공유

Tiket Kelas Utama

작가: JaneandRoses
last update 최신 업데이트: 2025-12-08 23:27:34

Bandara Soekarno-Hatta pada pukul dua dini hari adalah sebuah dunia yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kemacetan Jakarta. Di terminal keberangkatan internasional, lampu-lampu neon memantul di atas lantai marmer yang mengilap, menciptakan suasana yang steril dan dingin. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah gerbang menuju petualangan atau kepulangan. Bagi Elena Adiningrat, ini adalah jalan keluar dari reruntuhan hidupnya.

Elena berdiri di depan konter Check-in First Class dengan punggung tegak, meski kakinya terasa lemas karena kelelahan emosional yang luar biasa. Ia mengenakan trench coat berbahan kasmir warna nude yang membungkus gaun hitamnya dari pesta tadi malam. Di tangannya, ia menggenggam sebuah paspor kulit buatan pengrajin Italia dan sebuah tiket yang—secara harfiah—adalah sisa kemewahan terakhir yang ia miliki.

Tiket ini dibeli enam bulan lalu, saat Adiningrat Group masih menjadi penguasa bursa saham. Sekarang, tiket ini adalah satu-satunya jembatan menuju Paris, tempat di mana sebuah galeri kecil di pinggiran distrik Le Marais menyimpan "harta karun" terakhir keluarganya: koleksi sketsa asli dari era Renaisans yang tidak tercatat dalam manifes resmi perusahaan. Jika ia bisa menyelamatkan koleksi itu sebelum tim likuidator Aiden Valerick menemukannya, ia akan memiliki modal untuk membersihkan nama ayahnya.

"Terima kasih, Nona Adiningrat. Anda berada di kursi 1A. Staf kami akan mengantar Anda ke lounge," ucap petugas maskapai dengan senyum yang terlatih.

Elena hanya mengangguk tipis. Ia berjalan melewati lorong-lorong sepi menuju lounge eksklusif. Di sana, ia menolak semua tawaran makanan mewah. Ia hanya duduk di pojok ruangan, memandangi pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap. Wajahnya tampak pucat, namun matanya tetap tajam. Ia merasa seperti seorang ratu yang sedang diasingkan, membawa sisa-sisa harga diri dalam satu koper kabin bermerek Rimowa.

Pukul tiga pagi, pengumuman keberangkatan terdengar. Elena melangkah masuk ke dalam perut pesawat Boeing 777-300ER. Kabin First Class malam itu hampir kosong, memberikan privasi yang ia dambakan. Harum aroma bunga sedap malam dan kayu cendana yang menjadi ciri khas maskapai itu menyambutnya.

Ia menemukan kursi 1A—sebuah suite pribadi dengan pintu geser yang bisa ditutup rapat. Namun, tepat sebelum ia melangkah masuk ke dunianya sendiri, ia membeku.

Di kursi 1B, yang hanya dipisahkan oleh sekat rendah yang bisa dinaik-turunkan, duduk seorang pria yang seharusnya menjadi orang terakhir yang ingin ia temui di planet ini.

Aiden Valerick.

Aiden tidak lagi mengenakan jas charcoal-nya. Ia kini mengenakan sweater kasmir hitam dengan kerah tinggi yang membuatnya tampak lebih muda namun tetap berbahaya. Ia sedang membaca dokumen fisik dengan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang bangir. Sebuah gelas kristal berisi wiski tanpa es berada di meja sampingnya.

Elena menarik napas tajam, sebuah refleks yang tak bisa ia sembunyikan. Aiden mendongak. Matanya yang gelap bertemu dengan mata Elena, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti di ketinggian nol kaki itu.

"Nona Adiningrat," suara Aiden rendah, memotong kesunyian kabin dengan presisi yang mematikan. "Takdir tampaknya memiliki selera humor yang agak gelap malam ini."

Elena menguasai dirinya dalam sekejap. Ia masuk ke dalam kursinya dan meletakkan tas tangannya dengan gerakan yang sangat terkontrol. "Saya lebih suka menyebutnya sebagai nasib buruk, Tuan Valerick. Saya tidak tahu Anda memiliki kebiasaan terbang dengan pesawat komersial."

Aiden meletakkan dokumennya dan melepas kacamatanya, menatap Elena dengan ketertarikan yang tidak ditutup-tutupi. "Jet pribadi saya sedang menjalani perawatan rutin di Singapura. Dan kelas utama maskapai ini cukup layak untuk sekadar tidur selama empat belas jam. Pertanyaannya adalah... apa yang dilakukan seorang wanita yang baru saja kehilangan rumahnya di kursi paling mahal di pesawat ini?"

"Saya masih memiliki beberapa aset yang tidak bisa disentuh oleh predator seperti Anda," jawab Elena dingin sambil memasang sabuk pengaman. "Dan tiket ini adalah salah satunya."

Aiden terkekeh pelan. Itu bukan tawa ejekan, melainkan tawa seseorang yang sedang melihat teka-teki yang menarik. Ia menekan tombol untuk menurunkan sekat di antara mereka sepenuhnya, membuat ruang mereka menjadi satu area privat yang sangat intim.

"Jangan tersinggung, Elena, tapi pelarian ke Paris adalah langkah yang sangat klise," ucap Aiden. Ia menyesap wiskinya, matanya tetap terpaku pada wajah Elena. "Apakah Anda akan pergi ke Le Marais? Menemui kurator tua bernama Monsieur Dupont untuk mengambil sketsa-sketsa Da Vinci yang disembunyikan ayahmu?"

Jantung Elena seolah berhenti berdetak. Darahnya terasa membeku. Bagaimana mungkin? Rencana itu adalah rahasia yang bahkan ibunya pun tidak tahu.

"Bagaimana Anda..."

"Saya tidak hanya membeli perusahaan ayahmu, Elena. Saya membeli semua informasi yang berkaitan dengannya," Aiden mencondongkan tubuh ke arah Elena. Jarak mereka kini hanya terpaut puluhan sentimeter. "Saya tahu setiap langkah yang akan Anda ambil sebelum Anda sendiri memikirkannya. Koleksi di Paris itu secara teknis sudah masuk dalam jaminan utang yang saya ambil alih."

"Itu bohong!" Elena mendesis, matanya berkilat penuh kemarahan. "Koleksi itu adalah milik pribadi, bukan aset perusahaan."

"Di tangan pengacara saya, garis antara 'pribadi' dan 'perusahaan' bisa menjadi sangat kabur," balas Aiden dengan tenang. "Tapi, saya tidak di sini untuk mendebat hukum dengan Anda. Setidaknya, tidak di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki."

Pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Lampu kabin diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang menciptakan bayangan dramatis di wajah mereka. Elena merasa terjebak. Di sebelah kanannya adalah dinding pesawat, dan di sebelah kirinya adalah pria yang baru saja merampok masa depannya.

"Lalu apa yang Anda inginkan?" tanya Elena, suaranya sedikit bergetar namun tetap penuh martabat.

Aiden memandang Elena lama. Ia memperhatikan bagaimana Elena tetap berusaha menjaga dagunya terangkat meski dunia di pundaknya sedang runtuh. Ada sesuatu pada wanita ini—keanggunan old money yang murni, yang tidak bisa dihasilkan oleh kekayaan instan mana pun.

"Selama belasan jam ke depan, Anda adalah tawanan saya di kabin ini," kata Aiden pelan saat mesin pesawat mulai menderu keras untuk lepas landas. "Saya ingin melihat, di balik gaun mahal dan topeng ketenangan ini, siapa sebenarnya Elena Adiningrat. Jika Anda bisa membuat saya terkesan dengan kecerdasan Anda—lebih dari sekadar nama besar keluarga Anda—mungkin saya akan mempertimbangkan untuk tidak menyita galeri di Paris itu."

Elena menoleh, menatap Aiden tepat di matanya saat pesawat meluncur cepat dan akhirnya terangkat ke angkasa. Sensasi gravitasi yang menekan tubuhnya ke kursi terasa seperti tekanan yang diberikan Aiden pada hidupnya.

"Anda ingin permainan intelektual, Tuan Valerick?" Elena tersenyum, sebuah senyuman kecil yang menantang dan berbahaya. "Hati-hati. Anda mungkin menemukan bahwa saya jauh lebih sulit untuk dikuasai daripada perusahaan ayah saya."

Aiden mengangkat gelas wiskinya ke arah Elena, sebuah gestur penghormatan bagi lawan yang sepadan. "Saya sangat menantikannya, Elena."

Di bawah mereka, lampu-lampu Jakarta mulai mengecil dan menghilang di balik awan. Di dalam kesunyian First Class yang mewah, di antara denting gelas kristal dan aroma kasmir, sebuah permainan kekuasaan yang baru saja dimulai—dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar uang, melainkan sesuatu yang jauh lebih berisiko: hati yang tertutup rapat.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • The CEO's First Class Destiny   Masa Lalu yang Menghantui

    Pagi di Monte Carlo tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam Diamond Suite, keheningan terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk diucapkan. Sisa-sisa dansa semalam masih menggantung di udara—sebuah momen langka di mana Aiden Valerick membiarkan pertahanannya runtuh. Namun, bagi Elena, cahaya fajar yang menyelinap masuk melalui jendela justru membawa rasa penasaran yang lebih dalam.Aiden sedang berada di balkon, berbicara melalui telepon dengan nada rendah yang dingin—kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh. Sementara itu, Elena berdiri di ruang kerja suite tersebut, merapikan beberapa dokumen yang sempat tertinggal semalam.Secara tidak sengaja, ia menyenggol sebuah kotak kayu kecil berwarna gelap yang terletak di sudut meja jati tersebut. Kotak itu terbuka, menampak

  • The CEO's First Class Destiny   Dansa di Bawah Bintang

    Malam di Monte Carlo belum benar-benar berakhir, namun bagi Elena, kebisingan di atas kapal pesiar The Sovereign terasa seperti ribuan tahun cahaya jauhnya. Setelah skandal ciuman yang menggemparkan seluruh aristokrat Eropa itu, Aiden membawanya pergi dalam keheningan yang menyesakkan. Limusin yang membawa mereka kembali ke Hôtel de Paris terasa seperti ruang hampa udara, di mana setiap embusan napas adalah percikan api yang siap meledak.Begitu pintu Diamond Suite tertutup, Elena langsung menuju teras luas yang menghadap ke Laut Mediterania. Ia butuh oksigen. Ia butuh merasakan angin laut yang dingin untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.Lampu-lampu kota Monaco berkilauan di bawah sana seperti hamparan berlian yang tum

  • The CEO's First Class Destiny   Skandal di Monaco

    Langit di atas Laut Mediterania berwarna biru safir yang nyaris tidak masuk akal, sangat kontras dengan putihnya sayap jet pribadi Gulfstream G650 milik Valerick Group. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih dingin daripada suhu di luar. Sejak kejadian di penthouse malam itu, ada dinding tak kasat mata yang kembali terbangun antara Elena dan Aiden—sebuah dinding yang terbuat dari rasa canggung dan gairah yang tertahan.Elena menatap ke luar jendela, memperhatikan garis pantai French Riviera yang mulai terlihat. Ia mengenakan setelan linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tenang."Kita akan mendarat di Nice dalam dua puluh menit," suara Aiden memecah keheningan. Ia menutup laptopnya, tatapannya beralih pada Elena. "Helikopter sudah menunggu untuk membawa kita langsung ke Monte Carlo. K

  • The CEO's First Class Destiny   Gaun Sutra Hitam

    Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan keburukan di balik lampu-lampu kota yang gemerlap. Namun, di penthouse pribadi Aiden Valerick yang berada di lantai 62, tidak ada yang perlu disembunyikan. Semuanya adalah tentang pernyataan—tentang siapa yang memiliki kendali dan siapa yang hanya menjadi penonton.Elena berdiri di depan cermin besar di ruang ganti tamu yang luasnya hampir menyamai kamar apartemen rata-rata. Ia menatap pantulannya sendiri. Malam ini, ia memilih untuk mengenakan gaun sutra hitam yang ia beli di butik tersembunyi di Paris. Gaun itu memiliki potongan slip-on yang tampak sederhana namun jatuh di tubuhnya dengan presisi yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan penjahit ahli. Punggungnya terbuka lebar, memperlihat

  • The CEO's First Class Destiny   Di Balik Pintu Kantor

    Kantor pusat Valerick Group di kawasan Sudirman adalah sebuah monolit kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut. Di lantai paling atas, di mana oksigen terasa lebih mahal dan suara bising Jakarta teredam oleh kaca kedap suara setebal sepuluh sentimeter, Elena Adiningrat menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Ia bukan lagi nyonya rumah yang menunggu tamu di galeri seni sambil menyesap teh krisan. Sekarang, ia adalah bagian dari mesin korporasi Aiden Valerick.Pintu kantor Aiden yang terbuat dari kayu ek hitam terbuka secara otomatis melalui sensor. Elena melangkah masuk dengan setumpuk berkas restorasi di tangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu mutiara yang dipotong sempurna, memberikan kesan profesional yang tak tergoyahkan. Namun, setelah sepuluh jam berada di gedung

  • The CEO's First Class Destiny   Debut Kembali

    Lampu-lampu kristal di Hôtel Salomon de Rothschild malam itu berpendar dengan intensitas yang nyaris membutakan. Paris, kota yang selalu memuja estetika dan kekuasaan, menjadi tuan rumah bagi lelang tahunan L’Éclat de l’Art―sebuah acara di mana satu goresan kuas bisa bernilai lebih mahal daripada satu blok apartemen di Menteng.Di dalam limusin yang meluncur pelan menuju karpet merah, suasana terasa begitu sunyi hingga deru napas Elena tedengar jelas. Ia meremas jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra tipis. Ia menggunakan gaunhaute couture berwarna biru tengah malam yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, dengan potongan leher yang rendah namun tetap sopan. Di lehernya melingkar kalung safir Burma seberat tiga puluh karat―bukan milik keluarganya, melainkan bagian dari "seragam" yang disediakan Aiden Valerick.Aiden duduk di sampingnya, membolak-balik katalog lelang di tabletnya tanpa ekspresi.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status