Luo McCarner was dying when suddenly a woman who looked like her asked,'' Do you wish to go to the past before you made the decisions that led you to this unenviable state or die like a pathetic heroine in a play?'' Luo decided to take the chance to fix her tragic fate, which almost caused her death. But little did she know how deeply wounded her soul was and that she needed time to relearn how to be herself again. Unfortunately, the journey for self-discovery and self-repairing wouldn't be smooth. Her enemy was determined to bring her down and end her life for good. Some chapters contain violence.
Lihat lebih banyak“Hari ini aku harus menemui dokter.”
Alisya menatap suaminya, Pandu Wardana menghentikan makannya dan menatap wanita itu datar. “Aku harus bekerja.” Tentu saja apa yang bisa Alisya harapkan Pandu mengantarnya ke dokter? Dia pasti sudah gila. Pernikahan mereka bukan pernikahan atas dasar cinta pada umumnya. Alisya memang mencintai Pandu, bahkan sangat mengagumi laki-laki itu, mereka dulu adalah rekan kerja yang kompak hingga petaka itu terjadi. Alisya yang waktu itu sedang bingung kemana harus mencari uang untuk pengobatan ibunya, menyebrang jalan begitu saja. Ia tak melihat kendaraan yang dikemudikan Pandu dengan kencang. Kecelakaan itu membuatnya harus duduk di kursi roda karena kakinya sama sekali tak mampu menompang tubuhnya. Berhari-hari Alisya menyesali kecerobohannya, apalagi tak lagi punya uang untuk pengobatan ibunya. Di saat itulah kedatangan Pandu dan ayahnya seperti secercah harapan untuknya. Mungkin Tuhan memang mengujinya dengan kaki yang lumpuh. Tapi dibalik itu semua Tuhan mengabulkan dua do’anya yaitu menjadikan Pandu suaminya dan memberikan biaya pengobatan ibunya melalui mereka. Alisya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, dia mendapatkan apa yang diinginkan pada waktu yang bersamaan. Awalnya... Kini dua tahun telah berlalu tapi hubungannya dengan Pandu bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka seperti dua orang asing dalam satu rumah, tepatnya Pandu yang bersikap seperti itu, dan itu menyiksa Alisya. “Ehm... aku tahu... aku hanya minta izin.” Alisya meremas tangannya dengan gugup, seharusnya dia memang tidak perlu mengatakan ini semua, tapi setelah menikah dia bukan wanita bebas yang bisa kemanapun tanpa izin sang suami, meski dia tahu suaminya tak akan peduli. “Kamu bisa pergi kemanapun yang kamu inginkan asal tidak kabur dari rumah ini.” Pandu mendorong piringnya dan menatap Alisya yang tertunduk sejenak. “Bu Titin!” panggil Pandu pada wanita yang dia tugaskan untuk mengatur keperluan di rumah ini. Wanita bertubuh sedang itu mendekat dengan sigap. “Iya Tuan.” “Minta salah satu orang untuk mengantarnya ke dokter,” kata Pandu tanpa melirik Alisya yang masih duduk di tempatnya. “Pak Maman yang biasanya mengantar Nyonya ke dokter,” jawab wanita itu menyebut nama salah sopir di rumah ini. “Ck! Minta salah satu gadis itu menemaninya.” Perasaan hangat memenuhi dada Alisya ternyata Pandu masih mempedulikannya. “Dan pastikan dia tidak berbuat ulah.” Bunga yang tadi berkembang di dadanya langsung layu dan durinya menusuk langsung ke jantung, begitu perih. Pandu bahkan tak menoleh lagi pada Alisya, laki-laki itu langsung pergi begitu saja. Memangnya apa lagi yang bisa dia harapkan? Entah ini pertemuan mereka yang keberapa ratus kali Alisya tidak bisa mengingatnya lagi, tapi tetap saja dia merasa tak nyaman berada di sini, ingin sekali dia mencari tempat lain. Andai bisa... “Apa kaki saya bisa sembuh lagi, dok?” Dokter itu diam sejenak. “Saya bukan Tuhan yang bisa memastikan kesembuhan seseorang.” Alisya tersenyum kecil sudah biasa dengan sikap sang dokter yang meski terlihat ramah tapi tak pernah membuatnya yakin benar-benar membantunya. “Saya tahu, tapi saya datang kesini untuk mendapatkan informasi dari anda.” Sang dokter terlihat makin tak nyaman dengan pembicaraan ini. “Saya akan memberikan obat-obatan yang bisa membantu anda,” katanya yang membuat Alisya hanya bisa menghela napas panjang tapi tak bisa memaksa lebih jauh. Sudah satu jam sejak Alisya meninggalkan ruang praktik sang dokter dia bahkan sudah menebus obat di apotik tapi gadis pelayan yang menemaninya tak terlihat dimanapun. Alisya tahu dia bisa saja memilih untuk menghubungi pak Maman dan mengantarnya pulang, tapi tentu saja nanti akan ada drama lain yang tidak dia inginkan. Sudah bukan rahasia lagi kalau di rumah itu bahkan tidak ada orang benar-benar menyukainya, mereka semua beranggapan bahwa kecelakaan itu sengaja dilakukan Alisya untuk menjebak tuan muda mereka, apalagi mereka tahu kalau ibu Alisya sedang sakit keras dan butuh biaya yang sangat besar. Alisya menghubungi ponsel gadis pelayan itu entah untuk keberapa kali tapi belum ada jawaban juga. Saat menutup ponselnya dia melihat gadis itu berjalan ke arahnya. “Kamu dari mana? Kenapa tidak menjawab ponselmu?” Gadis itu menatap Alisya tak acuh hanya mengangkat tangannya yang penuh dengan barang belanjaan. “Aku hanya membeli ini apa susahnya sih menunggu sebentar!” Alisya sedikit terkejut dengan keberanian gadis ini membentaknya. “Seharusnya kamu bilang kalau kamu mau belanja, maaf kalau aku sudah merepotkanmu.” kata Alisya dengan raut bersalah, sungguh dia tidak suka merepotkan orang lain. *** Gadis pelayan menatap Alisya sejenak seolah bimbang saat akan turun dari mobil, tapi lalu dia memutuskan turun begitu saja tanpa membantu Alisya. “Biar saya bantu, Nya.” Alisya hanya bisa tersenyum pasrah, dia memang butuh bantuan untuk berpindah dari mobil ke kursi rodanya, kakinya benar-benar seperti jeli tak bisa bergerak sama sekali, kadang dia sangat kesal kenapa kakinya sekian lama sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Dia ingin sembuh dan ingin berjalan dengan kedua kakinya lagi. Kadang dia merasa iri pada orang-orang yang bisa joging di pagi hari atau sekedar sibuk wara-wiri. “Apa perlu saya bantu ke dalam, Nya?” tanya pak Maman Alisya menggeleng dan menggumamkan terima kasih sebelum menggulirkan roda kursinya ke dalam rumah, dia memang wanita cacat tapi dia tidak suka dikasihani. “Kamu baru pulang?” suara itu membuat Alisya berhenti menggulirkan roda kursinya dan menatap laki-laki yang menjadi suaminya itu dengan seksama. Kok tumben sudah pulang? “Sebaiknya kamu masuk ada yang ingin aku perkenalkan padamu.” Pandu Wardhana langsung berbalik setelah mengatakan itu tak ada keinginan untuk membantu sang istri mendorong kursi rodanya. Itu sudah biasa memang, tapi Alisya yakin suatu hari dia akan bisa meraih hati suaminya, dia punya cinta yang tulus untuk laki-laki itu dan selama ini meski kakinya lumpuh dia sudah berusaha menjadi istri yang baik. Kecuali... urusan ranjang. Alisya menggulirkan lagi Roda kursinya, kali ini dengan lebih pelan entah kenapa ada perasaan tak enak yang merambati hatinya. Dan benar saja dari ruang tengah terdengar suara suaminya sedang bercanda ... bersama seorang wanita. Posisi mereka yang membelakanginya membuat Alisya tak tahu siapa wanita itu tapi dari bahasa tubuh mereka, keduanya sangat akrab. Dua tahun pernikahan mereka, suaminya bahkan tidak pernah menganggapnya ada, pria itu memang tidak bersikap kasar padanya bahkan cenderung... tidak peduli, dan bagi Alisya itu lebih menyakitkan. “Siapa dia, Mas?” tanya Alisya dengan suara bergetar. “Ah kemarilah aku akan memperkenalkan kalian.” Pria itu berdiri dan untuk pertama kalinya meraih kursi roda Alisya dan mendorongnya pelan. “Dia wanita yang aku cintai dan kami akan segera menikah, tapi jangan khawatir aku tidak akan menceraikanmu.” Alisya langsung menoleh kaget pada Pandu di belakangnya, dia seolah tak mempercayai telinganya. Firasatnya benar. Pengorbanannya selama ini sepertinya sia-sia. “Kamu bercanda, kan?” tuntut Alisya. “Kamu tahu aku tidak pernah mencintaimu, pernikahan kita karena aku harus bertanggung jawab padamu.”Refleks Alisya menarik kakinya seolah berusaha menyembunyikan kelumpuhannya.
“Nah ini Sekar, Sekar ini Alisya... istri yang aku ceritakan tadi.” Alisya langsung mendongak mendengar nama itu, dan langsung tertegun saat melihat wajah wanita itu. Benar dia Sekar yang itu, Sekar yang sama yang dikenalnya sepuluh tahun yang lalu. Dan sepertinya Sekar juga terkejut melihatnya. Dari sekian banyak wanita yang bisa menjadi selingkuhan Pandu kenapa harus wanita ini?The morning air was crisp and fresh. The sun was shining brightly, and its warmth gently caressed my skin. I was lying on the concrete next to the pool in the yard of Leonardo’s two-story house. My eyes were closed, and I was exuding an air of tranquillity. Or at least I hoped my pretense was believable enough for the security guard whose eyes were glaring at me with murderous intent. I wish I could sigh, but that would give me away. Honestly, at this point, the constant threats to my life felt like an annoying chore I had to constantly deal with. A normal person would be scared, constantly on edge, looking behind their back to make sure there isn’t a crazy personal hitman or a mentally unstable woman trying to end them, but maybe because I died once, I became a bit indifferent. Or maybe my indifference was a result of me going cuckoo. Whichever one it was, I was too lazy to give a sh*t.The security guard looked around for the fifth time during the last ten minutes. No, not because h
Trigger warning, panic attack, suicide, ptsd 1 month later, Valetta, Malta I raised my hands wrapped in boxing gloves and tried to relax my shoulders. They shouldn’t be stiff or too high. That would make my belly vulnerable. I put my right leg forward and crouched a little just enough to easy to avoid an attack coming to my face. I looked at the man standing opposite me and once his eyes met mine, I tried to hit him with my right fist. He blocked it as always, but it didn’t’ mean it will stop me from trying to punch him again and again. When I tried to hit him for the fourth time, he raised his fist so quickly I couldn’t even see it before I felt pain on the left side of my head. I staggered backward and shook my head like a wet dog. ‘’ I told you to be careful when you attack because you leave your guard open.’’ Leo’s voice was even and unbothered. On the other hand, I was already breathing with difficulties. ‘’Don’t focus only on attacking. You need to prot
For the first time in a long while, I felt some semblance of satisfaction. Was it because Leonardo, the man I used to love so much without being reciprocated, was standing in front of me? No, definitely, not. It was because of the fear in the eyes of the woman who ordered my death and almost succeeded in taking my life. Her skin was as white as a sheet of paper, and her dark eyes were round with dread. Did I look like that when Xavier took a picture of me and sent it to her? Did she feel the same thing as me now? If the answer was yes, I could truthfully say that I understood her. I sincerely understood why she enjoyed watching the person she hated suffering. My gaze full of malice was promising endless pain if I got the chance to get near her. Noticing the promise in my eyes, she quickly hid behind Xavier. As always. God, I just wanted to see her alone without the protection of her dog. I clenched my jaw, sensing my boiling anger but then forced myself to calm down. I wante
“All it takes is one bad day to reduce the sanest man alive to lunacy. That's how far the world is from where I am. Just one bad day.” Never in my life did I believe there would be a day when a quote from a comic would relate so closely to me. But recently, I started feeling that the bad days in my life are far more than the good. I was so tired of fighting to keep my sanity. To fight to stay afloat of the sea of misery that was pulling me to its depths with every passing day. I didn’t think I had more strength to swim. I gave up.I looked at the woman kidnapped and wanted to torture me for some unknown reason. Earlier I tied her wrist and ankles with the same rope she tied me before breaking free. My eyes found hers, and I noticed the slight trembling of her body. Her nostrils flared because of her heavy breathing, probably caused by her fear. Yes. It wasn’t funny to be let at the mercy of other people. But I was curious. Did I also look that pathetic
When I was left alone, I used the time to go to the bathroom and pull the lid of the toilet bowl. There I sat in for a while, not thinking about anything. I watched the white door blinking and not letting any thought or emotion in my head. For the first time in a while, I felt some semblance of peace. Why was my life like that? In the beginning, I blamed Leonardo and Bianca. But now? After this hallucination, I didn’t know what to think. Was what I saw something created by my stressed subconsciousness? It was possible, but it couldn’t explain the familiarity I felt. I had that feeling of being aware of it at some point but forgetting about it.However, I couldn’t accept the other option. I wasn’t strong enough mentally to do it at this point. So, for now, I would just bury my head in the sand and believe it was a bad dream caused by the constant stress I lived in. I went to wash my hands, and while doing so, the door opened, and another woman came in.
The door opened to a spacious hall bearing an ancient ambience. I blinked confusedly, wondering what was happening. Many people were inside wearing traditional Chinese clothes, their gazes pointing expectantly at the place where I was standing. Just a moment ago, the make–up artist was preparing me for the interview, and now suddenly, I was on some set for an ancient drama tv-series together with many other unknown people. I must be dreaming. But, normally, people didn’t realise they were dreaming while I was keenly aware that what I see wasn’t real. Then my body started moving on its own accord, making everything even more surreal. My back was as straight as an arrow, my head held high and my breathing steady. But deep inside, I was feeling anxious. Why was I moving without wanting it? I felt like a marionette. I tried to move my head around and better look at the environment, but it was impossible. The only thing I could see was the red hem of my clothes and t
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Komen