Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 71. Pertentangan Dua Hati

Share

71. Pertentangan Dua Hati

Author: DF Handayani
last update Last Updated: 2025-08-21 12:48:45

Rapat dewan direksi bubar, tapi gemanya masih riuh di seluruh gedung CNC. Rumor tentang pergantian kursi direksi teknologi menyebar lebih cepat daripada email resmi perusahaan.

Di lantai divisi teknologi, suasana riuh bukan main. Beberapa karyawan tampak bersorak kecil, berbisik sambil menahan senyum. Ada pula yang muram, khawatir akan perubahan yang terlalu drastis.

“Tuan Steve benar-benar direksi baru kita?” bisik seorang analis data pada rekannya.

“Ya. Katanya dia orang yang ahli di bidang teknologi. Pernah kerja sama dengan perusahaan besar di London.” sahut staf lainnya.

“Kalau benar, ini bisa jadi peluang baru buat kita. Siapa tahu lebih modern dibanding gaya konservatif direksi selama ini.” timpal staf yang lain.

Sunrise berjalan melewati kerumunan itu dengan langkah mantap, meski wajahnya dingin.

"Jadi ini tujuan permainan Steve? Menduduki jabatan strategis di CNC. Mendapatkan dukungan para karyawan. Dan perlahan mulai meruntuhkan posisi Khairen?" Di dalam dadanya, badai berp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The CEO'S Forbidden Bride    78. Pagi yang Tegang

    Langkah Sunrise menggema di koridor panjang mansion Khairen. Namun ia menolak menoleh, tidak ingin memberi Khairen harapan sekecil apa pun meski ia tahu, lelaki itu tetap mengawasinya sampai mobil melaju meninggalkan gerbang besi tinggi itu. "Aku membencimu Khairen Crown, dan akan tetap seperti itu seumur hidupku!" runtuk Sunrise sepanjang hentakan kakinya. Sunrise menyetir sendiri mobilnya. Ia menolak sopir tanpa memberi kesempatan untuk membantah, menutup pintu dengan keras. Di dalam mobil, Sunrise menutup mata. Tangannya mengepal di pangkuan, menahan gemetar yang belum sepenuhnya hilang. Nama itu kembali terngiang. Eleonora. Ia menggigit bibirnya. Nama itu seharusnya mati. Dikubur bersama api, darah, dan jeritan yang membelah malam bertahun-tahun lalu. Sunrise White adalah satu-satunya identitas yang ia akui. Yang lain hanyalah bayangan yang ingin ia hapus. Ia melajukan kendaraan menembus jalanan pagi yang masih lengang. Tangannya mencengkeram setir terlalu erat, rahangn

  • The CEO'S Forbidden Bride    77. Perasaan yang Semakin Dingin

    Suara tangis Sunrise menggema pelan di dada Khairen, seolah setiap isakan membawa pecahan masa lalu yang selama ini ia kubur sendiri. Nama itu "Eleonora" masih menggantung di antara mereka.Khairen tidak bergerak. Ia membiarkan Sunrise meluapkan segalanya, membiarkan kemeja hitamnya basah oleh air mata perempuan yang seharusnya ia jadikan musuh, namun justru menjadi berarti di hidupnya.“Aku benci nama itu…” bisik Sunrise di sela isak, suaranya tercekik. “Aku menguburnya bersama keluargaku. Bersama malam itu.”Khairen terdiam. Tangannya di belakang kepala Sunrise sedikit mengerat, menahan dirinya sendiri agar tidak kehilangan kendali.“Aku tahu,” jawabnya lirih. “Dan aku bersumpah tak akan menyebutnya lagi kecuali kau mengizinkannya.”Sunrise hanya tertawa pahit di dalam pelukan lelaki yang seharusnya ia benci sepenuh jiwa.Khairen menghela napas panjang. Perlahan, ia menurunkan dagunya, keningnya menyentuh rambut Sunrise.Tangisnya mulai mereda menjadi sesenggukan kecil. Jari-jarinya

  • The CEO'S Forbidden Bride    76. Sentuhan Hangat dan Kebencian

    Gerbang besi kediaman pribadi Khairen Crown terbuka perlahan saat mobil Sunrise berhenti tepat di depannya. Tak ada penjaga yang menghentikan. Tak ada interogasi. Seolah kedatangannya sudah dinanti. Hal itu justru membuat dada Sunrise semakin sesak.Ia turun dari mobil dengan langkah gemetar, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan bangunan besar yang terasa lebih seperti penjara daripada rumah."Selamat datang kembali Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di ruang kerjanya." ucap Kepala Pelayan dengan hormat dan menuntun Sunrise berjalan menuju ruang kerja.Sunrise berjalan lurus dengan wajah penuh amarah mengikuti Kepala Pelayan.Pintu ruangan terbuka. Khairen berdiri di sana. Sorot matanya gelap namun begitu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membongkar luka terdalam seseorang.“Kau wanita yang tak sabaran Sunrise? Aku tak menyangka kau akan datang secepat ini." ucapnya datar. "Untuk apa kau datang kemari tenga

  • The CEO'S Forbidden Bride    75. Titik Balik Khairen

    Nick berdiri di sisi meja kerja Khairen dengan tablet di tangannya. Nada laporannya terdengar profesional, tapi kegelisahan jelas terpancar dari matanya.“Laporan audit Nyonya Sunrise sudah masuk,” ucapnya. “Seduai harapan, strukturnya rapi. Analisisnya tajam. Tapi ada satu laporan yang sengaja tidak ia lanjutkan.”Khairen mengangkat pandangan. “Tentang apa?” ucapnya datar.Nick memperbesar grafik. “Analisis berhenti tepat sebelum membentuk kesimpulan besar. Padahal Nyonya sangat mampu. Dugaan saya, Nyonya sengaja menahan informasi.”Khairen tetap tenang. Seolah ia tak mengetahui apapun.“Dan menurutmu apa alasannya?” tanyanya pelan.“Mungkin tujuan pribadi, dengan Steve. Seperti yang Tuan katakan.” jawab Nick hati-hati. “Dan, ada sesuatu yang ia lindungi. Saya rasa Nyonya perlu diwaspadai.”Hening menyelimuti ruangan.Lalu Khairen tersenyum tipis, senyum yang membuat tengkuk Nick terasa dingin. Tatapan matanya pun tak biasa. Bukan seperti Tuannya yang puas dengan jawaban yang selalu

  • The CEO'S Forbidden Bride    74. Dilema Besar

    Pesan singkat Nick masuk ketika Sunrise sudah hampir tiba di apartemennya.Nick: CEO minta laporan progres audit internal. Sore ini. Harus ada di mejanya sebelum malam.Sunrise menghentikan mobil di tepi jalan. Mesin masih menyala. "Sore ini?" gerutunya pelan. Ia menghela napas kesal. Lalu membalas singkat.Sunrise: Baik.Ia menatap ke depan beberapa detik, kemudian memutar setir dengan terpaksa. CNC Tower kembali menjadi tujuan. Mobil berbelok, meninggalkan arah pulang.CNC Tower kembali menjulang di kejauhan, semakin gelap seiring matahari turun. Gedung itu selalu terlihat seperti benteng kokoh, megah, dan penuh rahasia yang tidak pernah benar-benar tidur.Langit sudah menggelap ketika ia tiba. Sunrise masuk lewat akses karyawan, menyapa sekuriti dengan anggukan singkat, lalu naik ke lantai divisi teknologi.Saat Sunrise melangkah masuk, suasana sudah berubah. Ruangan-ruangan yang biasanya ramai kini lengang. Suara langkah sepatunya menggema lebih jelas, seperti penanda bahwa ia da

  • The CEO'S Forbidden Bride    73. Bertukar Keuntungan

    Steve melangkah lebih dulu, seolah keputusan Sunrise barusan adalah kepastian yang sejak awal ia miliki. Sunrise mengikutinya dengan jarak setengah langkah, pikirannya masih berputar cepat. Setiap denting hak sepatunya di lantai marmer CNC Tower terdengar seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia batalkan.Lift privat menutup pintu dengan suara halus. Di dalam, hening terasa menekan. Steve bersandar santai, menatap angka lantai yang menurun, sementara Sunrise berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan tubuhnya. Wajahnya kembali netral, topeng profesional yang selama ini menyelamatkannya.“Kau terlihat begitu khawatir." ujar Steve ringan, memecah sunyi. “Tenang saja, aku sudah memikirkan semuanya.”Sunrise tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Perempuan di sana terlihat dingin, terkendali, jauh dari Sunrise yang beberapa menit lalu hampir runtuh di sky lounge.Ia bertanya pada dirinya sendiri, sejak kapan ia begitu mudah didorong k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status