Share

3. Pewaris Sah

Kereta kuda yang membawa mimpi buruk Felen telah sampai di depan gerbang, dan tinggal menunggu waktu untuk berhenti tepat di depan ia berdiri saat ini. Kereta kuda tersebut mengantarkan Abelard, calon penerus Barend. Anak laki-laki yang mungkin akan merebut semua perhatian Barend darinya.

Barend bahkan dengan sengaja memerintah Felen untuk ikut menunggu kedatangan Abelard. Menolak pun percuma karena perintah ayahnya itu mutlak. Entah niat apa yang dimiliki Barend dengan melakukan hal seperti ini.

Tidak lama, seperti dugaan Felen, kereta kuda yang membawa Abelard berhenti di depan pintu. Saat pintu dibuka oleh kepala pelayan, seorang anak laki-laki yang tingginya tidak berbeda jauh dengan Felen, melangkah keluar. Barend yang berada di samping Felen maju ke depan seraya merentangkan kedua lengan untuk menyambut kedatangan Abelard.

"Abelard, anak kandungku sekaligus pewarisku," ucap Barend lantang. Seolah sengaja menyindir Felen yang dikabarkan merupakan anak haram Aghnya dengan pria lain, padahal Felen dan Barend memiliki warna mata sama yang menegaskan ikatan darah keduanya.

Suasana hangat di antara Barend dan Abelard membuat Felen sangat iri. Anak laki-laki yang entah berasal dari mana itu berhasil mengambil alih posisi Felen, dan membuat semua usahanya agar bisa dianggap oleh Barend menjadi sia-sia serta tak berarti. 

Kehadiran Felen di sana bahkan hanya menjadi pelengkap yang tidak penting. Ketika Abelard, Barend dan para pelayan memasuki manor pun, ia justru ditinggalkan begitu saja. Felen tertawa miris atas perlakuan tidak adil tersebut.

Setelah mengambil napas panjang demi menghalau air mata yang hampir tumpah, Felen melangkah pelan memasuki manor. Ia merasa sangat malas kalau harus ikut merayakan penyambutan Abelard, dan ingin langsung masuk ke dalam kamar saja. Namun, Barend tidak akan membiarkan Felen melakukan hal itu.

Di ruang utama yang sudah dihias oleh berbagai macam pernak-pernik, pesta penyambutan Abelard dilaksanakan, dan pemeran utama hari itu tengah tertawa bahagia. Felen tidak memedulikan hal tersebut. Matanya justru mengedar ke sekeliling, mencari keberadaan Aghnya yang sudah lama tidak ia lihat. Namun, ibunya itu tidak terlihat di mana pun.

"Felenia, dari mana saja kau? Ayo, perkenalkan dirimu pada adikmu, Abelard." Suara Barend naik beberapa oktaf, membuat Felen sedikit terkejut.

"Ah, baik, Papa." Meski Felen menjawab patuh dengan nada biasa, ia sebenarnya sedang sangat kesal.

"Aku Felenia Sashenka Henzie, salam kenal," ucap Felen memperkenalkan diri dengan nama belakang keluarga Aghnya. Ia sengaja melakukan itu sebagai bentuk pemberontakan kecil pada Barend.

Satu hal yang menjadi perhatian Felen saat berhadapan dengan tatapan lekat Abelard adalah mata anak laki-laki itu. Hijau seperti matanya dan mata Barend. Ciri khas yang hanya dimiliki oleh keturunan keluarga Leister.

"Halo, Kakak. Aku Abelard Philip Leister."

Cara Abelard yang memperkenalkan diri layaknya bangsawan muda berpendidikan, membuat dahi Felen mengernyit dalam. Menurut gosip yang beredar di antara para pelayan, Abelard hanyalah rakyat biasa dari daerah kumuh. Namun, sikap anak laki-laki itu tidak menunjukkan hal tersebut. Justru memperlihatkan kesempurnaan yang menimbulkan keheranan.

Sejak merasakan keanehan dari sikap Abelard, Felen sebaik mungkin untuk tidak berpapasan dengan anak laki-laki itu, apalagi sampai berada dalam satu ruangan. Terkecuali atas perintah Barend. Seperti sekarang ini, menghabiskan waktu dengan minum teh bersama di rumah kaca. 

"Kakak, kau melamunkan apa sampai tidak menyentuh camilan enak ini? Apa kau sakit? Kau tampak pucat," tunjuk Abelard pada berbagai jenis kudapan manis dan asin terhidang di atas meja, lalu kembali memerhatikan Felen dengan lekat.

Felen berjengit, lalu menatap ragu pada Abelard yang tengah menampilkan ekspresi khawatir. Berbanding terbalik dengan bibirnya yang tersenyum manis. Entah kenapa, ia merasa kalau aura yang dikeluarkan Abelard sangat gelap dan mengintimidasi.

"Aku ... baik-baik saja. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," balas Felen mengelak.

Alasan Felen menghindari Abelard adalah karena ia merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan Abelard. Anak laki-laki yang sikapnya terlampau dewasa dari umurnya tersebut seperti terus menerus memperhatikan gerak-gerik Felen.

Kelihaian Abelard beradaptasi dalam lingkungan bangsawan yang ketat oleh etika, dan tidak tampaknya kecanggungan ketika berinteraksi dengan Felen serta para pelayan menumbuhkan kecurigaan dalam diri Felen. Bagaimana pun sikap dan pembawaan Abelard terlalu sempurna. Tanpa celah, seolah sudah terencana dengan baik.

"Aku sekarang yakin kalau pikiran Kakak sedang tidak berada di sini."

Sebelah ujung mata Felen berkedut ketika tebakan Abelard tepat sasaran. Namun, ia berusaha menyembunyikannya dengan tidak menyangkal secara berlebihan.

"Aku memang sedikit memikirkan sesuatu, tapi itu bukan hal penting." Senyum tipis tersemat di bibir Felen.

"Daripada itu--" Ucapan Felen seketika terhenti saat kucing hitam yang mulai menetap di kamarnya meloncat ke atas meja kecil di mana teh dan beberapa kudapan manis dan asin tersaji.

"Goldie!" Tanpa sadar Felen berteriak cukup kencang, melupakan etika kebangsawanan yang sebelumnya ia junjung tinggi. Fokus Felen yang tertuju pada kucing hitam tersebut membuatnya sejenak melupakan kehadiran Abelard yang tengah menatap horor pada hewan berbulu lembut itu. 

Abelard tampak ketakutan hingga secara perlahan mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari kucing hitam tersebut. Namun, kucing itu justru malah semakin mendekat, dan mau tidak mau membuat Abelard semakin mundur. Tidak menyadari bahwa sebuah kolam dengan kedalaman lima meter berada di belakangnya.

"Awas--"

Seruan Felen yang berusaha memberitahu Abelard tentang kolam di belakangnya sudah terlambat karena anak laki-laki itu langsung terjengkang melewati pembatas, kemudian tercebur ke kolam tanpa sempat menyeimbangkan diri.

Felen yang melihat Abelard tidak bisa berenang, dan mencoba untuk tetap berada di permukaan air meski tampak kesulitan, tidak langsung memanggil pelayan untuk menyelamatkan adik tirinya itu. Ia hanya terdiam di tempat sembari memeluk erat Goldie-- kucing hitam bermata emas, dalam pangkuan tangan.

"Fele--nia! Tolong ... !"

Tidak peduli sekeras apa pun suara Abelard yang meminta tolong, Felen tetap terpaku di tempat. Ia merasa Abelard layak mendapatkan hal tersebut karena telah menghancurkan keharmonisan keluarganya secara tidak langsung. Akan tetapi, pikiran tersebut tidak berlangsung lama ketika salah satu pelayan meneriakkan nama Abelard, kemudian meminta bantuan pelayan lain untuk membantu menolong Abelard.

Pelayan yang pertama datang langsung meloncat masuk ke dalam kolam demi menyelatkan Abelard. Tidak lama, pelayan lain mulai berdatangan secara berbondong-bondong. Felen yang sejak tadi hanya diam saja, mulai merasakan kepanikan ketika mendengar suara Barend yang menggelegar.

"Apa-apaan ini?!" Meski raut wajah Barend terlihat datar, dan nada suaranya tenang, jejak kepanikan terlihat di mata pria itu.

Para pelayan yang berada di sana hanya menunduk ketakutan. Mereka tidak bisa memberikan penjelasan karena tidak melihat kejadian secara langsung. Sedangkan Abelard yang baru diselamatkan, tidak memungkinkan untuk bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Anak laki-laki itu hanya mampu terbatuk keras akibat air yang masuk ke tenggorokan.

Namun, mata Abelard yang menatap lekat pada Felen, seketika membuat Barend berasumsi buruk. Ia menghampiri anak pertamanya itu dengan langkah lebar. "Apa yang kau lakukan padanya? Kau mendorongnya? Apa kau berniat melukai penerusku?" tanya Barend beruntun tanpa jeda.

"Ti-- tidak, Papa. Aku tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu." Suara Felen bergetar. Pandangan sinis Barend membuatnya ciut.

Barend tidak mengalihkan tatapan matanya dari Felen untuk beberapa detik. Ia tidak melihat adanya kebohongan, tetapi emosinya yang sedikit kalap membuat Barend melihat Felen sebagai pelaku.

"Berbohong hanya akan membuat hukumanmu semakin berat, Felenia." Barend berucap dingin dengan sorot mata yang membuat Felen terbungkam.

Felen berdiri gamang dengan tangan terkepal erat. Hatinya sakit karena Barend tidak mempercayai perkataannya sama sekali, padahal ia tidak mendorong Abelard. Meski Felen sebenarnya tetap bersalah karena tidak langsung memanggil bantuan ketika Abelard tenggelam semakin dalam ke dasar kolam.

"Bawa Abelard ke kamarnya, dan segera panggilkan dokter!" perintah Barend tegas. Lalu, matanya kembali beralih pada Felen. Memandang tajam anak pertamanya tersebut.

"Dan kau Felenia, datang ke ruanganku setelah makan malam."

Belum sempat Felen menjawab, Barend lebih dahulu pergi bersama para pelayan. Lagi-lagi meninggalkan Felen yang masih terpaku di tempat.

"Baik, Papa," lirih gadis itu di antara keheningan.

Air mata yang tadi Felen tahan, luruh di kedua pipi. Ia terisak pelan sembari menutup kedua mata dengan lengan. Kucing hitam bermata emas yang berada di dekat Felen menguselkan tubuhnya pada kaki gadis itu. Mencoba menghibur tanpa kata, dan memberitahu Felen kalau ia tidak benar-benar sendirian.

Meski Felen masih terisak, senyum kecil kini tersemat di bibirnya. Ia berjongkok, lalu mengelus lembut bulu hitam kucing tersebut. Perasaan gadis itu sedikit membaik dengan kehadiran kucing tersebut. Walau tetap saja rasa sesak di dadanya tidak hilang secara sempurna.

 

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status