LOGINSometimes we bear the punishments for the mistakes we didn't commit. As the above sentence said, Adira Elisaveta, the werewolf princess now going to bear the punishments for her elder's mistakes. The vengeance between the vampire and Werewolf races hasn't ceased for centuries. As the bloodline of both races decreased, they worried that they may turn non-existent. So, both the races decided to cease the wars and bloodshed with the marriage pact between them. Can a werewolf accept a man who wasn't her mate? Can she lead a life with the Vampire king? When she was struggling with all her troubles with the marriage, she was supposed to meet the Vampire King. During their first meet, she was shocked to the hell when her wolf screamed MATE seeing the vampire king. Can things get worse than this in her life? Can she accept him? To know more... read the story of the Werewolf Princess Adira Elisaveta.
View More“Mas, bisa aku minta waktunya sebentar? Aku mau ngomong penting.” Suara Navya terdengar begitu tegas, tapi tak bergetar.
Pandangannya lurus menatap pria berstatus suaminya yang ada di hadapannya, tak sedikit pun ia menunduk atau merasa ragu. Aldevaro Mahendra, yang biasa dipanggil Al, enggan untuk menatapnya, dia masih saja berfokus pada laptop di hadapannya. “Ya, ngomong aja, Nav.” “Mas, tolong tutup laptop kamu dulu. Aku mau ngomong serius sama kamu!” Suara Navya mulai meninggi. Kesal karena merasa diabaikan. “Ya ngomong tinggal ngomong aja, Navya. Biasanya juga begitu,” balas Al masih serius mengetikkan sesuatu di atas keyboard laptopnya. Navya menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air matanya, lalu dengan penuh keyakinan ia berkata dengan tegas, “Kita cerai aja, Mas!” Al seketika menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi jemarinya menari dengan lincah di atas keyboard. Kedua alisnya berkerut sambil mengangkat wajahnya, menatap Navya yang berdiri di depan meja kerjanya, sedang menatapnya dengan tatapan tegas, tapi sendu. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan yang begitu kentara. “Apa?” Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun penuh dengan ketegangan. “Aku mau kita cerai, Mas,” ulang Navya, kali ini lebih dingin. Tak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Al menutup laptopnya sedikit kasar, menatap tajam istrinya. “Kenapa tiba-tiba? Apa salahku? Selama ini aku selalu kasih kamu kebebasan. Aku nggak pernah melarang apa pun yang kamu mau, Navya." "Aku selalu memberikan nafkah untuk kamu. Aku bahkan menepati janji aku untuk berdonasi setiap bulannya di panti asuhan Kasih Bunda seperti yang kamu mau. Apa itu semua masih kurang?” Navya adalah seorang gadis yang berasal dari panti, karena sejak bayi dia sudah ditinggalkan oleh orang tua kandungnya di depan gerbang panti. Panti asuhan Kasih Bunda adalah tempat Navya dirawat dan dibesarkan hingga menjadi seorang perawat yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Mahendra. Namun, saat Al menikahinya, Al mengatakan bahwa dia tidak ingin Navya bekerja lagi sebagai asistennya. Dia ingin Navya fokus merawat kedua buah hatinya dari pernikahan sebelumnya dengan mantan istrinya, dan dia menjanjikan Navya untuk tidak perlu mengkhawatirkan tentang panti tempatnya tinggal sebelum menikah dengannya, karena dia akan memenuhi segala kebutuhan panti setiap bulannya, asal Navya menjadi istri yang baik dan patuh padanya. “Kebebasan? Nafkah?” Navya tertawa kecil, tapi tak ada tawa dalam matanya. “Apa artinya kebebasan kalau aku cuma peran figuran dalam hidup kamu, Mas? Aku ... aku capek, Mas. Aku capek selalu dibayang-bayangi Zoya. Selama ini, kamu nggak pernah menganggap aku sebagai istri kamu, aku cuma kamu anggap sebagai pengasuh untuk Axel dan Lexa.” “Jadi benar kata Zoya, kamu beneran cemburu sama dia? ... Navya, kamu tau situasinya nggak sesederhana itu.” Al berusaha menahan emosi yang mendesak dadanya. “Zoya cuma butuh waktu sama anak-anak karena sakitnya. Apa kamu benar-benar berpikir kalo aku lebih memilih dia daripada kamu?” “Tentu!” jawab Navya tajam. “Istri mana yang nggak akan memiliki pemikiran sama seperti aku di saat suaminya selalu ada di sisi mantan istrinya. Setiap dia telfon kamu, kamu langsung lari. Setiap dia nangis, kamu yang hapus air matanya. Sementara aku? Aku hanya kamu anggap sebagai patung yang selalu menyaksikan kamu dan Zoya berperan sebagai pasangan sempurna yang seharusnya sudah berakhir bertahun-tahun lalu.” “Zoya lagi sakit, Navya! Tolong mengerti!” Al akhirnya meninggikan suaranya, tak bisa lagi menahan. “Dia mungkin akan mati! Kamu mau aku mengabaikannya begitu aja?” “Kalo dia memang sakit, aku bakalan ngerti,” kata Navya dengan tenang, tetapi matanya penuh luka yang dalam. “Tapi aku tau banget, Mas. Zoya nggak sakit, dia cuma pura-pura.” “Apa?” Al terlihat terguncang, seakan tidak bisa menerima apa yang baru saja dikatakan Navya. “Apa maksud kamu?” “Dia cuma pura-pura sakit, Mas! Dia itu bohong!” tegas Navya lagi. “Stop, Navya! Berhenti menuduh Zoya begitu! Aku muak setiap kamu berusaha memfitnah Zoya dengan pikiran-pikiran jelek kamu itu!” bentak Al yang berhasil meruntuhkan pertahanan Navya yang sejak tadi berusaha menahan air matanya. Cairan bening itu luruh di kedua pipinya. Namun, dia menghapusnya cepat dengan usapan kasar. “Aku nggak pernah fitnah dia, Mas! Justru dia yang selalu memfitnah aku di depan kamu! Selama setahun ini aku berusaha membuktikannya, tapi kamu nggak pernah mau dengerin aku. Kamu selalu berpihak sama dia, selalu lebih percaya sama dia.” Navya menatap Al, menantang suaminya dengan tatapan yang menusuk. “Aku nggak bisa lagi hidup kayak gini. Aku udah coba buat bertahan, tapi ... aku capek, Mas. Keputusan aku udah bulat. Aku yang bakal pergi dari hidup kamu.” Al menggelengkan kepalanya keras-keras, matanya berkilat penuh amarah. “Kamu salah besar kalo kamu pikir aku akan melepaskan kamu begitu aja. Kamu milik aku, Navya. Aku nggak akan membiarkan kamu pergi hanya karena kamu merasa cemburu sama Zoya. Semua ini akan selesai begitu dia ... begitu dia ....” “Begitu dia apa? Begitu dia mati? Iya?” Navya menyelesaikan kalimat Al dengan suara dingin. “Sampai kapan aku harus nunggu, Mas? Sampai kapan aku harus menyaksikan dia memonopoli perhatian kamu?" "Sampai aku benar-benar hancur dan memutuskan untuk mengakhiri nyawaku sendiri? Dia nggak akan pernah mati karena dia nggak pernah sakit kanker, Mas. Justru aku yang bakal mati perlahan kalo terus memilih bertahan di rumah ini!” Al terdiam. Pikirannya berputar liar, mencoba mencari jawaban yang bisa membuat Navya mengurungkan niatnya untuk bercerai, dan tetap berada di sisinya. Tapi semua alasan yang dulu terasa masuk akal, kini terdengar hampa. Zoya memang sakit, atau itulah yang dia percayai. Namun, apa benar dia sudah terlalu buta untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya dengan Navya? “Aku nggak akan pernah menceraikan kamu, Nav,” kata Al akhirnya, suaranya tegas, memotong kebisuan yang mencekam. “Apapun alasannya, kita nggak akan pernah bercerai!” Navya menghela napas kasar dan untuk kedua kalinya, air mata kembali menggenang di matanya. “Ini bukan tentang apa kamu setuju atau nggak, Mas. Ini tentang aku. Aku udah capek nunggu kamu bisa cinta sama aku." "Dan, luka di hati aku udah terlalu dalam, Mas. Aku sekarang ngerti kenapa kamu nggak pernah sentuh aku selama tiga tahun pernikahan kita." "Aku tau kamu masih mencintai Zoya, Mas. Jadi, tolong ceraikan aku, dan rujuklah sama Zoya. Aku akan mengalah untuk kebahagiaan kamu dan anak-anak." "Walau bagaimanapun, Zoya adalah ibu kandung Axel dan Lexa. Mereka pasti akan jauh lebih bahagia kalo kalian rujuk. Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaan kamu, Axel, dan Lexa.” Al menatap Navya, bingung antara kemarahan dan ketakutan. Ia tak pernah berpikir bahwa Navya benar-benar akan berpikir untuk meninggalkannya. Bagi Al, semuanya hanya masalah waktu, bahwa semua ini akan kembali normal begitu Zoya tak ada lagi di dalam hidup mereka. Tapi kenyataannya sekarang memukulnya begitu keras. “Aku nggak bisa cerai sama kamu,” ulang Al, nadanya seperti ancaman. “Kamu milikku. Selamanya kamu cuma akan jadi istri aku. Aku akan coba memperbaiki hubungan kita. Zoya tidak akan jadi masalah lagi. Aku akan menjaga jarak dengan dia. Dan aku akan memberikan nafkah batin yang kamu mau.” Navya menatap Al dengan tatapan penuh kesedihan, seolah ia tahu bahwa janji itu hanyalah kata-kata kosong. “Udah terlambat, Mas. Aku nggak butuh lagi. Aku cuma mau bebas dari kalian ... dari Zoya, dari semua kesakitan yang kamu torehkan setiap harinya sama aku.” Dengan satu langkah mundur, Navya berbalik, meninggalkan Al yang masih duduk terpaku di tempat. Sementara Al hanya bisa menatap kepergian istrinya, tiba-tiba merasa seolah ia kehilangan segalanya.Ch-118As the battle raged on, Maximus and Zaros fought valiantly against Azazel and Vrykolakas, their movements growing sluggish with exhaustion. Lenora and Adira watched with growing concern, knowing that their companions could not hold out much longer against their formidable foes.Adira, who had been feigning unconsciousness, seized the opportunity to speak with Lenora, her voice urgent with purpose. "I think they need something special to kill them," she whispered, her eyes darting towards the coffin of Lazarus.Lenora nodded, understanding dawning in her eyes. "You're right. Lazarus vowed to kill him. Then it could only mean something related to Lazarus could kill him. If Lazarus could kill Vrykolakas, then there must be something in his coffin that we can use as a weapon.""I'll go get it," Adira volunteered, determination burning in her gaze. As the chaos of battle unfolded around her, Adira's heart clenched with worry for her husband, Zaros, and her brother, Maximus. With eac
Ch-117"Then why have you entertained me till now?" Lenora asked. "Because I wanted to have one last conversation with my granddaughter," he said with a smile. "I regret being his daughter and your granddaughter. How blind was my mother able to be?" Lenora said with hatred in her eyes. "Well, what could I say if your bloodline is obsessed with my sons?" he laughed. Lenora looked at him with hatred. Azazel already started reciting spells. Maximus and Zaros stood outside the hall with anger bubbling in his chest. Even he didn't know why, but when Vrykolakas said that he killed the love of Lazarus, he wanted to rush in and kill him. But Zaros stopped him on time. "Now is not the time. Wait," Zaros said. Inside, Lenora tried to get up, but she was stuck to the ground as if she were under a spell. "Now, your blood and lifeline will make me strong. While your sister-in-law will be my vessel," Vrykolakas said. Lenora could sense her mate mark was gleaming. Which meant her husband was
Ch-116It's the magic globe of Azazel. It fell and broke. Giving a glance, Vrykolakas got back to his story. "Indeed, it is. Women are some mysterious creatures in this world. They knew she wasn't someone who would run away just to escape two men's pursuit. She loved Lazarus. So, both Amdis and Lazarus tried to find the truth about her disappearance. They came to know I locked her in dungeons." he said with a proud smile on his face, which only looked disgusting with his rotten flesh. "The creatures I created turned against me. The eldest was the most rebellious one. But my youngest was angry yet he calmed down. He always acted in the interests of his people rather than his own. He gradually forgot the woman when he found his fated mate. But Amdis rejected his fated mate and brewed a revenge plot. But Lazarus, the calm one, turned out to be the most vicious one." Vrykolakas eyes turned sinister. Among them all, Lenora was scared that his eyeballs would roll out of his body and look
Ch-115Hearing Lenora's words, Azazel felt that it's time to wake up the ancient. He stood up and started chanting spells. A huge array appeared in the air. As Adira grappled with her thoughts, a sudden movement caught her eye. Slowly, almost imperceptibly, the ancient creature in the room began to stir, its grotesque form emerging from the shadows with a sickening slowness.Adira recoiled in horror at the sight before her. The ancient was a ghastly sight to behold, its flesh rotting away to reveal the grisly remnants of its once-human form. Bugs and maggots writhed and squirmed around its decaying body, casting a foul stench that filled the air with the sickly scent of death.Even Lenora, who had maintained a stoic facade in the face of adversity, felt her stomach churn with revulsion at the sight before her. But she forced herself to remain composed, steeling her expression as Azazel rose to his feet and offered his position to the ancient creature.Adira's mind raced as she strugg






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews