LOGINSuara itu membuat seluruh udara di depan Paviliun Utara membeku.
“Qin Lang... jangan turun.”
Tidak keras.
Tidak jelas sepenuhnya.
Namun bagi Qin Lang, suara itu cukup untuk membuat seluruh tulang di tubuhnya terasa seperti ditarik kembali ke masa lalu.
Jalan besar menuju gerbang utara yang dipenuhi rakyat menjadi tempat pertama Bab 32 bergerak. Setelah seluruh luka bulan merah mulai terbuka, tidak ada satu pun orang di keluarga Qin yang benar-benar memiliki kesempatan untuk beristirahat. Qin Lang masih menyimpan wajah dingin seorang raja, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan itu sedang menahan badai. Wang Yin berdiri di sisinya, lebih pucat daripada yang ingin ia akui, namun sorot matanya kembali menyala seperti hari ketika ia pertama kali menantang dunia dari Hutan Larangan.Inti bahaya kali ini adalah rakyat melihat Ratu Ying benar-benar hidup dan berangkat bersama Qin Lang. Ancaman itu tidak datang sebagai serangan terang-terangan saja, melainkan sebagai pesan yang memaksa mereka memilih: bergerak cepat dan masuk perangkap, atau diam dan membiarkan musuh menyusun langkah berikutnya. Qin Lang ingin memotong semua jalan musuh dengan pedang. Wang Yin, seperti biasa, ingin lebih dulu mengetahui siapa yan
Aula istana yang masih berbau asap makam menjadi tempat pertama Bab 31 bergerak. Setelah seluruh luka bulan merah mulai terbuka, tidak ada satu pun orang di keluarga Qin yang benar-benar memiliki kesempatan untuk beristirahat. Qin Lang masih menyimpan wajah dingin seorang raja, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan itu sedang menahan badai. Wang Yin berdiri di sisinya, lebih pucat daripada yang ingin ia akui, namun sorot matanya kembali menyala seperti hari ketika ia pertama kali menantang dunia dari Hutan Larangan.Inti bahaya kali ini adalah kotak hitam berisi pita merah Wang Yin datang dari gerbang utara. Ancaman itu tidak datang sebagai serangan terang-terangan saja, melainkan sebagai pesan yang memaksa mereka memilih: bergerak cepat dan masuk perangkap, atau diam dan membiarkan musuh menyusun langkah berikutnya. Qin Lang ingin memotong semua jalan musuh dengan pedang. Wang Yin, seperti biasa, ingin lebih dulu mengetahui siapa yang berdiri di balik pin
Ketika cermin hitam pecah, makam tidak langsung menjadi sunyi.Ia menangis lebih dulu.Tangisan itu tidak keluar dari mulut manusia, melainkan dari dinding batu, dari nama-nama kuno, dari rantai merah yang satu per satu berubah menjadi abu. Suaranya membuat dada semua orang berat, seperti mereka sedang mendengar kesedihan yang diwariskan terlalu lama sampai tidak ada lagi yang ingat siapa pertama kali terluka.Wang Yin berdiri dengan tubuh gemetar. Qin Lang masih memegang Qin Mo dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam pedang. Ia ingin mendekati istrinya, tetapi jika ia melepas Qin Mo terlalu cepat, pemuda itu mungkin jatuh kembali ke peti yang baru saja ditutup.Qin Mo menyadarinya."Aku bisa berdiri," katanya."Tidak," jawab Qin Lang."Aku bukan anak kecil.""Kau baru hampir dimakan makam. Untuk malam ini, kau kehilangan hak membanggakan diri."Qin Mo menatapnya, antara kesal dan ingin tertawa. Wajahnya
Wajah Liu Ji di dalam cermin hitam membuat seluruh ruang makam membeku.Bertahun-tahun nama itu hidup seperti hantu di keluarga Qin. Ia disebut sebagai pengkhianat, pemberontak, penyebab Wang Yin tertidur, penyebab Qin Lang kehilangan hampir seluruh keluarganya, penyebab Qin Lian dan Qin Yue lahir tanpa pelukan ibu. Namun selama ini, ia selalu terasa jauh. Seperti luka lama yang berdarah setiap kali disentuh, tetapi tidak lagi memiliki tubuh.Malam itu, tubuh luka itu membuka mata dari dasar peti batu."Liu Ji," ucap Qin Lang.Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan amarah. Justru ketenangan itu membuat Qin Mo merinding.Wajah Liu Ji tersenyum samar di permukaan cermin. "Raja Qin Lang. Kau masih hidup. Aku kira tujuh tahun berduka akan membuatmu lebih mudah patah."Qin Lang menatapnya tanpa berkedip. "Aku menyimpan patahku untuk memotong lehermu."Wang Yin melirik suaminya. "Itu terdengar sangat romantis dengan cara yang salah."
Mu Lan berdiri di atas lantai makam seperti bayangan yang diberi kulit.Wajahnya tidak utuh. Sebagian menyerupai perempuan muda yang cantik, sebagian lain retak seperti topeng tua. Di bawah retakan itu, ada wajah-wajah lain yang bergerak, saling tindih, saling menggigit, seolah terlalu banyak identitas berebut keluar dari satu tubuh.Qin Lang menarik Wang Yin ke belakangnya, tetapi Wang Yin segera menepuk lengannya."Aku bisa berdiri.""Kau baru ditusuk rantai makam.""Kau juga sering terluka dan tetap berdiri.""Aku berbeda.""Benar. Kau lebih keras kepala."Qin Lang menatapnya dengan mata dingin, tetapi tidak sempat membalas. Mu Lan tertawa pelan, suara tawanya berubah-ubah dari suara gadis kecil, wanita tua, hingga suara yang mirip Qin Yue."Kalian masih bisa saling menggoda di sini," katanya. "Mengagumkan. Atau menyedihkan. Aku belum memutuskan."Qin Mo melangkah turun dari peti batu. Darah di tubuhnya membuat
Rantai merah menembus pergelangan Wang Yin seperti ular yang menemukan sarang lama.Tubuhnya terhuyung, tetapi Qin Lang menangkapnya dari belakang sebelum ia jatuh. Darah putih kemerahan menetes dari kulitnya, menyentuh lantai makam, lalu mendesis seperti air yang jatuh ke bara api. Bau obat, tanah basah, dan darah tua memenuhi udara."Lepaskan dia," kata Qin Lang.Suaranya pelan.Terlalu pelan.Qin Mo yang pernah melihat Qin Lang marah langsung tahu bahwa pelan seperti itu jauh lebih berbahaya daripada teriakan.Peti batu tidak peduli. Tangan pucat dari dalam celah bergerak perlahan, seolah ingin menarik rantai itu lebih dalam. Wang Yin menggigit bibirnya menahan sakit. Matanya sempat memutih sesaat, lalu kembali fokus."Qin Lang," bisiknya."Aku di sini.""Jangan tebas rantainya.""Ia menyakitimu.""Aku tahu. Aku yang merasakannya.""Wang Yin.""Kalau kau menebas, A Yue yang menerima pantula







