LOGIN“Bagaimana kondisi ayahku sekarang?”
Kali pertama menginjakkan kaki di rumah sakit, Svanna langsung mengambil langkah menuju ruang rawat ayahnya. Heldfan sedang berada pada masa pemulihan pasca operasi, tetapi seharusnya mereka mempersilakan pria itu ada di rumah. Dia hanya belum siap melepaskan ayahnya sendiri saat tuntutan tinggal di kediaman Nightroe adalah sesuatu yang tidak bisa dilewatkan. Svanna segera berjalan lebih dekat. Senyum Amira ketika wanita itu melakukan kegiatan“Nightroe mencintaiku.” Pada akhirnya, memutuskan untuk mengungkapkan kebohongan sebagai jalan pintas. Andai saja memang benar; Svanna bisa membayangkan betapa pria itu akan memperlakukannya dengan sangat lembut. Namun, semua hanya menjadi prospek yang bertolak belakang. Terlalu buruk mengemis cinta dari seorang pria kejam. Semua tidak akan sepadan. Dia menunduk sesaat sembari memainkan ujung jari – jari tangan. Tidak sebaik itu membicarakan sesuatu yang ternyata sumbu racun berbahaya. Udara di sekitar hanya akan tercemar. Svanna tak ingin ayahnya terlibat. Pernikahan ini sudah cukup menyajikan keberadaan dia dan Nightroe. Orang – orang hanya menjadi saksi keberlangsungan suatu ikatan. Tidak lebih. “Kurasa, kau perlu beristirahat, Papa. Kau harus cepat pulih,” ucap Svanna lembut saat dia mengangkat wajah menatap ayahnya dengan perhatian kecil. Heldfan menghela napas panjang, seolah pria paruh baya itu sedang membuat suatu kesepakatan terhadap penekanan tak terungk
“Bagaimana kondisi ayahku sekarang?” Kali pertama menginjakkan kaki di rumah sakit, Svanna langsung mengambil langkah menuju ruang rawat ayahnya. Heldfan sedang berada pada masa pemulihan pasca operasi, tetapi seharusnya mereka mempersilakan pria itu ada di rumah. Dia hanya belum siap melepaskan ayahnya sendiri saat tuntutan tinggal di kediaman Nightroe adalah sesuatu yang tidak bisa dilewatkan. Svanna segera berjalan lebih dekat. Senyum Amira ketika wanita itu melakukan kegiatan rutin untuk memastikan kestabilan dari kondisi ayahnya sudah tidak akan menjadi petunjuk baru. “Mr. Johannson mengalami perkembangan yang pesat. Secepatnya beliau bisa melakukan aktivitas sendiri.” Senang mendengar berita bagus seperti itu. Perlahan, Svanna bergeser duduk persis di samping blankar. Dia menatap ayahnya lamat. Pria paruh baya itu jelas sedang dalam kondisi sadar dan melakukan hal serupa, walau tidak banyak mengatakan sesuatu di antara mereka. Secara tentatif Svan
Wajah Svanna barangkali sudah sangat memerah. Dia mengerjap, berusaha keras mengembalikan sisa kesadaran—setidaknya masih cukup sanggup direnggut di sini. Namun, tidak tahu simulasi kalap seperti apa yang benar – benar menarik Nightroe lepas dari permukaan hingga tampaknya pria itu tak sadar terhadap tindakan sendiri. Nightroe telah mengangkatnya tinggi. Svanna berjuang keras memberontak dengan menghentakkan tumit heels ke arah dinding di belakang. Berharap dapat memberi petunjuk kepada seseorang untuk segera datang, walau itu terdengar nyaris terlalu mustahil saat sisa udara di rongga dada hampir habis. Svanna tak bisa menahan diri lebih lama. Usaha sekadar menyingkirkan keji sentuhan tangan Nightroe perlahan mengendur. Semua nyaris menjadi gelap. Ya, nyaris. Sampai suara seseorang muncul di balik punggung pria itu, segera mengubah situasi di antara mereka. “Don Nightroe melakukan tindakan kasar kepada istrinya. Sangat memalukan!” Kegelapan yang hampir Sva
“Kau ... dasar jalang kotor!” Amelia jelas tidak bisa menerima serangan tak terduga seperti tadi. Ada keabsahan di mana respons memberi dampak mengerikan terhadap sesuatu di dalam diri wanita itu. Tangan yang terlihat dilatih khusus dengan pelbagai persenjataan nyaris terangkat—hampir memberi Svanna tamparan balasan. Dia sudah mengambil sikap waspada ingin menghindari apa pun, tetapi hening semacam suatu gambaran murni di mana perlu memastikan kembali situasi yang terasa berhenti secara mendadak. “Apa yang kau lakukan di sini?” Suara berat Nightroe menyelinap cukup menyerupai sinis. Sesuatu yang jelas meninggalkan kesan ganjil di dalam diri Svanna. Dia segera menyadari bahwa tangan pria itu mencegah tindakan Amelia—untuk tertahan di udara. Wanita tersebut terlihat gugup. Nyaris terlalu gelagapan hingga terduga berjuang keras memaksakan keinginan agar terlepas dari cengkeraman Nightroe di sana. “Aku ... aku—“ Betapa suara itu benar – benar tercekat. Svanna b
Svanna secara naluriah menunduk saat sulur – sulur merasakan cengekraman Nightroe mengendur di pergelangan tangannya. Juga tidak mengatakan apa – apa kali pertama menyadari pria itu mulai mengambil satu langkah ke depan. “Di bawah pimpinanku sekarang, aku ingin melakukan pertemuan penting. Semua Capo diharapkan hadir.” Hanya itu. Suara Nightroe diakhiri derap langkah kaki yang terdengar tegas. Svanna masih membutuhkan waktu beberapa saat untuk memahami situasi di sekitar. Ayah mertuanya sudah meninggalkan ruangan sejak berita kepensiunan diakhiri dengan seluruh perhatian teralihkan kepada Nightroe. Semua orang telah meninggalkan tempat perkumpulan. Svanna tertinggal sendiri. Nightroe bahkan tidak menganggapnya ada di sini. Mungkin memang seharusnya dia tidak terlibat ke dalam urusan penting yang menyiratkan situasi bahaya. Sambil menghela napas, Svanna memutuskan untuk sekadar melangkah. Hampir, tetapi kemudian seseorang mencekal lengan-nya, seperti sengaja menempatkan cengker
Ajaib. Mereka semua tahu bahwa Nightroe sedang menunggu dengan tidak sabar di luar kamar, tetapi tidak satu pun kata protes terungkap dari mulut pria itu. Untuk terakhir kali, Svanna menatap pantulan diri di depan cermin. Semua terlihat benar – benar indah di tangan Alina. Dia bahkan tak pernah mengira—akan melihat sebuah perubahan signifikan dalam dirinya ketika dibalut busana sewarna biru malam, alih – alih gaun pernikahan sendiri. “Anda sangat cantik.” Senyum Alina di dalam perangkap cermin yang sama, sedikit mengobati suasana hati Svanna. Keengganan bertemu Nightroe di luar sana, memang seharusnya segera disingkirkan. Mungkin sebentar lagi tingkat kesabaran pria itu menghilang, andai dia masih ingin membuat Nightroe menunggu lebih lama. “Kita bisa temui orang itu sekarang,” ucap Svanna sesaat setelah mengembuskan napas kasar ke udara. Alina hanya memberikan anggukan samar. Mereka berjalan berdampingan. Heels setidaknya membuat dia terlihat lebih tinggi di sam







