LOGINSituasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa?
Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang begitu kosong. Tidak ada Nightroe di sana, dan selimut itu ... sekarang sudah rapi membentang di permukaan kasur. Seseorang jelas melangkah masuk dan menyelesaikan sisa kekacauan semalam. Mungkinkah Nightroe? Svanna segera menghela napas memikirkan hal tersebut adalah bagian paling mustahil. Pria yang membencinya tidak akan pernah menaruh sedikit perhatian. Sudah begitu banyak rasa sakit dan dia tak berharap akan ada saat – saat di mana kebiasaan Nightroe terhadap kebutuhan mencekik lehernya akan kembali terulang. Ini hari pertama setelah menjadi istri dari pria kejam itu. Nightroe Da Sullivan. Tuan Sullivan kedua, Don Nightroe, yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya berdasarkan aturan pernikahan mereka yang dijadikan syarat utama. Svanna tak bisa membayangkan betapa Nightroe akan berakhir jauh lebih kejam dari yang saat ini atau pernah dia hadapi. Semuanya. Pria itu mungkin sedang melakukan kegiatan penting di luar sana. Gangster berkeliaran. Begitulah suaminya. Perlahan, Svanna memutuskan untuk membiarkan kedua kaki menyentuh lantai kamar yang dingin. Sudah bersiap akan beranjak bangun, tetapi tiba – tiba pintu kamar terbuka menampakkan pelayan di usia setengah senja melangkahkan kaki masuk. Nampan sewarna perak sedang tergenggam erat di tangan wanita paruh baya itu. “Sarapan Anda, Mrs. Sullivan.” Senyum ramah menyambar langsung ke wajah Svanna. Dia tidak bisa mengatakan banyak hal, selain melekukkan sudut bibir tipis sebagai sapaan singkat. Ada keabsahan, di mana sesuatu dalam dirinya masih terlalu ragu melakukan setiap apa pun di sini. Aturan Nightroe terkadang terasa sangat menyakitkan. Dia tak memiliki apa pun di kamar ini, selain pakaian yang dibawa langsung dari rumah. Pakaian .... Svanna segera memahami bahwa dia masih mengenakan dalaman semalam. Wajahnya menunduk. Sedikit bingung mendapati gaun tidur tipis, yang sering kali dia kenakan di malam hari saat masih menikmati pekerjaan di California, sudah merekat utuh di tubuhnya. Seseorang mengangkat dia ke atas sofa dan mengatur supaya dia mengganti pakaian? Ketakutan mendadak berhamburan di benak Svanna. Dia terlalu putus asa memikirkan kemungkinan terburuk di sini. “Siapa namamu?” dan memutuskan untuk bertanya sebelum wanita paruh bayah di hadapannya menyiapkan kebutuhan untuk mempekenalkan diri. “Elisabeth, Mrs. Sullivan.” Sapaan sarat nada hormat secara tidak langsung membuat Svanna merasa tidak nyaman. Dia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Kegemaran terhadap suatu kebebasan juga termasuk dengan tidak melibatkan panggilan yang terdengar menyakitkan. “Anna. Kau bisa memanggilku Anna.” Svanna tersenyum tipis—lagi, saat menyadari bagaimana Elisabeth menatap ragu dan seperti ada keinginan untuk menolak. Itu adalah keinginan darinya. Dia yakin wanita paruh baya tersebut tidak akan mengungkapkan sikap tidak setuju. “Sarapan Anda ....” Sebelah alis Svanna terangkat tinggi memperhatikan sarapan lezat di atas nampan. Setidaknya ada rasa ingin tahu dan membuatnya ingin bertanya. “Mengapa tidak menyiapkannya di dapur saja? Aku bisa turun ke bawah jika memang lapar.” “Ini permintaan Tuan Nightroe. Beliau tidak ingin Anda meninggalkan kamar ini, Mrs. Sullivan.” Svanna ingin menggarisbawahi panggilan itu lagi, tetapi sesuatu dalam dirinya cenderung lebih dikuasai oleh perintah Nightroe yang terdengar tidak masuk akal. Ini masih terlalu pagi dan dia dimintai untuk tidak keluar kamar? Svanna tidak akan setuju terhadap bagian tersebut. Dia menyukai kebebasan dan Nightroe tidak bisa membuatnya terkurung seperti di dalam sangkar. Suaminya—sangat buruk mengatakan ini; tahu apa yang tidak dia sukai dan malah memutuskan agar terlibat dengan itu. Apakah aturan tambahan dari Nightroe adalah bentuk balasan lainnya karena dia telah setuju untuk melakukan pernikahan? Svanna memejam sesaat, mencoba tetap sabar terhadap situasi seperti ini. “Di mana Nightroe?” tanyanya memastikan. Mungkin mereka perlu bicara. Hal – hal seperti ini tidak seharusnya terjadi. “Tuan Nightroe meninggalkan mansion sejak semalam.” Bagus. Jika Nightroe tidak kembali setelah pria itu meninggalkannya sendirian di kamar. Lalu siapa orang yang menjadi pilihan terdekat untuk bisa diasumsikan telah mengerjakan semua hal yang tampak kacau semalam? Sorot mata Svanna menatap lurus ke wajah Elisabeth. Bertanya – tanya mungkinkah? “Apa semalam kau datang ke kamar ini?” Lebih adil bertanya langsung kepada wanita paruh baya itu. Namun, gelengan samar memberi dia petunjuk bahwa masih ada begitu banyak pertanyaan mengambang ke permukaan. Svanna menghela napas kasar, kemudian memutuskan untuk menerima nampan sarapan. Dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Berharap Elisabeth tidak menunggu dan membuatnya merasa tidak nyaman oleh situasi seperti diawasi. “Kau boleh pergi, Elisabeth. Aku akan memanggilmu jika sudah selesai.” Hanya itu. Selebihnya tidak ada apa pun lagi yang bisa mereka bicarakan. Elisabeth pada akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan kamar. Hal yang tak pernah luput dari perhatian Svanna sebelum memutuskan sekadar menunduk mengamati sarapan di pangkuan sendiri.“Bukankah sudah kukatakan kepadamu untuk tidak mencampuri urusanku?” Tubuh Svanna terseret jatuh nyaris menghantam kaki ranjang. Dia tidak begitu siap menghadapi kemarahan Nightroe yang cukup tenang, tetapi juga begitu berbahaya. Mengerti ini akan terjadi. Mereka akhirnya kembali di suatu tempat, kamar di mana semua terasa seperti neraka. Betapa mata sapphire—biru yang teramat pekat, meninggalkan jejak menakutkan. Tubuh Svanna perlu beringsut beberapa langkah ke belakang ketika derap penuh ancaman berbahaya mendekat. Nightroe sungguh tidak main – main tentang sebuah penyesalan yang menyergap ke dalam dirinya. Dia ketakutan. Pria itu bahkan tidak menaruh antisipasi pada luka mengganga di bagian lengan. Darah telah merembes deras. Namun, bagi Nightroe ... bagian terpenting saat ini adalah mengingatkan supaya dia memikirkan kembali larangan dari pria itu. Tidak ada yang salah seharusnya. Svanna tidak benar – benar melarang aturan. Dia hanya melakukan sesuatu yang
“Kau ditugaskan untuk mengobatiku?” Nyaris tidak ada kata lain yang bisa Svanna ucapkan. Dia sendiri terlalu bingung terhadap sikap Nightroe. Kebencian di mata pria itu adalah darah segar, tetapi mengapa dialiri perhatian tiba – tiba, seakan meninggalkan sebuah harapan besar? Sungguh. Svanna baik – baik saja terhadap luka kecil di bagian lutut. Ini bukan apa – apa. Dia pernah mengalami yang lebih parah dari yang pernah Nightroe bayangkan, dan itu tetap membuatnya tidak menyerah. Svanna tidak tahu ke mana Nightroe pergi sekarang. Suasana di kamar begitu hening sebelum akhirnya seorang pelayan datang dan memberitahukan sesuatu yang terasa mengejutkan. “Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Terima kasih,” ucap Svanna lembut sembari mengambil alih botol pembersih luka. Ada ketidakmengertian yang membuat dia bertanya – tanya, mengapa bukan Elisabeth yang datang membawa perkakas obat? Mengapa harus wanita berbeda, yang terlihat lebih muda? Ke mana Elisabeth pe
Tempat seindah ini, Svanna makin mengerti tujuan Nightroe melarangnya berkeliaran bebas. Pria itu tidak ingin dia menikmati segala sesuatu yang benar – benar menenangkan. Rerumputan hijau membasah di pagi hari, lalu di seberang sana—hanya sekian jengkal jarak dari taman belakang mansion, merupakan hampran Laut Mediterania dan gulungan ombak yang tampak bergerak sempurna. Svanna tahu bahwa dia mungkin akan memancing kemarahan Nightroe ketika memutuskan agar tidak bersikap patuh. Diam – diam melakukan pelarian diri dari kamar adalah tindakan yang melanggar aturan. Elisabeth tampak begitu khawatir saat mendapatinya keluar kamar, tetapi dia memastikan wanita paruh baya itu tidak akan terlibat apa pun. Rasanya, ada keinginan untuk melangkah lebih jauh di sana, tetapi Svanna tidak bisa terlalu melampaui batas. Dia tidak tahu kapan Nightroe akan pulang. Berharap tidak secepatnya, maka dia bisa kembali ke kamar dengan tenang setelah benar – benar merasa puas. “Kudengar Nightroe tidak mengi
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang begitu kosong. Tidak ada Nightroe di sana, dan selimut itu ... sekarang sudah rapi membentang di permukaan kasur. Seseorang jelas melangkah masuk dan menyelesaikan sisa kekacauan semalam. Mungkinkah Nightroe? Svanna segera menghela napas memikirkan hal tersebut adalah bagian paling mustahil. Pria yang membencinya tidak akan pernah menaruh sedikit perhatian. Sudah begitu banyak rasa sakit dan dia tak berharap akan ada saat – saat di mana kebiasaan Nightroe terhadap kebutuhan mencekik lehernya akan kembali terulang. Ini hari pertama setelah menjadi istri dari pria kejam itu. Nightroe Da Sullivan. Tuan Sullivan kedua, Don Nightroe, yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya berdasarkan atur
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara melepaskan seseorang yang bahkan belum melakukan apa pun sebagai bentuk kesalahan. “Apa yang kau mau, Nightroe?” Svanna bisa mendengar sendiri betapa suaranya diliputi nada getar tertahan. Kekhawatiran dalam dirinya berusaha mendesak agar dia melakukan perlawanan diri. Namun, Nightroe selalu memiliki cara untuk membuat situasi terasa sangat menyakitkan. Kemarahan di mata pria itu meninggalkan banyak hal tak terduga yang tak dapat dia gambarkan di antara mereka. Dalam sekejap saja cengkeraman di rahangnya turun menjelma seperti sebuah cekikan mengerikan. Sisa peristiwa kemarin pagi rasanya masih bergenangan di benak Svanna; bagaimana Nightroe membuat dia hampir kehilangan napas, tetapi ka
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan keputusan yang tidak baik – baik saja. Setelah sumpah pernikahan, pria itu bahkan tidak bersedia memberikan sentuhan tambahan atas arahan pastor, selain terlalu kasar menyematkan cincin di jari manisnya, lalu tubuh jangkung itu pergi begitu saja. Pergi seolah tidak pernah ada hari di mana hubungan murni telah mengikat mereka. Svanna tidak akan menyalahkan Nightroe atas situasi seperti ini. Dia yang salah tidak mempertimbangkan kembali ancaman pria itu. Bukankah jauh lebih adil membayangkan neraka seperti apa yang akan Nightroe tawarkan? Daripada memikirkan di mana keberadaan suaminya saat ini. Suami .... Sudut bibir Svanna berkedut getir membayangkan satu prospek tersebut. Menyedihkan. D







