LOGIN“Kau pikir aku melindungi-mu?”
Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu. Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi menggelegar. Semuanya. Tidak akan pernah berakhir seperti sesuatu yang sedang terbayangkan. Svanna seharusnya mengerti bahwa seseorang dengan kebencian membara hebat, tak akan sedikitpun menaruh hati terhadap kondisi apa pun. Urat – urat tangan Nightroe mencuak ke permukaan ketika cengkeraman pria itu turun ke lehernya, lalu menyempit kuat, sekejap saja membuat rasa sakit menyerbu ke seluruh saraf Svanna. Dia berulang kali mengerjap. Secara naluriah membuka bibir supaya bisa menghirup sisa udara yang tertahan di ujung tenggorokan. “Nightroe—“ Pandangan Svanna memburam. Sesak makin mengambil tempat, menuntut sesuatu dalam dirinya agar melakukan paling tidak satu hal .... Dia membiarkan sentuhan tangan turut mengetat di pergelangan Nightroe dan lewat reaksi murni menancapkan kuku – kuku tajam, panjang, di sana. “Lepaskan aku, Nigthroe—“ Namun, pelbagai usaha untuk tetap hidup terasa begitu sia – sia. Nightroe malah berujung kalap, alih – alih memahami bahwa ini akan menjadi kematian yang instan bagi Svanna—kemudian akhir dari kebencian di antara mereka terkubur menjadi satu bersama tanah. Sungguh. Svanna tak ingin menangis di hadapan pria kejam seperti Nightroe, tetapi sudut air di matanya menetes tanpa memberi petunjuk. Hal tersebut barangkali membuat Nightroe merasa sangat puas. Geraman pria itu terdengar sayup dan tiba – tiba semburan udara menyergap masuk di rongga dada Svanna. Dia masih berusaha memahami situasi tak terduga setelah terjerembab jatuh di atas lantai kamar. Segera menengadah ketakutan—sedikit tak menyangka akan mendapati Nightroe melakukan tindakan seperti mengusapkan ujung tangan pada kain di tubuh sendiri, seolah sedang berusaha menyingkirkan sesuatu yang merekat di pergelangan pria itu. Air matanya menetes? Svanna bertanya – tanya, berharap tidak. Sayangnya, dia tak bisa melakukan banyak upaya. Mata sapphire gelap Nightroe menatap sangat tajam, tetapi pria kejam tersebut tidak mengatakan apa pun. Hanya langkah yang dibawa mundur ke belakang dan derap tegas itu perlahan menghilang dari peradaban. Svanna terdiam memikirkan saat – saat di mana—nanti—hidupanya akan berakhir sangat kacau. Mungkin ancaman Nightroe benar. Dia tak boleh menyetujui gagasan tidak masuk akal yang akan menyatukan mereka. Semua justru akan berakhir buruk. Pria itu baru saja menunjukkan bagaimana suasana neraka ketika prospek pernikahan terjadi. Tidak ada keberanian untuk mengambil risiko besar demikian. Lebih adil jika dia tidak berani, sekali saja, memikirkan Nightroe akan menjadi miliknya. Suara ponsel bergetar segera menarik Svanna ke permukaan. Dia mengerjap. Merasa telah terpaku terlalu jauh, kemudian langsung bergegas merenggut benda pipih tersebut secara terburu. Panggilan dari seseorang di seberang sana membuat dia sangat takut membayangkan hal buruk. “Ya, Amira. Ada apa?” Suster rumah sakit, sekaligus kenalan lama yang bertugas memberi perawatan intensif kepada ayahnya. Svanna berharap ini adalah berita bagus, meski menyadari petunjuk akan terlalu samar saat napas Amira terdengar menggebu hebat. [Ayahmu, Anna. Datanglah ke rumah sakit.] Itu semacam reruntuhan hebat di puncak kepalanya. Svanna merasa belum benar – benar siap. Kekacauan di sini. Sikap Nightroe yang tak termaafkan. Kemudian ayahnya .... Dia mengusap wajah kasar dan segera beranjak bangun. Bagaimanapun, harus segera memastikan bahwa semua tidak terdengar seburuk kekacauan di sana. Perjalanan ke rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama. Svanna segera turun dari taksi setelah menyerahkan bayaran. Setiap langkahnya begitu memburu melewati lorong yang terasa sangat menyakitkan. Masih teringat kali pertama dia menginjakkan kaki di sini dan semua seperti membawa harapannya terhanyut arus yang deras. Menakutkan. Penuh dengan ancaman. Mendadak langkah Svanna merambat. Ruang rawat ayahnya sudah begitu dekat, tetapi pemandangan tidak biasa di sana, membuat separuh kemampuan berpikir mendadak tidak terselamatkan. Dia berusaha mencari cara agar tidak terpaku diam. Apa yang dilakukan Russol Sullivan bersama dengan beberapa bawahan pria paruh baya pria itu depan pintu yang menutup rapat? Svanna ragu, tetapi dia tak memiliki pilihan untuk tetap mendekat. Antisipasi di belakang bahu segera meningkat membayangkan kemungkinan mengerikan. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada ayahnya. “Apa yang kalian lakukan di sini?” dan bertanya sarat nada waspada hingga Russol Sullivan menoleh secara naluriah. Porsi wajah tegas yang khas masih memperlihatkan betapa pria paruh baya itu masih terlihat tampan di usia matang. Nightroe benar – benar mewarisi nyaris seluruh DNA ayahnya, mafia paling berkuasa di wilayah Selatan. Mungkin juga berikut dengan pria itu menduplikasikan sisi gelap, sehingga tidak heran Nightroe bisa bersikap sangat kejam. “Kondisi ayahmu sudah begitu kritis. Dokter mengatakan tindakan operasi akan sangat dibutuhkan. Mereka masih menunggu persetujuanmu dan ....” Uang .... Svanna meneruskan di puncak kepalanya, tetapi kebutuhan memotong suara Russol Sullivan terjadi begitu murni dengan dia menerobos di antara tubuh para pengawai pria paruh baya itu. Tidak ada komentar apa – apa. Svanna yakin ini hanya bagian dari tingkat kesabaran Russol Sullivan. Karena jika tidak, sikap lancangnya mungkin akan dihadiahi suara tembakan yang menjemput kematian. Di dalam sana, di balik kaca tembus pandang, segala bentuk tindakan terlihat sedang diusahan dengan serius. Svanna tak bisa membayangkan betapa remuk jantungnya melihat pria yang begitu dia cintai, sedang menghadapi masa – masa terburuk. Antara hidup dan mati. Dia tak bisa menghadapi rasa kehilangan yang begitu sakit. Melakukan operasi. Hanya itu cara terbaik untuk menyelamatkan ayahnya, yang berarti Svanna akan membutuhkan banyak uang. Dia tidak bisa mengusahakan apa pun saat ini, kecuali .... Pilihan paling dekat, tetapi juga merupakan bagian yang begitu menyakitkan. Svanna akhirnya mengatur posisi menghadap Russol Sullivan. Dia gugup. Ironi, desakan untuk memperlihatkan sikap berani adalah hal terakhir yang bisa dia pikirkan. “Apakah tawaran pernikahan itu masih tersedia?” tanyanya lambat. Lupakan tentang keengganan Nightroe pada saat – saat seperti ini. Bukankah setelah menikah, mereka masih bisa bercerai? Paling tidak, itu bisa dikompromi nanti. “Tentu saja, Miss Johannson. Dobre sudah membawakan surat perjanjian jika kau memang setuju.” Svanna menelan ludah kasar ketika salah satu pengawal Russol Sullivan menyerahkan sebuah map berwarna gelap. Ini tawaran pernikahan yang murni, karena di bait – bait pertama hanya meminta persetujuannya sebagai mempelai wanita. Tidak lebih. Lagi lula, Svanna tidak memiliki waktu untuk membaca lebih banyak lagi. “Apa ayahku bisa segera diopersi setelah aku menandatangani ini?” Svanna kembali memastikan agar dia tidak mengambil keputusan yang salah. “Tentu saja. Orang – orangku akan mengusahakan apa pun agar ayahmu selamat.” “Baiklah.” Proses tanda tangan selesai, tetapi yang terburuk adalah ... sapuan mata Svanna harus mendapati keberadaan Nightroe sekian jengkal jarak di antara mereka. Pria itu terlihat luar biasa marah, lalu melangkah pergi begitu saja tanpa mencoba melakukan negosiasi tambahan di antara mereka, seolah luapan dari angkara murka yang ditahan akan lebih buruk dari bayangan di benak Svanna. Dia tidak bisa memikirkan semua itu. Segera memalingkan wajah ke ruang rawat ayahnya, dan sedikit berharap bahwa semua akan berakhir baik – baik saja.“Bukankah sudah kukatakan kepadamu untuk tidak mencampuri urusanku?” Tubuh Svanna terseret jatuh nyaris menghantam kaki ranjang. Dia tidak begitu siap menghadapi kemarahan Nightroe yang cukup tenang, tetapi juga begitu berbahaya. Mengerti ini akan terjadi. Mereka akhirnya kembali di suatu tempat, kamar di mana semua terasa seperti neraka. Betapa mata sapphire—biru yang teramat pekat, meninggalkan jejak menakutkan. Tubuh Svanna perlu beringsut beberapa langkah ke belakang ketika derap penuh ancaman berbahaya mendekat. Nightroe sungguh tidak main – main tentang sebuah penyesalan yang menyergap ke dalam dirinya. Dia ketakutan. Pria itu bahkan tidak menaruh antisipasi pada luka mengganga di bagian lengan. Darah telah merembes deras. Namun, bagi Nightroe ... bagian terpenting saat ini adalah mengingatkan supaya dia memikirkan kembali larangan dari pria itu. Tidak ada yang salah seharusnya. Svanna tidak benar – benar melarang aturan. Dia hanya melakukan sesuatu yang
“Kau ditugaskan untuk mengobatiku?” Nyaris tidak ada kata lain yang bisa Svanna ucapkan. Dia sendiri terlalu bingung terhadap sikap Nightroe. Kebencian di mata pria itu adalah darah segar, tetapi mengapa dialiri perhatian tiba – tiba, seakan meninggalkan sebuah harapan besar? Sungguh. Svanna baik – baik saja terhadap luka kecil di bagian lutut. Ini bukan apa – apa. Dia pernah mengalami yang lebih parah dari yang pernah Nightroe bayangkan, dan itu tetap membuatnya tidak menyerah. Svanna tidak tahu ke mana Nightroe pergi sekarang. Suasana di kamar begitu hening sebelum akhirnya seorang pelayan datang dan memberitahukan sesuatu yang terasa mengejutkan. “Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Terima kasih,” ucap Svanna lembut sembari mengambil alih botol pembersih luka. Ada ketidakmengertian yang membuat dia bertanya – tanya, mengapa bukan Elisabeth yang datang membawa perkakas obat? Mengapa harus wanita berbeda, yang terlihat lebih muda? Ke mana Elisabeth pe
Tempat seindah ini, Svanna makin mengerti tujuan Nightroe melarangnya berkeliaran bebas. Pria itu tidak ingin dia menikmati segala sesuatu yang benar – benar menenangkan. Rerumputan hijau membasah di pagi hari, lalu di seberang sana—hanya sekian jengkal jarak dari taman belakang mansion, merupakan hampran Laut Mediterania dan gulungan ombak yang tampak bergerak sempurna. Svanna tahu bahwa dia mungkin akan memancing kemarahan Nightroe ketika memutuskan agar tidak bersikap patuh. Diam – diam melakukan pelarian diri dari kamar adalah tindakan yang melanggar aturan. Elisabeth tampak begitu khawatir saat mendapatinya keluar kamar, tetapi dia memastikan wanita paruh baya itu tidak akan terlibat apa pun. Rasanya, ada keinginan untuk melangkah lebih jauh di sana, tetapi Svanna tidak bisa terlalu melampaui batas. Dia tidak tahu kapan Nightroe akan pulang. Berharap tidak secepatnya, maka dia bisa kembali ke kamar dengan tenang setelah benar – benar merasa puas. “Kudengar Nightroe tidak mengi
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang begitu kosong. Tidak ada Nightroe di sana, dan selimut itu ... sekarang sudah rapi membentang di permukaan kasur. Seseorang jelas melangkah masuk dan menyelesaikan sisa kekacauan semalam. Mungkinkah Nightroe? Svanna segera menghela napas memikirkan hal tersebut adalah bagian paling mustahil. Pria yang membencinya tidak akan pernah menaruh sedikit perhatian. Sudah begitu banyak rasa sakit dan dia tak berharap akan ada saat – saat di mana kebiasaan Nightroe terhadap kebutuhan mencekik lehernya akan kembali terulang. Ini hari pertama setelah menjadi istri dari pria kejam itu. Nightroe Da Sullivan. Tuan Sullivan kedua, Don Nightroe, yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya berdasarkan atur
Sekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara melepaskan seseorang yang bahkan belum melakukan apa pun sebagai bentuk kesalahan. “Apa yang kau mau, Nightroe?” Svanna bisa mendengar sendiri betapa suaranya diliputi nada getar tertahan. Kekhawatiran dalam dirinya berusaha mendesak agar dia melakukan perlawanan diri. Namun, Nightroe selalu memiliki cara untuk membuat situasi terasa sangat menyakitkan. Kemarahan di mata pria itu meninggalkan banyak hal tak terduga yang tak dapat dia gambarkan di antara mereka. Dalam sekejap saja cengkeraman di rahangnya turun menjelma seperti sebuah cekikan mengerikan. Sisa peristiwa kemarin pagi rasanya masih bergenangan di benak Svanna; bagaimana Nightroe membuat dia hampir kehilangan napas, tetapi ka
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan keputusan yang tidak baik – baik saja. Setelah sumpah pernikahan, pria itu bahkan tidak bersedia memberikan sentuhan tambahan atas arahan pastor, selain terlalu kasar menyematkan cincin di jari manisnya, lalu tubuh jangkung itu pergi begitu saja. Pergi seolah tidak pernah ada hari di mana hubungan murni telah mengikat mereka. Svanna tidak akan menyalahkan Nightroe atas situasi seperti ini. Dia yang salah tidak mempertimbangkan kembali ancaman pria itu. Bukankah jauh lebih adil membayangkan neraka seperti apa yang akan Nightroe tawarkan? Daripada memikirkan di mana keberadaan suaminya saat ini. Suami .... Sudut bibir Svanna berkedut getir membayangkan satu prospek tersebut. Menyedihkan. D







