بيت / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 19. Saatnya Bermain Peran

مشاركة

19. Saatnya Bermain Peran

مؤلف: DF Handayani
last update تاريخ النشر: 2025-06-15 09:00:41

Malam Hari, tiba saatnya Gala Dinner.

Lampu kristal berpendar di langit-langit Palazzo. Tamu-tamu berdatangan dengan jas dan gaun berpotongan presisi, wajah-wajah penting dari industri AI, para dewan komisaris CNC, serta wartawan bisnis ternama.

Deretan lilin panjang menyala di atas meja makan marmer putih yang dihiasi mawar biru dan putih warna identitas perusahaan.

Ketika Sunrise melangkah masuk, semua kepala menoleh.

Gaun satin biru royal itu jatuh sempurna di tubuhnya. Ram
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Juhaina R
wawww hebat kau sunrise ......
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • The CEO'S Forbidden Bride    130. Kembali Menemukan Kehangatan

    Paginya, dokter datang dan memberikan kabar baik."Kondisi Ellion terus meningkat baik. Ia bisa diizinkan pulang hari ini." ucap Dokter."Syukurlah..." Sunrise tersenyum penuh haru."Kita pulang hari ini, Sayang!" Sunrise memeluk Ellion."Horeee... Ellion sudah sembuh karena Daddy ada di sini!" seru Ellion nampak begitu gembira.Mobil sedan mewah bewarna hitam milik Khairen meluncur meninggalkan halaman rumah sakit dengan senyap. Interiornya luas, berbalut kulit lembut berwarna krem, dengan aroma khas yang menenangkan.Ellion duduk di kursi belakang bersama Sunrise. Matanya berbinar, jari-jarinya menyentuh panel pintu, menekan tombol jendela atas yang perlahan terbuka.“Wow…” Ellion mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap langit yang cerah. “Mobil Daddy bagus sekali.”Khairen melirik melalui spion, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Kau suka?”Ellion mengangguk bersemangat. “Daddy… Daddy orang yang sangat kaya, ya? Apakah Daddy seorang CEO seperti Paman Lucas?”Sunrise menahan nap

  • The CEO'S Forbidden Bride    129. Khairen Kembali

    Khairen berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam tipis di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun matanya, mata itu, tetap sama. Tajam, dalam, dan kini memuat sesuatu yang sulit Sunrise baca.“Kau sudah kembali,” ucap Sunrise pelan.“Iya,” jawab Khairen. “Baru sampai satu jam lalu.”Mereka saling diam beberapa detik. Udara di antara mereka terasa tegang, penuh hal-hal yang belum terucap.“Boleh aku masuk?” tanya Khairen akhirnya.Sunrise mengangguk dan menyingkir. Khairen melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Ellion. Wajahnya melunak seketika.“Dia tidur,” bisik Sunrise.Khairen mendekat, berdiri di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut Ellion dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, seolah ia sudah menghafalnya.“Aku bawa sesuatu,” katanya pelan. Ia mengeluarkan sebuah mobil mainan dari paperbag, sederhana, namun terlihat dipilih dengan hati-hati. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.Sunrise menatap benda itu, dadany

  • The CEO'S Forbidden Bride    128. Apa Kau Masih Mencintainya?

    Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan Sunrise sendirian bersama bunyi mesin monitor dan napas halus Ellion yang teratur. Ia memandang lama daun pintu. Berharap Khairen berbalik. Namun langkah kaki itu menjauh, lenyap di lorong rumah sakit.Ada perasaan aneh yang tertinggal di dadanya, bukan lagi takut atau cemas, melainkan sesuatu yang lebih rumit. Harapan yang selama ini ia paksa mati, kini perlahan menggeliat, menuntut ruangnya kembali."Apa yang kau pikirkan, Sunrise? Sadarlah..." Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri berulang kali. Pipinya pun terasa menghangat.Sunrise berusaha kembali fokus pada buah hatinya. Ia mengusap rambut Ellion pelan. “Daddy kamu pergi sebentar, Sayang,” bisiknya lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi… dia akan kembali.”Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Enam tahun ia membesarkan Ellion seorang diri, mengajarinya menyebut dunia tanpa sosok ayah. Kini, realitas itu berubah begitu cepat.Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme rumah sakit yang melelah

  • The CEO'S Forbidden Bride    127. Semua Demi Anak Kita

    Suara itu lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat dunia Sunrise dan Khairen berhenti berputar.“Mommy…”Sunrise tersentak, tubuhnya menegang sebelum ia condong ke depan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan kecil Ellion yang terbaring lemah di ranjang HCU. Kulit anak itu pucat, selang oksigen terpasang di hidung mungilnya, namun matanya, mata itu terbuka.“Iya, Sayang… Mommy di sini,” bisik Sunrise dengan suara pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi punggung tangan Ellion. “Mommy di sini… kamu sudah aman.”Di sisi lain ranjang, Khairen berdiri membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya kuat-kuat. Ia menatap wajah kecil yang selama ini hanya hidup dalam bayangan dan penyesalan.“Daddy…”Satu kata itu menghancurkan dinding terakhir yang masih berdiri di dalam diri Khairen. Ia tak mungkin salah dengar, Ellion memanggilnya dengan sebutan Daddy.Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut

  • The CEO'S Forbidden Bride    126. Dia Juga Anakku

    Mobil Sunrise melaju menembus jalanan basah dengan kecepatan yang nyaris tak masuk akal. Tangannya gemetar di kemudi, namun ia memaksa diri tetap fokus.Di kursi penumpang, Khairen terdiam. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. Wajah kecil Ellion, terus berkelebat di kepalanya.Sejak Sunrise mengucapkan kebenaran itu, dunia Khairen yang sudah gelap seolah menemukan cahayanya lagi. Ia sempat berpikir Sunrise menggugurkan kandungannya. Ternyata, bayi itu tumbuh dengan sehat.Enam tahun ia hidup tanpa mendapat kabar dan tak pernah melihat anaknya tumbuh di luar sana, dan kini saat bertemu ia justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, nyawa itu berada di ujung benang.Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit. Sunrise bahkan belum mematikan mesin ketika Khairen sudah turun lebih dulu, berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuknya.“Ayo,” katanya singkat.Mereka berlari masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, dingin dan menyesakkan. Seorang pera

  • The CEO'S Forbidden Bride    125. Menepis Ego

    Sunrise berdiri lama di depan lemari kecil di sudut kamar. Tangannya ragu saat menarik laci nakas paling bawah, tempat yang selama ini jarang ia sentuh, seakan di sana tersimpan sesuatu yang terlarang untuk dibuka kembali.Kotak kayu itu masih ada.Ia mengangkatnya perlahan, setelah enam tahun tak tersentuh. Engselnya berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tertumpuk rapi selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar, namun tetap utuh.Foto pernikahan mereka. Sunrise masih menyimpannya.Sunrise dan Khairen berdiri berdampingan. Gaun putih yang cantik, dan jas warna senada yang elegan. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya tatapan saling menguntungkan dengan tujuan masing-masing.Dadanya terasa perih. Sunrise duduk di tepi ranjang, menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar memeluknya ke dada. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak sore akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.Ia tidak tahu bahwa sepasang mata kecil mengintip dari balik pintu.Ellion berdiri mematung, jari-jarinya

  • The CEO'S Forbidden Bride    84. Hampir Melanggar Batas

    Sunrise akhirnya terlelap, tubuhnya terlalu lelah untuk terus berjaga. Napasnya perlahan teratur sampai malam menariknya masuk ke tempat yang tidak ingin ia kunjungi lagi.Bau air laut. Suara pintu dibanting. Langkah kaki yang terlalu dekat.“Jangan...”Ia tercekik oleh mimpi. Dadanya

  • The CEO'S Forbidden Bride    83. Malam yang Canggung

    Sunrise bangkit dari ranjangnya, berjalan dan berdiri di dekat jendela, membiarkan cahaya lampu taman menyentuh wajahnya. Malam terasa sunyi, hening perlahan meresap ke dada.Tak ia pungkiri jika kamar ini terasa begitu tenang.Ia berbalik, menatap sekeliling. Setiap sudut terasa ramah, s

  • The CEO'S Forbidden Bride    82. Satu Bukti Perasaan Khairen

    “Mulai malam ini, kau tinggal di mansion sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Khairen dingin. Nada suaranya datar. “Aku tidak ingin berdebat soal ini. Pergilah ke kamarmu!”"Kamarmu?" Kata itu membuat Sunrise tersenyum pahit. Ingin berteriak memberontak. Ingin melemparkan semua kem

  • The CEO'S Forbidden Bride    81. Cinta Terhalang Benci

    Sunrise berdiri di hadapan Khairen dengan bahu tegang. Ia sudah terlalu sering berdiri seperti ini sebagai istri di atas kertas, sebagai perempuan yang selalu menjaga jarak dari suaminya sendiri.“Cukup Khairen!” ucapnya pelan sambil mendorong tubuh Khairen yang begitu dekat dengannya. “Aku t

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status