Share

Sejarah Mulai Berubah

Penulis: Aster Chronos
last update Tanggal publikasi: 2026-10-19 18:24:18

Alaric menjentikkan jari, memberi isyarat kepada Matthew yang berdiri tak jauh dari mereka. Sang kesatria segera mendekat, menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada Eron, lalu kembali ke tempatnya semula.

“Nama-nama yang tercantum di sana adalah orang-orang yang perlu kalian awasi,” lanjut Alaric.

Eron membuka gulungan itu dan membaca isinya sekilas.

“Bagaimana jika kami mengganti mereka dengan pelayan pilihan kami sendiri?”

“Jangan terburu-buru,” sahut Lucien. “Untuk sementara, bersikaplah sep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • The Prince's Dead Mistress   Sejarah Mulai Berubah

    Alaric menjentikkan jari, memberi isyarat kepada Matthew yang berdiri tak jauh dari mereka. Sang kesatria segera mendekat, menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada Eron, lalu kembali ke tempatnya semula.“Nama-nama yang tercantum di sana adalah orang-orang yang perlu kalian awasi,” lanjut Alaric.Eron membuka gulungan itu dan membaca isinya sekilas.“Bagaimana jika kami mengganti mereka dengan pelayan pilihan kami sendiri?”“Jangan terburu-buru,” sahut Lucien. “Untuk sementara, bersikaplah seperti biasa. Jika kau langsung menyingkirkan orang-orang yang ditempatkan Kaisar, tindakanmu bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap pemberiannya.”“Lucien benar,” tambah Alaric. “Kau tidak bisa begitu saja memecat atau mengganti orang-orang itu sesaat setelah menerima mansion tersebut. Tunggu sampai beberapa waktu berlalu. Setelah itu, kau bisa mengganti mereka dengan alasan membutuhkan pelayan yang lebih sesuai dengan kebutuhan rumah tanggamu di Kaisergard.”Eron mengangguk pelan, memahami ma

  • The Prince's Dead Mistress   Gadis dari Masa Depan

    “Maksudku…”“Jelaskan dengan terus terang apa yang sebenarnya kau maksud dengan perkataanmu tadi,” potong Lucien tajam. Tatapannya tertuju pada Mara, seolah tak akan membiarkannya menghindar dengan jawaban setengah-setengah.Eron mengernyit. Ia mengamati wajah Mara beberapa saat sebelum mengajukan pertanyaan yang bahkan terdengar asing baginya sendiri.“Jangan-jangan… kau benar-benar berasal dari masa depan?”“Sejujurnya, aku sudah lama curiga,” timpal Jane. Berbeda dari Eron yang masih tampak ragu, perempuan itu berbicara dengan tenang, “Pengetahuanmu jauh melampaui orang-orang di zaman ini. Belum lagi caramu memprediksi tindakan Kaisar dengan begitu yakin, seolah-olah kau sudah tahu apa yang akan terjadi.”Mara terdiam sambil menatap Alaric.Namun, sang pangeran hanya membalas tatapannya dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang nyaris membentuk senyum. Tatapan itu seolah berkata, Kau sendiri yang ceroboh. Sekarang tanggung akibatnya.Mara mendengus kesal. Tentu saja Alaric

  • The Prince's Dead Mistress   Misteri Putra Sang Duke

    Satu jam telah berlalu sejak upacara doa itu terpaksa dihentikan.“Kalian sudah berusaha dengan baik. Tak perlu terlalu khawatir,” ujar Jane lembut, berusaha menenangkan Mara dan Eron yang sejak tadi gelisah di sofa ruang istirahat kuil.“Putra Duke Evan sudah lama jarang muncul dalam pergaulan bangsawan. Namun, tiba-tiba dia datang ke acara tadi.” Eron memijat pelipisnya. “Aku yakin kehadirannya bukan kebetulan. Pasti ada campur tangan Aurelian di balik semua ini.”Tak lama kemudian, pintu kayu terbuka. Pendeta Agung Lucas melangkah masuk dengan raut tenang.Eron segera bangkit menghampirinya. “Bagaimana? Apa yang terjadi dengan pria tadi? Sudah dibereskan?”“Tuan Muda Theon sempat menginterogasinya,” jawab Lucas pelan. “Untungnya, Putra Mahkota Alaric mengirim seorang aktor dengan rekam jejak bersih yang tidak mudah dicurigai. Pada akhirnya, Tuan Muda Theon membebaskannya karena benar-benar percaya bahwa pria itu kerasukan.”“Dia memang memainkan perannya dengan sangat baik,” timpal

  • The Prince's Dead Mistress   Sosok Berbahaya

    "Kenapa tiba-tiba ada anak Duke Evan di sini?" bisik Mara pelan pada Eron, matanya tetap memburu gerak-gerik pemuda di tengah aula itu."Aku tidak mengundangnya," jawab Eron setengah berbisik, rahangnya mengeras. "Sungguh aneh dan mencurigakan. Kita harus tetap waspada."Lady Jane yang berada di dekat mereka seketika menyenggol lengan Eron dengan sikunya."Sebagai seorang Count Veyne, kau harus menyambutnya karena dia datang ke acaramu," tegur Jane tegas namun berbisik. "Cepat ke sana, tenangkan situasi sebelum makin tak terkendali."Eron mengangguk patuh. Ia merapikan jubahnya sejenak sebelum melangkah berani menghampiri kerumunan orang di dekat tangga mimbar."Salam kepada Tuan Muda Theon," ucap Eron seraya menundukkan kepalanya memberi penghormatan. "Saya Eron Veyne."Theon tidak langsung merespons. Ia hanya melirik Eron sekilas, lalu mengalihkan pandangan tajamnya lurus ke arah mimbar—tepat menembus iris mata Mara.Mara semp

  • The Prince's Dead Mistress   Suara Seorang Lady

    "Doa yang digemakan hari ini akan menemani ketenangan jiwa Lady Elara di sisi dewa," suara Pendeta Agung Lucas memimpin pagelaran doa peringatan kematian Elara.Para tamu undangan menundukkan kepala."Semoga kedamaian melapangkan jalannya, sekaligus menandai keberkahan bagi awal babak baru pengabdian pemuda Veyne dalam menjaga negeri ini bersama Kekaisaran," lanjut Lucas.Di tengah gaung puji-pujian yang terdengar begitu tulus, cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah tinggi jendela kaca patri, membiaskan pendar hangat yang menenangkan di sekeliling altar."Biadab!!!"Teriakan nyaring dari arah belakang memecah keheningan sakral itu.Mara, yang duduk di mimbar bersama Keluarga Veyne, seketika membuka matanya.Seluruh tamu undangan menoleh serempak, mencari sumber kegaduhan.Pendeta Agung Lucas menghentikan lantunan doanya detik itu juga."Kalian begitu bodoh mempercayai fitnah itu!" teriak pria berbusana

  • The Prince's Dead Mistress   Semakin Berjarak

    Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih nyaman, Mara berjalan menuju pondok di tepi taman.Di sana, beberapa pelayan tampak sibuk menyiapkan teh dan camilan di atas meja, sementara kursi-kursi di dalam pondok masih tampak kosong.Mara mengambil tempat duduk di dekat tiang penyangga pondok, posisi yang pas untuk menikmati pemandangan danau dengan jelas.Beberapa saat kemudian, Eron, Lady Jane, dan Countess Isolda datang bersamaan.Mara lekas bangkit dan memberikan salam penghormatan, persis sesuai etiket yang diajarkan Lady Jane.Isolda sengaja membuang pandangannya dari Mara, membiarkan keheningan canggung menggantung di udara sejenak. Beruntung, Lady Jane segera memecah suasana dengan mengajak mereka semua untuk duduk.Satu per satu dari mereka mulai menyeruput teh hangat yang telah dihidangkan di meja."Aku tidak akan berbasa-basi," ucap Mara seraya menghembuskan napas panjang. "Detail mengenai apa yang sudah kami

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status