LOGINDahil sa pamimilit ng magulang ni Griffin Zale Kellneer na ipakasal siya sa babaeng hindi naman nito minahal ay napilitan siyang pakasalan ang babaeng si Samantha Lagdamiyo. Isang pekeng kasal kapalit ng limang milyong peso. Sa loob ng isang buwan na nagsama sila sa iisang bubong, hindi man aminin ng dalawa ay minahal nila ang isa't-isa. Walang sikretong hindi nabubunyag. Kaya nung malaman ng magulang ni Griffin na peke lang ang kanilang pagsasama ay lumayo si Samantha dala ang perang kapalit ng kasal. Makalipas ang limang taon nagbalik si Samantha dala ang batang babae, ipinakilala itong anak ni Griffin. Ngunit sa hindi inaasahan ay ito rin ang naging hudyat ng pagkamatay ng ama ng binata. Labis ang pagsisi ni Samantha dahil kinamuhian siya ng lalaki at ito rin ang dahilan upang hindi tanggapin ng binata ang pinakilala nitong anak. Ngunit tila mapaglaro ang panahon, dahil isang pagkakamali ang ginawa na paghihiganti ni Griffin kay Samantha. Mapapatawad pa kaya niya ang babae? Maibabalik pa ba niya ang kanyang pagmamahal kay Samantha? O mananatili na lang ang kanyang pagkamuhi sa babae? Gayong kailangan siya ng babae ng magbalik ito sa kanyang buhay.
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
SAMANTHA Alas nuebe na ng gabi pero hindi pa rin ako mapakali sa labas ng condo unit ni Griffin. Ayokong pumasok sa loob, dahil batid ko na kapag pumasok ako sa pintuan ng unit ay may mangyayari na naman sa kanila ni Griffin. Atras-abante ang kanyang lakad, nag aalangan na pindutin ang doorbell. Kinakagat-kagat din niya ang kanyang kuko dahil sa kaba. Tumigil siya sa kakalakad at nagpakawala ng isang buntong hininga at tumapat sa doorbell ng unit. Enhale, exhale. Yan ang ginagawa ko para mabawasan ang kaba sa aking dibdib. Siguro nasa sampung minuto na akong nakatitig lang sa doorbell. “What are you doing?” “Ah!” Tili ko dahil sa kaba. Parang tumalon ang aking puso at naghiwalay ang aking kaluluwa sa aking katawan ng biglang may nagsalita sa aking likuran. Kunot noo naman si Griffin at takang-taka siya ng nakatitig sa akin. Wala pala siya sa loob, at halatang naka-inom ito dahil sa pamumula mata at pisngi niya. Tumabi ako ng lumapit siya sa pintuan. Pinindot niya ang code ng
“A-ahh! Aray!” Piyok ang boses ng dalaga dahil sa sakit na kanyang nararamdaman. “Bakit ang sakit?” Saad pa nito. “S-sir ang sakit, aray!” Bigla niyang pinagdikit ang kanyang hita kaya naipit ang balakang ng binata. Pakiramdam niya ay kumakapal ang kanyang pagkababae dahil sa ilang beses ng tinangka ni Griffin na ipasok ang kanyang pagkalalaki sa kanyang perlas ngunit hindi pa rin ito makapasok dahil sa paulit ulit niyang pag pigil dito. “Don’t move!” Usal ng binata. “Masakit kasi, tama na…” naiiyak na naman siya dahil ganun pala talaga kapag unang beses. Masakit, mahapdi at higit sa lahat ay hindi naman niya mahal ang binata kaya mas nasasaktan siya sa nangyayari. “I said, don't move!” dahil sa gigil ng binata ay niyakap niya ang babae at basta na lamang niya diniin ang kanyang pagkalalaki sa pagkababae nito. “Ahh!” Daing ng dalaga. Hindi niya alam kung ano ang kanyang gagawin. Sobrang sakit ng kanyang pagkababae, busog na busog ito sa bagay na pumaloob duon. Hindi niya magawa n
Bigla na lamang niya pinasirit ang kanyang likido sa mukha ng babae na nasa kanyang harapan. “What the- -!” halatang galit ang babae, hindi lang dahil sa binitin ito ni Griffin kundi dahil sa mukha pa niya mismo binuga ang malagkit na katas ng binata. “Fix yourself and get lost.” Ma-awtoridad na utos ni Griffin sa babaeng nagngangalang Lyra. “Ganun na lang yun?” Usal ni Lyra. “At anong gusto mo? Umalis ka na bago pa kita ipa-kaladkad sa security.” banta nito sa babae. Padabog na tumayo si Lyra. Pumasok siya sa banyo at ilang minuto lang ay lumabas ito na maayos na ang sarili, ngunit madilim pa rin ang mukha niya dahil sa inis kay Griffin. “Hindi mo man lang ba ako ihahatid?” Pakli ni Lyra habang naka salikop ang braso. “Get out, or I call the security?” Nagmadali na lang na umalis si Lyra habang hindi maipinta ang mukha. Kanina lang ay masaya sila, ngunit bakit bigla na lang nag bago ang mode ng lalaki sa kanya. Inis niyang sinaklay ang kanyang sling bag na may tatak n
Sa loob ng condo unit ni Griffin ay tahimik lang si Samantha habang nakatayo ito sa malapit sa pinto habang nakatingin kay Griffin. Nakapag bihis na ito at bitbit niya ang paper bag na pinaglalagyan ng mamahaling damit at sandals na kanyang isinuot kanina. “M-may kailangan ka pa ba sa akin?” nagaalangang tanong ni Samantha sa binata na bumasag sa katahimikan ng buong unit. “Pwede ka ng umalis,” malamig na saad ni Griffin sa dalaga. Tinatanggal nito ang suot na necktie habang blangko ang mukha na nakaharap sa salamin. “P-pwede ba ako magtanong?” muling wika ng babae. “What was that?” “Makukuha ko na ba agad ngayon yung pera?” Nahihiya man pero kailangan niyang makasigurado na may pera talaga siyang makukuha para mapagamot na niya ang kanyang ina sa lalong madaling panahon. “I will give it to you, kapag nagawa mo na ang una mong trabaho sa akin,” kalmado lang ito sa kanyang sagot. Tila may tinutukoy ito sa dalaga ngunit hindi ito naunawaan ni Samantha. Pagkatapos ay ibinagsak
‘Anong ginagawa niya rito? Ibig sabihin hindi niya ako nakilala kanina hindi niya ako namumukhaan? Pero paano nakapasok ang isang prostitute sa kompanya ng magulang ko? Piniki ba niya ang files niya para ma hired siya sa isang kilalang hotel?’ Yan ang mga tanong ni Griffin sa kanyang isip na kailan
Sa ZK bar ay agad na umakyat si Griffin sa second floor. Meron kasi itong tatlong palapag, sa ika tatlong palapag ay tulad sa isang hotel may sampung kwarto. Duon umuupa ang mga lalaking gustong maka eskor sa mga babaeng bayaran. Elegal? No, hindi! Sa katulad niya ay walang pwedeng mag bawal sa gu
Ilang minuto na ang nakalipas ngunit hindi mawala sa kanyang isip ang babaeng tagalinis, pilit niyang ini-re-rehistro sa kanyang isip ang mukha nito. Napaka-amo kasi ng mukha nito, bagay lamang sa babae ang medyo may pagka kulot nitong itim na buhok na lagpas balikat ang haba at medyo makapal na k
“Ah… shit! Sige pa... Griffin baby," daing ni Daphny habang umuungol. Sarap na sarap ito habang binabayo patalikod ni Griffin Zale Kellner sa isang sikat na Condominuim kung saan nakatira si Griffin. Isa sa pagmamay-ari ng kanyang magulang ang KGH tower (Kellner Grand Hotel Tower). Si Daphny ay b
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews