Beranda / Romansa / The Day We Do It / Bab 120 - Rupanya Temanmu?

Share

Bab 120 - Rupanya Temanmu?

Penulis: Anidania
last update Tanggal publikasi: 2026-10-14 16:25:54

​"Mau berdansa sebentar?" bisik Leo, setelah kepergian sang ibu.

​Raia mengerjapkan mata, menoleh menatap pria itu dengan kening terangkat. "Berdansa? Leo, Sandy dan Evelyn sedang mengawasi kita dari tengah ruangan seperti serigala yang kelaparan," desis Raia menolak.

​"Justru itu," sahut Leo tenang, melangkah membimbing wanita itu menuju area lantai dansa marmer yang mulai diisi beberapa pasangan kalangan elit. "Semakin intim dan tenang kita terlihat, semakin kacau kendali emosi mereka. Jangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • The Day We Do It   Bab 152 - Keputusan Leo

    "Bukannya kursi itu bukan lagi milikmu, Leo?"​Suara lantang Sandy membelah keheningan begitu pintu ruang rapat lantai empat puluh dua terbuka lebar. Pemuda itu melempar seringai penuh kemenangan dari seberang meja marmer, menatap Leo yang baru saja melangkah masuk bersama Kakek Edward dan Raia di sampingnya.​Tanpa menunggu rapat resmi dibuka, Sandy sengaja menghempaskan selembar dokumen resmi berkop surat perseroan ke tengah meja.​"Bukankah keputusanmu sudah bulat akhir bulan lalu?" cecar Sandy pongah, melirik para komisaris yang duduk di samping ayahnya. "Dewan komisaris sudah menerima draf pernyataan mundurnya Leonardo Vaneric dari kursi CEO. Surat itu sudah kamu serahkan sendiri, dan kepemimpinan grup ini secara sah seharusnya sudah lowong mulai pagi ini!"​Robert tersenyum tipis menyandarkan punggungnya, menikmati apa yang ia kira sebagai pukulan telak bagi keponakannya.​Namun, Leo sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru melangkah tenang menuju pucuk meja, menarik kursi

  • The Day We Do It   Bab 151 - Manuver Leo

    ​"Mari kita temui Kakek Edward, Pak Presdir," ujar Raia tenang dengan dagu terangkat.​Leo menyunggingkan seringai tipis yang mematikan. Pria itu membetulkan kancing jasnya, lalu melangkah mendahului untuk membukakan pintu ruangan itu lebar-lebar.​Keduanya melangkah keluar menuju lorong eksekutif, di ujung lorong, Kakek Edward berdiri tegak bertumpu pada tongkat elang peraknya, dikawal oleh dua orang notaris senior bersetelan resmi dan pengawal pribadi.​Mata tua sang patriarki memandang lurus ke arah Leo dan Raia yang berjalan berdampingan. "Kalian berdua tampak siap menelan hidup-hidup siapa pun yang bernapas di ruang rapat nanti," suara Kakek Edward memecah hening lorong eksekutif, disusul ketukan ujung tongkat elang peraknya yang berdentang mantap di atas marmer.​Langkah Leo dan Raia berhenti tepat dua jengkal di hadapan sang patriark. Dua notaris senior di belakang pria tua itu membungkuk takzim pada Leo, sementara tatapan tajam Kakek Edward langsung terkunci pada cincin berma

  • The Day We Do It   Bab 150 - Hari yang Dinanti

    "Jangan bergerak, Raia."​Bibir Leo merangsek maju, meredam seluruh sanggahan wanita itu di antara lumatan panas dan menuntut. Tangan pria itu yang semula menahan dagunya kini menyusup cepat ke tengkuk, jemarinya membelai rambut Raia seraya menariknya semakin merapat.​"Leo..." gumam Raia serak. Tangannya terangkat, merapikan dasi sutra Leo yang sedikit miring akibat tarikannya. "Lipstikku pasti berantakan."​"Biar aku yang tanggung jawab merapikannya lagi nanti," sahut Leo enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ibu jarinya menyeka sudut bibir Raia.​Leo menegakkan tubuhnya, melangkah mundur untuk memberi ruang bagi Raia mengatur napasnya kembali.​"Pukul sembilan Kakek Edward tiba bersama notaris untuk serah terima saham yayasan," ujar Leo. Matanya melirik ke arah jam dinding di seberang ruangan. "Dan tepat pukul sepuluh, dewan komisaris akan berkumpul."​Raia merapikan letak blazer-nya, menghembuskan napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Ia mengangkat map kul

  • The Day We Do It   Bab 149 - Pagi Tak Bersapa

    "Raia! Ya ampun, konser akhir pekan kemarin itu bener-bener gila, seru banget parah!"​Sinta memekik seraya meletakkan segelas iced americano di tepi meja kerja Raia. Matanya binar penuh euforia, tangannya bergerak memperagakan riuhnya penonton. "Pas lagu andalannya dinyanyiin di encore, seluruh stadion nyalain lampu barengan sampai merinding. Visual panggungnya megah, pokoknya capek antre berjam-jam langsung lunas tanpa sisa!"​Raia yang baru saja duduk dengan setelan blazer abu-abu tersenyum tipis, membuka map agenda rapat seraya menatap Sinta dengan tenang. "Syukurlah kalau perjuangan war tiketmu tidak sia-sia."​Namun, binar heboh di wajah Sinta mendadak meredup, berganti raut cemas dan penasaran. Ia membungkuk sedikit lebih dekat ke meja Raia, merendahkan suaranya menjadi bisikan hati-hati.​"Tapi ngomong-ngomong... gimana kemarin malam? Aman, kan?" tanya Sinta penasaran. ​Raia menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Semuanya terkendali, Sinta."​"Syukur deh kala

  • The Day We Do It   Bab 148 - Malam Panas

    Ciuman itu tidak lagi tergesa-gesa seperti di ruang jamuan Menteng tadi. Di apartemen, bibir Leo bergerak, menuntut sekaligus memuja setiap jengkal napas Raia hingga wanita itu kehilangan akalnya.Raia membalas lumatan itu perlahan. Jemarinya menelusup di sela helai rambut hitam Leo kian mengerat, menarik pria itu semakin merapat hingga tak ada celah udara yang tersisa di antara mereka. Napas Leo memburu saat ia memiringkan wajahnya, memperdalam pagutan bibir mereka. Lengannya yang kekar mengunci pinggang ramping Raia dengan mantap, memastikan wanita itu tetap aman di tepian meja."Raia..." bisik Leo serak, suaranya bergetar di depan bibir Raia yang kini basah dan sedikit membengkak. "Mulai detik ini, jangan pernah berpikir untuk mundur selangkah pun dari hidupku."Raia membuka matanya perlahan, menyambut sorot mata posesif yang selalu berhasil meluluhkan seluruh benteng profesionalismenya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Bahkan kalau aku mau mundur pun," bisik Ra

  • The Day We Do It   Bab 147 - Apartemen Raia

    ​"Malam ini aku menginap di apartemenmu, ya?" gumam Leo tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan.​Raia menoleh, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan geli. "Lho, bukannya Pak Presdir punya penthouse megah sendiri?"​"Penthouse itu terlalu luas dan dingin kalau tidak ada kamu di sana," sahut Leo enteng, sudut bibirnya terangkat nakal. Pria itu menaikkan tautan tangan mereka sedikit ke udara, lalu mengecup singkat punggung jemari Raia yang mengenakan cincin bermata safir. "Lagipula, calon Nyonya Utama Vaneric tidak boleh tidur sendirian setelah berhasil menaklukkan keluarga sebesar ini dalam satu malam."​Raia tertawa kecil, meyakinkan dirinya bahwa badai apa pun yang menunggu di ruang rapat hari Senin nanti, mereka akan menghadapinya bersama.Mobil meluncur mulus membelah keheningan jalanan kota yang kian lengang, hingga akhirnya berbelok memasuki area parkir gedung apartemen Raia. Suara dengung mesin seketika mati, menyisakan deru pendingin udara yang ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status