تسجيل الدخولPaginya, dokter datang dan memberikan kabar baik."Kondisi Ellion terus meningkat baik. Ia bisa diizinkan pulang hari ini." ucap Dokter."Syukurlah..." Sunrise tersenyum penuh haru."Kita pulang hari ini, Sayang!" Sunrise memeluk Ellion."Horeee... Ellion sudah sembuh karena Daddy ada di sini!" seru Ellion nampak begitu gembira.Mobil sedan mewah bewarna hitam milik Khairen meluncur meninggalkan halaman rumah sakit dengan senyap. Interiornya luas, berbalut kulit lembut berwarna krem, dengan aroma khas yang menenangkan.Ellion duduk di kursi belakang bersama Sunrise. Matanya berbinar, jari-jarinya menyentuh panel pintu, menekan tombol jendela atas yang perlahan terbuka.“Wow…” Ellion mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap langit yang cerah. “Mobil Daddy bagus sekali.”Khairen melirik melalui spion, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Kau suka?”Ellion mengangguk bersemangat. “Daddy… Daddy orang yang sangat kaya, ya? Apakah Daddy seorang CEO seperti Paman Lucas?”Sunrise menahan nap
Khairen berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam tipis di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun matanya, mata itu, tetap sama. Tajam, dalam, dan kini memuat sesuatu yang sulit Sunrise baca.“Kau sudah kembali,” ucap Sunrise pelan.“Iya,” jawab Khairen. “Baru sampai satu jam lalu.”Mereka saling diam beberapa detik. Udara di antara mereka terasa tegang, penuh hal-hal yang belum terucap.“Boleh aku masuk?” tanya Khairen akhirnya.Sunrise mengangguk dan menyingkir. Khairen melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Ellion. Wajahnya melunak seketika.“Dia tidur,” bisik Sunrise.Khairen mendekat, berdiri di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut Ellion dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, seolah ia sudah menghafalnya.“Aku bawa sesuatu,” katanya pelan. Ia mengeluarkan sebuah mobil mainan dari paperbag, sederhana, namun terlihat dipilih dengan hati-hati. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.Sunrise menatap benda itu, dadany
Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan Sunrise sendirian bersama bunyi mesin monitor dan napas halus Ellion yang teratur. Ia memandang lama daun pintu. Berharap Khairen berbalik. Namun langkah kaki itu menjauh, lenyap di lorong rumah sakit.Ada perasaan aneh yang tertinggal di dadanya, bukan lagi takut atau cemas, melainkan sesuatu yang lebih rumit. Harapan yang selama ini ia paksa mati, kini perlahan menggeliat, menuntut ruangnya kembali."Apa yang kau pikirkan, Sunrise? Sadarlah..." Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri berulang kali. Pipinya pun terasa menghangat.Sunrise berusaha kembali fokus pada buah hatinya. Ia mengusap rambut Ellion pelan. “Daddy kamu pergi sebentar, Sayang,” bisiknya lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi… dia akan kembali.”Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Enam tahun ia membesarkan Ellion seorang diri, mengajarinya menyebut dunia tanpa sosok ayah. Kini, realitas itu berubah begitu cepat.Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme rumah sakit yang melelah
Suara itu lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat dunia Sunrise dan Khairen berhenti berputar.“Mommy…”Sunrise tersentak, tubuhnya menegang sebelum ia condong ke depan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan kecil Ellion yang terbaring lemah di ranjang HCU. Kulit anak itu pucat, selang oksigen terpasang di hidung mungilnya, namun matanya, mata itu terbuka.“Iya, Sayang… Mommy di sini,” bisik Sunrise dengan suara pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi punggung tangan Ellion. “Mommy di sini… kamu sudah aman.”Di sisi lain ranjang, Khairen berdiri membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya kuat-kuat. Ia menatap wajah kecil yang selama ini hanya hidup dalam bayangan dan penyesalan.“Daddy…”Satu kata itu menghancurkan dinding terakhir yang masih berdiri di dalam diri Khairen. Ia tak mungkin salah dengar, Ellion memanggilnya dengan sebutan Daddy.Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut
Mobil Sunrise melaju menembus jalanan basah dengan kecepatan yang nyaris tak masuk akal. Tangannya gemetar di kemudi, namun ia memaksa diri tetap fokus.Di kursi penumpang, Khairen terdiam. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. Wajah kecil Ellion, terus berkelebat di kepalanya.Sejak Sunrise mengucapkan kebenaran itu, dunia Khairen yang sudah gelap seolah menemukan cahayanya lagi. Ia sempat berpikir Sunrise menggugurkan kandungannya. Ternyata, bayi itu tumbuh dengan sehat.Enam tahun ia hidup tanpa mendapat kabar dan tak pernah melihat anaknya tumbuh di luar sana, dan kini saat bertemu ia justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, nyawa itu berada di ujung benang.Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit. Sunrise bahkan belum mematikan mesin ketika Khairen sudah turun lebih dulu, berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuknya.“Ayo,” katanya singkat.Mereka berlari masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, dingin dan menyesakkan. Seorang pera
Sunrise berdiri lama di depan lemari kecil di sudut kamar. Tangannya ragu saat menarik laci nakas paling bawah, tempat yang selama ini jarang ia sentuh, seakan di sana tersimpan sesuatu yang terlarang untuk dibuka kembali.Kotak kayu itu masih ada.Ia mengangkatnya perlahan, setelah enam tahun tak tersentuh. Engselnya berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tertumpuk rapi selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar, namun tetap utuh.Foto pernikahan mereka. Sunrise masih menyimpannya.Sunrise dan Khairen berdiri berdampingan. Gaun putih yang cantik, dan jas warna senada yang elegan. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya tatapan saling menguntungkan dengan tujuan masing-masing.Dadanya terasa perih. Sunrise duduk di tepi ranjang, menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar memeluknya ke dada. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak sore akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.Ia tidak tahu bahwa sepasang mata kecil mengintip dari balik pintu.Ellion berdiri mematung, jari-jarinya
Sunrise masih berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Ucapan Summer terus terngiang di udara.Pandangannya tertuju pada jam dinding. Pendulum terus berputar dengan jarum yang menunjuk angka delapan. Satu jam lagi, ia harus sudah berada di kantor.“Kau tidak boleh pergi,” ucap Sunrise akhirnya. Suaran
Langkah Sunrise menggema di koridor panjang mansion Khairen. Namun ia menolak menoleh, tidak ingin memberi Khairen harapan sekecil apa pun meski ia tahu, lelaki itu tetap mengawasinya sampai mobil melaju meninggalkan gerbang besi tinggi itu. "Aku membencimu Khairen Crown, dan akan tetap seperti it
Suara tangis Sunrise menggema pelan di dada Khairen, seolah setiap isakan membawa pecahan masa lalu yang selama ini ia kubur sendiri. Nama itu "Eleonora" masih menggantung di antara mereka.Khairen tidak bergerak. Ia membiarkan Sunrise meluapkan segalanya, membiarkan kemeja hitamnya basah oleh air
Gerbang besi kediaman pribadi Khairen Crown terbuka perlahan saat mobil Sunrise berhenti tepat di depannya. Tak ada penjaga yang menghentikan. Tak ada interogasi. Seolah kedatangannya sudah dinanti. Hal itu justru membuat dada Sunrise semakin sesak.Ia turun dari mobil dengan langkah gemetar, menah







