Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 46 - Rencana Leo

Share

Bab 46 - Rencana Leo

Author: Anidania
last update publish date: 2026-09-03 20:41:12

Leo kembali terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pertanyaan Raia adalah pertanayaan yang akhir-akhir ini menghantui pikiranya, sebelum, akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkan.

"Saya sempat ragu untuk melanjutkan," aku Leo, terdengar berat. "Tapi begitu saya mengambil keputusan awal, saya tidak memiliki keinginan untuk membatalkannya,” jelas Leo menggebu.

Raia memperhatikan perubahan raut wajah Leo dengan alis berkerut. Raia paham, sebagai seorang pemimpin, tuntutan dan tek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 92 - Sinta Curiga

    ​"G-Gavi...?" beo Raia gugup, tenggorokannya mendadak terasa kering.​"Iya, Gavi. Kalian kan sekantor," potong Javier cepat. "Kamu satu perusahaan, satu gedung sama dia. Maksud aku... orang yang bikin kamu tertekan setengah mati ini ada hubungannya sama Gavi atau enggak? Apa dia tahu kondisi kamu sekarang?" Lsnjut Javier, mencoba menggali informasi lebih lanjut.​Raia menggeleng cepat, meski Javier tidak bisa melihatnya di seberang telepon. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.​"Enggak, Jav…," bisik Raia pelan, suaranya terdengar begitu putus asa. "Enggak ada yang tahu... Gavi pun enggak tahu apa-apa.""Bagus kalau Gavi gak tahu," cetus Javier lugas.Raia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya, ia memejamkan mata. membuat salah satu bayangan pendek dari kantor tadi siang mendadak melintas di kepalanya.​"Sebenernya... cuma Sinta yang mulai curiga, Jav," bisik Raia lirih.​"Sinta? Temen kamu itu?" tanya Javier memastikan.S

  • The Day We Do It   Bab 91 - Besok Kita Bertemu

    Setiap kali Raia mencoba menelan masakan yang diantarkan ke apartemennya, makanan itu terasa tak ubahnya seperti pasir kering—kasar dan keras. Aroma sajian berkelas yang memenuhi meja makan miliknya justru terasa seperti teror baginya. Makanan itu bukan sekadar bentuk perhatian, melainkan penanda bahwa sang bos bisa menjangkau dan mengarahkan hidupnya kapan saja ia mau.Napas Raia mulai memburu, ia butuh pertolongan. Ia butuh seseorang yang mengerti kesehatan jiwa, seseorang yang berada jauh di luar lingkaran beracun Vaneric Group.Di tengah kepanikan yang ia rasakan, satu nama mendadak terlintas di benak Raia.Javier.Teman dekatnya sejak masa kuliah dulu yang kini berprofesi sebagai seorang psikolog klinis. Javier—atau yang biasa disapa Javi—adalah sosok yang memiliki ketenangan luar biasa, punya pemikiran kritis, pendengar yang luar biasa baik, dan satu-satunya orang yang pernah menjadi tempat Raia bersandar saat masa-masa paling kelam di kampus.Dengan jemari gemetar, Raia meraih

  • The Day We Do It   Bab 90 - Istirahatlah, Raia

    Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu

  • The Day We Do It   Bab 89 - Dari Mana, Rai?

    "Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan

  • The Day We Do It   Bab 88 - Rai, Hanya Kali Ini!

    "Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,

  • The Day We Do It   Bab 87 - Kami Saling Mencintai

    "Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status