Mag-log inDunia Estela seakan melambat saat deru napas Edward menyentuh kulit lehernya. Ruangan yang begitu luas itu mendadak terasa sempit, pengap oleh aroma parfum maskulin yang tajam dan dominasi pria di hadapannya.
Estela memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan tarikan halus pada ritsleting gaunnya. Bunyi logam yang bergeser terdengar seperti vonis mati di telinganya. "Kumohon..." bisiknya parau, sebuah upaya terakhir yang sia-sia untuk memancing nurani pria di hadapannya. Edward berhenti sejenak. Jemarinya yang dingin menyentuh pundak Estela yang gemetar. "Tangisan tidak akan mengubah kontraknya, Estela. Di dunia ini, air mata adalah mata uang yang paling tidak laku."ucap Edward dingin Tanpa peringatan, Edward menarik gaun itu hingga merosot ke lantai, membiarkan Estela berdiri membeku dalam balutan pakaian dalam yang tipis. Namun, alih-alih melanjutkan tindakannya, Edward justru berbalik dan berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, mengabaikan Estela yang kini meringkuk di atas tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut sutra. "Pakai piyamamu," perintah Edward datar tanpa menoleh. "Aku tidak tertarik menyentuh wanita yang terlihat seperti baru saja melihat hantu. Ibuku mungkin mendengarkan di balik pintu, tapi aku yang memegang kendali di dalam kamar ini."lanjutnya masih dengan nada datar namun tegas Keesokan paginya, Estela terbangun dengan cahaya matahari yang menembus tirai beludru setinggi lima meter. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada sampai ia melihat pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan piyama sutra mahal yang telah disiapkan di lemari, namun tanda kemerahan di pergelangan tangannya akibat cengkeraman Edward semalam mengingatnya pada kenyataan pahit. Ia mencoba membuka pintu kamar, namun dua pria berjas hitam langsung menghadang jalannya. "Nona Estela, Tuan Edward memerintahkan Anda untuk tetap di dalam sampai penata rias tiba," ucap salah satu pengawal dengan nada datar. "Aku bukan tawanan! Aku ingin bicara dengan Edward!" seru Estela yang berusaha untuk keluar kamar "Tuan sedang memimpin rapat dewan direksi. Dan mulai sekarang, Anda harus memanggilnya 'Suamiku' di depan umum," sahut sebuah suara tajam dari ujung koridor. Ny. Victoria Sebastian berjalan mendekat dengan langkah anggun yang mengintimidasi. Ia memberikan isyarat agar para pengawal menyingkir. Masuk ke dalam kamar, Victoria menyapukan pandangannya ke arah tempat tidur yang berantakan, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang keji. "Sutra yang cantik, bukan? Ini jauh lebih baik daripada sprei murah di asramamu," sindir Victoria. Ia mendekati Estela dan mencengkeram dagu gadis itu dengan kuat. "Jangan coba-coba bertingkah bodoh, Gadis Kecil. Kau sudah berada di dalam sangkar emas ini. Jika kau patuh, kau akan diperlakukan seperti ratu. Jika kau melawan... aku akan memastikan ayahmu menghabiskan sisa umurnya di bangsal rumah sakit paling kumuh yang bisa kutemukan." Lanjutnya penuh ancaman, lalu meninggalkan Estela begitu saja yang berdiri mematung. Setelah Victoria pergi, Estela jatuh terduduk di lantai. Ia menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan taman mansion yang luas, dikelilingi oleh pagar besi tinggi dan penjagaan ketat. Di sana, di kejauhan, ia melihat Clarissa sedang berbicara dengan asisten Edward di dekat gerbang, menerima sebuah amplop cokelat tebal sebelum masuk ke dalam mobil mewah. Hati Estela perih. Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada ancaman Victoria. Akhirnya Estela kembali masuk kedalam kamarnya dan mengurung diri. Dia akan berbicara pada Edward ketika dia kembali. Sore harinya, Edward kembali. Ia tampak lelah namun tetap terlihat dingin. Ia melemparkan sebuah kotak beludru kecil ke pangkuan Estela. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian dengan karat yang begitu besar hingga terasa berat. "Gunakan itu. Malam ini ada jamuan makan malam keluarga besar Sebastian. Kau harus berperan sebagai tunangan yang sedang jatuh cinta," ucap Edward dingin sambil melonggarkan dasinya. Estela menatap cincin itu dengan nanar. "Berapa lama kau akan melakukan ini? Berapa lama aku harus berpura-pura?"tanya Estela seperti berbisik Edward berhenti melangkah, menatap Estela melalui pantulan cermin. "Sampai ada kehidupan yang tumbuh di rahimmu. Sampai ibuku mendapatkan apa yang dia inginkan."jawaban dingin Edward mampu mem uat hati Estela kembali bernanah Ia mendekati Estela, merunduk hingga wajah mereka sejajar. "Ingat, Estela," ucap Edward dingin. "Di sini kau memang punya segalanya. Tapi jangan lupa, semua itu ada karena seizinku. Bahkan hal sekecil apa pun yang kau lakukan harus lewat aku." Estela hanya diam, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baginya, kemewahan rumah ini tidak ada artinya jika setiap geraknya terus diawasi. Tempat ini mungkin terlihat sempurna, tapi baginya tak lebih dari sebuah penjara yang menyesakkan.Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam konfrontasi besar di Jenewa dan kepulangan keluarga Sebastian ke tepi pantai berpasir putih Indonesia. Waktu berjalan dengan sangat damai, membawa banyak perubahan pada setiap sudut kehidupan mereka, namun esensi kehangatan dan cinta di dalam rumah sederhana itu tetap bertahan dengan sangat kokoh, tak tergoyahkan oleh zaman yang terus bergerak maju.Arthur Junior kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan tubuh yang tegap dan tinggi, mewarisi struktur rahang yang tegas dari ayahnya, Edward, namun memiliki binar mata bulat yang penuh dengan kearifan dan kelembutan yang mengalir murni dari ibunya, Estela.Arthur tidak menjadi seorang peretas gelap yang bersembunyi di balik layar komputer untuk mengacaukan sistem dunia. Sebaliknya, melalui fondasi didikan yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia kini dikenal secara global sebagai pemimpin peradaban digital baru, seorang arsitek sistem terdesentralisasi u
Setelah seluruh proses birokrasi pembubaran korporasi dan peluncuran yayasan Sebastian Global Open Source selesai dilakukan di Jakarta, keluarga besar Sebastian akhirnya mengambil sebuah keputusan yang telah lama mereka impikan. Mereka memilih untuk meninggalkan seluruh hiruk-pikuk kehidupan kota metropolitan dan kemewahan kastil-kastil tua di Eropa untuk pulang kembali ke akar kehidupan yang sesungguhnya di bumi Indonesia.Tempat tinggal baru mereka bukanlah sebuah mansion megah dengan pengamanan berlapis besi dan sensor komputer otomatis seperti yang dulu ada di Jakarta Pusat. Estela telah merancang sendiri sebuah rumah keluarga yang sangat sederhana namun dipenuhi oleh keindahan arsitektur alami, terletak tepat di tepi sebuah pantai berpasir putih yang asri di daerah pinggiran pulau Bali.Rumah itu sebagian besar terbuat dari material kayu lokal yang hangat dan struktur bambu yang dikombinasikan dengan kaca-kaca besar yang bisa digeser sepenuhnya, memungkinkan embusan angin laut
Satu bulan setelah konfrontasi besar di Jenewa, dunia mengalami fase perubahan yang sangat masif. Dewan The Origin telah sepenuhnya dibubarkan, para anggotanya kini menghadapi proses hukum internasional yang sangat ketat atas kejahatan kemanusiaan dan manipulasi finansial yang mereka lakukan selama puluhan tahun. Namun bagi Edward Sebastian, tantangan terbesar berikutnya bukanlah tentang bagaimana cara menghukum para musuh masa lalunya, melainkan tentang bagaimana cara membersihkan nama besar keluarga Sebastian yang selama tiga generasi ini selalu diidentikkan dengan kekejaman, intrik gelap, dan keserakahan kekuasaan.Sore itu, di dalam aula utama gedung pusat Sebastian Group di Jakarta, yang kini telah kembali beroperasi normal setelah seluruh pemblokiran rekening dicabut oleh otoritas dunia, Edward berdiri di depan ratusan jurnalis dari berbagai belahan bumi yang menghadiri konferensi pers resmi.Di sampingnya, Estela duduk dengan senyuman hangatnya yang khas, sementara Kakek Herma
Siaran langsung berskala global yang dipicu oleh Arthur Junior dari dalam ruang sidang dewan di Jenewa seketika menciptakan gelombang kejutan terbesar dalam sejarah modern manusia. Di luar gedung pencakar langit kaca tempat mereka berada, suara klakson kendaraan di jalanan kota Jenewa mulai terdengar bersahut-sahutan. Jutaan orang di seluruh penjuru dunia duduk terpaku di depan layar gawai dan televisi mereka, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rahasia paling gelap yang mengatur jalannya sejarah dunia selama seratus tahun terakhir terbongkar tanpa ada satu pun yang bisa ditutup-tutupi lagi.Di dalam ruangan sidang marmer, kepanikan yang luar biasa melanda dua belas pria tua anggota dewan The Origin. Wajah-wajah mereka yang tadinya tampak begitu berkuasa dan penuh keangkuhan kini berubah menjadi pucat pasi, dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat."Ini tidak mungkin... putuskan aliran listrik gedung ini! Panggil pasukan keamanan sekarang juga!" teriak ketua dewan de
Kota Jenewa, Swiss, malam itu diselimuti oleh kabut tebal dan rintik hujan yang sangat dingin. Di sebuah gedung pencakar langit berstruktur kaca tebal yang berdiri megah di tepi danau, dua belas pria tua yang mengenakan setelan jas formal hitam duduk melingkar di sebuah meja marmer raksasa. Mereka adalah para tetua dewan The Origin, penguasa tirai gelap dunia yang selama satu abad terakhir merasa diri mereka sebagai tuhan yang mengatur nasib umat manusia.Di layar monitor besar di tengah ruangan mereka, grafik pergerakan ekonomi keluarga Sebastian masih menampilkan warna abu-abu, tanda bahwa sistem mereka tidak mampu lagi membaca atau mengunci aliran aset milik Edward."Bagaimana bisa seorang anak muda dari Jakarta dan seorang wanita arsitek merusak sistem yang telah kita bangun selama seratus tahun?" ucap salah satu tetua dengan suara serak yang dipenuhi kemarahan yang tertahan. "Kita sudah mencabut lisensinya, kita sudah membekukan seluruh uangnya, tapi mereka justru membangun sis
Di tengah blokade ekonomi total yang diterapkan oleh dewan The Origin, kastil tua di Swiss itu berubah menjadi sebuah markas operasi raksasa yang sangat sibuk namun teratur. Tidak ada lagi ratapan atas hilangnya kontrak bisnis bernilai miliaran dolar atau pembekuan rekening bank. Keluarga Sebastian kini bergerak dalam satu garis komando yang sangat solid, menggabungkan strategi kepemimpinan Edward dan kecerdasan arsitektur struktural milik Estela.Melalui jalur komunikasi radio gelombang pendek yang berhasil dibuka oleh Arthur Junior, satu per satu sekutu lama mereka dari seluruh belahan dunia mulai terhubung. Silas dari Jakarta adalah orang pertama yang memberikan laporan dengan suara yang mantap dari balik pengeras suara komputer."Tuan Edward, seluruh jaringan pelabuhan mandiri dan pergudangan logistik kita di Asia Tenggara tetap beroperasi penuh secara internal," lapor Silas. "Kami telah memindahkan seluruh cadangan komoditas fisik kita, mulai dari emas batangan, bahan pangan,
Malam itu, setelah pesta berakhir dan keheningan kembali menguasai mansion, Estela langsung mengurung diri di kamar. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya sementara pikirannya masih berkutat pada percakapan yang tak sengaja ia dengar tadi."Kau seharusnya sudah tidur, Estel
"Tersenyumlah, Estela. Dunia sedang menonton calon 'Ratu' Sebastian Group." Suara Edward nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan jepretan kamera, namun nadanya yang sedingin es membuat Estela gemetar. Pria itu merangkul pinggang Estela dengan posesif, bukan karena cinta, melainkan untuk meny
"Berapa harga yang disepakati ibuku untuk kesucianmu, Gadis Kecil?" Suara berat dan dingin itu menyambar seperti petir di tengah keheningan kamar 808 yang pengap oleh aroma sisa percintaan dan pengkhianatan. Estela Calista tersentak, selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya merosot, mengekspos
Matahari telah tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat di luar jendela besar kamar Estela. Namun, di dalam mansion Sebastian, cahaya lampu gantung kristal justru berpendar semakin terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak seperti monster yang mengintai di setiap sudut.







