ANMELDENLampu-lampu gedung perlahan tergantikan oleh gelap dan siluet pepohonan. Di kursi belakang mobil, Sunrise duduk memeluk dirinya sendiri. Bahunya bergetar, namun tak satu pun isak yang ia lepaskan.Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya, memburamkan pandangan yang menatap kosong ke jendela.Tak ada percakapan. Lucas duduk di depan, rahangnya mengeras. Steve menyetir dengan wajah dingin. Mesin mobil berdengung monoton, seolah ikut menjaga kesunyian yang sengaja diciptakan.Setiap kilometer yang terlewati terasa seperti menjauhkan Sunrise dari satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa pulang.Khairen.Nama itu berputar di kepalanya tanpa henti. Senyumnya. Tatapannya. Suara tenangnya saat berkata akan menepati janji. Dan ia memang menepatinya.Di ballroom CNC yang porak-poranda, Khairen akhirnya berhasil lolos dari kepungan media. Nick menariknya masuk ke lorong belakang dengan pengawalan ketat. Pintu tertutup, suara riuh meredam.Khairen bersandar pada dinding. Napasnya
Ballroom utama CNC pagi itu berkilau seperti panggung kemenangan. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, layar raksasa menampilkan visual pegunungan Alpen Timur yang diselimuti salju, dengan garis-garis jaringan yang menyala biru, simbol keberhasilan Mega proyek yang selama ini hanya bisa ditembus oleh CNC.Para tamu memenuhi ruangan. Direksi, komisaris, investor asing, petinggi perusahaan jaringan global, dan tentu saja media. Kamera-kamera sudah siaga, lampu kilat berkedip tanpa henti. Semua menunggu satu momen, yaitu peluncuran resmi proyek Alpen Timur.Di balik layar, Sunrise berdiri tegak. Gaun krem pucat membalut tubuhnya sederhana namun elegan. Wajahnya begitu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai sebesar ini di dadanya. Tablet ia dekap erat, jemarinya mencengkeram sisi perangkat itu seolah di dalamnya tersimpan takdir yang tak boleh jatuh ke tangan siapa pun.Ia sudah datang sejak satu jam lalu. Mengecek alur acara. Memastikan setiap detail sesuai rencana. Tidak bole
Sunrise terbangun saat langit masih berkabut. Jam di nakas menunjukkan pukul enam pagi. Beberapa hari belakangan, kamar itu sunyi, tidak ada suara langkah kaki Khairen. Tidak ada aroma parfum yang biasanya tercium dari arah walk in closed.Ia duduk perlahan, menatap sisi ranjang yang kosong. Rapi, seolah memang tak pernah ada seseorang yang tidur di sana.Di meja makan, hanya ada dirinya dan keheningan. Pelayan menunduk sopan ketika Sunrise turun.“Beliau sudah berangkat sejak satu jam yang lalu, Nyonya,” ucap pelayan itu hati-hati. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati Nyonya.Sunrise menarik napas panjang, lalu duduk. Ia tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mulutnya terbuka.Sunrise mengangguk pelan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya ada sesuatu yang mengeras di balik sorot matanya.“Mulai besok tak perlu menyiapkan sarapan untukku.” ucap Sunrise setelah menyelesaikan sarapannya.Pelayan menatap Sunrise bingung.Sunrise mengambil tasnya sendiri. Untu
Keheningan yang tertinggal terasa begitu pekat, seolah udara di dalam ruangan ikut membeku bersama kepedihan yang baru saja terjadi.Sunrise tetap terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang, napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sempit, seakan setiap tarikan napas adalah siksaan. Paru-parunya seperti disayat dari dalam, membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Di luar kamar, langkah Khairen terhenti di ujung koridor yang panjang dan sunyi.Ia bersandar pada dinding, satu tangannya menutup wajah, sementara tangan lainnya mengepal keras di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, napasnya berat. Kata-kata Sunrise terus menghantam kepalanya tanpa ampun, berulang-ulang, tanpa memberi ruang untuk bernapas."Tidak pernah.""Dari awal hanya sandiwara.""Perjanjian kontrak.""Alat tukar."Setiap kata itu seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke dadanya, diputar dengan kejam, lalu dibiarkan tertinggal begitu saja.Khairen menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, matanya m
Khairen segera kembali ke mobilnya begitu meninggalkan area itu. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Mesin menderu saat ia menekan pedal gas tanpa ragu. Jalanan malam terasa lengang, tapi kepalanya justru riuh.Kata-kata Sunrise terus terngiang di benaknya.Hamil… alat tukar… negosiasi…Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat pertama kali mendengar Sunrise hamil. Bahagia. Hangat. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia berani impikan. Seorang anak. Darah daging mereka.Namun rasa itu langsung hancur, tergantikan oleh nyeri yang menyesakkan dada.Sunrise menjadikan anak mereka sebagai alat tawar-menawar.Khairen mengumpat pelan. Rahangnya mengeras. Ia menambah kecepatan, seolah ingin lari dari pikirannya sendiri. Ia ingin percaya bahwa Sunrise terpaksa. Bahwa perempuan itu tidak benar-benar berniat seperti itu.Tapi setiap kali mengingat tatapan Sunrise saat berhadapan dengan Magnus dingin, tegas, tanpa gentar hatinya semakin sakit.Sunrise melangkah meninggalkan Magnus dengan kepala
Magnus terduduk pucat di balik meja marmer hitam itu, seolah seluruh dunia yang selama ini ia bangun runtuh dalam satu malam.Tatapannya menelusuri wajah Sunrise berulang kali, mencari celah, mencari kebohongan, mencari tanda bahwa semua ini hanyalah sandiwara murahan.Namun tak ada.Sorot mata biru itu terlalu dingin untuk sebuah kebohongan. Begitu penuh luka untuk sebuah rekayasa.“Mustahil,” gumam Magnus lirih. “Semua awak kapal… semua penumpang malam itu… tak satu pun selamat. D’Amore Marittimo tenggelam bersama seluruh rahasianya.”Sunrise tak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, bahunya lurus, wajahnya tenang, seolah badai yang mengamuk di hadapan Magnus bukan lagi sesuatu yang bisa menggoyahkannya.“Aku sudah mencarimu,” lanjut Magnus, suaranya meninggi, nyaris panik. “Bertahun-tahun. Ke setiap negara. Setiap jejak keluarga Loredan. Kau… seharusnya tidak ada.”“Namun aku berdiri di sini,” potong Sunrise dingin. “Dan aku berada di sekitarmu. Di bawah hidungmu. Menghancurkan perlaha
"Aku kembali ke kamar." Sunrise memilih masuk ke kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup perlahan. Pria itu tetap berdiri di teras, menatap punggung Sunrise yang menghilang, dengan rahang mengeras dan dada penuh pertanyaan.Sunrise tak pernah sedingin ini padanya.Di dalam kamar, Sunrise bersandar
Mobil melaju membelah jalanan luar kota, pepohonan berganti ladang-ladang beku yang masih diselimuti sisa kabut pagi. Sunrise memejamkan mata, namun bayangan yang muncul bukan pemandangan di luar sana melainkan wajah Khairen, sorot matanya yang menahan banyak hal, dan suara napasnya yang tertahan s
Sunrise menuruni mobil dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Rasa perih juga remuk masih terasa di sekujur tubuhnya. Begitu pintu mobil tertutup, pandangannya langsung tertambat pada sosok yang berdiri di depan unitnya.Lucas.Pria itu bersandar santai di dinding koridor, tangan d
Cahaya pucat menyelinap melalui celah tirai, menyentuh sudut ranjang dan lantai marmer dengan warna keemasan. Sunrise terbangun lebih dulu. Napasnya terhenti sesaat ketika ia menyadari posisi tubuhnya, kepalanya masih bersandar di dada Khairen, satu lengan pria itu melingkar di pinggangnya, hangat







