تسجيل الدخولSuara itu lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat dunia Sunrise dan Khairen berhenti berputar.“Mommy…”Sunrise tersentak, tubuhnya menegang sebelum ia condong ke depan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan kecil Ellion yang terbaring lemah di ranjang HCU. Kulit anak itu pucat, selang oksigen terpasang di hidung mungilnya, namun matanya, mata itu terbuka.“Iya, Sayang… Mommy di sini,” bisik Sunrise dengan suara pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi punggung tangan Ellion. “Mommy di sini… kamu sudah aman.”Di sisi lain ranjang, Khairen berdiri membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya kuat-kuat. Ia menatap wajah kecil yang selama ini hanya hidup dalam bayangan dan penyesalan.“Daddy…”Satu kata itu menghancurkan dinding terakhir yang masih berdiri di dalam diri Khairen. Ia tak mungkin salah dengar, Ellion memanggilnya dengan sebutan Daddy.Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut
Mobil Sunrise melaju menembus jalanan basah dengan kecepatan yang nyaris tak masuk akal. Tangannya gemetar di kemudi, namun ia memaksa diri tetap fokus.Di kursi penumpang, Khairen terdiam. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. Wajah kecil Ellion, terus berkelebat di kepalanya.Sejak Sunrise mengucapkan kebenaran itu, dunia Khairen yang sudah gelap seolah menemukan cahayanya lagi. Ia sempat berpikir Sunrise menggugurkan kandungannya. Ternyata, bayi itu tumbuh dengan sehat.Enam tahun ia hidup tanpa mendapat kabar dan tak pernah melihat anaknya tumbuh di luar sana, dan kini saat bertemu ia justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, nyawa itu berada di ujung benang.Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit. Sunrise bahkan belum mematikan mesin ketika Khairen sudah turun lebih dulu, berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuknya.“Ayo,” katanya singkat.Mereka berlari masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, dingin dan menyesakkan. Seorang pera
Sunrise berdiri lama di depan lemari kecil di sudut kamar. Tangannya ragu saat menarik laci nakas paling bawah, tempat yang selama ini jarang ia sentuh, seakan di sana tersimpan sesuatu yang terlarang untuk dibuka kembali.Kotak kayu itu masih ada.Ia mengangkatnya perlahan, setelah enam tahun tak tersentuh. Engselnya berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tertumpuk rapi selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar, namun tetap utuh.Foto pernikahan mereka. Sunrise masih menyimpannya.Sunrise dan Khairen berdiri berdampingan. Gaun putih yang cantik, dan jas warna senada yang elegan. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya tatapan saling menguntungkan dengan tujuan masing-masing.Dadanya terasa perih. Sunrise duduk di tepi ranjang, menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar memeluknya ke dada. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak sore akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.Ia tidak tahu bahwa sepasang mata kecil mengintip dari balik pintu.Ellion berdiri mematung, jari-jarinya
Sunrise bersandar pada pintu kayu, tangannya gemetar saat menutup wajah. Dadanya naik turun, napasnya patah-patah. Ia mengira enam tahun cukup untuk mengubur segalanya, rasa cinta, luka, harapan. Nyatanya, hanya butuh satu kehadiran untuk merobohkan dinding yang ia bangun dengan susah payah.Di luar, Khairen berdiri terpaku di depan etalase. Lampu kuning dari dalam toko memantulkan bayangannya di kaca, membuatnya tampak seperti orang asing yang terdampar di kehidupan orang lain.Tangannya mengepal, lalu mengendur. Ia tidak marah. Tidak pula ingin memaksa. Ia hanya takut kehilangan untuk kedua kalinya.Enam tahun lalu, ia melepaskan Sunrise karena percaya itulah satu-satunya cara melindunginya. Ia memilih diam, percaya waktu akan menata segalanya. Namun, waktu justru memberinya kenyataan paling kejam, seorang anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya.“Mom?” suara kecil Ellion terdengar dari balik pintu ruang belakang.Sunrise tersentak. Ia menghapus air mata cepat-cepat, mengatur napa
Enam Tahun Kemudian.Hujan turun tipis di kota kecil Albinen, air membasahi jalanan berbatu yang dipagari deretan maple tua. Sunrise berdiri di depan etalase toko roti miliknya, sebuah bangunan sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan D'Amore Bakehouse.Lampu kuning hangat di dalam memantul di kaca, menenangkan. Di balik ketenangan itu, hidupnya berjalan pelan, rapi, dan sunyi. Seperti yang ia inginkan.Ia mengancingkan mantel, menoleh ke jam dinding. Hampir pukul delapan. Saatnya menutup toko. Dari dalam, suara tawa kecil terdengar.“Mom, lihat!” Seorang anak laki-laki berambut hitam legam berlari kecil sambil mengangkat gambar. “Aku menggambar pegunungan. Ada mataharinya, cantik seperti Mommy.”Sunrise tersenyum. “Bagus sekali, Ellion.” Ia berlutut, merapikan kerah jaket anak itu. “Sastnya kita pulang, ya?”Ellion mengangguk. Matanya, mata yang sangat dikenal Sunrise, berkilau polos. Ia tak pernah bertanya tentang ayahnya. Dan Sunrise tak pernah menceritakan. Bagi dunia kecil El
Lampu-lampu gedung perlahan tergantikan oleh gelap dan siluet pepohonan. Di kursi belakang mobil, Sunrise duduk memeluk dirinya sendiri. Bahunya bergetar, namun tak satu pun isak yang ia lepaskan.Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya, memburamkan pandangan yang menatap kosong ke jendela.Tak ada percakapan. Lucas duduk di depan, rahangnya mengeras. Steve menyetir dengan wajah dingin. Mesin mobil berdengung monoton, seolah ikut menjaga kesunyian yang sengaja diciptakan.Setiap kilometer yang terlewati terasa seperti menjauhkan Sunrise dari satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa pulang.Khairen.Nama itu berputar di kepalanya tanpa henti. Senyumnya. Tatapannya. Suara tenangnya saat berkata akan menepati janji. Dan ia memang menepatinya.Di ballroom CNC yang porak-poranda, Khairen akhirnya berhasil lolos dari kepungan media. Nick menariknya masuk ke lorong belakang dengan pengawalan ketat. Pintu tertutup, suara riuh meredam.Khairen bersandar pada dinding. Napasnya
Mobil Sunrise meluncur membelah pagi dengan keheningan yang menekan. Summer duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. Kartu identitas magang CNC tergantung rapi di lehernya. Sunrise menggenggam setir erat, seolah sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.Gedung CNC menjulang, kaca-kacanya mem
Sunrise masih berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Ucapan Summer terus terngiang di udara.Pandangannya tertuju pada jam dinding. Pendulum terus berputar dengan jarum yang menunjuk angka delapan. Satu jam lagi, ia harus sudah berada di kantor.“Kau tidak boleh pergi,” ucap Sunrise akhirnya. Suaran
Langkah Sunrise menggema di koridor panjang mansion Khairen. Namun ia menolak menoleh, tidak ingin memberi Khairen harapan sekecil apa pun meski ia tahu, lelaki itu tetap mengawasinya sampai mobil melaju meninggalkan gerbang besi tinggi itu. "Aku membencimu Khairen Crown, dan akan tetap seperti it
Suara tangis Sunrise menggema pelan di dada Khairen, seolah setiap isakan membawa pecahan masa lalu yang selama ini ia kubur sendiri. Nama itu "Eleonora" masih menggantung di antara mereka.Khairen tidak bergerak. Ia membiarkan Sunrise meluapkan segalanya, membiarkan kemeja hitamnya basah oleh air







