Share

Terjebak Badai - 3

Penulis: Auren Navé
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 17:13:09

Malam itu, langit kota mendadak berubah gulita jauh lebih cepat dari biasanya. Angin kencang berembus kasar, membuat daun-daun tanaman hias gantung di teras Amerta Green bergoyang kencang. Ghea buru-buru memindahkan pot-pot kecil yang rentan ke dalam toko, kilatan petir mulai menyambar di langit disusul suara guntur yang menggelegar keras.

​"Aduh, badainya kok ngeri banget sih," gumam Ghea cemas. Dia bergegas mengunci pintu kaca tokonya ketika tiba-tiba dia melihat sorot lampu mobil menembus pagar seng depan.

​Itu mobil Arga, iaberhenti mendadak dan Arga keluar dengan terburu-buru sambil memegang beberapa lembar kertas denah proyek yang hampir terbang terbawa angin tampaknya, pria itu kembali ke lokasi karena ada alat ukur timnya yang tertinggal di area samping toko.

​Namun, belum sempat Arga melangkah jauh, hujan deras langsung turun ditambah angin ribut menghantam tubuh tingginya membuat kertas-kertas di tangannya basah dalam sekejap.

​Melihat Arga yang mulai basah kuyup dan kesulitan bergerak karena badai yang terlalu ekstrem, Ghea menggigit bibir bawahnya. Gengsinya melarangnya peduli, tapi melihat angin sekencang itu, bertahan sendirian di luar sangat berbahaya.

​Dengan berat hati, Ghea membuka kembali pintu kacanya dan berteriak sekuat tenaga "Heii! Masuk dulu! Di luar bahaya!"

​Arga menoleh dia melihat Ghea melambai dari ambang pintu, tanpa berpikir dua kali Arga berlari menerobos badai dan langsung melesat masuk ke dalam kehangatan toko tanaman Ghea.

*​Brak!*

​Ghea segera menutup pintu kaca dan menguncinya rapat. Suasana di dalam toko mendadak senyap, hanya menyisakan suara hantaman hujan yang luar biasa deras di atap seng.

​Napas Arga memburu. Kemeja flanelnya basah separuh, dan rambut depannya lepek menempel di dahi.

​Ghea melipat tangan di dada, bersandar pada meja kasir. "Aturan nomor tiga," sindir Ghea sengaja, mengingatkan kesepakatan mereka. "Kamu berdiri kurang dari dua meter dari saya sekarang."

​Arga mendongak, menatap Ghea dengan pandangan lelah namun tetap tajam. "Dalam situasi darurat seperti ini, kamu masih membahas hal itu?"

​Ghea mencibir pelan tapi matanya tidak bisa bohong kalau dia sedikit kasihan melihat pria itu menggigil kedinginan, Ghea berjalan ke ruang belakang sejenak lalu kembali sambil melempar sebuah handuk kecil berwarna biru handuk bersih yang biasa ia pakai untuk mengelap pot.

​"Pakai itu buat ngeringin rambut, jangan sampai lantai toko saya penuh air" ketus Ghea.

​Arga menerima handuk itu, ia menatap kain biru di tangannya perlahan lalu menggunakannya untuk mengeringkan rambut dan wajahnya. "Terima kasih," gumam Arga sangat pelan,

​Tiba-tiba,

*petrrr!!*

​Suara petir yang sangat menggelegar menyambar tepat di atas bangunan toko.

Sedetik kemudian, seluruh lampu di dalam Amerta Green padam total, toko itu instan berubah menjadi gelap gulita.

​"Ah!" Ghea terpekik kaget. Instingnya membuat gadis itu melangkah mundur dengan panik dalam kegelapan, namun kakinya justru tersandung oleh sebuah pot besar di lantai.

​"Ghea, awas!"

​Dalam kegelapan, tangan Arga bergerak cepat karena refleks, sebelum tubuh Ghea menghantam lantai semen sepasang lengan Arga berhasil menangkap pinggang gadis itu dengan erat. Untuk pertama kalinya, jarak mereka benar-benar nol meter. Ghea bisa merasakan detak jantung Arga yang berpacu cepat sama gila-gilaan dengan detak jantungnya sendiri sekarang.

Suasana toko mendadak terasa begitu senyap,

lengan Arga yang melingkar erat di pinggangnya terasa begitu kokoh memberikan kehangatan asing yang mendadak membuat Ghea kaku tidak bisa bergerak.

​Satu detik... dua detik... kesadaran mereka akhirnya kembali.

​Ghea buru-buru mendorong dada bidang Arga dengan kedua tangannya membuat jarak di antara mereka kembali tercipta dalam kegelapan. "M-maaf..." cicit Ghea, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.

​Arga berdeham pelan, berusaha menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia melangkah mundur sengaja menjauh demi mengembalikan "garis batas" mereka yang sempat runtuh. "Makanya, kalau jalan lihat-lihat. Jangan ceroboh" ucap Arga, suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya.

​"Ya kan mati lampu! Siapa juga yang tahu ada pot di situ" balas Ghea membela diri, walau wajahnya saat ini sudah memerah padam untung saja keadaan sedang gelap gulita.

​Ghea meraba-raba meja kasir di belakangnya, mencari ponselnya untuk menyalakan senter begitu layar ponselnya menyala cahaya putih instan menerangi wajah mereka berdua.

Ghea mengarahkan senter ke arah bawah menghela napas lega melihat pot bunga Lily peninggalan ibunya untungnya tidak pecah karena tersenggol tadi.

​"Toko ini selalu mati lampu kalau ada badai?" tanya Arga, ia sedang duduk di atas kursi kayu dekat meja kasir melipat tangannya di dada karena hawa dingin mulai menusuk kemeja flanelnya yang basah.

​"Nggak selalu, tapi kalau hujan badai gini kadang suka mati lampu" jawab Ghea, dia berjalan ke sudut ruangan mengambil sebuah lilin kecil dan menyalakannya dengan korek api lalu meletakkannya di atas meja.

​Ghea melirik Arga yang duduk diam dengan bibir yang agak memucat karena kedinginan.

​Ghea berjalan ke ruang belakang lagi dan mengambil sebuah termos kecil berisi air panas yang memang selalu ia siapkan. Dia menyeduh segelas teh manis hangat, kemudian membawanya keluar dan meletakkannya di ujung meja kasir tepat dua meter di depan tempat duduk Arga.

​"Minum," ketus Ghea sambil membuang muka. "Jangan sampai Anda sakit lalu menuduh toko saya yang membawa sial."

​Arga menatap gelas kaca yang mengepulkan uap hangat itu lalu beralih menatap Ghea yang berpura-pura sibuk mengelap daun tanaman monstera di dekatnya. Pria itu meraih gelas tersebut merasakan kehangatannya berpindah ke telapak tangannya yang dingin lalu meminumnya perlahan.

​"Tehnya terlalu manis," komentar Arga datar setelah meletakkan kembali gelasnya.

​Ghea langsung menoleh dengan mata melotot kesal. "Sudah untung dibuatkan! Kalau protes, sini balikin!" Ghea hendak menyambar gelas itu, namun gerakannya terhenti saat menyadari dia hampir melanggar jarak dua meter lagi.

​Arga menahan gelasnya dengan satu tangan, matanya menatap Ghea dengan binar jail yang jarang sekali ia tunjukkan. "Saya tidak bilang saya tidak suka, saya cuma bilang ini terlalu manis." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak,

"Tapi... terima kasih"

​Mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari mulut seorang Arga Dirgantara, Ghea mendadak mati kutu.

​Di luar, badai masih mengamuk dengan hebat, mengunci kedua ego yang keras kepala itu di dalam satu ruangan yang sama memaksa mereka untuk mulai melihat sisi lain dari manusia yang paling mereka benci.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Architecture of Us    Konsumsi Publik - 11

    Dalam kurun waktu tiga hari sejak penundaan ketiga diumumkan sepihak oleh Arga, rumor miring di kalangan pebisnis berubah menjadi konsumsi publik. Sebuah akun portal berita arsitektur dan bisnis lokal mengunggah artikel dengan judul tajam: *Sikap Arogan dan Krisis Profesionalitas Arsitek Utama Dirgantara Landscape: Proyek Miliaran Terbengkalai Tanpa Alasan Jelas.*Efeknya langsung bertebaran dimana-mana hingga Jagat maya, dan media sosial miliknya mulai dipenuhi oleh hujatan. Netizen yang tidak tahu apa-apa dengan mudah menghakimi juga melabeli Arga sebagai anak pemilik perusahaan yang manja, egois, dan tidak menghargai kontrak kerja. Rekam jejak prestasinya selama bertahun-tahun seolah terhapus begitu saja oleh satu kesalahan yang sengaja ia pelihara.*Punya nama besar tapi kerjaan ditunda-tunda terus.**“Krisis kedewasaan. Mentang-mentang arsitek andalan, bisa seenaknya merubah jadwal.”**Tok! Tok!*Siska masuk tanpa menunggu

  • The Architecture of Us    Kegilaan Terbesar - 10

    ​"Ini kegilaan terbesar yang pernah kamu lakukan sepanjang kariermu, Arga!"​Emosi Pak Baskoro memuncak di dalam ruangan kerja Arga. Beliau adalah salah satu investor utama sekaligus rekan senior papanya. Map dokumen revisi proyek dilempar kasar ke atas meja jati. Di ambang pintu, Siska berdiri dengan wajah pucat, tidak berani masuk.​Arga tidak berkedip. Bahkan penampilannya masih sempurna seperti biasanya, namun sorot matanya redup dan dingin. "Saya tidak akan membatalkan proyeknya, Pak Baskoro, saya hanya meminta penundaan pengerjaan."​"Itu sama saja dengan mematikan proyek secara perlahan!" bentak Baskoro frustrasi. "Berita tentang penundaan sepihak ini sudah bocor ke media bisnis. Nama baik Dirgantara Landscape & Architecture bisa hancur!dan menganggapmu tidak profesional, Arga!! Saham perusahaan mu juga bisa terganggu kalau kamu terus-menerus keras kepala tanpa alasan logis seperti ini!"​Arga mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku

  • The Architecture of Us    Garis Hidup Masing-masing - 9

    Satu bulan berlalu sejak deru mesin pesawat membawa Ghea terbang meninggalkan seluruh kepingan memorinya.Kota ini kembali ke ritme biasanya, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan sebuah toko tanaman kecil bernama Amerta Green. Hidup berjalan terus, memaksa dua orang yang sempat melanggar batas jarak dua meter itu untuk kembali ke garis hidup mereka masing-masing. Menjadi orang asing yang berpura-pura tidak pernah saling memedulikan.Di pusat kota, gedung mentereng Dirgantara Landscape & Architecture masih berdiri kokoh. Di dalam ruangan paling ujung lantai empat, Arga Dirgantara duduk di balik meja kerja jatinya. Penampilannya kembali sempurna: kemeja hitam formal yang rapi, kancing pergelangan tangan yang terpasang erat, dan ekspresi wajah yang sedingin es."Pak Arga, ini draf akhir untuk pengerjaan fisik kafe di lahan bekas toko tanaman kemarin. Investor meminta pengerjaan pondasi dimulai minggu depan," ucap sang sekretaris sam

  • The Architecture of Us    Selamat Tinggal, Arga - 8

    Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti

  • The Architecture of Us    Selesai di Sini - 7

    Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. ​ *Ckit!* ​Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. ​Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. ​"Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." ​Arga menatap

  • The Architecture of Us    Retak - 6

    Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.​Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.​Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.​Ghea menggeser

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status