LOGINNightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan.
Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan keputusan yang tidak baik – baik saja. Setelah sumpah pernikahan, pria itu bahkan tidak bersedia memberikan sentuhan tambahan atas arahan pastor, selain terlalu kasar menyematkan cincin di jari manisnya, lalu tubuh jangkung itu pergi begitu saja. Pergi seolah tidak pernah ada hari di mana hubungan murni telah mengikat mereka. Svanna tidak akan menyalahkan Nightroe atas situasi seperti ini. Dia yang salah tidak mempertimbangkan kembali ancaman pria itu. Bukankah jauh lebih adil membayangkan neraka seperti apa yang akan Nightroe tawarkan? Daripada memikirkan di mana keberadaan suaminya saat ini. Suami .... Sudut bibir Svanna berkedut getir membayangkan satu prospek tersebut. Menyedihkan. Dia menikahi pria yang sangat membencinya. Itu adalah keputusan paling konyol sepanjang dia berharap bisa lebih waras setelah ini. Tidak ada waktu merenungi sesuatu yang sudah telanjur. Tubuh Svanna tersentak ketika tiba – tiba pintu kamar terbuka dan Nightroe menjulang tinggi di sana. Langkah pria itu seolah segera tertahan saat mendapati posisinya yang sedang duduk dengan kaku di pinggir ranjang. Tidak ada percakapan. Hening terasa sangat bergumuruh ... sehebat deburan jantung yang bertalu – talu keras di rongga dada Svanna. Dia tidak tahu apa yang akan Nightroe lakukan. Takut saat pria itu mulai menderap ke arahnya dan secara naluriah mengepalkan jari – jari tangan ketika aroma cologne menyerbuk di sekitar udara. Nightroe terlalu dekat. Terlalu wangi. Dan ... terlalu berbahaya. Svanna menelan ludah kasar mendeteksi bagaimana sisa ruang di antara mereka nyaris tak berjarak. Tubuh jangkung itu dicondongkan—benar – benar hampir bersentuhan hingga reaksi alamiah yang Svanna berikan adalah memejam erat. Dia tak ingin melakukan apa pun, setidaknya untuk saat ini, saat di mana kebencian masih terlalu menggebu dan itu dapat dipastikan tidak akan melibatkan hubungan sehat, tetapi hubungan mereka memang tidak pernah sehat. Selalu dengan racun beredar di mana – mana. Nightroe bahkan menganggap dia sebagai wanita menjijikkan. Mengatur supaya mereka berada pada posisi rivalitas yang pekat. Svanna jelas menolak melayani musuhnya, meski segala bentuk kebutuhan pria itu telah menjadi tanggung jawab yang tak akan pernah bisa dia lupakan. Sial. Dia salah mengira jika Nightroe akan melakukan sesuatu di malam pernikahan mereka. Pada kenyataan, pria itu hanya ingin merenggut ponsel yang tergeletak asal di atas ranjang; persis begitu dekat di bokongnya. Napas Svanna segera berembus panjang ketika Nightroe mengambil langkah mundur. Entah itu semacam sebuah kelegaan atau barangkali dia perlu menyiapkan diri terhadap tindakan – tindakan tak terduga lain. Sungguh, Svanna tidak menyimpan tingkat kewaspadaan kali ketika melangkahkan kaki masuk ke kamar. Rasa takut membuatnya hampir tidak bisa berpikir jernih. Dia mengira pria itu menunggunya dengan amarah berbahaya, tetapi keterdiaman menyakitkan justru terasa lebih mengancam. Nightroe terlihat seperti sedang menghubungi seseorang, kemudian pria itu melangkah ke arah kamar mandi. Svanna mengerjap. Berulang kali berusaha mengendalikan diri setelah tubuh Nightroe hilang di balik pintu. Mungkin hal yang juga perlu dia lakukan adalah menyingkirkan gaun pengantin yang masih merekat di tubuhnya. Sudah terlalu lama. Dia merasa tidak nyaman. Sesaat, cukup sulit menarik turun restleting di punggungnya. Svanna tidak menyerah. Sedikit melakukan dengan terburu – buru. Takut membayangkan jika Nightroe tiba – tiba muncul. Namun, itulah yang tidak pernah dia pikirkan. Pintu kamar mandi terbuka. Tidak tahu kebetulan seperti apa yang mencoba membuat situasi di antara mereka terasa mencekam. Nightroe hanya diliputi sehelai handuk melilit di pinggul seksi pria itu. Tubuh yang sempurna di sana benar – benar meninggalkan kekacauan hingga Svanna nyaris membeku tak percaya. Dia tak berani mengatakan apa – apa. Suaranya mungkin akan menciptakan badai, karena menarik kemarahan Nigthroe supaya berulah. Jangan sampai kebencian pria itu berakhir sangat dahsyat. Svanna secara naluriah menarik selimut tebal. Menutupi seluruh tubuhnya yang hanya dibalut pakaian dalam setelah gaun pengantin merosot jatuh dan membiarkan Nightroe menatap cukup lama, tetapi pria itu kemudian memalingkan wajah. Sepertinya cukup dengan kebutuhan untuk meletakkan ponsel ke atas nakas, karena selebihnya Nightroe sungguh tidak menganggap keberadaan Svanna terlihat di sekitar pria itu, meski mereka berada di posisi sangat dekat. Dia sedikit berpikir bahwa Nightroe akan segera menghilang—lagi—di balik pintu. Namun, secara tak terduga pria itu berhenti—sempat memalingkan separuh wajah, kemudian mengatur posisi supaya mereka berhadapan. Svanna tidak mengerti apa yang akan Nightroe lakukan. Porsi tinggi berbeda secara naluriah membawanya mengangkat wajah. Dia diam – diam meningkatkan rasa waspada jika secara tak terduga pria itu akan mengambil tindakan buruk.“Pizza ini benar – benar membuatku kenyang ....”Svanna menyandarkan punggungnya di kaki ranjang sambil menyelesaikan gigitan terakhir. Terkadang melirik Alina yang tersenyum ketika menatap ke arahnya, tetapi wanita itu juga sedang diliputi kebutuhan untuk menyelesaikan satu potongan pizza. Dia memang memaksa supaya Alina tetap di sini; menemaninya makan malam sendiri, lalu mereka berbagi sekotak pizza bersama. Sesekali bercerita. Seperti tadi; Alina yang tidak sengaja kelepasan membicarakan Yohana dan Nightroe di meja makan. Sementara Svanna tidak bisa menahan diri untuk mengulik informasi, yang sebenarnya ... dia tahu cukup menyakitkan; Nightroe bahkan tidak pernah menyajikan apa pun—secara suka rela di hadapannya, atau sekadar menanyakan makanan apa yang dia suka dan pria itu justru memberikan perhatian penuh kepada wanita lain.Sudahlah. Percuma.Untuk saat ini sudah tidak begitu buruk. Svanna lebih peduli isi perutnya yang begitu penuh. Hampir tidak bisa melaku
“Cantik sekali. Dari mana kau mendapatkannya?”Svanna begitu antusias saat Alina mengetuk pintu kamar dan ternyata wanita itu muncul membawa sepaket bunga lily yang indah berikut dengan warnanya. Dia langsung mempersilakan Alina masuk; membiarkan bagaimana wanita itu menyaksikan tangannya dengan telaten memindahkan satu demi satu tangkai bunga ke dalam vas.“Itu lily jenis Stargazer, Ms. Saya membelinya di pasar, karena penjaga toko mengatakan ini bunga lily yang paling harum,” ucap Alina menjelaskan.Secara naluriah Svanna membungkuk hanya untuk menghirup bunga lily itu. Benar. Aromanya sangat menyenangkan. Dia tersenyum; sesekali memainkan benang sari panjang yang mencolok. “Saya sempat bingung harus membeli warna kuning atau pink,” Alina kembali menambahkan. “Warna apa saja bagus. Tapi aku senang kau membawa pulang yang pink. Terima kasih.”“Dengan senang hati, Ms. Ngomong – ngomong apa yang akan Anda lakukan dengan bunga Ester ini? Mereka masih cuk
Kening Svanna mengernyit setelah selesai menenangkan diri di halaman belakang dan sekarang ... saat berniat masuk ke kamar, dia malah mendapati para staf mansion sibuk memindahkan beberapa barang di dalam sana ke suatu tempat—untuk saat ini, sama sekali belum dia ketahui.“Ke mana kalian akan membawa barang – barangku?” tanyanya, sambil menghentikan Alina yang berjalan lesu. Ekspresi tidak nyaman di wajah wanita itu tidak dimungkiri. Mungkin saja ... Alina tidak setuju terhadap Nightroe kali ini. Namun, keputusan apa yang tampaknya benar – benar akan melukai mereka.“Tuan meminta kami untuk memindahkan barang – barang Anda dan sedikit milik beliau ke kamar tamu, Nona.”Sebelah alis Svanna terangkat tinggi menanggapi satu ungkapan tersebut. Wajar jika adanya sikap ketidakpersetujuan dari wanita itu. Dia juga berharap bisa mengajukan penolakan. Kamar ini sudah ditempati sejak pernikahannya dan Nightroe berlangsung. Jujur, Svanna mengakui bahwa dia mulai nyaman, tetapi
“Luka-mu perlu diobati dengan serius, Nightroe. Jangan tiduran saja.” Tidak ada dokter; tidak ada panggilan apa pun, karena bahkan Nightroe melarang para staff untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Sullivan sekadar melihat langsung kondisi dari luka tembak di lengan pria itu. Sebaliknya, usai menginjakkan kaki di mansion mewah ini, Nightroe buru – buru melangkah masuk ke dalam kamar. Seperti yang akhirnya Svanna dapati di sini. Dia menghela napas sesaat melihat bagaimana pria itu tidur dengan posisi menelungkup, bahkan masih dengan pentofel yang merekat di kaki. Kalau saja mereka tidak menikah. Svanna tidak akan mau melangkah secara tentatif; kemudian duduk di pinggir ranjang hanya untuk membuka alas kaki pria itu sambil menunggu apa yang akan suaminya katakan. Nyaris terlalu hening. Nightroe masih tidak peduli. Apakah terlalu nyaman membiarkan bra dan dalamannya mengikat erat di sana? “Nightroe,” panggil Svanna pelan. Dengan sedikit geram, akhirny
“Bagaimana jika seseorang datang menjemput kita, Nightroe?”Svanna berusaha mengingatkan, meski dia tahu hasilnya percuma. Nightroe sama sekali tidak menaruh perhatian atau berusaha peduli. Pria itu hanya ingin tubuhnya—mendapatkan apa pun yang saat ini sedang diincar secara gila – gilaan.Bagaimanapun, Svanna tidak bisa terus – terusan menolak sensasi ini. Nightroe tahu cara membuat seseorang menyerah dan pria itu benar – benar berhasil melakukan hal tersebut. Tidak dimungkiri bahwa dia nyaris melepaskan lenguhan singkat tepat setelah Nightroe membuka kedua kakinya lebar dan menjatuhkan mulut di sana.Sebagian kenyataan membuat wajah Svanna memanas. Tidak pernah menduga bahwa dia dan suaminya akan melakukan adegan seks di saat – saat seperti ini, bahkan di tempat yang tidak menjanjikan. Insting masih mencoba agar setidaknya dia bisa menghentikan Nightroe dari keinginan berlebihanseperti ini. Namun, yang terjadi malah erangan dari bibirnya menjadi lebih tidak t
“Kenapa? Bagaimana kalau Orlando kembali?” tanya Svanna sebagai gambaran serius.Dia sempat menoleh ke belakang, tetapi Nightroe kembali berkata, “Aku bilang ... kunci pintunya.”Svanna tidak punya pilihan; buru – buru menuruti permintaan pria itu. Dari luar, gudang ini tidak terlihat seperti adanya kehidupan. Sekelompok orang – orang itu sepertinya cenderung memikirkan cara untuk mempertahankan diri setelah apa yang terjadi. Sekarang, tempat ini bisa disebut sedikit lebih aman. Mula – mula, Svanna memutuskan untuk kembali mendatangi Nightroe. Ingin menuntut pria itu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepada Orlando dan mereka bertanggung jawab penuh karena tidak memberi pria tersebut akses masuk supaya bisa bersembunyi?“Kau tahu Orlando masih di luar. Kenapa harus mengunci pintu?” tanya Svanna sanksi sambil melipat lengan di depan dada.Mata sapphire Nightroe terus memperhatikan apa yang dia lakukan. Kemudian sudut bibir pria itu membentuk seringai sama
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.” Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar







