Chapter: Sosok Berbahaya"Kenapa tiba-tiba ada anak Duke Evan di sini?" bisik Mara pelan pada Eron, matanya tetap memburu gerak-gerik pemuda di tengah aula itu."Aku tidak mengundangnya," jawab Eron setengah berbisik, rahangnya mengeras. "Sungguh aneh dan mencurigakan. Kita harus tetap waspada."Lady Jane yang berada di dekat mereka seketika menyenggol lengan Eron dengan sikunya."Sebagai seorang Count Veyne, kau harus menyambutnya karena dia datang ke acaramu," tegur Jane tegas namun berbisik. "Cepat ke sana, tenangkan situasi sebelum makin tak terkendali."Eron mengangguk patuh. Ia merapikan jubahnya sejenak sebelum melangkah berani menghampiri kerumunan orang di dekat tangga mimbar."Salam kepada Tuan Muda Theon," ucap Eron seraya menundukkan kepalanya memberi penghormatan. "Saya Eron Veyne."Theon tidak langsung merespons. Ia hanya melirik Eron sekilas, lalu mengalihkan pandangan tajamnya lurus ke arah mimbar—tepat menembus iris mata Mara.Mara semp
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Suara Seorang Lady"Doa yang digemakan hari ini akan menemani ketenangan jiwa Lady Elara di sisi dewa," suara Pendeta Agung Lucas memimpin pagelaran doa peringatan kematian Elara.Para tamu undangan menundukkan kepala."Semoga kedamaian melapangkan jalannya, sekaligus menandai keberkahan bagi awal babak baru pengabdian pemuda Veyne dalam menjaga negeri ini bersama Kekaisaran," lanjut Lucas.Di tengah gaung puji-pujian yang terdengar begitu tulus, cahaya matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah tinggi jendela kaca patri, membiaskan pendar hangat yang menenangkan di sekeliling altar."Biadab!!!"Teriakan nyaring dari arah belakang memecah keheningan sakral itu.Mara, yang duduk di mimbar bersama Keluarga Veyne, seketika membuka matanya.Seluruh tamu undangan menoleh serempak, mencari sumber kegaduhan.Pendeta Agung Lucas menghentikan lantunan doanya detik itu juga."Kalian begitu bodoh mempercayai fitnah itu!" teriak pria berbusana
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Semakin BerjarakSetelah membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih nyaman, Mara berjalan menuju pondok di tepi taman.Di sana, beberapa pelayan tampak sibuk menyiapkan teh dan camilan di atas meja, sementara kursi-kursi di dalam pondok masih tampak kosong.Mara mengambil tempat duduk di dekat tiang penyangga pondok, posisi yang pas untuk menikmati pemandangan danau dengan jelas.Beberapa saat kemudian, Eron, Lady Jane, dan Countess Isolda datang bersamaan.Mara lekas bangkit dan memberikan salam penghormatan, persis sesuai etiket yang diajarkan Lady Jane.Isolda sengaja membuang pandangannya dari Mara, membiarkan keheningan canggung menggantung di udara sejenak. Beruntung, Lady Jane segera memecah suasana dengan mengajak mereka semua untuk duduk.Satu per satu dari mereka mulai menyeruput teh hangat yang telah dihidangkan di meja."Aku tidak akan berbasa-basi," ucap Mara seraya menghembuskan napas panjang. "Detail mengenai apa yang sudah kami
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Makan SiangEron menelan ludah dengan susah payah, memaksakan suaranya yang gemetar agar terdengar mantap."Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia... melihat potensi di dalam diri saya dan mempercayakan tanggung jawab tersebut," ucapnya seraya menundukkan kepala sejajar dengan lantai marmer.Aurelian berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan dua saudara yang sedang berlutut itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya."Nah, pagelaran doa yang akan kalian langsungkan nanti tidak hanya mensyukuri hal kosong. Aku akan mengirim orang untuk meresmikan jabatanmu saat itu. Ada berkah di balik duka," ujar Aurelian santai.Mara mengatur ekspresinya dengan susah payah. Pikirannya diserbu dengan berbagai makian untuk Aurelian.Aurelian bangkit perlahan, merapikan jubah kebesarannya. Ia menatap Lucas yang berdiri tenang tak jauh dari sana, lalu melangkah keluar dari ruang doa itu.Lucas lekas menunduk hormat dan berjalan mengekor di belakang sang Kaisar, mengiringi d
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Hadiah GelarSontak Mara dan Eron bangkit dari posisi berlutut mereka, lalu membungkuk dalam memberikan salam."Salam kepada Matahari Kekaisaran Valedron," ucap mereka bersamaan dengan suara yang diusahakan selaras dan tenang."Kebetulan yang menarik. Bagaimana jika kita melakukan doa bersama sekalian? Aku ingin mendoakan selir putraku juga," gumam Aurelian. Suaranya terdengar datar, namun ada nada intimidasi dingin yang pekat di balik tiap kata yang diucapkannya.Mara melirik ke arah Eron sekilas, napasnya tertahan."Sebenarnya kami sudah berada di sini sejak pagi, Yang Mulia, dan baru saja doanya dirampungkan oleh Pendeta Agung Lucas," terang Eron cepat, berusaha memberikan alasan yang masuk akal tanpa mengabaikan tata krama.Mara membaca gerak-gerik Aurelian diam-diam."Bagaimana jika Yang Mulia berkenan hadir di pergelaran doa besar nanti?" tawar Mara mencoba menengahi situasi agar tidak terlihat menolak secara terang-terangan.Kaisar Aurelian
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Ruang DoaKepanikan seketika menyergap ruangan.Mara bergerak cepat menyambar lap basah, menghapus tulisan di papan tulis dengan gerakan lebar, lalu mengguyurnya dengan sisa air dari teko hingga coretan kapur itu luntur menjadi cairan putih yang tak berjejak."Kita harus bersembunyi!" cetus Mara tegas seraya membalikkan papan tulis."Tidak bisa!" potong Eron, napasnya memburu. "Kereta kuda Keluarga Veyne terparkir jelas di halaman depan. Akan makin mencurigakan kalau kita mendadak lenyap!""Sialan, pak tua itu!" maki Alaric, wajahnya mengeras gusar. Ia menoleh cepat pada saudaranya. "Lucien, naiklah kembali ke menara sekarang! Dan karena aku datang ke sini diam-diam, aku akan pergi lewat jendela.""Menara tak lagi aman Yang Mulia, lebih baik bawa Pangeran Lucien sekalian bersama Anda," kata Lucas.Alaric langsung memerintahkan Matthew memeriksa berapa pengawal yang dibawa Kaisar sebelum melompat. "Kalian bertiga keluarlah," perintahnya pada Lucas, Mara dan Eron.Mereka mematuhi itu, dan meningg
Last Updated: 2026-10-14
Chapter: BAB 63 - Bayang Bayang VenusDua hari setelahnya, Ran diperbolehkan rawat jalan dengan beberapa persyaratan seperti melakukan kontrol secara rutin untuk mengganti perban. Bahkan keesokan harinya, ia langsung berangkat sekolah seperti biasa tak mengindahkan larangan neneknya yang khawatir.Di sekolah terjadi beberapa keributan. Koridor-koridor sekolah menjadi bising karena berita ekslusif yang terbit pagi itu. Di layar televisi kantin, di portal berita daring ponsel para siswa, hingga di halaman depan surat kabar nasional, berita mengenai skandal besar yang melibatkan jaringan kriminal berkedok kalangan elit meluas tanpa kendali.Kasus yang menyeret nama Sunny sebagai korban menjadi topik utama yang memenuhi hampir seluruh lini media. Rekaman video pengejaran dramatis di tengah malam yang bocor ke internet, foto-foto lokasi penyekapan di tepi hutan yang dipasangi garis polisi, rekaman CCTV lalu lintas, hingga siaran pers resmi dari Divisi Humas Polri terus diputar berulang kali.Nama Beneddict Antonio Surya bergem
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: BAB 62 - Menjadi AsingMalam makin larut. Lampu kamar perawatan Ran menyala temaram. Ran terbaring pucat dengan infus terpasang di tangan kanan dan balutan perban tebal di lengan kirinya. Napasnya terdengar halus dan teratur.Adit duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat itu. "Ran..."Tak ada sahutan.Adit tersenyum tipis. "Dasar keras kepala." Tangannya terangkat ragu untuk menyentuh jemari Ran, namun akhirnya ia tarik kembali. Ia hanya menyandarkan punggungnya. "Aku takut banget tadi. Jadi, tolong jangan bikin aku se-ketakutan ini lagi."Kelopak mata Ran bergerak perlahan, meski Adit tak menyadarinya."...Dit," suara bisikan lirih memecah hening.Adit seketika menegakkan duduknya. "Ran? Kamu sadar?"Ran membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada wajah Adit."Aku... di mana?""Rumah sakit. Kamu aman."Ran mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri langsung menyengat. "Aduh...""Jangan gerak dulu!" Adit menahan bahunya lembut. "Kamu baru selesai operasi."Ra
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: BAB 61 - Sebuah PilihanAksa langsung menginstruksikan tim polisi untuk mengamankan Angga, Sunny, dan Grace ke mobil medis di area parkir, sementara dirinya bersama beberapa personel bersenjata bergerak cepat menembus rapatnya ilalang menuju sumber suara tembakan.Di saat yang bersamaan, Adit merangkul tubuh Ran yang kian melemah. Darah terus mengucur dari lengan Ran, menembus baju dan jemari Adit yang bergetar. Ran berusaha keras mempertahankan kesadarannya meski pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat."Dit... jangan berhenti," bisik Ran lirih, napasnya patah-patah."Aku nggak bakal tinggalkan kamu, Ran. Tahan sebentar lagi," balas Adit dengan nada panik namun berusaha tetap tenang.Namun, dari balik kegelapan semak belantik, Ben muncul dengan wajah berdarah dan napas terengah-engah. Matanya menyalang penuh amarah. Langkahnya pincang, tetapi di tangannya kini tergenggam pisau lipat yang ia ambil dari saku celananya—sebuah upaya terakhir setelah pistolnya berhasil dilumpuhkan."Kalian piki
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: BAB 60 - PenebusanTerdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan, membuat langkah Ran, Sunny dan Grace terhenti. "Ben meledakan gubuk agar tidak meninggalkan bukti," gumam Grace. Ran menatap tajam Grace, lalu berkata penuh dengan penekanan, "Kejam sekali kalian." Grace tidak berani mengangkat pandangannya pada Ran, karena merasa bersalah. Ia juga merasa malu setelah menjadi bagian dari kejahatan itu, yang akhirnya menjadikannya korban. Dari balik semak Adit dan Angga berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa. "Guys kenapa kalian berhenti! Ayo lari!" teriak Adit dari kejauhan. Lalu, Ran, Sunny dan Grace melanjutkan langkahnya. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah kejauhan, membuat mereka panik, sampai berlari tak tahu arah. Hanya mengandalkan insting untuk memilih jalan mana yang mudah dilewati, karena mereka terjebak dengan ilalang yang membutakan arah. "Tinggalkan saja aku disini! Kalian kabur saja," ujar Grace semakin merasa bersalah, karena menjadi beban. "Tutup mulutmu brengsek!" Be
Last Updated: 2022-07-27
Chapter: BAB 59 - Menembak Langit"Sialan!!! Ulah siapa ini?" Gerutu Ben sembari membanting pecut yang ia pegang, penuh emosi karena lampu seketika padam di tengah kegiatan yang ia lakukan. Kemudian terdengar sirine alarm kebakaran yang membuat panik orang-orang dalam ruangan itu. Ben lantas bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya. Ia keluar dari ruangan dengan langkah penuh amarah sembari meneriakkan nama anak buahnya. Empat orang pria yang merupakan teman-teman Ben, menyusul pria itu keluar ruangan. Meninggalkan Sunny dan Grace. Sunny memanfaatkan keadaan itu dengan bergegas melepas ikatan tangan dan kakinya. Dengan tubuh telanjang di tengah kegelapan, ia memungut pakaiannya yang berceran di lantai. Sedangkan Grace yang masih terkuai lemas di tempat tidur, hanya bisa menangis menahan perih di kulitnya, akibat pecut yang diayunkan oleh Ben sejak tadi. "Grace ayo kabur dari sini," tukas Sunny. "Aku tidak bisa menggerakkan kaki," ujar Grace. Sunny mengeluarka
Last Updated: 2022-06-17
Chapter: BAB 58 - Hasrat Gila Pria Biadab (21+)WARNING!!! Isi Bab ini terdapat kekerasan seksual yang tidak cocok untuk anak dibawah umur. Mohon bijak memilih bacaan yang cocok dengan umur anda. ** "Kalian mengenal orang-orang itu?" tanya Ran. Adit dan Angga menggeleng bersamaan. "Melihat dari postur tubuh dan wajah kedua orang itu, sepertinya sudah berumur," kata Angga. "TOLONG!" Teriak seseorang yang membuat dua pria bertubuh kekar tadi masuk ke dalam gubuk. Sedangkan Ran, Angga dan Adit bergetar ketakutan mendengar suara pekikan yang begitu putus asa itu. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam gubuk itu?" tanya Adit. Tidak ada jawaban dari Ran dan Angga. Angga lantas menutup laptopnya, dan berjalan mendekat ke Adit. Kemudian ia membuka tas yang digendong oleh temannya itu, dan memasukan laptopnya. "Mumpung dua orang itu tidak ada, ini kesempatan kita mencari tahu," ujar Angga seraya menutup resleting tas kembali. "Benar ayo kita masuk," balas Ran. "Tunggu... apa kalian gak takut? Melihat dua orang tadi, sepertinya
Last Updated: 2022-05-23