LOGIN“I curse this day that I'm being humiliated and forced to visit hades, I will return and make their life more than a living hell — not even the Moon Goddess can save any soul!” Janet, who dated the Alpha's son for years, disregarding the fact that they weren’t mates, turned herself into a puppet for his achievement. For his Alpha tribulation, she willingly agreed to do everything for him, and in the end — she found out that he had been dating her best friend and on her return was their marriage. All she asked for was a second chance, a second chance to make things right - to rewrite her past and pay them back!
View More"Mas, ini brosur sekolah buat Adel. Ini sekolah bagus Mas, IT dan mungkin bagus buat perkembangan agamanya Adel. Coba di lihat."
Soraya istriku menyodorkan brosur harga sekolah SDIT yang tidak jauh dari rumah kami. Aku menghela napas, akhirnya mengambil brosur itu dari tangannya. Berat. Bukan kertasnya, tapi bayangan angka-angka yang pasti tertulis di dalamnya. Aku hanya mendengus pelan, menatap brosur itu sekilas. Huruf-huruf besar berwarna biru mencolok: "Sekolah Dasar Islam Terpadu—Mencetak Generasi Berakhlak dan Berprestasi". Aku membukanya perlahan. Mataku langsung tertuju ke bagian "Bi@ya Pendaftaran". Deretan angka berjajar rapi, dengan nominal yang cukup untuk memb3li motor bekas dalam kondisi lumayan. Aku bisa merasakan keningku berkerut, gegas aku kembali menaruh di meja. Soraya menatapku, seakan bisa membaca pikiranku. "Mas, memang m@hal, tapi coba pikir, ini buat Adel," suaranya pelan, tapi tegas. Aku diam. Di satu sisi, aku ingin memberikan yang terbaik untuk Adel. Tapi di sisi lain, aku juga tahu ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. "Kita bisa cari sekolah lain dulu, atau bahkan seolah negri saja sama kok biayanya dan pastinya bagus," kataku akhirnya, mencoba tetap tenang. Soraya menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. Namun, aku bisa melihat dari matanya bahwa ini belum selesai. "Hmm... " "Mas, dilihat lagi yang jelas. Beberapa bulan lagikan Adel SD, Mas," ucap Soraya lagi. Terpaksa aku mengambilnya lagi, padahal aku sudah tahu karena sekolah yang direkomendasikan istriku hampir sama dengan sekolah Adinda--keponakanku dan sudah jelas bulanan saja mahal apalagi u@ng pangkal. "Lebih mvrah sih dari sekolah Adinda, Mas. Memang sekolah negri sama bagusnya, tapi aku mau lebih ada pendalaman agama lagi pula pengh@silan kamu pun cukup untuk memb@yar bulanan dan daftar ulang tiap tahun," ucap Aya lagi. "Kalau mau sekolah IT kenapa kamu baru bilang sekarang, harusnya sejak awal. Kan bisa masuk gelombang pertama. Lebih murah, kalau sekarang kan sudah mahal," kataku mencoba mengalihkan. Kulihat wajah Soraya berubah pias. Bahkan dia kembali mengambil brosur itu dan bangkit berdiri di hadapan aku. "Mas, kamu bilang beberapa persen kamu tabungkan buat biaya sekolah Adel kan? Kenapa kamu seolah-olah tidak ada uang untuk sekolah Adel, penghasilan kamu itu besar loh sebagai General manager," ucap Soraya. Aku menarik napas panjang, yah penghasilanku memang sangat cukup untuk membayar uang pangkal, tapi ... Ah sudahlah. Aku harus tegas pada Soraya. Lagi pula sama saja kan sekolah juga. Negri dan swasta. "Ma, kamu jangan ikut campur urusan keuangan aku. Sudah aku katakan, aku memberimu segitu ya sudah. Jangan protes dan meminta lebih. Kamu pikir, aku gudang uang apa!" Kutinggalkan istriku ke dalam, berdebat dengannya sangat membuang waktu. Gegas aku kembali merebahkan tubuh, harusnya saat libur seperti ini dia tidak membuat mood aku jelek. Ting ... Sebuah pesan dari Mbak Maya membuat aku beralih pada ponsel di nakas. "Dan, besok malam Tante Inggit ngundang kita ke acaranya. Ulang tahun dia, kamu datang ya tapi jangan ngajak Soraya. Istri kamu itu nanti hanya bikin malu saja di sana." Aku menarik napas panjang, Mba Maya ini lupa apa tidak sih, aku sudah berkeluarga tapi tidak pernah boleh mengajak Soraya ke acara penting. Tapi, ada benarnya juga. Sehari-hari saja pakai daster bolong. Adanya nanti buat malu aku di sana. Sedangkan Tante Maya itu investor besar. Mungkin saja aku bisa mendapatkan investasi di perusahaan kecil yang baru aku bangun tanpa sepengetahuan Soraya. Perutku terasa lapar, lebih baik aku makan dari pada kena Magh. Kukira akan mendapatkan lauk enak, tapi kenapa hanya nasi goreng saja? Kemana uang yang aku berikan awal bulan, masa tanggal 15 sudah habis? "Ma, kamu enggak masak?" Aku melangkah menghampiri Soraya. "Itu kan ada di meja makan, nasi goreng. Makan aja yang ada, Pa. Seadanya saja," jawabnya santai. "Seadanya bagaimana? Nasi goreng doang, aku kerja capek dari pagi pulang malam, hari libur kamu suguhi nasi goreng doang? Uang yang aku kasih ke kamu sebulan ke mana?" tanyaku berapi-api. "Awal bulan kamu kasih aku satu juta, bilangnya pegang aja dulu, nanti tanggal 10 kamu transfer lagi. Tapi, aku Wa kemarin bilang uang masak abis karena ibu datang dan minjem buat beli makanan bekal buat Adinda, tapi kamu bilang iya aja." Soraya bangkit menghampiri aku lebih dekat. "Sampai tanggal 15 kamu enggak transfer loh, Pa." "Ya, aku lupa. Kenapa kamu enggak ingetin?" tanyaku. "Bukannya sudah, tapi kamu bilang nanti pulang kerja. Tapi, pulang kerja kamu pulang malam karena mengantar Mba Maya ke rumah sakit berobat Adinda kan? Ehm,, jangan-jangan kamu juga yang bayar ke dokter anak." "Jangan asal bicara!" "Kalau enggak santai aja jangan emosi. Aku masih di depan kamu, ini rumah bukan hutan. Jadi, jangan berteriak seolah-olah aku tidak bisa mendengar. Kalau enggak ya sudah," ujarnya. Aku menarik napas, kesabaran ini sangat tipis menghadapi Soraya yang sekarang mulai membantah. Apa karena sekolah Adel yang aku tolak? Astaga perutku lapar, mau tidak mau aku makan nasi goreng itu. *** "Aku sudah tr4nsfer uang yang kemarin di pinjam ibu. Sama aku tambah buat sampai akhir bulan. Aku enggak mau sampai kamu masak kaya tadi," ucapku. Aku melongok ke dapur, ternyata dia sedang mencuci baju kerjaku. Dia sangat rapi, teliti. Bahkan, kerah baju kerjaku saja tidak pernah kotor. Selalu bersih, berbeda dengan beberapa rekan kerja yang kerah baju sudah hitam tidak hilang. "Hmm ... Makasi." Soraya hanya menjawab itu saja, dia kembali menyikat baju kerjaku dengan tangannya. Kenapa sedingin itu? Apa masih dengan alasan sekolah Adel dia marah atau aku telat transfer uang masak? "Ma, aku nanti malam mau pergi sama Mbak Maya juga ibu ke rumah teman ibu. Ada acara." "Ya, sudah." Loh, kok dia hanya jawab seperti itu. "Ma, aku dari tadi bicara kok kamu malah sibuk mencuci? Kalau suami bicara, lihat dong aku." Emosi aku kali ini. "Aku sibuk Mas, lagi pula apa yang harus aku jawab lagi, toh aku enggak pernah di ajak jadi sudah seperti biasa kan. Harus bicara apa lagi akunya?" Loh kok Aya marah? Menyebalkan sekali. Harusnya dia berkaca sama Mbak Maya, dia janda loh dan masih dandan dan cantik. Berbeda sama Soraya, aku pulang kerja dia pakai daster. Masih bau bawang dan ah .... Malas juga aku mengingatnya. "Aku malas mengajak kamu, aku malu karena kamu enggak pandai berdandan. Beda sama Mbak Maya yang bisa menempatkan diri." Soraya menatapku, lalu dia berdiri di hadapanku. "Kalau kamu modalin aku, aku juga bisa lebih cantik dari Mbak Maya. Kamu lupa, kenapa kamu bisa menikah sama aku? Kalau aku tidak cantik, buat apa kamu mengajak aku menikah?" Sial! Kenapa dia bisa membalikan ucapanku? "Enggak bisa jawab kan kamu?" "Aku tidak mau bahas itu. Kalau aku salah ya sudah maaf." "Maaf? Selalu itu kata keramat yang keluar dari mulut kamu dan besok begitu lagi. Oh, ya satu hal lagi yang harus kamu ingat ,Mas. Jangan pernah bandingkan aku dan Mbak Maya kakak kamu yang enggak jelas dapat uang dari mana bisa menyekolahkan anaknya di tempat mahal dan juga selalu tampil cantik sementara dia saja tidak bekerja." Tangan ini lepas kontrol dan berakhir membuat pipi Soraya merah. ***Janet's POV We arrived at the house and the guards were looking so confused. " What are you talking about? They were under your care, what the hell is going on?" I was so confused. " This happened last night, they left last night and this morning, I could not find them, the door was not locked as well, I do not know how they got out of the cage" he said. I was so pissed, he was meant to look after them and right now, it was like he had helped them escape. I slapped him. " You have to provide them, I do not care how you do it, you have to" I said Berrent held me back and helped me back to the house. I know I was going to cause more harm to them. " You have to calm down," he said. That was all he was going to say at first, he was always saying that in difficult situations like this. " I hope you do have a fix for this, I hope you can locate where they are" I said. He sighed. " I had no idea when they left but one of the guards helped him escape and it was not the one you sl
Chapter 139Janet's POV He grabbed me right from the door, I had texted him that I was on my way to his place. He pulled me in a hug at first, then brought me to his bedroom. " I thought we were to have a conversation first?" I said. I wanted this so much but there was something else I wanted to talk about before anything with Berrent. I know how he can switch from wanting this to not wanting to hear anything about it. I know how hard it can be trying to talk to him and to make him see reasons why he should let me have him to myself once again. He frowned, he did not want to but I did know that this conversation we are about to have was very important to me. " Are.you sure about what you are getting into? Are you sure it is what you want?" I asked him. " I am very sure about it. I did not want this in the first place, and now that I do want it, it is for real. You know that when I say I am certain about something, I am" he blinked his eyes at me. I was not satisfied with the a
Janet's POV " I'm sorry, I can not do this right now, I need to find my parents, my mind is messed up" I said. "I understand you but I want you to trust me, I know what is going on and I want you to believe it when I tell you that your parents are safe, they are only waiting for you to give up the Pack which you do not want to do, you want to fight for it" he said. I decided to believe him, besides, I will need his help to fight them. I was not going to fight them on my own. " I love your eyes," he said. " Did Lisa ask you to tell me that?" " Stop, don't be silly," he smiled. Then went ahead to kiss me passionately. He was soft and treated me like I was going to run away from him if he did not do it right. I loved his lips, it was soft and inviting. This was what I have been wanting for so long and he has never given to me. His hands found their way under my dress, I wanted more. He placed me on the table that was behind me and had his way in between my legs. I wrapped my ha
Janet's POV I was already scared, from the way she looked at me, I knew that something was wrong and there was nothing I could do about it. I was scared for myself. " Tell me what has happened, no matter what it is" I begged her. " Your parents are nowhere to be found. They have been searching for them. The guards that were asked to protect them are all dead" she said. My knees began to feel weak, my eyes were dull as well. I swallowed and held the door so I would not fall down. " What are you saying? What do you mean by that?" I asked her slowly. My voice was fading and I felt like I was drowning. " I went there to see them and I could not find them," she said. The guards are dead? What the hell was going on? Kevin said he was going to get my parents killed, it was just hours ago and now, I do not know who he is talking to and who is doing all the things that he wants. I was weak but I was sad too. I was hurt and angry, I lowered myself to the ground and just had to stay t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews