MasukKeesokan harinya, Sita mengetuk pintu bangunan tempat Reivan dan teman-temannya menginap. Reivan yang sedang bermeditasi membuka matanya, lalu berdiri dan membuka pintu untuk Sita."Selamat pagi," kata Sita dengan nada yang lebih ramah dari biasanya. "Aku akan mengajak kalian melihat-lihat area kamp. Itu pun kalau kalian tidak keberatan."Reivan mengangguk dan berbalik ke arah teman-temannya yang masih tertidur. Bayu dan Siti masih bermalas-malasan di atas tempat tidur masing-masing. Siska dan Raka sudah bangun dan sedang merapikan perlengkapan mereka."Bangun. Kita akan berkeliling kamp," kata Reivan sambil menepuk pundak Bayu dan Siti.Bayu menggeliat dengan mata yang masih setengah tertutup. "Lima menit lagi..."Siti mengerang dan menarik selimutnya. "Kak, aku masih ngantuk..."Raka yang sudah berdiri di dekat pintu hanya tersenyum tipis. "Kalian ini benar-benar hobi membuat Kak Reivan repot ya."Siska menambahkan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "R
Satria menoleh pada Sita. "Sit, aku serahkan tamu-tamu kita kepadamu. Carikan mereka ruangan untuk istirahat. Aku masih ada urusan lain yang perlu kuurus."Sita mengangguk sambil tersenyum. "Jangan khawatir, serahkan mereka padaku. Kau fokus saja dengan urusanmu."Satria kembali menoleh pada Reivan dan kawan-kawannya. Ia tersenyum ramah. "Baiklah, Saudara Reivan. Kalian akan dipandu oleh Sita ke ruangan istirahat kalian."Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berbicara dengan suara rendah agar tak didengar oleh Reivan. "Lakukan yang terbaik untuk memuaskan mereka. Akan lebih baik lagi jika mereka bersedia menetap di sini.""Dimengerti," ujar Sita dengan anggukan kecil. Satria melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sita dan kelompok Reivan di lorong itu.Sita menghampiri Reivan di pintu keluar bersama Bayu, Siti, Siska, dan Raka."Baiklah, teman-teman. Biar kutunjukkan arah kamar kalian." Katanya saat ia sudah berjalan di depan. Reivan dan kawan-kawan mengikuti Si
Mereka tiba di markas Cipeundeuy ketika Reivan dan kawan-kawan turun dari mobil mereka. Sebuah benteng pertahanan dengan tembok kokoh yang tinggi yang dibangun dari beton menyambut mereka. Terdapat menara pengawas di setiap sudut dan lampu-lampu tenaga surya yang menerangi area dalam. Sita yang juga sudah turun dari mobilnya berjalan mendekati Reivan. "Inilah markas kami. Ayo kita masuk." Kata Sita lalu berbalik dan berjalan di depan. Reivan mengangguk ketika ia dan kawan-kawannya bersama Nia dan anggotanya mengikuti langkah Sita. Sita membawa mereka melewati gerbang utama. Beberapa penjaga yang mengenali Wakil Kapten itu langsung memberi jalan tanpa bertanya. "Kapten sudah menunggu kita di dalam. Setelah aku menghubunginya dengan radio, dia sangat ingin bertemu dengan kalian." Katanya ketika tiba-tiba perut Bayu berbunyi. Krruukk! Semua orang menatap Bayu ketika Bayu hanya menyeringai malu. "Ehehehe! Aku sangat lapar..." K
Beberapa menit setelah Mutan Evolusi Dua itu tumbang, Bayu dan Siti sudah kembali berdebat. Kali ini tentang siapa yang paling berjasa dalam pertarungan tadi.Bayu duduk di atas beton dengan tombaknya yang sudah kembali berbentuk sebatang besi. "Kau lihat sendiri, kan? Aku yang pertama melumpuhkan kakinya. Tanpa itu, kau tidak akan punya celah untuk menusuk lehernya dari belakang."Siti mendengus sambil menggulung lolipop di mulutnya. "Halah. Kalau bukan karena pisauku yang menancap di matanya, kau masih sibuk menghindari serangannya sampai sekarang."Siska yang sedang menyimpan katananya menoleh ke arah mereka dengan ekspresi lelah. "Kalian berdua selalu saja berdebat. Mutannya sudah mati, jadi tidak usah ribut soal siapa yang paling hebat."Raka yang duduk di samping Siti hanya tersenyum tipis. Ia menggulung lolipop kedua di mulutnya tanpa berkata apa-apa.Reivan mengembuskan asap cerutunya pelan. "Kalian semua berkembang. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki. Bay
Mutan Evolusi Dua itu mengaum ke arah kumpulan manusia yang ada di hadapannya."ROAR!""MO-MONSTER!" teriak empat orang rekan Nia yang masih hidup."Kalian pergilah dulu." Kata Reivan saat matanya tak lepas dari Mutan Evolusi Dua itu."Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Nia. "Bukankah lebih bagus jika kita melawannya bersama?" Reivan menatapnya dengan mata sedikit menyipit. "Kalian hanya akan menjadi pengganggu bagi kami. Jadi biarkan kami yang menyelesaikan yang satu ini."Reivan menoleh pada Sarah, temannya Nia. "Bawa teman kalian pergi dari sini."Sarah mengangguk ketika ia menarik Nia menjauh. "Ayo, Nia! Kita harus menjauh sebelum terlambat!"Mereka berdua berlari menjauh ketika Nia menoleh ke belakang dan berkata. "Bertahanlah! Kami akan mencari bantuan!" Teriak Nia. Sementara Mutan Evolusi Dua itu kembali mengaum."Roar!"Ia melesat maju ke arah kelompok Reivan. Reivan melesat ke depan dan menendang Mutan itu."Diamlah! Jangan berisik!" K
"Lariiiiii!" teriak teman-teman Dimas ketika di belakang mereka para Mutan mengejar."Roar! Roar! Rawr!"Sambil berlari menjauh, Dimas menoleh ke belakang ketika menembakkan pistolnya.Dor! Dor! Dor!"Matilah kalian, binatang! Jangan mendekat!" kata Dimas sambil terus menembak para Mutan.Sarah yang berada di depan berseru. "Tidak! Di depan jalan buntu!" Katanya saat melihat tembok tinggi yang ada di depan mereka. Sementara Dimas terus menembak dan melawan para Mutan, ia berkata. "Kalian tunggu apa lagi! Ayo cepat keluarkan senjata kalian! Teriaknya pada teman-temannya di sela dirinya terus menembaki para Mutan. Lalu ia melihat Nia yang melawan Mutan dengan tongkat."Oi, Nia! Di mana senjatamu?"Nia yang mengayunkan tongkatnya untuk menghantam salah satu Mutan yang mendekat ke arahnya berkata. "Aku memberikannya pada anak-anak tadi!"Dimas menoleh padanya. "Bodoh! Kita di sini tidak bisa melindungi diri sendiri, dan kau malah memberikan senjatamu pada merek







