pintu yang baru saja bergetar hebat akibat bantingan Ghea. Keheningan kembali menguasai ruangan itu, ia menurunkan pandangannya menatap coretan tanda tangan Ghea yang berantakan di atas kertas kesepakatan mereka, "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan dengan aturan ini, Ghea," gumam Arga pelan. Keesokan harinya, Arga benar-benar menepati janjinya. Sejak pukul sembilan pagi, para pekerja proyek sudah menggeser sebagian pagar seng raksasa di depan Amerta Green, menyisakan celah selebar dua meter yang cukup aman untuk akses masuk pelanggan. Ghea berdiri di ambang pintu tokonya dengan sekop kecil di tangan kanan dan pot plastik kosong di tangan kiri. Dia memperhatikan para pekerja yang mulai sibuk mengukur tanah di area luar halaman tokonya. Namun, senyum lega Ghea langsung luntur saat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti di tepi jalan. Arga Dirgantara datang, ia membawa sebuah papan klip dokumen dan langsung berjalan menghampiri mandor proyek tanpa melirik Ghea sedikit pun, dia mulai memberikan instruksi dengan gestur tangan yang tegas. Ghea memutar bola matanya malas. "Ngapain lagi sih si iblis itu harus datang? Kurang kerjaan banget," gerutu Ghea ketus. Dia memilih masuk kembali ke dalam toko, mengabaikan kehadiran Arga dan fokus merapikan deretan tanaman hias gantungnya. Satu jam berlalu. Ghea sedang sibuk memindahkan beberapa polybag bibit bunga mawar ke rak bagian depan ketika tiba-tiba dia mendengar suara perdebatan kecil dari arah halaman. "Pak, tapi ini batas tanahnya mepet banget sama fondasi rumah kaca belakang toko. Kalau dipasang patok di sini, pipanya bisa pecah," suara salah satu pekerja terdengar ragu. "Ikuti sesuai cetak biru. Sisi ini harus rata untuk saluran pembuangan kafe nanti," jawab Arga dingin, tidak mau dibantah. Mendengar kata 'pipa pecah' dan 'rumah kaca', insting Ghea langsung menyala, dia menjatuhkan sekop kecilnya dan langsung lari keluar toko, "Tunggu dulu! Jangan pasang patok di situ!" seru Ghea, langsung menerobos kerumunan pekerja dan berdiri tepat di depan patok kayu yang hendak ditancapkan. "Saudari Ghea Kirana, tolong diingat poin nomor tiga di kertas kesepakatan kemarin. Jaga jarak setidaknya dua meter dari saya. Dan sekarang, kamu berdiri kurang dari satu meter di depan saya," ucap Arga dengan nada menghitung yang menyebalkan. Ghea mendengus, sengaja mengambil langkah mundur yang lebar hingga jarak mereka pas dua meter. "Oke, sekarang sudah dua meter! Tapi dengar ya, Tuan Arsitek yang terhormat, di bawah tanah yang mau kalian patok itu ada pipa saluran air utama untuk seluruh toko ini. Kalau pipa itu pecah, tanaman saya mati semua! Kalian sengaja ya?" Arga menghela napas pendek, merasa terganggu karena pekerjaannya terus terusan dikomentari. Dia berjalan mendekat ke arah patok yang otomatis membuat Ghea kembali mundur selangkah demi menjaga jarak dua meter. Arga berjongkok, memeriksa tanah tersebut lalu mendongak menatap Ghea. "Semua pengukuran ini sudah sesuai dengan sertifikat tanah yang sah dari pemilik lahan sebelumnya. Kalau ada pipa di sini, artinya tokomu yang membangun saluran ilegal di atas tanah orang lain," Tegur Arga dengan ekspresi wajahnya yang flat tanpa dosa. "Ini bukan ilegal! Ini sudah ada sejak zaman Ibu saya!" Ghea mengepalkan tangannya di sisi tubuh dan menahan kesal karena argumen Arga selalu terasa menyudutkannya. Arga bangkit berdiri, menepuk-nepuk tangannya yang terkena sedikit debu tanah. "Saya tidak urus soal sejarah, saya bekerja berdasarkan data" Arga berbalik menatap mandornya. "Geser patoknya tiga puluh senti ke kanan." Setelah mengatakan itu, Arga berjalan kembali menuju mobilnya tanpa berpamitan. Ghea terpaku di tempatnya, dia menatap patok yang akhirnya digeser oleh para pekerja, lalu menatap punggung Arga yang perlahan masuk ke dalam mobil. Ghea tahu, Arga sengaja menggeser patok itu untuk menyelamatkan pipanya, tapi cara pria itu menyampaikan omongannya sangat menyebalkan. "Gengsi tumpah-tumpah," cibir Ghea pelan, menatap mobil Arga yang mulai melaju pergi.Dalam kurun waktu tiga hari sejak penundaan ketiga diumumkan sepihak oleh Arga, rumor miring di kalangan pebisnis berubah menjadi konsumsi publik. Sebuah akun portal berita arsitektur dan bisnis lokal mengunggah artikel dengan judul tajam: *Sikap Arogan dan Krisis Profesionalitas Arsitek Utama Dirgantara Landscape: Proyek Miliaran Terbengkalai Tanpa Alasan Jelas.*Efeknya langsung bertebaran dimana-mana hingga Jagat maya, dan media sosial miliknya mulai dipenuhi oleh hujatan. Netizen yang tidak tahu apa-apa dengan mudah menghakimi juga melabeli Arga sebagai anak pemilik perusahaan yang manja, egois, dan tidak menghargai kontrak kerja. Rekam jejak prestasinya selama bertahun-tahun seolah terhapus begitu saja oleh satu kesalahan yang sengaja ia pelihara.*Punya nama besar tapi kerjaan ditunda-tunda terus.**“Krisis kedewasaan. Mentang-mentang arsitek andalan, bisa seenaknya merubah jadwal.”**Tok! Tok!*Siska masuk tanpa menunggu
"Ini kegilaan terbesar yang pernah kamu lakukan sepanjang kariermu, Arga!"Emosi Pak Baskoro memuncak di dalam ruangan kerja Arga. Beliau adalah salah satu investor utama sekaligus rekan senior papanya. Map dokumen revisi proyek dilempar kasar ke atas meja jati. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan wajah pucat, tidak berani masuk.Arga tidak berkedip. Bahkan penampilannya masih sempurna seperti biasanya, namun sorot matanya redup dan dingin. "Saya tidak akan membatalkan proyeknya, Pak Baskoro, saya hanya meminta penundaan pengerjaan.""Itu sama saja dengan mematikan proyek secara perlahan!" bentak Baskoro frustrasi. "Berita tentang penundaan sepihak ini sudah bocor ke media bisnis. Nama baik Dirgantara Landscape & Architecture bisa hancur!dan menganggapmu tidak profesional, Arga!! Saham perusahaan mu juga bisa terganggu kalau kamu terus-menerus keras kepala tanpa alasan logis seperti ini!"Arga mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku
Satu bulan berlalu sejak deru mesin pesawat membawa Ghea terbang meninggalkan seluruh kepingan memorinya.Kota ini kembali ke ritme biasanya, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan sebuah toko tanaman kecil bernama Amerta Green. Hidup berjalan terus, memaksa dua orang yang sempat melanggar batas jarak dua meter itu untuk kembali ke garis hidup mereka masing-masing. Menjadi orang asing yang berpura-pura tidak pernah saling memedulikan.Di pusat kota, gedung mentereng Dirgantara Landscape & Architecture masih berdiri kokoh. Di dalam ruangan paling ujung lantai empat, Arga Dirgantara duduk di balik meja kerja jatinya. Penampilannya kembali sempurna: kemeja hitam formal yang rapi, kancing pergelangan tangan yang terpasang erat, dan ekspresi wajah yang sedingin es."Pak Arga, ini draf akhir untuk pengerjaan fisik kafe di lahan bekas toko tanaman kemarin. Investor meminta pengerjaan pondasi dimulai minggu depan," ucap sang sekretaris sam
Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti
Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. *Ckit!* Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. "Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." Arga menatap
Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.Ghea menggeser







