LOGINDua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu
"Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan
"Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,
"Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe
Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d
"Ehh! Rai! Mau ke mana?!" seru Sinta terkjeut, mmenatap sahabatnya yang sudah menyambar cardigan dan melangkah cepat keluar pintu tanpa menjawab pertanyaannya.Wnita itu menutup pintu rapat, berlari menyusuri koridor menuju lift dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka, langkahnya bergerak cepat menembus udara parkiran yang dingin dan sunyi.Sosok jangkung Leo langsung tertangkap indera penglihatannya—berdiri bersandar di samping mobil mewahnya dengan kemeja yang sudah digulung hingga siku, dan sibuk dengan ponsel di tangannya."Kenapa sih, Pak, malam-malam begini?!" sembur Raia setengah berbisik begitu ia sampai di hadapan pria itu. Amarah dan rasa kesal yang ditahannya sejak tadi meledak begitu saja. "Bapak gila, ya?! Nekat banget mengancam mau naik ke unit saya?!"Leo menatap Raia dengan alis berkerut. Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka."Saya cuma mau memastikan..." suara Leo terdengar parau, "...kalau kamu tidak







