LOGINAfter a devastating breakup with Zane his unfaithful ex boyfriend, and the collapse of his family, Jude’s world couldn’t get more complicated — until it does. A drunken night leaves him waking up in a stranger’s bed, with no memory of how he got there. Oliver claims he only helped, but Jude doesn’t believe a word. Then the unthinkable happens: Oliver walks through his front door, introduced as the son of his father’s new girlfriend. Forced to live under the same roof, Jude’s suspicion grows — and so does the pull between them. But the closer they get, the more tangled the lies become. Some connections were never meant to happen. Some are impossible to escape.
View More“Mau sampai kapan kita nampung Kak Alina? Aku tuh nggak bebas. Mau apa-apa ngerasa nggak enak, mau beli ini takut diceramahi, mau jalan-jalan takut dinasihati. Lama-lama aku tuh nggak nyaman ada dia di sini. Kakak kamu itu sudah berumur kenapa nggak nikah? Jadi beban saja! Pantas saja Tuhan belum kasih kita momongan, soalnya kita masih ada beban Kak Alina!”
“Kenapa kamu ngomong seperti itu? Bukankah dulu sebelum kita nikah, kamu setuju serumah dengan Kak Alina?” Alina berhenti mengulurkan tangan menyentuh gagang pintu saat mendengar suara adik iparnya. Dia mendengar iparnya mempermasalahkan dirinya tinggal di sana lagi. Ini bukanlah yang pertama kali Alina mendengar iparnya berdebat dengan sang adik. “Mau bagaimanapun, Kak Alina itu kakakku, Karin. Dia yang membesarkan dan bertanggung jawab kepadaku sampai aku besar. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, apalagi membiarkannya hidup sendirian di luaran sana.” Alina masih berdiri termangu di depan pintu, mendengarkan sang adik yang selalu membela dirinya. “Tapi kamu itu sudah punya istri, Dan. Harusnya kamu mengutamakanku, bukan Kak Alina. Kalau kamu nggak mau Kak Alina pindah, ya sudah aku saja yang pindah!” Alina sangat terkejut mendengar ancaman Karin. Dia harus bertindak dan bertanggung jawab atas pertengkaran Dani dan Karin karena keduanya selalu bertengkar hanya karena meributkan keberadaannya di sana. Alina menarik napas panjang lalu mengetuk pintu tepat saat Dani sedang membujuk Karin agar tak melakukan yang dikatakan istrinya. “Kak.” Alina melihat raut wajah Dani yang terkejut dengan kedatangannya, lalu dia melihat Karin langsung memalingkan muka tampak kesal. “Ada yang mau aku bicarakan,” kata Alina sambil memulas senyum tipis di wajah. Alina melihat Dani mengangguk, lalu dia mengajak duduk Dani dan Karin di ruang tamu. Alina hanya ingin menyelesaikan pertengkaran yang terus terjadi. “Begini, aku mau izin pindah,” ucap Alina. Alina melihat sang adik kembali terkejut, sedangkan iparnya tampak langsung tersenyum. Alina tersenyum tipis. Wajar mereka bereaksi seperti itu setelah ucapannya tadi. Ini keputusan mendadak, Alina juga tidak tahu akan bagaimana setelah ini, tetapi dia harus melakukannya demi pernikahan sang adik. “Nggak, Kak. Aku tidak mengizinkan.” Sudah bisa ditebak sang adik akan menolak. Alina menatap Dani yang tak setuju, lalu menoleh pada iparnya yang kembali kesal. “Aku nggak mengizinkan Kak Alina tinggal di luar sendirian. Selama aku masih ada, untuk apa Kak Alina tinggal sendiri?” “Aku tidak akan sendirian, sebenarnya aku sudah punya kekasih dan kami berencana menikah. Karena itu aku izin dulu, sekalian menyiapkan semuanya,” ujar Alina sambil memulas senyum. Akan tetapi, dalam hati dia merutuki kebodohannya sendiri. Hanya saja, itu satu-satunya ide yang terlintas di benaknya tadi. Alina terpaksa berbohong agar Dani mengizinkan serta agar bisa menyelamatkan rumah tangga adiknya. Dia tak bisa mendengar Dani terus menerus terlibat percekcokan dengan Karin. Alina tahu adiknya pasti tidak percaya, tetapi dia berusaha untuk terlihat santai. “Baiklah, kalau memang benar seperti itu, tapi aku harus tahu dulu, siapa pria yang akan menikah dengan Kak Alina,” ujar Dani. Alina mengangguk lalu membalas, “Tentu saja, aku akan segera mengenalkannya dengan kalian.” Alina terus memulas senyum untuk menyembunyikan kebohongannya. Dia melihat adik iparnya yang tersenyum semringah, membuat Alina lega meski sedih karena harus berbohong. ** Esok harinya. Alina pergi ke butik seperti biasa. Dia duduk termangu memikirkan ucapannya pada Dani semalam. “Mau cari calon suami di mana?” Alina menghela napas, wajahnya memelas bingung. Dani pasti menagih untuk dikenalkan dengan pria yang akan menikahinya, padahal yang sesungguhnya dia tidak memiliki kekasih! Alina terlalu sibuk mengurus butiknya, meskipun butik yang dikelolanya masih kecil, tetapi seluruh waktunya hampir dia habiskan di butik ini. Alina tidak punya waktu untuk bertemu pria. Alina mengembuskan napas kasar, di saat yang tepat pintu butiknya terbuka. Melihat siapa yang datang, wajah Alina langsung tersenyum sumringah. Lagi pula dia tidak mungkin menceritakan masalah pribadinya pada pelanggannya. Nenek tua langganan butik Alina masuk dan tersenyum menyapa, “Sepertinya ini hari keberuntunganku karena butiknya sepi, jadi aku bisa menyita semua waktumu untuk melayaniku,” ucap Nenek Agni. Alina membalas senyum ramah Nenek Agni. Dia langsung menghampiri Nenek Agni. “Nenek mau cari apa? Duduklah dan biar aku yang mengambilkan,” ucap Alina sopan. Alis Alina terangkat sedikit saat melihat Nenek Agni tidak melepas senyum untuknya. Kendati demikian, Alina meminta Nenek Agni duduk agar tidak lelah mencari barang yang diinginkan karena dia yang akan melayani. “Aku memang mencari sesuatu, tapi sepertinya agak sulit,” kata Nenek Agni sambil terus menatap Alina. “Sulit? Memangnya apa?” tanya Alina agak membungkuk pada Nenek Agni. Alina semakin salah tingkah dan bingung melihat Nenek Agni yang menatapnya begitu dalam. “Aku punya desain terbaru yang cocok dengan Nenek, apa Nenek mau melihatnya?” tawar Alina, sekaligus ingin mengalihkan pembicaraan karena merasa canggung melihat tatapan Nenek Agni. “Duduklah dulu,” kata Nenek Agni. Alina bingung, tetapi menuruti perkataan Nenek Agni. “Sebenarnya hari ini aku ingin minta tolong.” Alina diam mendengarkan. “Maukah kamu menikah dengan cucuku?” Bagaimana? Alina mengerjap, menatap Nenek Agni. Sedang Nenek Agni tersenyum melihat respon Alina. “Dia cucuku satu-satunya. Aku sangat mencemaskan cucuku kalau dia tidak bisa mendapat istri yang baik. Lagi pula bukankah kamu belum menikah? Aku merasa kamu adalah pasangan yang tepat untuk cucuku, aku juga ingin memiliki cucu menantu yang cantik dan sabar sepertimu,” ucap Nenek Agni lalu menepuk punggung tangan Alina. Alina diam berpikir sejenak. Mungkinkah ini jawaban atas kegelisahannya? Akan tetapi, ini terlalu mendadak. Alina memang butuh seorang pria saat ini, tetapi ditawari pilihan untuk langsung menikah … Alina bingung juga. Atau, dia terima saja, ya, permintaan Nenek Agni? Setidaknya Alina tidak perlu mencari pria asing lain dan dia mengenal Nenek Agni. Demi Dani, Alina berhenti berpikir hingga kepalanya mengangguk begitu saja. “Iya, kalau cucu Nenek juga bersedia,” balas Alina mengambil kesempatan itu. “Bagus.” Nenek Agni terlihat senang. “Sekarang tutup butiknya. Kalian akan menikah hari ini juga.” “Apa?” Alina kembali terkejut mendengar ucapan Nenek Agni. Lagi-lagi ini terlalu mendadak, apalagi dirinya harus menikah hari itu juga. Namun, Alina tetapi menuruti ucapan Nenek Agni hingga bertemu dengan cucu sang Nenek. Alina memandang pria yang berdiri di samping Nenek Agni. Pria itu berpenampilan sederhana, Alina tahu pakaian yang digunakan pria itu juga tidak bermerk sama sekali. Hanya jas rapi dengan jahitan yang biasa. Akan tetapi, Alina tertegun ketika pria itu menatap balik Alina. Harus Alina akui, wajah cucu sang Nenek sangat tampan dengan alis tebal dan matanya yang hitam pekat, hidungnya yang mancung dan rahangnya yang tegas. Alina mencoba tersenyum pada pria itu, tetapi sayangnya pria itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. “Nenek sudah menyiapkan semuanya. Kamu sudah sepakat mau menikah dengan wanita pilihan nenek, jadi ini wanita pilihan nenek. Cantik, bukan?” Alina tersenyum canggung karena Nenek Agni memujinya. “Ini Aksa, cucu nenek,” ucap Nenek Agni mengenalkan. Alina memberanikan diri mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, tetapi pria bernama Aksa itu hanya menatap uluran tangan Alina tanpa ekspresi. “Aksa, yang sopan pada calon istrimu!” Nenek Agni kesal dan mengambil tangan Aksa secara paksa untuk menjabat uluran tangan Agni. Alina tersenyum getir, akan tetapi sentuhan pertama yang diberikan Aksa membuat darahnya sedikit berdesir.The ride back to the hospital feels longer than it should. Every streetlight flashes across the windshield like a slow metronome, ticking off the seconds I’m not ready for.Dad drives in silence, Mom staring out the window. None of us speak, and yet the weight of what just happened follows us like a shadow.When we finally step into Oliver’s room, Isabella is already there. She rises quickly from her chair, searching my face.“What did they say?”I glance at Oliver before answering. He’s propped up against the pillows, paler than he should be but awake, eyes alert. His gaze locks on mine, steady, waiting.I clear my throat. “Can we have a minute?” I ask Isabella softly.She hesitates, then nods, brushing her fingers across Oliver’s hand before slipping past me. Dad and Mom follow, closing the door behind them.Now it’s just me and him.For a while, I just stand there, caught in the hum of the machines and the soft shuffle of sheets as he adjusts his position.“Jude,” he says finally,
The officer at the desk eyes me carefully when I make the request.“i want to speak with him?”He nods. “Yes. But Just for a few minutes.”Agent Raines hesitates, but after a beat he gestures to the hall. “Five minutes. No more.”Dad starts to protest, but Mom puts a hand on his arm. “Let him,” she whispers.The walk down the corridor feels longer than it is, every step echoing in the sterile quiet. At the end, a heavy door clicks open, and I’m led into a small interview room. The table is bolted to the floor, the chairs scuffed with years of use.And then he’s there.Zane sits shackled at the wrists, his posture rigid but his expression showing nothing not even remorse. unreadable. His dark eyes lift when I enter, but he doesn’t speak. Not even when the officer steps out and leaves us in the silence.I lower myself into the chair across from him. For a moment, we just stare at each other, two people who’d once trusted too much and lost more than either of us imagined.“You don’t need
The hallway feels oddly hollow after the footsteps fade. The few teammates still standing glance at one another before one of them—a boy with sandy hair and soft eyes—steps forward.“Hey… we’re sorry about the guys who left,” he says quietly. “They don’t speak for all of us.”Another nods in agreement. “Yeah. We came here for Oliver, not to start anything. Some people just… forget that.”Isabella exhales, her shoulders settling a fraction. “It’s nothing,” she says, her voice gentler now. “Tensions are high. I understand.”Dad clears his throat, his voice steady but warm. “What matters most right now is Oliver’s recovery. Everything else can wait.”Isabella’s eyes soften, and then she glances toward the door behind her. “Speaking of him…” Her lips curve into the smallest smile. “He’s awake.”The mood shifts instantly—lighter, electric. She pushes the door open and waves them inside. “Come on, he’ll want to see you.”The rest of the team files in quietly, the sound of their sneakers sof
Dad’s voice cuts through the hum of the corridor.“What are you still doing on your phone? I’ve been standing here waiting for you. Who are you talking to?”I glance up, forcing my thumb to slow down on the screen.“A friend,” I say, slipping the phone halfway into my pocket. “He… uh, just told me he’s going to surprise me.”Dad gives me a skeptical look, the kind that could peel back a lie if you hold it too long.I add, in my head, I wasn’t going to tell him I was talking to Mom, after all.He straightens his jacket. “Speaking of surprises… here’s one.”I follow his gaze toward the far end of the hallway—and freeze.A wave of crimson floods toward us. Not blood. Jerseys.Oliver’s entire Crimson Lions squad is here, a dozen or more, their team colors practically shouting against the beige hospital walls. They carry everything from small bobblehead mascots to stuffed animals so oversized they have to be hugged with both arms. Someone even has a foam lion head tucked under one elbow.T
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews