The Billionaire's Painful Love (Gorgeous Men Series 23)

The Billionaire's Painful Love (Gorgeous Men Series 23)

last updateLast Updated : 2024-10-30
By:  Miss VirgoOngoing
Language: Filipino
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
9Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dahil sa pamimilit ng magulang ni Griffin Zale Kellneer na ipakasal siya sa babaeng hindi naman nito minahal ay napilitan siyang pakasalan ang babaeng si Samantha Lagdamiyo.  Isang pekeng kasal kapalit ng limang milyong peso.  Sa loob ng isang buwan na nagsama sila sa iisang bubong, hindi man aminin ng dalawa ay minahal nila ang isa't-isa.  Walang sikretong hindi nabubunyag. Kaya nung malaman ng magulang ni Griffin na peke lang ang kanilang pagsasama ay lumayo si Samantha dala ang perang kapalit ng kasal.  Makalipas ang limang taon nagbalik si Samantha dala ang batang babae, ipinakilala itong anak ni Griffin.  Ngunit sa hindi inaasahan ay ito rin ang naging hudyat ng pagkamatay ng ama ng binata.  Labis ang pagsisi ni Samantha dahil kinamuhian siya ng lalaki at ito rin ang dahilan upang hindi tanggapin ng binata ang pinakilala nitong anak. Ngunit tila mapaglaro ang panahon, dahil isang pagkakamali ang ginawa na paghihiganti ni Griffin kay Samantha. Mapapatawad pa kaya niya ang babae? Maibabalik pa ba niya ang kanyang pagmamahal kay Samantha? O mananatili na lang ang kanyang pagkamuhi sa babae? Gayong kailangan siya ng babae ng magbalik ito sa kanyang buhay. 

View More

Chapter 1

Kabanata 1

"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"

Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.

Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.

"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"

Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.

Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.

Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.

Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.

"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."

"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.

"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.

"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.

Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.

Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.

Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.

Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.

Itu Nona Sora.

Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.

Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.

Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.

"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”

Nguk!

Ngiek!

“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.

Tapi…

Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.

Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.

Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.

Plak!

Plak!

Plak!

Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.

Dan… sialan!

Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.

Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.

Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.

"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"

"Aku bentar lagi sampai puncak!"

Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?

Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.

Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.

Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.

Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.

Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.

Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.

Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.

KRAK!

Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.

"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.


reviews

Athena Beatrice
Athena Beatrice
Recommended!
2024-12-02 06:29:12
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status