تسجيل الدخولI was five months pregnant when my husband, James Fletcher, allowed his mistress to invade our lives—on the very night of our wedding anniversary. But she didn’t just come to flaunt her presence. She came to take my life. Pregnant and vulnerable, I confronted her, desperately clinging to my dignity. But the fight ended with me tumbling down the staircase, my swollen belly crashing against the cold, hard ground. Blood seeped across the floor, vivid and unrelenting. James only arrived after hearing about his precious mistress’ ordeal. He stood there, staring at the pool of blood, at my broken body. But instead of helping me, he rushed to her side. She had nothing but a few superficial scratches, yet he swept her off to the hospital like she was the one dying. By the time he returned, my child was gone. The doctors barely managed to save me. And what did James do? He struck me in front of everyone, his words sharper than the sting of his hand. "Lisa only wanted to bring you a Christmas gift, and you attacked her out of nowhere! You shameless witch!" “She didn’t force her way in! What nonsense! I gave her the house key ages ago. You just can’t stand that she’s prettier and kinder than you!" “You didn’t just hurt her. You killed my child! You vile, despicable woman. Why couldn’t it have been you instead?” Lisa stood beside him, pretending to comfort him while flashing me a smug, victorious smirk. James’s vicious tirade didn’t stop there. He dragged my name onto the internet, painting me as a monster.
عرض المزيد"Hei ... kamu jangan kurang ajar ya?"
Kudorong kuat kepala lelaki yang bersandar dibahu ini. Risih rasanya tubuh ini terlalu mepet dengan lelaki yang duduk disebelahku. Bisa-bisanya dalam perjalanan, dia tidur begitu nyenyak. Jangan-jangan dia pura-pura tidur. Biasalah. Lagu lama.Tidak ingin mendapatkan pelecehan, aku meraih tas dan menutup bagian dada dan menyilangkan kedua tangan disana.Kesal juga sama petugas loket saat aku meminta sebangku dengan perempuan tetapi mereka tidak menggubrisnya.Begini jadinya, sebangku dengan lelaki berotak mesum. Pasti dia sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka memandang rendah dan hina terhadap wanita. Seakan dia bukan lahir dari rahim seorang perempuan.Dia pikir perempuan itu murahan dan akan diam saja jika diperlakukan rendah seperti ini. Tidak. Wanita itu tidak boleh lemah, bila perlu musnahkan saja lelaki tidak berguna seperti ini. Biar tahu rasa."Maaf, saya mengantuk sekali!" ujarnya seraya menangkupkan kedua tangan di dadanya."Kalau mengantuk, tidurnya di rumah. Bukan di bahu saya!" Aku memutar bola mata malas melihat sandiwara lelaki berotak kotor tersebut."Maaf!" Lelaki itu berusaha menggeserkan tubuhnya."Tolong hargai wanita. Bagaimana jika ibu atau adik perempuan Anda diperlakukan seperti itu!" bentakku sehingga semua mata tertuju kearah ke arah kami."Maaf saya tidak sengaja, Mbak. Kan sudah saya bilang, saya gak sengaja!" ucapnya tersenyum sehingga menampakkan gigi putih berjejer rapi."Alasan!" gumamku dengan memelankan suara tapi aku yakin dia mendengarnya."Terserah kamu mau menuduh apa." Lelaki berhidung mancung itu terdiam seribu bahasa. Mungkin dia malu karena sudah berbuat hal memalukan. Memang pantas dia dipermalukan seperti tadi biar tidak ada lagi korban-korban berikutnya."Ngomong-ngomong mau kemana, Mbak!" tanyanya seraya memperbaiki duduk lebih tegak dan menjauh dari tubuh ini. Ternyata dia belum kapok juga. Tebal pula mukanya."Mau pulang," jawabku ketus."Pulang kemana?" Malah nanya lagi. Tidak tahu dia, lawan bicaranya sudah ingin menelan dia hidup-hidup."Ke rumah lah. Emang mau kemana lagi," jawabku jutek."Iyalah saya tau. Maksud saya, rumah Mbak dimana? Gak mungkin kan, kamu tinggal di goa?" tanyanya bagaikan sedang menginterogasi tersangka saja."Kalau saya tinggal di goa, kenapa? Masalah buat kamu?" hardikku geram."Kok galak amat sih! Jadi perempuan itu, gak boleh terlalu galak, Dek. Nanti suaminya tidak betah di rumah." Dih ... mau muntah rasanya dia memanggilku dengan sebutan dek. Sok akrab. Semenjak kapan aku menjadi adeknya. Sok kecakepan lagi. Eh ... tunggu tunggu tunggu. Emang cakep juga sih. Tapi aku tidak mau mengakuinya. Entar dia jadi besar kepala."Apa urusan kamu dengan suami saya?""Mbak, santai. Jangan marah-marah saja! Ntar kena darah tinggi. Kasihan masih muda!"Lelaki ganteng tersebut tersenyum begitu manisnya. Hah? Ganteng? Tidak tidak. Aku tidak boleh tergoda dengan lelaki berwajah tampan tapi berotak jorok itu. Biasanya mereka mencari mangsanya dengan bermodalkan wajah ganteng. Dan aku tidak boleh terkecoh sedikitpun."Oh jadi maksud Anda, wanita tidak boleh marah-marah, biarpun harga dirinya sudah diinjak-injak? Saya tanya, apakah Anda akan diam saja, jika adik Anda dilecehkan oleh lelaki hidung belang macam Anda?"Enak saja kalau berbicara. Jadi wanita diam saja jika ada lelaki yang melecehkan. Tidak untuk aku. Sebagai seorang wanita harus mempertahankan harga dirinya walaupun harus mengorbankan nyawa sekalipun."Bukan begitu maksud saya!" Aku tidak memedulikan lagi dia mau berkata apa.Jujur ... aku takut duduk berdekatan dengannya. Bisa jadi 'kan, lelaki itu salah satu komplotan perdagangan manusia yang sedang mencari mangsa.Mereka tidak pernah menghargai wanita. Seakan-akan wanita ini objek pelampiasan nafsu bejatnya."Saya bukan lelaki hidung belang! Nama saya Sidik," lelaki berjaket hitam itu mengulurkan tangan menyebutkan namanya. Namun tidak aku sambut."Markonah!" ucapku dengan berbohong seraya memalingkan wajah ke luar jendela. Coba seandainya mas Arkan mengantarkan aku tadi, mungkin aku tidak akan berjumpa dengan lelaki menyebalkan seperti saat ini."Hmmm ... nama yang bagus!" ucapnya seraya manggut-manggut kepala dan satu tangannya memegang dagu. Seperti profesor yang sedang berfikir keras. Namun, aku tidak tahu apa yang sedang dia fikirkan."Terima kasih," jawabku singkat."Sudah menikah?"Pertanyaan lelaki itu membuat aku tidak nyaman. Kenapa dia bertanya aku sudah menikah atau belum. Apa dia tidak bisa membedakan wanita sudah menikah atau masih gadis? Apakah aku nampak sudah sangat tua sehingga dia bertanya seperti itu?"Udah," jawabku berbohong lagi.Mungkin dengan mengatakan sudah menikah dia tidak akan terlalu ramah lagi seperti saat ini."Oh ..." jawabnya."Kenapa tidak diantar sama suami. Kalau saya punya istri kelak, tidak akan saya biarkan dia kemana-mana sendirian. Kasian. Apalagi malam-malam begini. Syukur-syukur bertemu orang baik seperti saya, coba kalau teman sebangku kamu lelaki berotak mesum. Pasti kamu sudah digeranyanginya,"Dih ... dia mengaku lelaki baik? Padahal barusan dia sengaja tidur dipundakku. Apa itu namanya lelaki baik-baik? Tidak sadar diri."Gak sempat. Lagi banyak kerjaan," jawabku ketus.Ternyata jawabanku tidak juga membuatnya diam. Lelaki yang bernama Sidik bercerita lagi. Tentang keluarganya dan masa depannya.Dia juga bercerita tentang kekasih yang telah mengkhianati disaat dia sedang melaksanakan pendidikan. Aku tidak tahu dia mengikuti pendidikan apa dan juga tidak mau tahu makanya tidak ada niat untuk menanyakan. Memangnya gue pikirin?Malam, semakin larut. Dalam bus ini rasanya cuma kami berdua saja yang masih terjaga.Hanya kami berdua yang masih bersuara, sementara yang lainnya sudah terlelap larut dalam mimpinya.Ciiit.Suara decitan rem mobil secara mendadak, membuat penumpang jadi berteriak histeris."Bang, hati-hati! Jangan ngebut! Ingat keselamatan penumpang! Kalau ngantuk istirahat saja dulu!" teriak lelaki disebelahku. Dia menegur pak supir yang ugal-ugalan mengemudi bus tanpa memikirkan kenyamanan penumpang."Kalau pelan-pelan, tidak akan sampai," jawab sopir membuat Sidik kesal."Sampai kemana, Bang. Rumah sakit apa kuburan." Lagi-lagi mereka berdua beradu argumen."Kalau kamu keberatan, turun saja. Satu orang penumpang berkurang tidak masalah bagi kami. Aku akan mengembalikan uangmu dua kali lipat," cicit supir itu dengan sombongnya."Kurang ajar dia." Tak berapa lama Sidik bangun dan menghampiri supir dan menghentikan laju bus tersebut."Bang, jangan dilayani. Dia sedang dalam pengaruh narkoba," ujar lelaki yang duduk disebelah supir tadi, menambah suasana semakin gaduh."Apa?" tanyanya dengan mata melotot."Gila ini supir. Gara-gara dia sendiri bisa hilang nyawa puluhan orang!" Maki Sidik lagi."Berhenti di Polsek," perintahnya."Kamu mau turun di polsek. Tidak ada kantor polsek dekat sini. Jauh!" bentak pak Sopir."Jauh moyangmu! Cepat berhenti!" perintahnya lagi."Bagaimana mengenderai bus umum sementara dia sendiri konsumsi narkoba. Apa tidak tau kalau berkendara itu membutuhkan pikiran yang sehat dan cerdas karena harus mengontrol keselamatan!" ujar Sidik dengan wajah memerah menahan amarah."Siapa yang mengkonsumsi narkoba. Jangan main tuduh saja kau!""Udah, aku bilang berhenti disini. Dan kamu ikut saya ke kantor polisi," perintah Sidik. Dia bergerak cepat memborgol kedua tangan pak supir. Entah dari mana lelaki berhidung mancung itu mendapatkan borgol tersebut."Eh apa-apaan ini," ujar supir bus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lelaki berambut cepak tersebut."Anda telah membahayakan keselamatan penumpang. Segera ikut saya!" Setelah bus berhenti, dia menarik tubuh pengemudi bus itu dengan kuat sehingga dia bangun dari bangku supir. Kemudian Sidik menarik kasar supir tadi hingga keluar dari dalam bus. Ternyata diluar sudah ada tiga orang pria berpakaian seragam coklat menunggunya."Cek urine," perintahnya pada tiga polisi tadi.Memangnya Sidik ini siapa? Berani-beraninya memerintahkan polisi tadi. Apa jangan-jangan dia polisi juga? Atau tentara? Tapi kalau dia polisi atau tentara, kenapa dia cerewet sekali ya? Biasanya mereka itu, sedikit berbicara tetapi banyak bertindak.With everything finally settled, I returned to the company’s headquarters a few days later to officially take up my position. I dedicated myself to my work, managing the business with great success. A month later, my lawyer informed me that James’ company had suffered a massive stock crash due to the scandal, leading to its eventual bankruptcy. Not long after, James took his own life in prison, unable to face his downfall. As for Lisa, she lost her sanity after learning in prison that I was the heiress of a powerful family. Consumed by jealousy and hatred, she was eventually sent to a psychiatric hospital. Bound in a straitjacket, she now lived a life worse than death. I shook my head lightly and said, “There’s no need to tell me about them anymore. They have nothing to do with me now.” The sun streamed through the window, warm and golden. Stretching lazily, I began to think about where I should go for my next vacation.
As the doctor tended to my wounds, my parents stayed by my side. When my mother saw the scar on my abdomen, she broke down in tears, sobbing over how I could have been treated so cruelly. I reached out to comfort her. "Mom, don’t worry. Everyone who has hurt me will pay the price." While I was recovering in the hospital, Lisa sent me another video, flaunting her life once again. This time, it was of James lighting fireworks for her. Meanwhile, James bombarded me with furious text messages, demanding to know why I had "killed" the baby. He called me a cold-hearted and vicious woman. I laughed bitterly to myself. In his mind, I was always the villain, and Lisa was the eternal innocent. I didn’t bother replying. I blocked his number and focused on resting in the hospital. During this time, my family cared for me attentively. I also requested the security footage from my company that showed James assaulting me and handed it over to my lawyer. As the day of their proposal drew
During my time at work, Lisa remained relentless, constantly sending me intimate photos of her and James. She even had the audacity to send me pictures of them in bed. They spent this time traveling to various destinations, with James pulling out all the stops—fireworks displays and every other romantic gesture he had once used to win me over, now lavished on Lisa. Looking at these photos, I felt nothing. Absolutely nothing. Whenever I blocked her number, she’d immediately find another way to send more photos. Her persistence was almost admirable in its absurdity. A few days later, our company had an important business meeting. Thanks to my growing competence, my manager decided to bring me along. Only when we arrived did I realize our client was none other than James. When Lisa saw me, there was a fleeting moment of surprise before her eyes gleamed with disdain. “Well, if it isn’t Kailey,” she sneered. “How do you even have the nerve to show your face in public? What kind
For years after our marriage, I had been a housewife to James, leaving behind many of the skills I had once honed to manage the family business. After the divorce, returning to my family meant starting over, and the first step was relearning everything I had lost.I asked my parents to conceal my identity and joined one of the family-owned companies as an intern, beginning with an entry-level management position. However, the aftermath of the online harassment was far worse than I had anticipated. On my first day, I was immediately ostracized by my colleagues. Gossip about me circulated in whispers that were anything but discreet. Even my manager took pleasure in making my life difficult, assigning me endless tasks that kept me working late into the night. But this was exactly what I needed. I poured all my energy into learning and rebuilding myself, ignoring the social challenges. My only focus was on becoming capable enough to take over the family business as quickly as possi


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
المراجعات