LOGINDion meninggalkan mansion keluarganya tanpa memberi penjelasan apa pun. Mobilnya melaju menembus malam, berhenti di sebuah apartemen yang sudah terlalu familiar baginya.Clara membukakan pintu dengan senyum yang ia hafal luar kepala.“Tumben,” ujar Clara sambil memeluknya. “Kamu biasanya tidak datang selarut ini.”Dion tidak menjawab. Ia langsung menarik Clara masuk dan menutup pintu dengan keras.Malam itu berlalu tanpa banyak kata.Ketika semuanya usai, Clara berbaring di samping Dion, memperhatikan wajah pria itu yang sejak tadi menatap langit-langit dengan rahang mengeras. Tidak ada senyum puas, tidak ada kehangatan, hanya kegelisahan yang jelas terbaca.“Kamu kenapa?” tanya Clara pelan.“Dari tadi kelihatan seperti orang mau meledak.”Dion menghela napas panjang, lalu tertawa singkat tanpa humor.“Ada yang mencoba merebut sesuatu yang seharusnya jadi milikku.”Clara menoleh.“Ara?”Dion menatapnya.“Ya.”Clara bangkit setengah duduk.“Bukannya orang tuanya sudah setuju dengan per
Pintu utama mansion tertutup dengan bunyi berat yang menggema di ruang tamu.Keheningan jatuh, bukan keheningan yang tenang, melainkan menekan.Ara masih berdiri kaku. Napasnya terasa pendek, dadanya naik turun tidak beraturan. Tangannya perlahan mengepal, seolah baru sekarang tubuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi.Ratih memecah diam lebih dulu.“Ara…”Ara menoleh. Wajah mamanya campuran antara khawatir, bingung, dan kecewa.“Apa yang kamu lakukan barusan?” suara Ratih pelan, tapi tajam.Ara menelan ludah.“Aku hanya jujur, ma.”Hendra berdiri dari kursinya, wajahnya keras.“Kamu sadar apa konsekuensi dari apa yang baru saja terjadi?”Ara mengangguk.“Aku sangat sadar, pa.”“Lalu kenapa tetap kamu lakukan?” suara Hendra meninggi sedikit.Ara menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar rapuh.“Karena aku sudah lelah, pa. Aku sudah mencoba menuruti semua keinginan kalian. Tapi kali ini tidak, ini hidupku.”Ratih memejamkan mata sejenak.“Kamu memp
Ara melangkah keluar melewati gerbang mansion tanpa menoleh. Pak Maman sempat memanggil, namun Ara hanya mengangkat tangan sekilas. Langkahnya terus menjauh, menyusuri jalan kecil hingga mencapai jembatan tua yang membentang di atas sungai.Gerimis turun perlahan.Ara berhenti tepat di tengah jembatan. Ia menunduk, melepas sepatunya, lalu berjalan kepinggir menatap pembatas besi yang dingin. Di bawah sana, air sungai mengalir deras, menghantam batu-batu dengan suara yang konstan seolah tidak peduli pada siapa pun yang berdiri di atasnya.Ara menatap ke bawah lama.Kenapa aku selemah ini?Kenapa aku tidak pernah benar-benar bisa menentang orang tuanya?Aku sudah mencoba segalanya. Membantah, menolak, berdebat, bahkan kabur ke Eropa. Tapi yang ia dapatkan bukan kebebasan, melainkan kesalahan lain.Ara memejamkan mata.Malam itu.Hotel di Yunani.Elvano.Sudah satu bulan lebih berlalu, tapi ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Dadanya mengencang saat satu pikiran menyusup, dingin
Keesokan harinya, pagi di mansion Paramita terasa berbeda.Deru mobil hitam berhenti di halaman. Hendra turun lebih dulu, diikuti Ratih. Wajah keduanya tampak lelah setelah perjalanan panjang, namun sorot mata mereka tetap tajam penuh perhitungan.Bi Inah menyambut dengan senyum lega.“Selamat datang, Tuan, Nyonya.”Ratih mengangguk singkat.“Ara sudah di rumah Bi?”“Sudah, Nyonya. Masih di kamar.”Hendra menanggalkan jasnya, berjalan ke ruang tamu.“Kita bicara nanti. Panggil dia.”Tak lama kemudian, Ara turun. Wajahnya terlihat tenang, namun ada garis tipis kelelahan yang sulit disembunyikan.“Kalian sudah pulang,” katanya.Ratih menatap putrinya lama.“Kami dengar ada insiden di kantor.”Ara menegang sepersekian detik. “Insiden?”“Dion datang tanpa izin,” sela Hendra. “Dan membuat keributan.”Ara menatap ayahnya.“Itu urusan pribadiku pa.”Hendra duduk, menyilangkan kaki. “Urusan pribadi menjadi urusan keluarga kalau menyentuh reputasi.”Ratih melangkah mendekat, suaranya lebih lem
Pintu lift tertutup dengan dentingan pelan.Dion berdiri sendiri di dalamnya, rahangnya mengeras, tangan mengepal di sisi tubuh. Pantulan wajahnya di dinding lift menunjukkan senyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.Berani sekali kamu menolakku, Ara.Lift turun perlahan. Angka-angka di panel menyala satu per satu, sementara pikirannya bekerja jauh lebih cepat.Pria itu.Elvano Adhitama.Dion mengingat cara Elvano menahan lengannya, tenang, tidak meledak-ledak, tapi jelas penuh peringatan. Itu bukan tipe pria yang bertindak karena emosi. Itu yang berbahaya.Begitu pintu lift terbuka, Dion melangkah keluar dan langsung merogoh ponselnya.“Clara,” ucapnya begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah bahkan terlalu tenang.“Kamu masih mau buktiin kalau kamu berguna?”Di seberang sana terdengar tarikan napas gugup.“Aku… aku harus melakukan apa Dion?”Dion tersenyum kecil.“Cari tahu semua tentang Elvano Adhitama. Jadwal, kebiasaan, siapa saja yang dekat dengannya.
Kantor Paramita Group mulai dipenuhi aktivitas sejak pagi. Lantai desain di mana tim arsitek bekerja tampak sibuk seperti biasa, monitor menyala, sketsa terbentang, dan suara diskusi teknis saling bersahutan. Namun bagi Ara, pagi itu terasa berbeda.Ara berdiri di depan meja kerjanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar fokus. Beberapa kali ia menggeser kursor, lalu kembali menghentikannya. Tangannya menggenggam pulpen lebih lama dari yang diperlukan.Julian mendekat sambil membawa map tipis.“Non Ara,” ucapnya sopan.“Tuan Hendra menitipkan pesan.”Ara menoleh.“Silahkan.”“Beliau meminta Non memastikan presentasi lanjutan proyek Adhitama siap minggu ini. Tidak ada revisi terlambat.”Ara mengangguk.“Saya mengerti.”Julian tidak langsung pergi.“Dan… Tuan Hendra juga berharap komunikasi Non dengan pihak Adhitama tetap intens.”Ara menatap Julian beberapa detik, lalu berkata tenang,“Terima kasih sudah menyampaikan.”Julian menunduk singkat sebelum melangkah pergi.Ara menarik na







