Beranda / Fantasi / The Empress / 3. Seorang Pria dari Jauh

Share

3. Seorang Pria dari Jauh

Penulis: Lord Devil
last update Tanggal publikasi: 2024-05-29 10:15:12

Suasana kamar pangeran mendadak riuh, Qin Lian sibuk mencari baju zirahnya dan mengenakannya.

Tak hanya itu, dia juga mengambil pedangnya yang diasah dan diukir mirip seperti milik ibunya, Pedang Hong.

*Pedang Hong : merah sesuai dengan warna sarungnya.

"Qin Lian mau ke mana?" tanya Qin Qiu terkejut.

Pangeran kecil itu mengangkat pedangnya yang berwarna hitam kemerahan. Persis seperti milik Wang Yin.

"MEMBUNUH Liu Ji!" teriak anak itu dengan mata merah dan lengannya dengan susah payah mengangkat pedang besar itu.

Tubuhnya masih kecil dan belum menguasai ilmu berpedang dengan baik. Dibandingkan kakaknya dia termasuk lambat. Namun, dalam urusan memanah, dia adalah ahlinya.  Bahkan, jika matanya ditutup anak sekecil itu sudah bisa mengenai sasaran tanpa cacat.

Tentu saja jaraknya disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak seusianya.

"Liu Ji?"

Qin Qiu mengeryitkan keningnya bingung dan terkejut di saat yang bersamaan.

"Qin Lian, duduklah," kata Qin Yue membujuk adiknya.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya hanya kakaknyalah yang akan berhasil membujuk anak itu.

"Tidak mau, Liu Ji sudah membuat ibu menderita, dia harus mati," teriaknya dengan lantang sampai mengejutkan pelayan yang sedang berjaga.

Mendengar keributan itu, dua panglima kebanggaan Kerajaan Yi Lan datang tepat waktu.

"Pangeran, Putri dan Pangeran Kedua Lan," sapa mereka kepada Qin Qiu dan keduanya cucunya.

Qin Qiu adalah Pangeran Kedua Lan sejak dulu hingga sekarang. Dia tidak pernah berniat menjadi raja atau lainnya.

Menjadi pangeran baginya adalah takdir dan jalan hidupnya.

"Kalian berdua di sini, baguslah, kalian bantu aku," kata Qin Lian dengan semangat.

Meskipun dia masih anak-anak, tentu saja panglima akan tetap patuh pada sang pangeran.

"Baik, Pangeran, apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?" tanya Jenderal Li Wen dan Jenderal Penghancur Jindan serentak dengan sopan.

"Kalian ikut aku untuk membunuh Liu Ji," kata pangeran kecil itu dengan suara lantang dan dia terlihat nyaris menangis.

Qin Yue memegangi adiknya dan memeluknya dengan perlahan.

"Dia sudah mati," katanya pelan.

"Benar, dia sudah mati," kata Qin Qiu menimpali.

Qin Lian menatap keduanya bergantian.

"Kalian berbohong, kalian berbohong, di catatan ayah tidak disebutkan kalau dia mati selain ayah menutup kerajaan dan menguncinya sejak ibu jatuh koma!"

Qin Lian menjerit dan menangis tersedu-sedu mengenang kisah menyedihkan itu.

Tak ada yang berani berbicara atau membujuknya dalam kondisi seperti itu kecuali kakaknya yang terus memeluknya agar amarahnya mereda.

"A Lian, dia sudah mati," katanya lagi seolah mengucapkan berkali-kali bisa membius pendengarnya---seperti mantra.

Qin Lian terdiam untuk beberapa saat dirinya belum percaya kalau Liu Ji sialan itu sudah mati. Dia harus memastikannya sendiri.

"Harusnya kutanya pada Ling Wen. Kakek tua itu pasti tahu sesuatu," gumamnya pelan.

Qin Qiu mendadak panik begitu nama lelaki itu disebutkan. Dia berharap sahabatnya sudah jauh sehingga tidak terkena murka sang pangeran yang sedang mengamuk ini.

"Liu Ji, kau harus mati!" teriak Qin Lian dengan suara lantang sambil mengacungkan pedangnya ke atas.

Tak disangka Qin Lang sudah berdiri tegak tepat di depannya.

Qin Lian terkejut dan mundur beberapa langkah.

"Ayah, maafkan A Lian dia hanya anak-anak," pinta Qin Yue langsung bersujud di hadapan ayahnya.

"Lalu kau bukan anak-anak?" jawab Qin Lang dengan nada dingin.

Dua jenderal kebingungan harus mengatakan apa.

"Maaf, Yang Mulia, hamba izin menjelaskan. Kami hanya sedang bermain drama," kata Wen Xiu berbohong.

"Drama lakon, iya betul," kata Qin Qiu sambil mengelus jenggotnya dengan perlahan karena gugup.

"Drama?"

Qin Lang berjalan semakin mendekat dan mengambil kloningan Pedang Hong dari tangan anaknya.

"Kau tahu ini pedang apa?" tanyanya masih dengan suara dingin.

"Pe-pedang, mirip milik ibu," jawab anak itu dengan gugup.

"Kau tahu ini berharga?" tanya Qin Lang lagi.

Qin Lian meneguk ludahnya dua kali sebelum mampu menjawab pertanyaan ayahnya.

"Ta-tahu, sama seperti ibu," ucapnya dan langsung menangis tersedu-sedu membayangkan wajah ibunya yang masih tertidur cantik.

"Qin Lian jangan menangis, kau akan melukai ayah," kata Qin Yue memeluk adiknya.

Qin Lang menghela napasnya sebelum berucap, "Kalian berdua ikut aku," katanya.

Qin Lian dan Qin Yue mengikuti Qin Lang ke ruangan belajar, sementara yang lainnya hanya bisa terdiam bagai orang bodoh dengan mulut menganga.

"Mengapa kau berbohong? Apa kau mendadak bodoh?!" protes Jenderal Li Wen pada Peleleh Elixir.

"Daripada kau? Hanya diam? Masih bagus aku bisa berkata-kata walau tidak tahu apa yang terjadi," katanya membela dirinya.

"Berbohong mendapatkan hukuman mati," tegas Qin Qiu.

"Maka Tuan juga akan ikut mati," kata Peleleh Elixir dengan santai.

"Kau!" teriak Qin Qiu dengan suara tertahan.

Sementara ayah dan anak itu masuk ke dalam ruangan belajar, mereka hanya bisa menanti dengan gelisah di depan pintu.

Di dalam sana, Qin Lian sudah tidak menangis karena diberikan camilan dan minuman kesukaannya.

Meski hidungnya sudah mengeluarkan cairan bening beberapa kali karena kebanyakan menangis, anak itu masih bisa makan dengan lahap.

"Sudah sampai mana kalian baca?" tanya Qin Lang tiba-tiba.

"Ma-maksudnya? Maksud Ayah apa?" tanya Qin Lian mendadak merasa lehernya tercekik makanan enak itu.

"Mn?"

Qin Lang menatap keduanya bergantian.

"Sampai Liu Ji datang saat ulang tahun Ayah. Ibu terpaksa melahirkan secara paksa dan mendadak. Lalu Ibu, Ibu seperti itu karena melindungi Ayah dari serangan Peleleh Elixir," jelas Qin Yue.

"Jadi, Peleleh Elixir adalah musuh?" ucapannya Qin Lian penuh keraguan.

"Dia kena sihir," kata Qin Yue menjelaskan.

"Analisa yang bagus," kata Qin Lang memuji anaknya.

Qin Yue dan Qin Lian berlutut di hadapan Qin Lang.

"Ayah, maafkan kami. Kami hanya penasaran dengan ibu dan kami merindukannya dan berharap segera bangun," jelas Qin Yue menyadari kebodohan mereka.

Qin Lang menyuruh keduanya duduk kembali dengan posisi yang baik.

"Lalu, kami minta maaf sudah mengintip catatan Ayah, itu ideku, aku yang salah jangan salahkan kakak. Kalau mendapatkan hukuman, maka akulah yang harus dihukum," kata Qin Lian dengan sangat yakin.

Melihat anaknya Qin Lang serasa melihat Wang Yin kecil yang selalu bertindak bagai pahlawan. Lihat saja, dia bahkan rela mengorbankan dirinya yang hamil demi melindungi Qin Lang.

Anak dan ibu benar-benar foto copy yang sempurna, hanya berbeda jenis kelamin saja.

"Lain kali tanyakan saja padaku," ucap Qin Lang.

Kedua anaknya terkejut dan merasa senang di saat yang bersamaan.

Mereka sebenarnya memang lebih tertarik mendengar cerita langsung dari ayahnya, tetapi Qin Lian khawatir apakah ayahnya benar-benar bisa bercerita dengan baik? Sedangkan berbicara saja dia sangat minim.

"Tidak perlu, Ayah menulis saja dan kami membaca," kata Qin Lian dengan agak canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Benar, kami akan izin jika ingin membacanya," imbuh Qin Yue membela adiknya dan mengerti kegelisahan anak kecil itu.

Mereka tidak bisa membayangkan Qin Lang bercerita atau mereka akan menebak-nebak lalu Qin Lang hanya mengatakan, iya, tidak, benar atau salah.

Itu sangatlah membosankan.

"Aku tidak bisa membayangkan mengapa Ibu bisa menyukai manusia es," pikir Qin Lian dalam hatinya.

"Jangan mengejeknya kau akan dimarahi Ibu," jawab Qin Yue padanya.

Tentu saja keduanya berkomunikasi lewat batin saja. Konon, anak kembar memang memiliki kemampuan seperti itu.

Masih sibuk dengan komunikasi dua arah itu, mereka terkejut dengan ucapan ayahnya.

"Tidak perlu meminta izin, sejak awal aku sudah tahu kalian membacanya," ujar Qin Lang setelah menyesap tehnya dengan anggun.

Keduanya terdiam cukup lama, memang benar mana mungkin Qin Lang yang sangat teliti itu bisa melewatkan hal sesederhana itu.

"Istirahatlah," kata Qin Lang lalu hendak pergi keluar.

"Ayah," panggil Qin Lian dan Qin Lang berhenti melangkah.

Dari sudut matanya dia menatap keduanya.

"Terima kasih," ucap anak itu dengan sikap sempurna.

"Ayah," panggil Qin Yue lagi ketika dia hendak pergi.

Kali ini Qin Yue yang sepertinya tidak rela melepaskan ayah mereka. Pastilah dia berduka pikirnya.

"Ada apa?" tanya Qin Lang membalik tubuhnya.

"Apakah Liu Ji masih hidup?" tanya Qin Lian.

Qin Lang tidak menjawab dan dia sepertinya akan pergi lagi.

"Ayah," panggil Qin Yue dengan suara parau.

Qin Lang terdiam cukup lama.

"Katakanlah," ujarnya sambil berbalik dengan mata memerah akibat menahan air matanya.

"Boleh aku memeluk Ayah?" tanya gadis kecil itu dengan air mata bercucuran.

Qin Lang mendekat dan memeluk kedua anaknya.

Kedua bocah itu menangis tersedu-sedu di pundak ayahnya.

Mereka berpelukan cukup lama sampai mereka melepaskannya.

Setelah mengantar anaknya ke kamar berbeda, Qin Lang menyapa Wang Yin di kamarnya.

"Wang Yin, maafkan aku. Seandainya kau ada mereka tidak akan kekurangan pelukan dan kasih sayang," ujarnya sambil menangis tanpa suara tetapi air matanya terus mengucur sebagai ganti ribuan kata yang tidak terucap.

Kepedihan kadangkala tersembunyi di balik diamnya seseorang.

Hari ini Qin Lang berniat untuk lebih hangat lagi kepada anak-anaknya.

Mungkin dia terlalu fokus menunggu Wang Yin sampai melupakan dua anak yang butuh perhatian ayah dan ibunya.

Sebelum tidur, Qin Lang menatap lukisan dirinya dan Wang Yin..

"Selamat malam Wang Yin," ucapnya lalu memeluk bayang-bayang indah perempuan itu dan membayangkan senyuman manisnya yang selalu membuat hari Qin Lang cerah.

Bersambung ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Empress   90. Mahkota Phoenix Tidak Dipakai

    Pagi setelah gerbang kedua runtuh, ketika gunung cang untuk pertama kalinya memiliki bayangan utuh di bawah matahari seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun orang-orang lima kerajaan menunggu Wang Yin mengenakan Mahkota Phoenix sebagai tanda penyelamat, tetapi mahkota itu tinggal serpihan di telapak Qin Yue. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena kemenangan mereka tidak otomatis menyelesaikan politik lima kerajaan; justru para penguasa ing

  • The Empress   89. Api yang Tidak Membakar

    Lingkaran batu gerbang kedua yang retak, ketika api putih muncul dari bawah kaki qin yue tanpa melukai kulitnya seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Yue mengenakan Mahkota Kabut bukan karena ingin memakainya, melainkan karena ia ingin mendengar semua suara yang terperangkap di dalamnya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena setiap suara korban meminta dipulangkan, tetapi Mahkota Kabut mencampur permohonan asli dengan rayuan agar Qi

  • The Empress   88. Gerbang Kedua

    Puncak gunung cang saat fajar, ketika kabut membuka lingkaran batu kedua yang selama ini tersembunyi di bawah akar merah seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Gerbang Kedua muncul bukan sebagai pintu keluar, melainkan sebagai cermin raksasa yang memantulkan semua orang dengan mahkota di kepala. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Mahkota Kabut menawarkan mimpi paling diinginkan setiap tokoh: Wang Yin sehat, Qin Lang tanpa kehilangan,

  • The Empress   87. Pengadilan Para Leluhur

    87. Pengadilan Para LeluhurBalai leluhur phoenix yang tersembunyi di bawah akar pohon merah raksasa, tempat suara orang mati disimpan dalam batu-batu kecil seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Wang Yin dipanggil masuk seorang diri, tetapi Qin Lang menolak membiarkan pintu menutup sebelum ia menggenggam tangan istrinya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena para suara leluhur menuntut Wang Yin memba

  • The Empress   86. Racun Kabut di Istana Yi

    Istana yi yang jauh dari gunung cang, tempat para pelayan mulai batuk perak dan lentera-lentera kerajaan menyala tanpa minyak seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun serangan terjadi bukan pada rombongan, melainkan pada rumah yang mereka tinggalkan. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Qin Lang harus memilih antara meneruskan pencarian di Gunung Cang atau kembali menyelamatkan rakyat yang mempercayainya. Dalam dunia mereka, musuh jarang

  • The Empress   85. Malam Ketika Qin Lang Tersenyum

    Malam sunyi di desa tanpa bayangan, ketika rombongan akhirnya mendapat kesempatan makan bersama tanpa rapat perang seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Lian menuduh Qin Lang lupa cara tersenyum dan meminta Wang Yin membuktikan bahwa ayah mereka masih manusia. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena ketenangan kecil itu terasa mencurigakan setelah terlalu banyak malam berakhir dengan serangan, tetapi semua orang memilih tinggal sebent

  • The Empress   2. Hukuman

    Seusai melaksanakan hukuman mandiri mereka, kedua anak Qin Lang dan Wang Yin berlari ke kamar Qin Qiu. Ketidakpuasan dalam hati Qin Lian mendorong dirinya untuk terus bertanya soal ibunya.Sebelum pergi meninggalkan kamar Wang Yin, anak itu sempat mencium pipi ibunya dan berbisik agar perempuan itu

  • The Empress   1. Awal Cerita

    Suasana hutan di belakang pusat Kerajaan Yi, Hutan Larangan begitu hening dan damai. Qin Lang, pangeran kedua kerajaan Yi berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya.Sudah berkali-kali dia menolak untuk menikah, akan tetapi ada begitu banyak tawaran dan hadiah berupa calon istri yang diberikan kepadan

  • The Empress   Prolog

    Ratu Wang Yin mengalami koma berkepanjangan setelah melahirkan anak kembarnya, Qin Lian dan Qin Yue. Tidur panjang Sang Ratu masih menjadi misteri dan menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Entah sihir apa yang telah dirapalkan pada Sang Ratu sampai-sampai dia tertidur selama itu.Qin Lang, selaku R

  • The Empress   4. Pesona Pria Itu

    Sebelum, pernikahan Qin Lang dan Wang Yin dilaksanakan semua pihak merasa senang dan bahagia. Kecuali Liu Ji yang merasa dirinya lebih tampan dan gagah dibandingkan manusia es itu."Mengapa dia memilih pangeran biasa saja dibandingkan aku?!" teriak Liu Ji tidak terima dengan keputusan Wang Yin yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status