Mag-log in"Is everything alright?" I asked, My heart filled with worries as I gazed at my husband who walked in with his eyes contorted with rage. He looked at me with disgust. Without a word, he threw something at me. It wasn’t until the papers scattered on the cold floor that I realized they were pictures. My eyes widened in horror as I stared at the images. They were pictures of me. But not just me, it was me and another man. A man I didn’t even know. The photos were intimate, showing us in compromising positions as if we were lovers. God, How did he get this? ********************************************* After four years of heart-wrenching miscarriages, Emily's world is turned upside down when her husband accuses her of infidelity, shattering their marriage. Six years later, Emily returns as a billionaire heiress, driven by a thirst for revenge against those who wronged her. But when her ex-husband, Alex, begs for a second chance, Emily must decide. Will she forgive and forget, or will the wounds of the past prove too deep to heal?
view moreWu Mei Xiang membuka matanya perlahan, dia mendapati dirinya di sebuah ruangan dingin yang hanya terdapat corak berbentuk absurd, warna merah dan hitam, tak ada warna lain. Ruangan itu mirip dengan ruangan kosong tanpa estetika.
Ruangan besar itu tampak mengerikan bagai berhantu, membuat bulu kuduk berdiri. Walau begitu, gadis muda ini tidak takut, dia hanya penasaran di mana dia sekarang berada.
Kedua tangan dan kaki Wu Mei Xiang diikat dengan rantai berwarna hitam. Dia diikat dengan posisi berdiri, bersandar pada dinding dingin yang terbuat dari besi.
Sambil memandangi ruangan aneh itu, Wu Mei Xiang menatap dirinya sendiri. Dia masih mengenakan pakaian yang sama ketika kali dia mengingat dirinya masih bekerja, mengenakan pakaian kebanggaannya dengan jas warna putih layaknya profesor yang bekerja di laboratorium.
"Sialan, tempat apa ini?" ucap Wu Mei Xiang pada dirinya. Dia merasakan sudut bibirnya sakit saat berucap, ada bau karat mirip darah yang terasa dalam tenggorokannya.
"Terkutuklah aku! Mengapa mati saja sudah? Apa memang separah ini takdir mempermainkan aku?" keluh Wu Mei Xiang setelah berhasil menggali ingatan terakhirnya.
Dia yakin, seharusnya dia mati setelah sahabatnya sendiri, Pei Rong menyiramnya dengan bahan kimia---hasil percobaan lab yang dia kerjakan selama bertahun-tahun, yang bisa membuat tubuh manusia menjadi debu.
Pertanyaan, lalu mengapa dia sekarang ada di sini dengan tubuh utuh? Bukankah seharusnya dia sudah menjadi debu?
Masih sibuk dengan pikirannya, dua orang memasuki ruangan itu. Yang satu tampak tinggi dan satunya lebih pendek dari yang lain. Mereka begitu mirip kalau saja tingginya sama.
Wu Mei Xiang menebak kalau keduanya mungkin saja saudara.
"Kau sudah bangun ternyata," ucap yang lebih tinggi dengan nada menyebalkan dan wajah bengis yang sengaja dipaksakan.
"Apa urusanmu?" tanya Wu Mei Xiang sengaja memancing keributan. Dia harus mengorek informasi, tetapi tidak dengan cara baik-baik, dia harus membuat masalah. Dengan demikian, dia tidak mudah ketahuan kalau sedang mencuri informasi.
Ide itu bagus dalam otaknya. Dia tidak takut apa pun, bahkan kalau ini ternyata di neraka, gadis ini siap menghadapi raja neraka dan menjadi penghuni tetap di sana.
"Hahahaha, iblis bodoh! Jangan kau kira bisa membodohi aku. Tidak semudah itu!" ucap lelaki bertubuh tinggi itu sambil melangkah maju dan mendekatkan wajahnya pada Wei Me Xiang.
"Siapa yang ingin membodohimu? Kurasa kau tak cukup pandai sampai harus dibodohi. Siapa yang berniat membodohi orang bodoh?" ucap Wu Mei Xiang sembarangan. Niatnya adalah membuat masalah dan mencari tahu di mana dia berada.
Semakin banyak masalah yang dia timbulkan, dia akan terkenal. Dia akan mudah mencari informasi. Lagipula, apa yang dia takutkan? Lihat saja! Bahkan, kematian tak mau menghampirinya.
"Iblis kecil, jangan kau pikir bisa mengancamku!" ancam lelaki bertubuh tinggi itu sambil mencekik leher Wu Mei Xiang.
"Xiong Fan, jangan macam-macam kalau masih ingin eksis di alam ini," ucap lelaki yang lebih pendek.
"Berani kau memperingatkan aku, Xiong Hai?" ucap lelaki yang dipanggil Xiong Fan itu dengan wajah kesal.
Xiong Fan melepaskan cengkeramannya dari leher Wu Mei Xiang dan masih menatap tajam lelaki itu dengan wajah bengis tak suka.
"Bersabarlah, setidaknya kau jangan melakukan hal bodoh tak berarti," ucap lelaki pendek yang disebut dengan Xiong Fan.
"Ah, ternyata kalian memang saudara," ucap Wu Mei Xiang sedikit tekekeh melupakan sakit bekas cengkeraman tadi. Dia malah senang karena tebakannya benar.
Tujuannya tercapai, setidaknya dia tahu kalau dia sekarang mungkin sudah menjadi iblis dan ada sesuatu yang melindungi dia atau membuatnya terlindungi, ucapan Xiong Fan yang memperingatkan Xiong Hai menggambarkan segalanya.
"Bukan urusanmu!" bentak Xiong Fan tak suka.
"Kalau bukan urusanku, lalu urusan siapa?" kata Wu Mei Xiang memulai lagi bermain kata-kata.
"Jangan memancing!" ketus Xiong Fan kesal.
"Tak ada kolam ikan di sini atau sungai. Aku hanya berkata, bukan memancing. Tak kusangka iblis lebih bodoh dibandingkan manusia. Sialnya aku mengapa bertemu dengan iblis bodoh."
Wu Mei Xiang dengan sengaja membuat sandiwara lagi. Dia harus memastikan dia berada di mana dan mengapa.
"Nona Wu, seharusnya kau beristirahat saja," ucap Xiong Hai yang tampaknya pendiam mulai berbicara singkat dengan ekspresi wajah yang minim.
"Ah, ternyata aku memang sangat terkenal. Aku tersanjung namaku terkenal sampai ke alam iblis."
Wu Mei Xiang terbahak-bahak, sengaja untuk memastikan bahwa dia memang di alam iblis dan sudah menjadi iblis.
"Terlalu percaya diri!" dengus Xiong Fan tak suka. Iblis yang baru datang itu sangat menyebalkan. Andai saja dia bukan seseorang yang harus mereka hormati, Xiong Fan akan membunuhnya hanya dengan satu gerakan saja.
Iblis baru lahir biasanya belum kuat, kecuali mereka sangat istimewa atau mendapatkan kekuatan dari raja iblis.
"Buktinya saja, kalian tahu namaku dan aku tak tahu nama kalian. Itu artinya, aku terkenal. Kurasa orang yang membawaku ke sini bukan orang sembarangan."
Wu Mei Xiang memasang wajah menyebalkan untuk memicu perkelahian lagi. Dia perempuan tidak tahu malu dan suka berkelahi dengan ucapan, terlebih setelah kematiannya yang keji.
"Jangan terlalu sombong, tuan bisa saja menghancurkanmu menjadi debu dalam satu jentikan jari. Atau kau bisa berubah menjadi hujan darah," jelas Xiong Fan dengan nada mengancam.
"Kita lihat saja nanti. Apakah tuanmu itu memang akan menghancurkan aku, atau malah ... kau yang akan dihancurkan karena mencoba mengancam dan melukai aku, Wu Mei Xiangyang sangat pandai dan terkenal ini."
Wu Mei Xiang biasanya akan menepuk dadanya sangat mengucapkan kata-kata seperti itu. Namun, kali ini kedua tangan dan kakinya diikat keras. Tentu saja dia takkan bisa melakukannya.
"Haish," keluh Wu Mei Xiang menyadari kondisinya.
"Mengapa? Kau sadar kau hanyalah sandera lemah yang kecil dan tidak berdaya?"
Xiong Fan tersenyum menghina dan mengejek Wu Mei Xiang yang sedang meratapi nasibnya.
"Tidak mungkin. Kalaupun aku jadi sandera, aku akan menjadi sandera paling tampan dan menawan," ucap Wu Mei Xiang lagi. Kali ini dia tertawa tak mau membiarkan manusia di hadapannya menang secara psikologis.
“Kau sungguh gila, bagaimana kau bisa menyebut dirimu tampan padahal kau adalah perempuan?” Xiong Fan masih saja melayani obrolan tidak penting itu.
“Aku jelas tampan, bahkan lebih dibandingkan kau,” jawab gadis itu masih mencoba merusak pendengarnya. Dia tak peduli apakah iblis punya psikologis atau tidak, pokoknya dia harus menang dalam berdebat.
Xiong Fan kesal dan hampir saja mendaratkan tinjunya pada gadis yang baru saja mati dan mengakhiri kehidupannya sebagai manusia.
“A Fan, lupakan, kita harus menjaganya dan bukan membunuhnya. Kembalikan akal sehatmu,” kata pria yang lebih pendek.
Dia terlihat lebih stabil dibandingkan saudaranya. Wu Me Xiang terkekeh melihat tingkah dua iblis aneh itu.
Catatan tambahan:
Tokoh utama:
Emily The night before the wedding, Alex and I sat together on the terrace of the mansion, watching the sunset."Are you nervous?" I asked, leaning against his shoulder."Not even a little bit. I've never been more sure of anything in my life." He kissed the top of my head. "What about you?""I'm not nervous about marrying you. I'm just... overwhelmed. In a good way. We've been through so much, Alex. So much pain and heartbreak and fear. And now we're here, about to have our dream wedding, with our children healthy and happy, and all the threats to our family finally gone.""Vanessa is in prison for life. Abigail is dead. Nathaniel is gone. Margaret Chen is dead. Everyone who tried to destroy us is gone." Alex's voice was solemn. "I don't take any pleasure in their deaths or imprisonment. But I'm grateful that we can finally live without looking over our shoulders.""Me too." I turned to look at him. "Do you ever think about what life would have been like if none of this had happened
Emily I was in the kitchen preparing breakfast when Alex came up behind me, wrapping his arms around my waist and resting his chin on my shoulder."Good morning, beautiful," he murmured, kissing my neck softly.I leaned back against him, smiling as I flipped the pancakes. "Good morning. You're up early.""I couldn't sleep. I kept thinking about how lucky I am.""Lucky?" I turned to look at him. "Especially after everything we've been through." He turned me around to face him fully, his hands on my waist. "Emily, we survived things that would have destroyed most couples. My mother's manipulation, Vanessa's psychotic revenge, the kidnapping, Abigail's lies and schemes—we survived all of it. And we're still here. Still together. Still in love."Tears pricked my eyes. "We are, aren't we?""More than ever." He cupped my face in his hands. "And I need you to know something. I need you to hear this and really believe it.""What?""None of what happened was your fault. Not the drugging at t
Abigail When I reached Alex's mansion, security was everywhere. Guards at the gate, cameras on every corner, patrol cars circling the property.They were expecting me.I should have turned around and left.But I didn't.I was too desperate. Too broken. Too far gone to think clearly.I pulled out the gun I had bought on the street yesterday—a small pistol that the seller promised was untraceable as I approached the gate."I need to see Alex Thompson!" I shouted.The guards immediately drew their weapons."Put down your weapon! Now!""Not until I see Alex! I'm carrying his baby! I have a right to speak to him!""Ma'am, put down the gun and put your hands on your head!""NO! I need to talk to Alex! Bring him out here!"More guards appeared. Police sirens wailed in the distance.Everything was spiraling out of control."This is your last warning! Put down the weapon!"I raised the gun, not aiming at anyone, just holding it up, and that's when everything exploded.Gunshots.At least three
Abigail We drove in silence for several minutes, my heart still pounding, my hands still shaking. Finally, I found my voice. "Where are you taking me?" "My place. It's the last place they'll look for you." "Why are you helping me? I thought you were going to expose me to Alex." "I was. But then I realized something." He glanced at me. "If you go to jail, our baby goes with you. Or the baby gets taken away by social services. Either way, I lose my child. So as much as I hate what you've done, I need to keep you out of jail—at least until the baby is born." We drove to a part of the city I didn't recognize, a rough neighborhood with boarded-up windows and graffiti on the walls. Marcus pulled up in front of a tiny house that looked like it was barely standing. "This is where you live?" I asked, unable to hide my disgust. "I'm a construction worker, not a billionaire CEO. This is what I can afford." He got out of the truck. "Come on." Inside, the house was even worse.
Alex In the evening, after the children were in bed, Emily and I sat together in the living room, our phones turned off, the TV dark. We had dinner as a family, pizza night, the children's favorite. We played board games. We read bedtime stories. We pretended everything was normal.But now, in th
Emily I woke up to the sound of giggling.My eyes fluttered open to find three small faces staring at me; Lucas, Lily, and Phil, all standing beside the bed with huge grins on their faces."You're in Daddy's bed!" Phil announced gleefully."Shh!" Lucas nudged him. "You'll wake them up.""They're a
Alex I stared at the photo, analyzing every detail while Emily sobbed in my arms. "Emily." I pulled out my phone and enlarged the image. "Look at this. In the background, that water tower. I know that building. It's in the industrial district near the old warehouse row on Harbor Street." Emil
EmilyAlex stared at Abigail with rage, his voice was sharp, dangerous in a way I rarely heard. "Abigail, I told you to leave. Get out of my house. Now."But Abigail didn't move. Instead, she looked around the kitchen like she owned the place, her eyes sweeping over the breakfast table, the childre






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu