Mag-log inMatapos ang tatlong taong paghihirap ni Cassandra Andrada bilang asawa ng isang CEO na nag-ngangalang Dylan Almendras, ay tuluyan nang natuldukan ang kaninang pagsasama. Nauwi sa pirmahan ng divorce paper at pagkamuhi sa isa’t-isa ang dalawa. Hindi makita ni Dylan ang halaga ng babae sa tagal ng kanilang pagsasama bilang mag-asawa. Habang si Cassandra naman ay tuluyan nang naniwala na kung sino man ang gustong pakasalan pa siya ay nasisirain na ng ulo. Itinuon din nito ang kaniyang atensyon bilang isang magaling abogado sa bansa— na iilan lamang ay may alam. Ngunit hindi rin nag tagal ay dumating rin sa pagkakataon na nanaisin muli ni Dylan na mabawi ang asawa. Gagawin niya ang lahat upang pumayag ulit itong pakasalan siya kahit pa umabot sa puntong naghahabol na siya rito. Subalit ang matigas at determinadong si Cassandra ay ayaw ng magpadala sa kahit anong mga sinasabi at mga ipinapangako ng lalake. Patuloy niyang tinataboy si Dylan sa kabilang ng lahat ng pagmamakaawa nito. Tuluyan kayang mababawi ni Dylan si Cassandra kahit lingid sa kaalaman nito na ang asawang kaniyang hiniwalayan ay maraming tinatago tungkol sa kaniyang pagkatao?
view more“Apa yang sedang kalian lakukan!” Mata Dania melotot melihat pemandangan di depannya. Andai ada barang keras di dekatnya, pasti dia sudah melemparkannya sekuat tenaga ke arah dua orang yang sedang bercumbu itu.
Tanpa merasa bersalah, Restu turun dari tempat tidur. Tentu saja dengan pakaian yang seadanya, “Brengsek! Ngapain kamu ke sini! Siapa yang nyuruh kamu ke sini!”“Mas, kamu udah berani bawa dia ke sini?! Kenapa Mas bawa perempuan jalang itu ke sini, Mas!?”“Ya emangnya kenapa? Dia pacarku dan bentar lagi dia bakal jadi istriku! Hmm, berani juga ya nyalimu panggil pacarku wanita jalang,” tegas Restu sambil menatap tajam ke arah Dania.“Mas! Kamu ....”“Apalagi, Dania? Pernikahan kamu sama Restu itu udah selesai. Sekarang aku yang bakalan jadi istrinya Mas Restu,” ucap Lisa sambil mengikat tali kimono tidurnya.“Nggak! Nggak bisa. Aku nggak akan pernah izinkan Mas Restu nikah sama kamu sesuai dengan wasiat papa. Aku bakal tetap jaga kepercayaan papa!”Restu dulu memang di minta papanya untuk menikahi Dania. Apa lagi saat itu keluarga Dania, banyak membantu bisnis keluarga Restu hingga bisa berkembang pesat.Setelah kedua orang tua Dania meninggal, Burhan, papa Restu, menyuruh Restu untuk menjaga Dania dengan baik.“Hahaha ... wasiat apa? Kenapa juga kamu tetap ngurusin si tua bangka yang udah mati itu. Gara-gara dia hidupku berantakan! Gara-gara dia juga, aku harus bertahan 3 tahun hidup sama kamu, perempuan gak guna!” Restu marah pada istrinya.“Iya bener, gara-gara dia kita batal nikah. Untung aja selama ini dia bungkam tentang hubungan kita, jadi meskipun kamu nikah sama dia tapi rasanya akulah istri kamu. Iya kan, Mas,” ucap Lisa sambil bergelayut manja di lengan Restu seakan sedang memamerkan kemesraannya pada Dania.“Mas, kurang apa sebenarnya aku untuk jadi istri kamu. Aku selalu menuruti keinginan kamu. Dan selama ini aku juga diam ketika papa tanya apakah kamu masih berhubungan sama Lisa. Tapi kenapa sampai saat ini kamu belum bisa juga menerima kenyataan kalau aku adalah istri kamu.” Dania berusaha untuk menyadarkan suaminya.“Kamu mau tahu kenapa sampai sekarang kamu nggak bisa aku anggap jadi istri?” Restu bertanya balik pada istrinya.“Iya. Memangnya aku kurang apa dari dia?” Dania benar-benar ingin tahu.“Kamu itu perempuan pembawa sial! Sejak kamu masuk ke rumah ini, kamu selalu bikin aku ribut sama papa. Udah gitu, perusahaan kami juga semakin sering mengalami kerugian. Itu semua karena kamu!” Restu menatap nyalang sambil menunjuk ke arah Dania.“Tapi aku udah kasih beberapa aset peninggalan orang tuaku untuk kamu. Aku udah coba bantu kamu untuk memulihkan kondisi perusahaan.” Dania masih mencoba untuk membuat arti untuk suaminya.“Ya itu emang kewajiban kamu. Kan kamu yang bikin perusahaan aku rugi. Dasar perempuan pembawa sial!”“Iya bener, dia emang bawa sial. Kalau aja dia nggak muncul, pasti aku dan Mas Restu udah nikah dari dulu,” celetuk Lisa yang menatap Dania dengan sorot mata permusuhan.Dania terdiam melihat dua orang yang kini menatapnya dengan sinis itu. Tampak sekali di wajah mereka kalau mereka tidak menginginkan kehadiran Dania di hidup mereka.Padahal selama ini Dania sudah membagi harta peninggalan kedua orang tuanya untuk membantu memulihkan ekonomi keadaan perusahaan ini. Restu ketahuan mengambil uang di toko papanya, yang membuat mendiang papanya itu harus menutup beberapa cabang toko mereka karena bangkrut.“Udah lah sayang, mending kamu ceraikan aja perempuan gak berguna ini. Aku gak mau jadi istri kedua kamu. Aku maunya jadi istri sah kamu,” bujuk Lisa sambil melirik sinis ke arah Dania yang masih berdiri di depan pintu.“Mas! Kamu gak bisa abaikan perintah papa!” Dania masih mencoba bertahan dan masih bersikeras untuk menyadarkan suaminya.“Ngapain aku peduli sama perintah orang mati?! Denger ya Dania, gara-gara perintah orang mati itu juga, idup aku jadi hancur! Aku sengsara hidup sama kamu! Aku menderita! Aku benci sama kamu!?” teriak Restu di depan Dania.“Ya iyalah. Idup ama istri style babu, apa bagusnya,” celetuk Lisa sambil menertawakan Dania.Dania kaget mendengar apa yang dikatakan suaminya. Dia sama sekali tidak menyangka, kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari orang yang selama ini dia lindungi.Air mata Dania mengalir seolah dia sudah benar-benar ditolak oleh suaminya. Dia merasa seluruh sendi tubuhnya melemas dan tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.“Setelah semua urusan selesai, aku bakalan ceraikan kamu secepatnya! Keluar kamu!” usir Restu sambil melenggang lagi masuk ke dalam kamar.“Kalian ini ngapain sih? Suara kalian tuh kedengeran dari luar loh,” sahut Rina, Mama Restu yang muncul dari pintu depan rumah.“Ma, Lisa udah berani datang ke sini dan ....” lapor Dania berharap untuk dapatkan dukungan dari mama mertuanya.Rina menatap ke arah Lisa dan Restu, “Ya biarin aja. Mungkin dia ke sini mau menghibur Restu. Iya kan, Lis?” ucap Rina sambil tersenyum pada Lisa.“Iya Tante, Lisa ke sini emang buat ngehibur Mas Restu. Lisa tahu banget kalau Mas Restu pasti masih sedih karena kematian Om Burhan,” jawab Lisa yang tiba-tiba menjadi sangat sopan.“Tapi Ma, mereka itu bahkan udah berani ....”“Sudah, nggak usah dipermasalahkan lagi. Seharusnya kamu terima kasih sama Lisa, karena dia mau bantuin kamu ngehibur Restu.”“Lagian ya Dania, harusnya kamu itu banyak belajar sama Lisa. Liat tuh, Lisa tuh selalu cantik, menarik dan wangi. Makanya Restu betah sama dia. Coba kamu liat diri kamu itu.” Rina menggelengkan kepalanya, “Bikin malu!”“Iya, Ma. Mana tahan Restu sama istri kayak dia. Lusuh, bau asep, dan liat itu bajunya. Hobinya make daster mulu, gak bisa dandan. Tiap Restu pulang, bukannya seneng tapi Restu malah makin sumpek!” Restu makin mendukung ucapan mamanya.“Mas, aku bukan gak bisa dandan, tapi ....”Dania memang tidak memiliki waktu untuk mengurusi dirinya sendiri. Sejak pagi buta dia sudah harus bangun, lalu membersihkan dapur dan menyiapkan sarapan pagi. Dia juga harus membersihkan rumah berlantai dua itu sendirian tiap pagi dan sore. Belum lagi taman depan dan belakang.Dia juga harus bertemu dengan cucian kotor dan bersih yang harus bergantian dia sambangi. Belum lagi kalau dia di minta datang ke toko oleh mertuanya untuk membantu. Rasanya kurang waktu 24 jam itu untuk dia. Waktu untuk memanjakan diri itu sangat langka, yang dia tahu hanya membantu keluarga ini dengan tulus.“Udah lah Dania! Mama tuh selama ini dah nahan-nahan ya. Mama tuh nahan malu kalo ketemu sama temen-temen mama. Mereka semua pada cerita soal mantu mereka. Ada yang jadi wanita karier, ada yang perawat, ada yang kerja di supermarket besar. Tapi mantu Mama apa? Malu Mama tau!”“Coba kalo mantu Mama itu Lisa. Pasti Mama bakalan seneng pamerin dia ke temen-temen Mama. Dia cantik, pinter dan juga kerja kantoran. Mama gak akan malu kenalkan dia ke temen-temen Mama,” lanjut Rina.“Itu lah yang bikin Restu muak sama dia, Ma. Habis ini, Restu bakalan urus perceraian Restu ama Dania. Restu malu kalo nanti ada pertemuan kantor yang harus bawa istri. Restu gak mau jadi omongan orang!”“Mas!” teriak Dania tidak percaya suaminya sangat berniat menceraikan dirinya.“Apa?! Kamu mau teriak ato protes kayak gimana pun tetep gak akan bisa rubah keputusan aku. Aku bakalan tetep nikahin Lisa!”“Terserah! Aku juga udah gak sudi tinggal di sini. Kalian perlakukan aku kayak pembantu!”“Bagus! Kalo emang kamu mau pergi, pergi aja sekarang. Pergi!” Rina menatap nyalang ke arah menantunya.Kesabaran Dania yang sudah diujung itu kini tidak bisa lagi bertoleransi dengan orang yang selama ini dia anggap sebagai keluarga itu. Dia pun segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya.Dania beberapa kali mengusap air matanya. Dia tidak menyangka kalau malah akan diusir dari rumah ini. Mengingat harga dirinya sudah terlalu diinjak-injak oleh Restu dan mamanya, Dania pun nekat keluar dari rumah ini.Setelah selesai mengemasi beberapa pakaian dan barang pribadinya, Dania kembali turun dari kamarnya. Dia sudah melihat Restu dan Rina melihat ke arahnya, seolah menyuruh Dania segera pergi dari rumah mereka.“Pergi kamu wanita licik! Jangan berharap kamu akan kembali lagi ke rumah ini!” ucap Restu yang kemudian segera tertawa terbahak-bahak bersama Lisa.Dania memantapkan kakinya keluar dari rumah ini. Meski dia tidak tahu, di mana dia akan bermalam malam ini, karena dia tidak memiliki teman baik selama dia menikah dengan Restu.Dengan diiringi tawa riang pemilik rumah, Dania keluar dari rumah tempat dia berlindung beberapa tahun ini. Dia menyeka air matanya saat dia membuka pintu gerbang rumah Restu.Saat Dania akan melangkah pergi, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di hadapannya. Mobil yang tidak pernah dia lihat selama ini lalu keluarlah seorang pria muda memakai pakaian rapi dan menemuinya.“Selamat malam, Bu Dania,” sapa pria itu.“Selamat malam. Maaf, Bapak ini siapa?” tanya Dania dengan suara serak karena dia banyak menangis.Napatigil si Cristopher.Hindi niya talaga balak saktan ang babaeng ito, kaya dahan-dahan niyang inalis ang kamay at malamig na sinabi, “Wala akong interes.”Hindi man malinaw ang narinig ng mga tao sa paligid, halata naman sa kanilang mga mukha ang pagkabigla.“Ano ‘yon? Interesado ba siya sa babaeng ‘yon?”“Anong kalokohan ‘yan? Ang daming taghiyawat ng babae! Sino namang magkakagusto sa kanya?”“Pero hindi pa niya ‘yon nakikita, di ba? Hindi niya alam na may taghiyawat siya.”Sa isang iglap, tila naging sentro ng atensyon si Cristopher. Ang lalaking kilala sa pagiging mailap, at sa pagkabigo ng maraming babae, ngayon ay pinapanood ng lahat kung ano ang gagawin niya.Hindi naman iniinda ni Casey ang mga bulong-bulungan. Tahimik lang siyang tumingin kay Cristopher at marahang nagsalita, “Naalala mo pa ba ang isang mahalagang tao sa buhay mo? Sinabi mo noon na siya ang nagligtas sa’yo, at handa kang suklian ang kabutihan niya kahit buhay pa ang kapalit.”Napako ang tingin ni Cristophe
Casey agad na binaba ang tawag at nagpadala ng mensahe sa blue app.— Casey: [Nasa labas ako, sobrang ingay, hindi ko masagot ang tawag. May kailangan ka ba?]— Daisy: [Wala naman masyado. Nasaan ka? Narinig ko, suspendido raw ang pinsan mo?]— Casey: [Oo, salamat sa’yo~ Gagawa ako ng paborito mong braised pork kapag may oras ako.]— Daisy: [Hahahaha! Ganyan dapat! Pero nasaan ka ngayon? Bakit hindi mo masagot ang tawag ko?]— Casey: [Nasa bar.]— Daisy: [Ano?! Grabe ka! Ni hindi mo man lang ako sinama! Sino kasama mo?!]— Casey: [Mag-isa lang ako. May kailangan akong gawin. Next time, sasama ka na.]— Daisy: [Mag-isa ka? Nasaan ka? Pupuntahan kita! Kung may kailangan kang gawin, dapat may kasama ka! Paano kung may mangyari sa’yo?]— Casey: [Ayos lang ako, walang problema.]Paulit-ulit siyang pinayuhan ni Daisy, pero hindi na siya sumagot. Wala nang nagawa si Daisy kundi paalalahanan siyang mag-ingat.Ibinalik ni Casey ang cellphone sa mesa at inayos ang maskarang suot. Wala siyang ba
Muling napakunot ang noo ni Dylan, at parang lalo pang lumamig ang hangin sa loob ng opisina.Ramdam iyon kahit sa kabilang linya ng telepono, dahilan para manginig si Suzanne.Bahagyang nagbago ang kanyang ekspresyon. Huminga siya nang malalim bago marahang nagsalita, “Na-suspend ako sa kumpanya.”Saglit na natigilan si Dylan.Pero sa sumunod na sandali, tila wala siyang alam sa nangyari at pinanatiling kalmado ang boses. “Ano’ng nangyari?”Napangiwi si Suzanne. Simula pa lang, ayaw na niyang tawagan si Dylan, pero pinilit siya ng kanyang ina. Matagal siyang kinausap nito, pinayuhang idetalye ang lahat upang mas lalo pang lumayo ang loob ni Dylan kay Casey. Kapag nagtagumpay sila, mas madali nilang maisasagawa ang susunod nilang plano.Pero posible ba talaga ito?!Mariing kinagat ni Suzanne ang kanyang labi. Wala na siyang ibang magagawa kundi magpatuloy.“Konektado ito sa ilang sensitibong bagay sa kumpanya, kaya hindi ko maaaring sabihin ang lahat. Pero… hindi ko inaasahan na hindi
Alam ni Casey na hindi niya dapat isiwalat ang lahat ng detalye bago pa maayos ang opisyal na kasunduan. Sa ngayon, ang mahalaga lang ay siguraduhin na mananatiling kumpidensyal ang proyekto at hindi ito mananakaw ng iba.Marami pa siyang kailangang ayusin, at may oras pa para paghandaan ang lahat.Kapag dumating na ang tamang pagkakataon, siya mismo ang haharap sa taong iyon.Bago siya umalis, kinuha niya ang kanyang cellphone at tinawagan si Ingrid.Dalawang ring pa lang, sinagot na ito ng kaibigan niya.“Uy, Casey! Sa wakas naalala mo rin ako! Akala ko nakalimutan mo na ako.”Napangiti si Casey, pero may bahid ng guilt sa mukha niya. “Sorry. Sobrang dami lang talagang nangyari nitong mga nakaraang araw.”Tumawa si Ingrid. “Relax ka lang, joke lang ‘yon! Pero sige, anong kailangan mo?”Hindi na nagpaligoy-ligoy si Casey. “May nahanap ka na bang impormasyon tungkol sa nangyari?”May narinig siyang buntong-hininga mula sa kabilang linya. “Hay naku, ang hirap hulihin ng mga galamay ng
Lahat ng tao, lahat ng bagay, may oras na hindi sila magiging handa.Lalo na si Casey—isang napakagandang babae. Alam ni Philip Will iyon kaya hindi siya basta-bastang papayag na pakawalan ito. Pinag-isipan at pinaghandaan niya ang gabing ito. Kung basta na lang aalis si Casey, paano siya magiging
Hindi agad nagsalita si Philip Will. Sa halip, tinitigan niya nang maigi si Casey, waring sinusuri ang bawat kilos nito.Payapa lang ang ekspresyon ng dalaga, walang bahid ng kaba o takot.Tama nga ang hinala niya—may inilagay ito sa pagkain niya.Pero wala siyang pakialam. Naroon lang naman sila s
Nagulat nang bahagya ang kausap. “Miss Casey?”“Oo.”Sandaling tumigil sa pagsasalita ang assistant bago ito nagpatuloy nang mahina, “Sige po, nasa meeting si Mr. Will ngayon. Ipaparating ko ito sa kanya at tatawagan kita ulit kapag may sagot na siya.”“Sige, salamat.”At doon na natapos ang tawag.
Nakatayo na si Casey sa labas nang mapansin niya ang isang mamahaling Lamborghini hindi kalayuan. Sa tabi nito, isang pamilyar na pigura—isang lalaking naka-blue na suit, matikas at puno ng kumpiyansa.Napakunot ang noo niya.Mula sa loob ng sasakyan, sinipat siya ni Lincoln. Nang makita siya ng la












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Mga Ratings
RebyuMore