The Unclaimed Omega: My Alpha is a Nightmare

The Unclaimed Omega: My Alpha is a Nightmare

last updateLast Updated : 2024-08-04
By:  Hee ShaCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
159Chapters
5.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

[MATURE CONTENT]. His hand shot out and reached beneath the hem of River’s dress with a swiftness that startled her. A yelp escaped her lips as he yanked it upwards, exposing a bare thigh. Shame burned and took over every fiber in her. She shrank back, burying her face in her hands. This was torture. Why was he doing this to her? A sinister scoff escaped his lips. “What's wrong, little one?" he mocked, his face inches from hers. "Scared?" Scared? Yes. But of him? No. Of herself? Hell, yeah. ~~~~~~~~~~~~ River, an omega hybrid who was betrothed to an Alpha’s son since birth does nothing but dream of their future together. Her dream shatters on her 19th birthday when Gonzalo rejects her after revealing he is in a secret affair with her big sister. Heartbroken and betrayed, River attempts to flee to the human world, vowing never to return. However, she is instead snatched by a ruthless vampire who takes her back to his home as a prize. Unbeknownst to her, she carries Gonzalo's child. After years of serving the vampire who falls in love with her along the way, news of rogue attacks forces River to escape back to her pack. Though prepared for questions about her secret child, River isn't prepared for the simmering tension and passion with Gonzalo who is haunted by his past mistake and is desperate for forgiveness. She certainly doesn't expect him to forcefully claim her when she seems determined to hate him forever.

View More

Chapter 1

He's Here

Alfons berjalan ke lemari minuman dan mengambil pemotong cerutu. Kemarin, dia masih meringkuk di kamar sewaan yang bocor angin dan mengeluh sakit tangan padaku. Dia bilang, mengangkat batu bata membuat otot dan tulangnya cedera. Mangkuk saja tidak bisa dipegang dengan stabil, bahkan untuk mencuci muka pun harus aku yang memeras handuk.

Ponsel di atas meja bergetar.

Alfons menggeser layar. Pesan dari grup "Pusat Kebugaran Tuan Muda".

[ Jovan: Sudah cukup mainnya? Ini masih suasana tahun baru, kamu ini terlalu totalitas. Masa benar-benar tinggal di perkampungan kumuh itu selama tiga tahun? ]

[ Ed: Iya, masa sih orang bodoh itu masih belum sadar? Aktingmu juga keterlaluan. ]

Alfons menggigit cerutu, jarinya mengetuk layar.

[ Alfons: Ini namanya melatih istri. Perempuan nggak boleh terlalu dimanjakan. ]

[ Alfons: Kalau dia pernah menemanimu susah, nanti dia baru akan setia mati-matian. Tiga tahun ini cuma tes kepatuhan. Dari yang kulihat sekarang, hasilnya cukup bagus. ]

Grup itu langsung dipenuhi pujian.

[ Jovan: Hebat memang kamu ini! Dulu kami bahkan menyuruhmu jangan sampai kebablasan. Sekarang kelihatannya kakak ipar benar-benar sudah kamu kendalikan sepenuhnya. ]

Alfons tersenyum puas, ujung jarinya menggeser layar dan membuka album foto.

Di dalamnya ada fotoku.

Itu di hari ulang tahunku bulan lalu. Untuk sekali itu dia bermurah hati mengajakku makan mi polos seharga 20 ribu semangkuk. Di foto itu, aku memegang mangkuk mi yang hanya berisi beberapa helai sayur hijau sambil tersenyum penuh kebahagiaan.

Itu adalah pertama kalinya dalam tiga tahun aku makan di luar. Aku kira dia masih memedulikanku. Tanpa kusadari, dia memotret foto itu hanya untuk mengirimkannya ke grup tersebut sebagai bahan hiburan mereka.

Keterangan yang dia tulis di foto itu adalah:

[ Lihat, cuma semangkuk mi sudah bisa membuatnya bersyukur setengah mati. Rasa puas yang murahan begini nggak akan kamu temukan pada para gadis kaya seperti kalian. ]

Di bawah foto itu, ada balasan dari Amanda.

[ Kasihan sekali, kayak anjing liar yang kelaparan tiga hari. ]

Alfons bukan hanya tidak menghapusnya, dia bahkan membalas dengan emotikon jempol. Hal yang begitu berharga bagiku, dia jadikan bahan ejekan yang murahan.

Perutnya tiba-tiba berbunyi. Alfons mengusap perutnya, alisnya berkerut. "Ke mana perginya si bodoh itu?"

Dia melirik jam dinding, pukul delapan malam.

"Beli daging saja harus mulai dari beternak dulu ya? Entah kabur ke mana lagi buat malas-malasan."

Dia menekan nomor yang dipasang paling atas.

Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada yang mengangkat. Ponselku sedang tergeletak di dasar selokan lima kilometer jauhnya. Layarnya penuh retakan, ternoda darah yang terbatuk dari mulutku dan sedari tadi sudah tidak aktif lagi.

Di sampingnya ada tubuhku yang kaku dan sekotak daging tumis yang isinya tercecer di tanah.

Alfons menekan tombol pesan suara.

"Sabrina, ke mana aja sih kamu? Cuaca sialan begini kamu mau ke mana? Sengaja kabur buat malas-malasan, ya?"

"Tiga menit. Kalau kamu nggak segera balik buat masak, seumur hidup jangan harap bisa masuk ke rumah ini!"

"Nggak tahu diri!"

Aku melayang di depannya, mulutku menganga ingin berteriak, "Alfons, aku nggak malas. Jalanan licin, tanjakannya terlalu curam, aku dan motorku jatuh ke bawah! Tulang rusukku patah hingga menusuk paru-paru, sakit sekali, aku benar-benar nggak bisa bangun ...."

Sekeliling sunyi senyap. Dia tidak mendengar. Kalaupun mendengar, mungkin dia mengira aku cuma berpura-pura menderita. Di matanya, aku ini tahan banting. Mana mungkin bisa mati hanya karena terjatuh sekali?

Alfons memaki beberapa kali, lalu melempar ponselnya ke sofa. "Benar-benar kebiasaan buruk yang dimanjakan." Dia memesan setumpuk makanan lewat tablet.

Harga makan malamnya 7,6 juta. Itu hanya makan malam yang dia pesan sesuka hati. Demi uang sekecil itu, aku mengendarai motor listrik dengan rem yang sudah tidak berfungsi di tengah badai salju minus 20 derajat untuk menyelesaikan 200 pesanan.

Kakiku hampir putus, tanganku membeku, dan nyawaku melayang. Uang yang kudapat, bahkan tidak cukup untuk semangkuk sup yang dia minum. Aku hanya bisa menatapnya begitu saja. Dia duduk santai di sofa dengan kaki disilangkan, menunggu makanan antar khusus dari hotel bintang lima.

Sementara itu, aku berada di dalam selokan, menunggu sisa kehangatan terakhir dari tubuhku menghilang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Waris
Waris
Better read than satisfying your lust....Would love to read another romance novel of yours
2024-07-06 22:30:09
2
1
159 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status