LOGIN"Tersenyumlah, Estela. Dunia sedang menonton calon 'Ratu' Sebastian Group."
Suara Edward nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan jepretan kamera, namun nadanya yang sedingin es membuat Estela gemetar. Pria itu merangkul pinggang Estela dengan posesif, bukan karena cinta, melainkan untuk menyembunyikan fakta bahwa kaki gadis itu nyaris lemas untuk berdiri. Di depan mereka, berdiri Ny. Victoria Sebastian, dalang di balik tragedi semalam. Wanita itu tersenyum puas, sebuah kemenangan yang dibangun di atas kehancuran martabat Estela. "Edward, kau sudah dewasa. Ibu senang kau akhirnya mengerti tanggung jawabmu," ucap Victoria dengan nada manis yang memuakkan. Matanya yang tajam beralih ke Estela, menelanjangi gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. "Dan kau, Gadis Kecil... kau cukup beruntung. Dari sekian banyak wanita, takdir memilihmu untuk membawa pewaris kami." Lanjutnya dengan nasa sinis Estela mendongak, matanya yang sembab menatap mereka bergantian. "Tidak... aku ingin pulang. Tolong, biarkan aku pergi."mohon Estela swngan tangan menangkup di depan dadanya Victoria tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam. "Pulang? Ke mana, Sayang? Ke asrama kampusmu di mana Clarissa sudah menyebarkan foto-fotomu yang 'tidak pantas' tadi malam? Atau ke rumah orang tuamu yang sederhana di desa, agar mereka mati terkena serangan jantung melihat putri kebanggaan mereka hancur?" Kata-kata Victoria menghantam Estela lebih keras daripada kenyataan yang terjadi semalam. Clarissa... temannya sendiri benar-benar ingin mematikan karakternya. Edward berbalik, menatap tajam Estela yang tampak seperti burung kecil yang sayapnya patah. "Pilihannya hanya dua, Estela," ucap Edward dingin. "Kau keluar dari pintu ini sekarang, menghadapi kejaran media, tuntutan hukum karena dianggap menjebakku, dan penghinaan dari teman-temanmu. Atau... kau tetap di sisiku."lanjutnya, yang membuat Estela tidak memiliki pilihan lain selain menerima kenyataan pahit ini Satu jam kemudian, Estela sudah berada di dalam limusin mewah yang meluncur membelah kemacetan kota. Di sampingnya, Edward duduk diam, sibuk dengan tablet di tangannya seolah keberadaan Estela hanyalah gangguan udara. "Ke mana kita akan pergi?" tanya Estela dengan suara serak. "Aku harus kuliah. Aku punya ujian hari ini, dan..." "Kuliahmu sudah berakhir semalam, Estela Calista," potong Edward tanpa menoleh. Dia menggeser layar tabletnya, menampilkan profil lengkap Estela, nilai akademis, riwayat beasiswa, hingga detail terkecil tentang ayahnya yang sedang sakit di kampung halaman. "Mulai hari ini, identitasmu adalah tunangan Edward Sebastian Alexander. Kau akan pindah ke rumah utamaku, dan setiap langkahmu akan diawasi oleh pengawal. Jangan berpikir untuk melarikan diri, atau beasiswa dan pengobatan ayahmu akan dihentikan dalam hitungan detik." Lanjutnya tegas dan dingin Estela terkesiap. "Kau tidak bisa melakukan ini! Ini penculikan!"aahut Estela tak terima Edward akhirnya menoleh. Tatapannya begitu intens hingga Estela merasa oksigen di sekitarnya menipis. "Ini bukan penculikan. Ini adalah transaksi. Kau memberikan apa yang diinginkan ibuku seorang pewaris, dan aku akan memastikan keluargamu tetap hidup. Adil, bukan?"ucap sinis Edward Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah yang lebih mirip benteng daripada sebuah rumah. Saat pintu terbuka, Estela melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana dengan wajah pucat. Clarissa. "Clarissa?" Estela berlari mendekat, berharap ada penjelasan, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau sahabatku!"tanya Estela Clarissa tidak berani menatap mata Estela. Dia hanya berdiri di samping asisten Edward dengan tangan meremas tas mahalnya. "Maafkan aku, Estela. Keluargaku butuh investasi dari Sebastian Group. Mereka... mereka menjanjikan posisi direktur untuk ayahku jika aku berhasil membawamu ke kamar itu." Jawab Clarisaa gugup Dunia Estela runtuh untuk kedua kalinya. Ternyata, harga persahabatan mereka hanya sebanding dengan selembar cek investasi. Malam harinya, Estela dikurung di sebuah kamar mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu terbuka, dan Edward masuk dengan kemeja yang sudah tanggal dua kancing teratasnya. Dia melemparkan sebuah dokumen tebal ke atas tempat tidur. "Tanda tangani itu. Kontrak pernikahan selama dua tahun. Setelah anak itu lahir, kau bebas pergi dengan kompensasi yang cukup untuk tujuh turunanmu," perintah Edward dingin. Estela memandang dokumen itu dengan tangan gemetar. "Bagaimana jika... bagaimana jika aku tidak hamil semalam?"cicit Estela ragu Edward melangkah mendekat, mengurung tubuh Estela di antara kedua lengannya yang kekar hingga gadis itu terdesak ke kepala tempat tidur. Dia merunduk, membisikkan sesuatu di telinga Estela yang membuat jantung gadis itu seolah berhenti berdetak. "Maka kita akan terus melakukannya setiap malam, Estela. Sampai tugasmu selesai. Dan kita akan memulainya... sekarang."Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam konfrontasi besar di Jenewa dan kepulangan keluarga Sebastian ke tepi pantai berpasir putih Indonesia. Waktu berjalan dengan sangat damai, membawa banyak perubahan pada setiap sudut kehidupan mereka, namun esensi kehangatan dan cinta di dalam rumah sederhana itu tetap bertahan dengan sangat kokoh, tak tergoyahkan oleh zaman yang terus bergerak maju.Arthur Junior kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan tubuh yang tegap dan tinggi, mewarisi struktur rahang yang tegas dari ayahnya, Edward, namun memiliki binar mata bulat yang penuh dengan kearifan dan kelembutan yang mengalir murni dari ibunya, Estela.Arthur tidak menjadi seorang peretas gelap yang bersembunyi di balik layar komputer untuk mengacaukan sistem dunia. Sebaliknya, melalui fondasi didikan yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia kini dikenal secara global sebagai pemimpin peradaban digital baru, seorang arsitek sistem terdesentralisasi u
Setelah seluruh proses birokrasi pembubaran korporasi dan peluncuran yayasan Sebastian Global Open Source selesai dilakukan di Jakarta, keluarga besar Sebastian akhirnya mengambil sebuah keputusan yang telah lama mereka impikan. Mereka memilih untuk meninggalkan seluruh hiruk-pikuk kehidupan kota metropolitan dan kemewahan kastil-kastil tua di Eropa untuk pulang kembali ke akar kehidupan yang sesungguhnya di bumi Indonesia.Tempat tinggal baru mereka bukanlah sebuah mansion megah dengan pengamanan berlapis besi dan sensor komputer otomatis seperti yang dulu ada di Jakarta Pusat. Estela telah merancang sendiri sebuah rumah keluarga yang sangat sederhana namun dipenuhi oleh keindahan arsitektur alami, terletak tepat di tepi sebuah pantai berpasir putih yang asri di daerah pinggiran pulau Bali.Rumah itu sebagian besar terbuat dari material kayu lokal yang hangat dan struktur bambu yang dikombinasikan dengan kaca-kaca besar yang bisa digeser sepenuhnya, memungkinkan embusan angin laut
Satu bulan setelah konfrontasi besar di Jenewa, dunia mengalami fase perubahan yang sangat masif. Dewan The Origin telah sepenuhnya dibubarkan, para anggotanya kini menghadapi proses hukum internasional yang sangat ketat atas kejahatan kemanusiaan dan manipulasi finansial yang mereka lakukan selama puluhan tahun. Namun bagi Edward Sebastian, tantangan terbesar berikutnya bukanlah tentang bagaimana cara menghukum para musuh masa lalunya, melainkan tentang bagaimana cara membersihkan nama besar keluarga Sebastian yang selama tiga generasi ini selalu diidentikkan dengan kekejaman, intrik gelap, dan keserakahan kekuasaan.Sore itu, di dalam aula utama gedung pusat Sebastian Group di Jakarta, yang kini telah kembali beroperasi normal setelah seluruh pemblokiran rekening dicabut oleh otoritas dunia, Edward berdiri di depan ratusan jurnalis dari berbagai belahan bumi yang menghadiri konferensi pers resmi.Di sampingnya, Estela duduk dengan senyuman hangatnya yang khas, sementara Kakek Herma
Siaran langsung berskala global yang dipicu oleh Arthur Junior dari dalam ruang sidang dewan di Jenewa seketika menciptakan gelombang kejutan terbesar dalam sejarah modern manusia. Di luar gedung pencakar langit kaca tempat mereka berada, suara klakson kendaraan di jalanan kota Jenewa mulai terdengar bersahut-sahutan. Jutaan orang di seluruh penjuru dunia duduk terpaku di depan layar gawai dan televisi mereka, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rahasia paling gelap yang mengatur jalannya sejarah dunia selama seratus tahun terakhir terbongkar tanpa ada satu pun yang bisa ditutup-tutupi lagi.Di dalam ruangan sidang marmer, kepanikan yang luar biasa melanda dua belas pria tua anggota dewan The Origin. Wajah-wajah mereka yang tadinya tampak begitu berkuasa dan penuh keangkuhan kini berubah menjadi pucat pasi, dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat."Ini tidak mungkin... putuskan aliran listrik gedung ini! Panggil pasukan keamanan sekarang juga!" teriak ketua dewan de
Kota Jenewa, Swiss, malam itu diselimuti oleh kabut tebal dan rintik hujan yang sangat dingin. Di sebuah gedung pencakar langit berstruktur kaca tebal yang berdiri megah di tepi danau, dua belas pria tua yang mengenakan setelan jas formal hitam duduk melingkar di sebuah meja marmer raksasa. Mereka adalah para tetua dewan The Origin, penguasa tirai gelap dunia yang selama satu abad terakhir merasa diri mereka sebagai tuhan yang mengatur nasib umat manusia.Di layar monitor besar di tengah ruangan mereka, grafik pergerakan ekonomi keluarga Sebastian masih menampilkan warna abu-abu, tanda bahwa sistem mereka tidak mampu lagi membaca atau mengunci aliran aset milik Edward."Bagaimana bisa seorang anak muda dari Jakarta dan seorang wanita arsitek merusak sistem yang telah kita bangun selama seratus tahun?" ucap salah satu tetua dengan suara serak yang dipenuhi kemarahan yang tertahan. "Kita sudah mencabut lisensinya, kita sudah membekukan seluruh uangnya, tapi mereka justru membangun sis
Di tengah blokade ekonomi total yang diterapkan oleh dewan The Origin, kastil tua di Swiss itu berubah menjadi sebuah markas operasi raksasa yang sangat sibuk namun teratur. Tidak ada lagi ratapan atas hilangnya kontrak bisnis bernilai miliaran dolar atau pembekuan rekening bank. Keluarga Sebastian kini bergerak dalam satu garis komando yang sangat solid, menggabungkan strategi kepemimpinan Edward dan kecerdasan arsitektur struktural milik Estela.Melalui jalur komunikasi radio gelombang pendek yang berhasil dibuka oleh Arthur Junior, satu per satu sekutu lama mereka dari seluruh belahan dunia mulai terhubung. Silas dari Jakarta adalah orang pertama yang memberikan laporan dengan suara yang mantap dari balik pengeras suara komputer."Tuan Edward, seluruh jaringan pelabuhan mandiri dan pergudangan logistik kita di Asia Tenggara tetap beroperasi penuh secara internal," lapor Silas. "Kami telah memindahkan seluruh cadangan komoditas fisik kita, mulai dari emas batangan, bahan pangan,
Malam itu, setelah pesta berakhir dan keheningan kembali menguasai mansion, Estela langsung mengurung diri di kamar. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya sementara pikirannya masih berkutat pada percakapan yang tak sengaja ia dengar tadi."Kau seharusnya sudah tidur, Estel
Matahari telah tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat di luar jendela besar kamar Estela. Namun, di dalam mansion Sebastian, cahaya lampu gantung kristal justru berpendar semakin terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak seperti monster yang mengintai di setiap sudut.
Dunia Estela seakan melambat saat deru napas Edward menyentuh kulit lehernya. Ruangan yang begitu luas itu mendadak terasa sempit, pengap oleh aroma parfum maskulin yang tajam dan dominasi pria di hadapannya. Estela memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan tarikan halus pada ritsleting gaunny
"Berapa harga yang disepakati ibuku untuk kesucianmu, Gadis Kecil?" Suara berat dan dingin itu menyambar seperti petir di tengah keheningan kamar 808 yang pengap oleh aroma sisa percintaan dan pengkhianatan. Estela Calista tersentak, selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya merosot, mengekspos






