Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 19. Saatnya Bermain Peran

Share

19. Saatnya Bermain Peran

Author: DF Handayani
last update Petsa ng paglalathala: 2025-06-15 09:00:41

Malam Hari, tiba saatnya Gala Dinner.

Lampu kristal berpendar di langit-langit Palazzo. Tamu-tamu berdatangan dengan jas dan gaun berpotongan presisi, wajah-wajah penting dari industri AI, para dewan komisaris CNC, serta wartawan bisnis ternama.

Deretan lilin panjang menyala di atas meja makan marmer putih yang dihiasi mawar biru dan putih warna identitas perusahaan.

Ketika Sunrise melangkah masuk, semua kepala menoleh.

Gaun satin biru royal itu jatuh sempurna di tubuhnya. Ram
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Juhaina R
wawww hebat kau sunrise ......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • The CEO'S Forbidden Bride    127. Semua Demi Anak Kita

    Suara itu lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat dunia Sunrise dan Khairen berhenti berputar.“Mommy…”Sunrise tersentak, tubuhnya menegang sebelum ia condong ke depan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan kecil Ellion yang terbaring lemah di ranjang HCU. Kulit anak itu pucat, selang oksigen terpasang di hidung mungilnya, namun matanya, mata itu terbuka.“Iya, Sayang… Mommy di sini,” bisik Sunrise dengan suara pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi punggung tangan Ellion. “Mommy di sini… kamu sudah aman.”Di sisi lain ranjang, Khairen berdiri membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya kuat-kuat. Ia menatap wajah kecil yang selama ini hanya hidup dalam bayangan dan penyesalan.“Daddy…”Satu kata itu menghancurkan dinding terakhir yang masih berdiri di dalam diri Khairen. Ia tak mungkin salah dengar, Ellion memanggilnya dengan sebutan Daddy.Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut

  • The CEO'S Forbidden Bride    126. Dia Juga Anakku

    Mobil Sunrise melaju menembus jalanan basah dengan kecepatan yang nyaris tak masuk akal. Tangannya gemetar di kemudi, namun ia memaksa diri tetap fokus.Di kursi penumpang, Khairen terdiam. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. Wajah kecil Ellion, terus berkelebat di kepalanya.Sejak Sunrise mengucapkan kebenaran itu, dunia Khairen yang sudah gelap seolah menemukan cahayanya lagi. Ia sempat berpikir Sunrise menggugurkan kandungannya. Ternyata, bayi itu tumbuh dengan sehat.Enam tahun ia hidup tanpa mendapat kabar dan tak pernah melihat anaknya tumbuh di luar sana, dan kini saat bertemu ia justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, nyawa itu berada di ujung benang.Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit. Sunrise bahkan belum mematikan mesin ketika Khairen sudah turun lebih dulu, berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuknya.“Ayo,” katanya singkat.Mereka berlari masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, dingin dan menyesakkan. Seorang pera

  • The CEO'S Forbidden Bride    125. Menepis Ego

    Sunrise berdiri lama di depan lemari kecil di sudut kamar. Tangannya ragu saat menarik laci nakas paling bawah, tempat yang selama ini jarang ia sentuh, seakan di sana tersimpan sesuatu yang terlarang untuk dibuka kembali.Kotak kayu itu masih ada.Ia mengangkatnya perlahan, setelah enam tahun tak tersentuh. Engselnya berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tertumpuk rapi selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar, namun tetap utuh.Foto pernikahan mereka. Sunrise masih menyimpannya.Sunrise dan Khairen berdiri berdampingan. Gaun putih yang cantik, dan jas warna senada yang elegan. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya tatapan saling menguntungkan dengan tujuan masing-masing.Dadanya terasa perih. Sunrise duduk di tepi ranjang, menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar memeluknya ke dada. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak sore akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.Ia tidak tahu bahwa sepasang mata kecil mengintip dari balik pintu.Ellion berdiri mematung, jari-jarinya

  • The CEO'S Forbidden Bride    124. Kembali Bertemu

    Sunrise bersandar pada pintu kayu, tangannya gemetar saat menutup wajah. Dadanya naik turun, napasnya patah-patah. Ia mengira enam tahun cukup untuk mengubur segalanya, rasa cinta, luka, harapan. Nyatanya, hanya butuh satu kehadiran untuk merobohkan dinding yang ia bangun dengan susah payah.Di luar, Khairen berdiri terpaku di depan etalase. Lampu kuning dari dalam toko memantulkan bayangannya di kaca, membuatnya tampak seperti orang asing yang terdampar di kehidupan orang lain.Tangannya mengepal, lalu mengendur. Ia tidak marah. Tidak pula ingin memaksa. Ia hanya takut kehilangan untuk kedua kalinya.Enam tahun lalu, ia melepaskan Sunrise karena percaya itulah satu-satunya cara melindunginya. Ia memilih diam, percaya waktu akan menata segalanya. Namun, waktu justru memberinya kenyataan paling kejam, seorang anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya.“Mom?” suara kecil Ellion terdengar dari balik pintu ruang belakang.Sunrise tersentak. Ia menghapus air mata cepat-cepat, mengatur napa

  • The CEO'S Forbidden Bride    123. Setelah Berpisah

    Enam Tahun Kemudian.Hujan turun tipis di kota kecil Albinen, air membasahi jalanan berbatu yang dipagari deretan maple tua. Sunrise berdiri di depan etalase toko roti miliknya, sebuah bangunan sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan D'Amore Bakehouse.Lampu kuning hangat di dalam memantul di kaca, menenangkan. Di balik ketenangan itu, hidupnya berjalan pelan, rapi, dan sunyi. Seperti yang ia inginkan.Ia mengancingkan mantel, menoleh ke jam dinding. Hampir pukul delapan. Saatnya menutup toko. Dari dalam, suara tawa kecil terdengar.“Mom, lihat!” Seorang anak laki-laki berambut hitam legam berlari kecil sambil mengangkat gambar. “Aku menggambar pegunungan. Ada mataharinya, cantik seperti Mommy.”Sunrise tersenyum. “Bagus sekali, Ellion.” Ia berlutut, merapikan kerah jaket anak itu. “Sastnya kita pulang, ya?”Ellion mengangguk. Matanya, mata yang sangat dikenal Sunrise, berkilau polos. Ia tak pernah bertanya tentang ayahnya. Dan Sunrise tak pernah menceritakan. Bagi dunia kecil El

  • The CEO'S Forbidden Bride    122. Akhir Dari Semua

    Lampu-lampu gedung perlahan tergantikan oleh gelap dan siluet pepohonan. Di kursi belakang mobil, Sunrise duduk memeluk dirinya sendiri. Bahunya bergetar, namun tak satu pun isak yang ia lepaskan.Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya, memburamkan pandangan yang menatap kosong ke jendela.Tak ada percakapan. Lucas duduk di depan, rahangnya mengeras. Steve menyetir dengan wajah dingin. Mesin mobil berdengung monoton, seolah ikut menjaga kesunyian yang sengaja diciptakan.Setiap kilometer yang terlewati terasa seperti menjauhkan Sunrise dari satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa pulang.Khairen.Nama itu berputar di kepalanya tanpa henti. Senyumnya. Tatapannya. Suara tenangnya saat berkata akan menepati janji. Dan ia memang menepatinya.Di ballroom CNC yang porak-poranda, Khairen akhirnya berhasil lolos dari kepungan media. Nick menariknya masuk ke lorong belakang dengan pengawalan ketat. Pintu tertutup, suara riuh meredam.Khairen bersandar pada dinding. Napasnya

  • The CEO'S Forbidden Bride    96. Malam Ini Aku Milikmu!

    Khairen menunduk, menyentuh rambut Sunrise dengan jemari yang masih gemetar. Gerakannya lembut, seolah setiap sentuhan adalah permohonan maaf yang tak terucap. Ia menggeser langkah mereka ke arah tempat tidur.Sunrise mengikuti, menyandarkan punggung pada ranjang, menatap Khairen dengan tatapan yan

  • The CEO'S Forbidden Bride    95. Hadiah Afrodisiak

    Balkon taman belakang mansion dipilih Khairen untuk tempat makan malam, diterangi lampu-lampu hangat yang memantul di dedaunan basah embun. Makan malam mereka sederhana namun intim, sup iga dengan keju leleh yang mengepul, roti hangat, dan percakapan pelan yang mengalir tanpa beban rapat atau strat

  • The CEO'S Forbidden Bride    94. Kembali Hangat Bersama

    Matahari di Zurich mulai tinggi dengan langit pucat. Khairen duduk di kursi kerjanya, pandangannya fokus tanpa benar-benar melihat dokumen yang dipegangnya. Tumpukan dokumen di meja seperti pajangan, sementara pikirannya tertinggal jauh di Alpen Timur, pada satu nama yang ditinggalkannya tanpa pami

  • The CEO'S Forbidden Bride    93. Penerus Crown Tak Bisa Ditunda

    Nick melangkah cepat menyusuri koridor, langkahnya tegas namun pikirannya bergejolak. Perintah Khairen singkat dan mendesak, pertanda sesuatu yang serius telah terjadi. Ia menekan tombol lift dengan rahang mengeras.Di dalam kepalanya, skenario terburuk berkelebat silih berganti. Jika Khairen

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status