/ Romansa / The CEO's First Class Destiny / Kehancuran yang Elegan

공유

The CEO's First Class Destiny
The CEO's First Class Destiny
작가: JaneandRoses

Kehancuran yang Elegan

작가: JaneandRoses
last update 최신 업데이트: 2025-12-07 09:29:26

Lampu gantung kristal Baccarat yang menggantung di langit-langit ballroom kediaman Adiningrat tidak pernah memancarkan cahaya sesuram malam ini. Meskipun ribuan berlian kaca itu membiaskan spektrum pelangi yang sempurna ke seluruh ruangan, bagi Elena Adiningrat, cahaya itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya.

Malam ini adalah sebuah paradoks. Di luar gerbang besi tempa yang menjulang tinggi di kawasan Menteng, berita mengenai kebangkrutan Adiningrat Group telah menjadi santapan utama media finansial selama tiga hari berturut-turut. Namun di dalam sini, musik kuartet gesek masih mengalun lembut, membawakan komposisi Chopin yang melankolis, dan pelayan bersarung tangan putih masih mengedarkan sampanye vintage seharga ribuan dolar per botol.

Elena berdiri di balkon lantai dua, memandangi kerumunan tamu yang hadir. Ia mengenakan gaun sutra hitam vintage karya desainer ternama yang telah lama meninggal dunia—sebuah pilihan yang sengaja ia buat untuk menunjukkan bahwa selera dan kelas tidak bisa disita oleh kurator pengadilan. Rambut hitamnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan sepasang anting mutiara yang merupakan warisan turun-temurun.

"Kau terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang dunianya baru saja kiamat, Elena," sebuah suara melengking memecah lamunannya.

Elena tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa itu adalah Bianca, putri dari seorang taipan tekstil yang selama bertahun-tahun selalu merasa kalah saing dengan Elena dalam setiap lelang barang seni.

"Kehancuran adalah bagian dari siklus estetika, Bianca," jawab Elena tanpa mengalihkan pandangan dari aula di bawah. Suaranya tenang, rendah, dan sangat terkendali. "Sama seperti lukisan Van Gogh yang terasa lebih hidup karena penderitaannya. Lagipula, menangis di depan orang-orang yang menunggu kejatuhanku bukanlah gayaku."

"Yah, nikmatilah sisa malam ini," Bianca mencibir sambil menyesap sampanyenya. "Kudengar besok pagi, seluruh furnitur di rumah ini akan diberi label sita. Termasuk piano Steinway yang sangat kau banggakan itu."

Setelah Bianca pergi dengan tawa kecil yang menyebalkan, Elena memejamkan mata sejenak. Jemarinya mencengkeram pagar balkon hingga buku-bukunya memutih. Ayahnya, sang patriark Adiningrat, saat ini sedang mengurung diri di ruang kerja dengan tumpukan dokumen legalitas yang tidak lagi memiliki makna. Kerajaan bisnis yang dibangun selama lima dekade runtuh dalam semalam karena pengkhianatan internal dan spekulasi pasar yang brutal.

Elena menarik napas panjang, memperbaiki postur tubuhnya, dan melangkah turun menuju aula utama. Ia harus menghadapi "burung-burung pemakan bangkai" ini untuk terakhir kalinya.

Saat ia mencapai anak tangga terakhir, suasana di ruangan itu mendadak berubah. Percakapan riuh para sosialita mendadak surut, digantikan oleh bisikan-bisikan tertahan yang penuh ketegangan. Pintu besar mahoni di ujung ruangan terbuka, dan seorang pria melangkah masuk dengan aura yang seolah-olah mampu menurunkan suhu ruangan beberapa derajat.

Aiden Valerick.

Dia tidak mengenakan tuksedo lengkap seperti tamu lainnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan jas abu-abu gelap yang dijahit sangat pas dengan bahunya yang lebar. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan aristokrat dan kekejaman seorang gladiator korporasi. Matanya yang berwarna gelap memindai ruangan dengan sorot dingin yang tidak terpengaruh oleh kemewahan di sekitarnya.

Aiden tidak datang untuk berpesta. Ia datang untuk meninjau "wilayah jajahan" barunya.

"Tuan Valerick," bisik salah satu pengusaha di dekat Elena, "sang pemangsa sudah datang."

Aiden berjalan menembus kerumunan. Orang-orang secara naluriah memberinya jalan. Ia berhenti tepat di depan sebuah lukisan cat minyak besar karya maestro Indonesia yang tergantung di dinding utama—aset paling berharga di rumah itu.

Elena mengatur detak jantungnya. Ia tahu siapa pria ini. Valerick Group adalah pihak yang membeli sebagian besar utang ayahnya di pasar sekunder, sebuah langkah predator yang memastikan bahwa tidak ada jalan keluar bagi keluarga Adiningrat selain menyerahkan segalanya.

Elena melangkah mendekat, berdiri di samping Aiden. "Anda lebih awal dari jadwal, Tuan Valerick. Petugas sita seharusnya baru datang besok pagi jam sembilan."

Aiden tidak langsung menoleh. Ia masih menatap lukisan di depannya dengan tangan terselip di saku celana. "Saya tidak suka menunggu, Nona Adiningrat. Dan saya lebih suka melihat barang milik saya dalam keadaan paling aslinya, sebelum para kurator amatir itu menyentuhnya dengan tangan kasar mereka."

"Milik Anda?" Elena mendengus kecil, sebuah tawa getir yang elegan. "Secara hukum, mungkin ya. Tapi secara esensi, rumah ini dan isinya tidak akan pernah menjadi milik orang yang hanya bisa melihat angka di balik keindahan."

Aiden akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu. Elena merasakan tekanan yang luar biasa dari tatapan pria itu—tajam, menyelidik, dan penuh otoritas. Aiden menatap Elena dari ujung rambut hingga ujung kakinya, seolah-olah ia sedang menilai sebuah karya seni yang baru saja ia akuisisi.

"Keindahan tanpa fondasi finansial hanyalah delusi, Elena," suara Aiden berat dan bariton, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti ketukan palu hakim. "Ayahmu terlalu sibuk dengan estetika hingga ia lupa bahwa dunia ini digerakkan oleh logika kekuasaan. Sekarang, estetika itu menjadi milik saya."

Aiden melangkah satu tahap lebih dekat, merambah ruang pribadi Elena. Aroma parfumnya—campuran kayu cendana dan oud yang mahal—memenuhi indra penciuman Elena.

"Termasuk gedung galeri seni Anda di Menteng," tambah Aiden tanpa emosi. "Staf saya sedang memproses pengambilalihan aset tersebut sore tadi. Anda punya waktu dua puluh empat jam untuk mengosongkan meja kerja Anda."

Dunia Elena terasa berguncang. Galeri itu adalah jiwanya. Itu adalah satu-satunya hal yang ia bangun dengan keringatnya sendiri, meskipun menggunakan modal ayahnya. "Anda benar-benar pria berhati baja seperti yang dikatakan orang-orang, Tuan Valerick."

Aiden tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak memiliki kehangatan sedikit pun. "Hati hanya akan membuat keputusan bisnis menjadi bias. Saya datang ke sini malam ini hanya untuk memastikan bahwa lukisan ini tidak rusak selama pesta bodoh ini berlangsung. Sekarang saya sudah melihatnya, dan saya juga sudah melihat Anda."

"Dan apa kesimpulan Anda?" tanya Elena menantang, dagunya terangkat tinggi.

Aiden menatap bibir Elena sejenak sebelum kembali ke matanya. "Kesimpulan saya? Anda adalah bagian paling menarik dari kehancuran ini, Elena. Sayangnya, Anda juga yang paling mahal untuk dipertahankan."

Aiden berbalik dan melangkah pergi tanpa pamit, meninggalkan Elena yang mematung di tengah aula yang kini terasa sangat asing baginya. Semua orang memperhatikannya—beberapa dengan rasa kasihan, banyak yang dengan rasa puas.

Elena menyadari bahwa di ruang ini, di rumah ini, ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kehormatannya telah diinjak-injak oleh pria yang baru saja pergi.

Ia memanggil seorang pelayan, meletakkan gelas sampanyenya yang masih penuh. "Tolong pesankan mobil ke bandara untuk nanti malam," bisiknya.

"Nona? Tapi ini sudah hampir tengah malam," pelayan itu terkejut.

"Aku tahu," jawab Elena datar. "Dan tolong ambilkan koper kecilku di kamar. Saya akan pergi ke Paris."

Elena masih memiliki satu hal yang tersisa: tiket First Class pulang-pergi ke Paris yang ia beli bulan lalu, jauh sebelum badai ini datang. Itu adalah sisa terakhir dari kemewahannya, sebuah tiket menuju pelarian sementara sebelum ia harus menghadapi kenyataan bahwa besok ia akan menjadi warga biasa tanpa nama besar Adiningrat di belakangnya.

Ia akan meninggalkan reruntuhan ini dengan cara yang paling ia ketahui: dengan keanggunan yang tak tergoyahkan, meskipun di dalam hatinya, ia sedang merencanakan bagaimana cara merebut kembali dunianya dari tangan pria bernama Aiden Valerick itu.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • The CEO's First Class Destiny   Masa Lalu yang Menghantui

    Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak

  • The CEO's First Class Destiny   Dansa di Bawah Bintang

    Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum

  • The CEO's First Class Destiny   Skandal di Monaco

    Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K

  • The CEO's First Class Destiny   Gaun Sutra Hitam

    Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat

  • The CEO's First Class Destiny   Di Balik Pintu Kantor

    Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung

  • The CEO's First Class Destiny   Debut Kembali

    Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status