เข้าสู่ระบบBayu masih terengah-engah di lantai. Suara benturan dari luar terus terdengar, membuat jantungnya belum bisa melambat."Mereka terus mendobrak diluar.. Gimana kalau mereka berhasil masuk?" Bisik Bayu.“Tenang, rolling doornya masih kuat.”Jawab Reivan tanpa menoleh.“Asal jangan berisik, mereka akan pergi sendiri” Ujarnya ketika Reivan menyapukan senternya ke seluruh ruangan. Cahaya senternya seketika memperlihatkan debu yang beterbangan di udara. Ruangan bekas toko kelontong itu terlihat kacau, rak-rak besi berserakan, kaleng-kaleng makanan tercecer di lantai."Kau periksa area dapur. Aku akan periksa gudang," Putus Reivan."Sendirian?""Aku butuh kau buat mastiin nggak ada Mutan yang masuk lewat pintu belakang."Bayu menelan ludah, lalu mengangguk. "Oke... Oke."Ia berjalan pelan ke arah dapur dengan tongkat terangkat. Reivan bergerak ke arah gudang sambil menyapu setiap sudut dengan senter.Langkah kaki mereka menggema pelan di lantai keramik keti
Mereka keluar dari gang dan kembali ke jalan utama. Di depan sana, sebuah minimarket masih berdiri dengan pintu terbuka lebar.Beberapa orang terlihat berlarian keluar sambil membawa kardus-kardus makanan dan botol-botol air mineral, tapi mereka langsung dihadang oleh segerombolan Mutan yang muncul dari arah berlawanan."TOLONG! TOLONG KAMI!""JANGAN TINGGALIN AKU DI SINI!""ARGHHH!"Kekacauan terjadi dalam hitungan detik. Satu per satu orang-orang itu diterkam. Darah segar berceceran di trotoar, dan jeritan bercampur dengan erangan monster yang terus bertambah banyak.Reivan menghitung dengan cepat. “Tujuh puluh empat...”"Kita tidak jadi lewat sini. Mari lewat gang belakang saja," katanya sambil menarik Bayu ke arah lain.Mereka menyusuri jalan kecil di belakang deretan pertokoan. Di sini lebih sepi, tapi bukan berarti aman. Belum juga seratus meter, seekor Mutan muncul dari balik pintu belakang sebuah restoran cepat saji yang terbuka. Makhluk itu masih m
Reivan dan Bayu akhirnya meninggalkan area sekolah melalui gerbang belakang yang sudah terbuka lebar. Begitu mereka melangkah keluar, pemandangan yang menyambut langsung membuat Bayu berhenti di tempatnya. "Ya Tuhan... Kacau sekali..." bisiknya dengan mata membelalak lebar. Tangannya yang memegang tongkat baseball turun ke samping tubuhnya, dan rahangnya menganga tidak percaya. Jalanan yang dulu selalu ramai dengan kendaraan bahkan sering macet di jam-jam sibuk, kini telah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Mobil terbakar di mana-mana, asap hitam mengepul dari sisa-sisa kendaraan yang hangus. Mayat-mayat bergelimpangan di trotoar dengan luka yang mengerikan. Dan di kejauhan, Bayu bisa melihat mereka. Puluhan Mutan berkeliaran di persimpangan jalan. Jumlahnya bahkan terus bertambah seiring waktu. "Jumlah mereka sangat banyak dan semakin bertambah..." gumam Bayu. "Karena itu kita nggak boleh lewat jalan utama terlalu lama. Ayo, ikuti aku," kata Reivan sambil mul
Beberapa saat mereka hanya diam di halaman parkir belakang. Bayu masih bersandar ke dinding dengan napas yang belum sepenuhnya teratur. Matanya menatap kosong ke arah pintu darurat yang baru saja mereka lewati.Lalu, perlahan, ia menurunkan tongkat baseballnya sampai ujungnya menyentuh tanah. Tangannya masih gemetar, tapi ia mencoba mengatur napas."Aku mengerti tentang kejadian di kehidupanmu sebelumnya, Van," ucapnya akhirnya, suaranya masih bergetar. "Tapi aku ingin mendengar penjelasan yang lebih jelas."Ia menatap Reivan dengan raut penuh kebingungan."Siapa sebenarnya mereka di kehidupanmu sebelumnya? Dan apa yang sudah mereka lakukan sampai-sampai kau bisa setega itu ke mereka?” Reivan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah mobil tua yang terparkir di dekatnya, lalu duduk di bemper depan mobil itu. Lalu tongkat baseballnya ia letakkan di pangkuannya. Pundaknya merosot, dan kepalanya sedikit tertunduk. "Mereka memanfaatkan ku yang masih naif dan terlalu muda
Reivan dan Bayu akhirnya mencapai pintu yang mengarah ke area parkir belakang sekolah mereka. Tangan Reivan sudah menyentuh gagang pintu dan siap membukanya. Tapi sebelum ia bisa melakukannya, suara teriakan histeris dari arah lorong utama menghentikan langkah mereka berdua. "KYAAAAAA! TOLOOOONG! TOLONGIN KAMI! ADA MONSTER YANG NGEJAR KAMI!" Reivan menoleh ke sumber suara itu. Matanya seketika menyipit, dan rahangnya mengetat. Bayu yang berdiri di sampingnya juga ikut menoleh, dan ia langsung mengenali suara itu. "Van, itu kan suaranya Nadia!" bisiknya sambil mengintip ke arah lorong utama. Dari ujung koridor, tiga sosok muncul dengan berlari terbirit-birit. Nadia berada di depan, dengan tampang yang sudah acak-acakan, sangat kontras dengan yang Reivan lihat beberapa jam sebelumnya. Di belakangnya, Angga dan Rifan berlari dengan wajah panik, napas mereka memburu, dan pakaian mereka sudah robek di beberapa bagian.Sesaat setelah melihat kemunculan mereka be
"Buruan, Yu!"Reivan menarik lengan Bayu saat menyusuri koridor yang mulai dipenuhi asap tebal dan debu. Sesekali terdengar suara erangan Mutant yang menggema di sepanjang lorong yang membuat suasana semakin mencekam.Bayu berlari di belakang Reivan dengan napas memburu. Tangannya terus mencengkeram tongkat baseball itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya masih dipenuhi oleh gambaran mengerikan yang terjadi pada Bu Ratna baru saja."Van!" panggil Bayu di antara napasnya yang tersengal. "Kita mau ke mana? Kenapa kita nggak ikut yang lain ke lapangan saja?"Reivan tidak menjawab. Ia terus berjalan cepat ketika matanya terus memindai koridor yang mulai dipenuhi asap."Van!" Bayu menarik lengan Reivan. "Lapangan itu tempat paling luas! Kita bisa lari ke sana!"Reivan berhenti lalu menoleh, menatap Bayu dengan sorot yang membuat sahabatnya itu melepas cengkeramannya."Terlalu banyak orang di sana. Dan begitu salah satu dari mereka berubah…” Reivan menatap Bayu







