LOGINBallroom utama CNC pagi itu berkilau seperti panggung kemenangan. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, layar raksasa menampilkan visual pegunungan Alpen Timur yang diselimuti salju, dengan garis-garis jaringan yang menyala biru, simbol keberhasilan Mega proyek yang selama ini hanya bisa ditembus oleh CNC.Para tamu memenuhi ruangan. Direksi, komisaris, investor asing, petinggi perusahaan jaringan global, dan tentu saja media. Kamera-kamera sudah siaga, lampu kilat berkedip tanpa henti. Semua menunggu satu momen, yaitu peluncuran resmi proyek Alpen Timur.Di balik layar, Sunrise berdiri tegak. Gaun krem pucat membalut tubuhnya sederhana namun elegan. Wajahnya begitu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai sebesar ini di dadanya. Tablet ia dekap erat, jemarinya mencengkeram sisi perangkat itu seolah di dalamnya tersimpan takdir yang tak boleh jatuh ke tangan siapa pun.Ia sudah datang sejak satu jam lalu. Mengecek alur acara. Memastikan setiap detail sesuai rencana. Tidak bole
Sunrise terbangun saat langit masih berkabut. Jam di nakas menunjukkan pukul enam pagi. Beberapa hari belakangan, kamar itu sunyi, tidak ada suara langkah kaki Khairen. Tidak ada aroma parfum yang biasanya tercium dari arah walk in closed.Ia duduk perlahan, menatap sisi ranjang yang kosong. Rapi, seolah memang tak pernah ada seseorang yang tidur di sana.Di meja makan, hanya ada dirinya dan keheningan. Pelayan menunduk sopan ketika Sunrise turun.“Beliau sudah berangkat sejak satu jam yang lalu, Nyonya,” ucap pelayan itu hati-hati. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati Nyonya.Sunrise menarik napas panjang, lalu duduk. Ia tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mulutnya terbuka.Sunrise mengangguk pelan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya ada sesuatu yang mengeras di balik sorot matanya.“Mulai besok tak perlu menyiapkan sarapan untukku.” ucap Sunrise setelah menyelesaikan sarapannya.Pelayan menatap Sunrise bingung.Sunrise mengambil tasnya sendiri. Untu
Keheningan yang tertinggal terasa begitu pekat, seolah udara di dalam ruangan ikut membeku bersama kepedihan yang baru saja terjadi.Sunrise tetap terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang, napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sempit, seakan setiap tarikan napas adalah siksaan. Paru-parunya seperti disayat dari dalam, membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Di luar kamar, langkah Khairen terhenti di ujung koridor yang panjang dan sunyi.Ia bersandar pada dinding, satu tangannya menutup wajah, sementara tangan lainnya mengepal keras di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, napasnya berat. Kata-kata Sunrise terus menghantam kepalanya tanpa ampun, berulang-ulang, tanpa memberi ruang untuk bernapas."Tidak pernah.""Dari awal hanya sandiwara.""Perjanjian kontrak.""Alat tukar."Setiap kata itu seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke dadanya, diputar dengan kejam, lalu dibiarkan tertinggal begitu saja.Khairen menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, matanya m
Khairen segera kembali ke mobilnya begitu meninggalkan area itu. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Mesin menderu saat ia menekan pedal gas tanpa ragu. Jalanan malam terasa lengang, tapi kepalanya justru riuh.Kata-kata Sunrise terus terngiang di benaknya.Hamil… alat tukar… negosiasi…Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat pertama kali mendengar Sunrise hamil. Bahagia. Hangat. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia berani impikan. Seorang anak. Darah daging mereka.Namun rasa itu langsung hancur, tergantikan oleh nyeri yang menyesakkan dada.Sunrise menjadikan anak mereka sebagai alat tawar-menawar.Khairen mengumpat pelan. Rahangnya mengeras. Ia menambah kecepatan, seolah ingin lari dari pikirannya sendiri. Ia ingin percaya bahwa Sunrise terpaksa. Bahwa perempuan itu tidak benar-benar berniat seperti itu.Tapi setiap kali mengingat tatapan Sunrise saat berhadapan dengan Magnus dingin, tegas, tanpa gentar hatinya semakin sakit.Sunrise melangkah meninggalkan Magnus dengan kepala
Magnus terduduk pucat di balik meja marmer hitam itu, seolah seluruh dunia yang selama ini ia bangun runtuh dalam satu malam.Tatapannya menelusuri wajah Sunrise berulang kali, mencari celah, mencari kebohongan, mencari tanda bahwa semua ini hanyalah sandiwara murahan.Namun tak ada.Sorot mata biru itu terlalu dingin untuk sebuah kebohongan. Begitu penuh luka untuk sebuah rekayasa.“Mustahil,” gumam Magnus lirih. “Semua awak kapal… semua penumpang malam itu… tak satu pun selamat. D’Amore Marittimo tenggelam bersama seluruh rahasianya.”Sunrise tak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, bahunya lurus, wajahnya tenang, seolah badai yang mengamuk di hadapan Magnus bukan lagi sesuatu yang bisa menggoyahkannya.“Aku sudah mencarimu,” lanjut Magnus, suaranya meninggi, nyaris panik. “Bertahun-tahun. Ke setiap negara. Setiap jejak keluarga Loredan. Kau… seharusnya tidak ada.”“Namun aku berdiri di sini,” potong Sunrise dingin. “Dan aku berada di sekitarmu. Di bawah hidungmu. Menghancurkan perlaha
Waktu seolah berlari tanpa memberi kesempatan Sunrise untuk menoleh ke belakang.Tiga minggu berlalu begitu cepat.Dalam kurun waktu itu, Sunrise menjelma menjadi sosok yang nyaris tak tersentuh oleh urusan pribadi. Ia kembali seperti Sunrise yang dulu.Setiap hari ia tiba paling pagi di CNC dan sering kali menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung. Berkas-berkas proyek yang menjadi tanggung jawabnya tersusun rapi di mejanya, satu demi satu ia tuntaskan dengan presisi yang nyaris sempurna.Rapat demi rapat ia lalui dengan tenang. Presentasi yang ia bawakan selalu memukau, tegas, runtut, dan penuh keyakinan. Bahkan tim manajemen mulai menyadari perubahan Sunrise. Ia lebih fokus, lebih dingin, seolah ada batas tak kasatmata yang membungkus dirinya dari dunia luar.Tak jarang ia bekerja lembur hingga larut malam, menatap layar komputer dengan mata lelah namun pikiran tetap tajam. Ia menyingkirkan semua yang bersifat pribadi, perasaan, kenangan, juga konflik batin yang berusaha meng
Khairen menunduk, menyentuh rambut Sunrise dengan jemari yang masih gemetar. Gerakannya lembut, seolah setiap sentuhan adalah permohonan maaf yang tak terucap. Ia menggeser langkah mereka ke arah tempat tidur.Sunrise mengikuti, menyandarkan punggung pada ranjang, menatap Khairen dengan tatapan yan
Balkon taman belakang mansion dipilih Khairen untuk tempat makan malam, diterangi lampu-lampu hangat yang memantul di dedaunan basah embun. Makan malam mereka sederhana namun intim, sup iga dengan keju leleh yang mengepul, roti hangat, dan percakapan pelan yang mengalir tanpa beban rapat atau strat
Matahari di Zurich mulai tinggi dengan langit pucat. Khairen duduk di kursi kerjanya, pandangannya fokus tanpa benar-benar melihat dokumen yang dipegangnya. Tumpukan dokumen di meja seperti pajangan, sementara pikirannya tertinggal jauh di Alpen Timur, pada satu nama yang ditinggalkannya tanpa pami
Nick melangkah cepat menyusuri koridor, langkahnya tegas namun pikirannya bergejolak. Perintah Khairen singkat dan mendesak, pertanda sesuatu yang serius telah terjadi. Ia menekan tombol lift dengan rahang mengeras.Di dalam kepalanya, skenario terburuk berkelebat silih berganti. Jika Khairen







