LOGINFresh out of college and working his dream job, Sam Elliott didn't expect to get fired two days later, all because a rich arrogant COO got coffee spilled all over himself. When he gets hired by the same COO a few days later, his life changes for the better, the pay is good and is boss is not half bad, but when he catches the attention of the two twin CEOs of the company, aka his boss' nephews it's not what he expects. He's being asked to make a choice, Bradley or Brandon, it seems simple enough, until an unexpected fourth party enters their triangle.
View More"Bukan tanggung jawab seperti ini yang kamu tawarkan waktu itu, Mas. Bukan!" Pecah sudah air mata Alisha setelah melemparkan dua butir pil yang diserahkan Arya padanya.
"Lalu tanggung jawab yang kayak gimana lagi, Sha? uang, mobil, perhiasan, sampai biaya kuliah full sudah kamu tolak mentah-mentah."
Arya mondar mandir di tempatnya berdiri. Di lantai paling atas fakultas MIPA, tempat yang biasanya ia pakai untuk menunggu Alisha menyelesaikan kelas perkuliahannya. Pemuda itu sadar apa yang sedang dikhawatirkannya saat ini. Ia juga sadar dosa apa yang tengah ia hindari setengah mati. Dosa memalukan yang akan ia ingat mungkin sampai nyawanya terangkat dari jasad.
"Bukan pil penambah dosa seperti ini yang kamu janjikan malam itu, Mas. Kamu menjanjikan tanggung jawab berupa pernikahan! Kamu lupa?"
Malam itu, Alisha tak seharusnya percaya dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut buaya. Arya Rivan ... semapan dan setampan apapun dia, ternyata tetap saja sama berengseknya dengan pria lain pemuja nafsu di luar sana.
"Malam itu ak- aku ... aku nggak sadar, Sha. Aku ngaco, khilaf! kita cuma terbawa suasana kan? kita ngelakuin itu karena suka sama suka kan? jadi ini... bayi itu... seharusnya dia nggak ada!"
Plak!!!
Ini pertama kalinya Alisha merasakan telapak tangannya perih karena menampar Arya. Biasanya, telapak tangan mulusnya ia gunakan untuk mengusap sayang pipi kekasihnya itu. Biasanya, telapak tangannya hanya ia gunakan untuk membalas genggaman tangan dari Arya yang mengaku tergila-gila padanya.
"Bangsatt kamu, Mas! Bangsattt!!?" maki Ailsha dengan wajah basah penuh air mata. Entah kemana perginya tutur kata lembut nan santun yang selama ini ia jaga.
Perempuan muda itu lantas terduduk lemas sambil memeluk lutut. Menumpahkan tangis penyesalan atas kesalahan besar yang sudah ia perbuat beberapa waktu lalu. Kesalahan fatal yang seharusnya bisa ia hindari, namun apa daya, belum apa-apa ia sudah mengaku kalah dengan rayuan Arya, kekasihnya tercinta.
“Sha, aku butuh waktu, Sha. Butuh waktu! Lagipula, aku belum siap dengan komitmen pernikahan, kita belum siap. Kita berdua terlalu muda, Sha. Aku mau lanjutin S2 dulu, kamu juga masih belum lulus kuliah."
Ailsha memang beberapa tingkat di bawah Arya. Begitu Arya dinyatakan lulus dan baru saja melaksanakan wisuda dua bulan silam, Alisha justru sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas kuliah untuk naik ke semester tujuh.
"Tapi bayi dalam perutku ini nggak bisa mengulur waktu lagi, Mas. Dia akan terus tumbuh dan membesar." Masih terisak, Ailsha menunjuk perutnya yang masih rata.
"Ya makanya, kamu minum pil yang tadi aku kasih, biar dia nggak tumbuh dan semakin membesar!"
Arya sadar kalimatnya terdengar sangat berengsek dan tak berperikemanusiaan, tapi ia tak punya pilihan lain. Bulan depan ia akan terbang ke New York untuk melanjutkan S2 di NYU, kampus impiannya. Keputusan yang memang Arya pilih untuk mempersiapkan diri karena nantinya ia akan menjadi penerus Galeea, perusahaan konstruksi terkemuka yang menjadi bisnis utama keluarganya.
"Mas, kamu sadar apa yang kamu bilang barusan?" Alisha menguatkan diri bangkit dan berhadapan dengan Arya yang nampak panik.
"Dia cuma kesalahan kecil kita, Alisha. Kita nggak harus berdebat panjang soal ini kalau kamu mau ikuti saranku. Kita ... kita, kita nggak butuh anak itu sekarang, Sha. Aku juga nggak yakin keluarga kita bakal nerima kehamilan ini dengan tangan terbuka."
Hati Alisha kembali tertikam! Kalimat Arya berhasil meremukkannya lagi.
Ini benar-benar bukan Arya yang ia kenal sejak satu tahun lalu. Arya yang ia kenal bukan pria jahat dan lari dari tanggung jawab seperti ini. Sosok di depannya ini pasti bukan Arya, karena Arya Rivan yang biasanya tak akan sejahat ini memperlalukan dirinya.
"'Cuma' kata kamu, Mas?" lirih Alisha sudah tak punya daya untuk mendebat.
"Sha, please... " seru Arya membujuk kekasih hatinya. "Sekali ini aja, Sha. Aku janji ini akan jadi yang terakhir kalinya. Ikuti saran aku ya? demi kita berdua." Arya menangkup kedua pipi Alisha yang masih banjir air mata. Melihat gadis kesayangan tergugu seperti ini membuat hatinya ikut sakit merasakan pilu. Namun tetap saja, Arya belum bisa mengabulkan permintaan Alisha yang satu itu.
"Setelah dosa kita yang kemarin? kamu mau jadi pembunuh juga, Mas!? bukan main kamu, Mas?" Alisha menggeleng tak percaya dengan keteguhan Arya mempertahankan inginnya.
"Menikah bukan satu-satunya jalan keluar, Alisha. Orang tua kita pasti kecewa luar biasa kalau kita menikah mendadak karena kesalahan satu malam seperti ini." Suara Arya bergetar sedih.
Menikahi Alisha memang menjadi salah satu mimpinya. Tapi bukan sekarang. Masih ada mimpi lain yang ingin ia kejar. Menyelesaikan study lanjutan dan menjadi kebanggakan ayahnya misalnya. Belum lagi ia ingin menunggu Alisha selesai dengan kuliah dan membangun mimpinya juga.
"Tolong, Sha." Arya berjalan mendekat lalu meremas kedua telapak gangan Alisha. "Pil... pil itu satu-satunya jalan keluar saat ini. Cuma butuh hitungan detik untuk kamu minum, sakitnya nggak akan terlalu lama."
Alisha kehabisan kata-kata. Seharusnya ia bisa memperkirakan reaksi Arya yang seperti ini. Pangeran kesayangan dari keluarga kaya raya Dwisastro, manalah mungkin semudah itu mengiyakan pernikahan usia muda. Tak mungkin.
"Sha?"
"Berhenti di sana! jangan sentuh!" teriak Alisha begitu Arya mencoba meraih tangannya.
"Maafin aku, Sha. Maaf."
Maaf ya? entah maaf yang ditujukan pada siapa maksud Arya. Pada Alisha atau pada bayi dalam kandungannya.
"Kayaknya kamu bener, Mas," seru Alisha dengan suara sangat pelan. "Orang tua dan keluarga besar kita pasti kecewa luar biasa kalau tau keadaan kita yang memalukan ini. Aku nggak mau mempermalukan mereka dengan aib seperti ini."
Arya menghela napas panjang. Dadanya mendadak lega mendengar jawaban Alisha. Itu artinya kekasihnya ini bersedia mengugurkan kandungan itu kan? Aib seperti itu memang harus dimusnahkan, iya kan?
"Sha... "
Alisha kembali mundur saat Arya mendekat. Gadis itu cepat-cepat menghapus air mata lalu berbalik dan berlarian kecil untuk mengambil pil sialan yang tadi ia lemparkan di sebelah tangga.
"Kamu bener, Mas. Mungkin dengan benda ini, kedua orang tua kita tak perlu menanggung malu karena kesalahan ini."
Tak perlu menunggu respon Arya, karena setelah mengatakan itu Alisha langsung berlari menjauh. Menguatkan langkah kaki agar tak goyah dan kembali menoleh pada Arya yang berlaku tak adil padanya.
Alisha pikir apa yang dikatakan Arya tak sepenuhnya salah, memang tak seharusnya orang tua atau keluarga besar mereka menanggung malu akibat ulahnya yang nista. Aib yang ia bawa memang harus segera dilenyapkan, tapi bukan dengan menghilangkan nyawa bayi tak berdosa di dalam perutnya ini. Melainkan dirinya sendiri yang harus mengalah pergi.
"Sha, lo mau ke mana? Shaa!!" Itu suara Maya saat berpapasan dengannya, sahabat Alisha yang menjadi sahabat Alisha yang menjadi teman berbagi apartmen selama ini.
"Sha!!" teriak Maya lagi tetap tak mendapat jawaban. Alisha sengaja mengabaikan panggilan dan sapa ramah dari teman-teman kuliahnya yang baru saja keluar dari fakultas.
Alisha sengaja menulikan telinga, mengabaikan panggilan dan sapa ramah dari teman-teman kuliahnya yang baru saja keluar dari fakultas. Ia hanya fokus pada satu tujuan, jembatan penyeberangan yang baru saja rampung dibangun di depan kampusnya. Jembatan panjang yang berdiri kokoh melintasi dua ruas jalan utama itu masih sepi.
Jadi, kalau pun ia melompat dari sana saat ini, pasti tak akan ada yang mencegah kan? Keputusan yang ia ambil dalam hitungan menit itu sudah bulat. Aib itu harus benar-benar dilenyapkan dari muka bumi. Bukan hanya jabang bayi dalam rahim yang ia bawa, tapi ... beserta juga dengan dirinya.
***
You know how they say that sleeping with your collegues is bad and you shouldn't do it? And how sleeping with your boss is an even bigger grey area and shouldn't be done ever? Well, if they don't, they definetly should. They should have a whole guidline about the do's and don'ts of developing sexual relationships in the workplace and more specifically with your boss. Things between me and Richmond have been...no better way to discribe it beside awkward as hell, from my perspective anyway. Richmond seems to be unfazed by the whole thing, in fact I'd wager that he's probably even forgotten that it had happened entirely. He acted no different than he had before, that same stupid nonchalant attitude that grates on my nerves. I guess maybe, I should've been more cool about it, he was right, we're both adults and adults can have casual sex without it ruining their work relationship right? except, I couldn't stop thinking about it, about him, and about that night. it's all so very pathet
It seemed that I might've been way over my head, thinking that I could pretend that nothing had happened between Richmond and I, and if anyone ever needed a reason to not sleep with their boss, here's one, It's humiliating as hell. Especially if your boss is a stoic nonchalant like Richmond. He seemed unfazed and was his usual cool self, which irked me more than it should. I mean, if the guy you'd slept with wasn't the least bit hung over or at least a bit fazed after the act, anyone would be upset, angry even. Richmond seemed like it'd never happened at all and I was torn between feeling bummed out and glad that we could go on as usual and my job wouldn't be on the line. Either way there was nothing to get worked up over. Richmond had made it clear that it could not and will not happen again and I totally agree with him, a hundred and ten percent agree with him. It was drunken mistake that had no business happening in the first place and I wouldn't want it to happened again because
My head was pounding with the force of an unforgiving hangover. My hands wrung together in my lap as my heart pounded roughly in my chest. The bathroom was thick with the fog from my shower. I sat on the edge of the counter with my back to the mirror as the veins in my forehead throbbed with the severity of the headache. I'd slept with Clark Richmond. I'd slept with my boss. My fucking boss and it was the best sex I'd had in a long time. No, scratch that, it the was the best sex period. After the sex, we'd both been sated and a little too drunk to think of going back to our rooms. I wish I could've said I'd hightailed it out of his room as soon as I'd regained a semblance of consciousness, but that wasn't what happened at all. Sometime during the night, we'd both stirred from sleep.I'd found myself staring silently at a sleep dazed Clark, my groin swelling as the seconds tucked by. Then he was on top of me, gazing down at me with furrowed brows, as if just the site of me confused
"Mr Richmond...""Clark. Call me Clark dammit." He scolded breathlessly, his eyes fixed on my own bruised lips. "Clark."He nodded. "Yeah." His voice sounded strange, unlike I'd ever heard from him. low and sultry, it made my body shiver and a certain part of me perk up. I flushed, his hand came up to cup my face, his rough thumb rubbing cheek. "I'm sorry." He whispered.I shook my head. "No, I'm sorry, I shouldn't have-""Shh...I meant." He chuckled. "I'm sorry, but I want to kiss you again, and again, and..." His eyes bore into mine, sparkling with lust. "If you want me to stop just say the word."My breathing was laboured, his face so close to mine. My mind hazy from the alcohol, but my skin was flushed from something else. "Don't stop." "Are you sure?" I gazed up at him. He was anyone's wet dream come to life, of course I was sure. I nodded wordlessly. He gave a single nod and stood. He held out a hand to me and I took it without a second thought. He lead the way to his room an
The next few days felt like a flash montage, the days coming and going so fast, we barely had time to stop and eat. With what little time we had to rest, Richmond used that time to call the company back home and check in with how their end of the preparations were going. I wasn't even sure the man s
It seemed that traveling brought the worst out of Richmond. His hair was a mess from the number of times he'd run his hands through it and I'd lost count of the number of cigarettes he'd smoked in the last hour. Our flight was delayed and we had to wait two hours before we could leave. Brandon had
Being woken up by my ringtone the next morning was horrendously more annoying than it usually was on normal days. Because it was my day off, I was supposed to be sleeping in until the sun had already hit the middle of the sky, but it seemed some people had other plans for my agenda today. It was sti
We arrived at the dinner party a little bit before the dinner was served. Richmond had said it was better to be a little late to things like this, so as to get straight to business and skip the chatter, but I honestly thought he just wanted to make a scene.The dinner party was being held in the gard












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews