LOGINFLASHBACK ON
Ara memejamkan mata di tengah dentuman musik Trance yang memekakkan telinga di club tepi tebing Santorini. Sudah tiga minggu ia berada di sini, melarikan diri dari Jakarta dan dari cincin yang disiapkan oleh orang tuanya untuk menjodohkannya. Ia minum terlalu banyak malam ini. Ia butuh mati rasa. Tiba-tiba, sebuah tangan asing yang kasar mencengkeram lengannya. "Come with me, sweetheart. You're way too drunk to be on your own." "Ayo ikut aku, Sayang. Kau sudah terlalu mabuk untuk sendirian," bisik suara berat seorang pria asing yang berbau alkohol dan parfum murahan, menyeretnya menjauh dari keramaian. "Let go of me! Don't touch me!" "Lepaskan! Jangan menyentuhku!" Ara meronta. Kepalanya terasa sangat berat, tetapi kesadaran terakhirnya menjerit. "Don't act all pure! You're here alone." "Jangan sok suci! Kau sendirian di sini," pria itu membentaknya, mulai menarik Ara dengan paksa menuju pintu keluar. Ara mencengkeram meja, menolak bergerak, terengah-engah melawan kekuatan pria itu. Matanya dipenuhi ketakutan dan air mata yang samar-samar. Langkahnya terseok, dan cengkeraman tangan di lengannya terasa semakin menyakitkan. Pria itu menariknya dengan paksa menjauh dari keramaian klub, menuju gang sempit yang gelap di samping bangunan. "Get off me, you bastard! Help!" "Lepaskan aku sialan! Tolong!" Ara berontak, berteriak sekencang-kencangnya namun suaranya tercekat antara rasa mual dan panik. Ia berusaha menjejakkan kaki dan menarik lengannya, namun tenaga pria itu jauh lebih besar. Ketakutan yang dingin merayapi tulang punggungnya saat ia menyadari niat jahat di mata pria itu, meskipun pandangannya buram. Pria itu menyeringai. "Quiet down, sweetie. We're going to have a little fun." "Diamlah, Sayang. Kita bersenang-senang sebentar." Tiba-tiba, Ara mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menghentakkan kakinya ke kaki pria itu dan mencoba memutar tubuhnya. Cengkeraman itu sempat melonggar sesaat, dan Ara berteriak, jeritan samar yang tertelan bising musik dari klub. Saat Ara hampir tersungkur, dan pria itu kembali meraihnya dengan lebih kasar, sebuah suara berat yang tenang memecah keheningan gang. "Get off her!" "Lepaskan dia!." Pria tak dikenal itu menoleh dengan kesal. Berdiri di ujung gang, sedikit terselubung bayangan, adalah sosok pria asing. Dia tinggi, dengan siluet tegap. Cahaya remang-remang dari lampu jalan memantul di wajahnya yang tegas. "Stay out of this. Move it!" "Bukan urusanmu,, minggir kau!." balas pria yang menyeret Ara. Pria asing itu tidak bergerak. "I said, let her go!." "Aku bilang, lepaskan dia!." Ada nada yang sangat final dan mengancam dalam suara itu, yang entah bagaimana menembus kabut mabuk Ara dan bahkan membuat pria penyeretnya gentar. Dalam sekejap, situasi berubah drastis. Pria asing itu melangkah maju, tangannya mengepal. Sebelum si penyeret Ara sempat bereaksi, pria asing itu bergerak cepat. Satu dorongan keras yang terarah, dan pria tak dikenal itu tersandung, cengkeramannya pada Ara terlepas sepenuhnya. Ara terhuyung ke depan, dan saat itulah ia merasakan lengan kuat dan hangat menopang punggungnya. Pria yang tadi menyeretnya, setelah menyadari bahwa dia kalah tenaga dan kemungkinan besar akan mendapat masalah, memilih untuk melarikan diri dengan cepat, menghilang ke dalam kegelapan. Ara masih bergetar, bersandar pada dada pria asing yang menolongnya. Perlahan, pria itu membantunya berdiri tegak. "Are you okay?" "Kau baik-baik saja?" Suaranya lebih lembut sekarang, dipenuhi nada sedikit khawatir. Ara hanya bisa mengangguk lemah, kepalanya pusing. Ia mendongak, mencoba memfokuskan pandangan pada wajah penolongnya tetapi yang ia lihat hanyalah buram. "Who are you?" "Siapa... kau?" bisik Ara. Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, namun cukup menenangkan. Ia tidak menjawab, sebaliknya, ia melihat ke arah klub. "You're totally wasted. Where do you live? I'll take you home." "Kau mabuk berat. Di mana kau tinggal? Aku akan mengantarmu pulang," tawarnya. Ara tidak menjawab hanya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk berbicara. Pria tersebut hanya menghela nafas dan menuntun Ara menuju mobil miliknya. Sepanjang perjalanan, Ara hanya bersandar lemas dengan mata terpejam. Namun, di tengah jalan, Ara tiba-tiba menggeliat. Ia membuka matanya yang sayu dan mendesah. "Panas..." racaunya, mulai menarik-narik kerah bajunya sendiri. "Gerah sekali di sini..." Ara tidak mendengarkan apa yang pria itu katakan, ia mendekatkan wajahnya kearah pria tersebut. Sebelum sempat pria itu bereaksi, bibir Ara sudah menempel, menciumnya dengan liar dan menuntut. Ciuman itu panas, agresif, dan sama sekali tidak seperti Ara yang biasanya. Dan setelah itu ia tidak ingat apapun. FLASHBACK OFF Mobil jemputan itu melaju tenang, membawa Arabella Saskia Paramita menembus malam Jakarta yang padat, meninggalkan kecemasan dan teror yang baru saja ia rasakan. Ia terus meraba lehernya yang kosong, tempat liontin perak berinisial 'A' seharusnya berada, sekarang terasa seperti lubang yang menganga. Ketika mobil berhenti di gerbang rumahnya yang mewah di kawasan Pondok Indah, Ara sudah mempersiapkan senyum letih sebagai perisai. Namun, ketika ia melangkah masuk, ia disambut oleh keheningan yang lebih berat daripada yang ia harapkan. Di ruang tengah, Papa Hendra dan Mama Ratih sudah menunggunya, duduk di sofa velvet dengan postur kaku yang mencerminkan otoritas tak terucapkan. Tidak ada pelukan hangat yang menenangkan. Hanya sepasang mata tajam yang mengawasi setiap gerakannya. "Selamat datang kembali, Ara," sapa Hendra Paramita, suaranya datar, tanpa emosi. "Perjalanan bisnis yang mendadak." "Maaf, Pa. Ara tidak sempat memberi tahu," jawab Ara, berusaha menjaga suaranya tetap normal. "Ada sedikit masalah teknis di proyek yang harus ditangani di Eropa." Ratih hanya menatapnya dengan pandangan yang menelisik, seolah melihat menembus kebohongannya. "Masalah teknis, katamu?" tanya Ratih, nadanya dingin dan menuduh. "Atau masalah yang lebih personal, Ara?" Ara menelan ludah. Ia tahu, dalam keluarga Paramita, mereka tidak perlu bertanya untuk mengetahui. Jaringan bisnis dan koneksi sosial Papa dan Mama jauh lebih luas dan cepat daripada upaya pelarian Ara. Mereka tahu. Mereka hanya tidak tahu detailnya, tentang pria itu, klub malam atau cek yang ia tinggalkan. Tetapi mereka tahu ia tidak pergi untuk urusan desain, alasan sebenarnya adalah putri mereka melarikan diri. Hendra menghela napas, gestur itu lebih mengintimidasi daripada amarah yang meledak-ledak. "Kami tidak akan membahasnya malam ini," putus Papa, matanya tegas. "Kamu terlihat lelah. Dan... ada beberapa hal yang tidak bisa kamu sembunyikan, Ara. Tidak dari kami." "Sekarang," sambung Ratih, suaranya penuh perintah. "Naik ke atas. Bersihkan dirimu. Makan malam sudah disiapkan di kamarmu. Dan segera tidur. Kamu butuh istirahat." Ara merasa lega, sekaligus terhina. Mereka memperlakukannya seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan. Mereka tidak bertanya, karena mereka menganggap pertanyaan itu tidak penting, yang penting adalah kontrol dan solusi. "Baik, Ma," jawab Ara pelan. "Besok pagi," lanjut Hendra, matanya mengunci mata Ara. "Setelah sarapan, kita akan bicara, Ara. Kita akan bicara tentang mengapa kamu pergi tanpa memberitahu kami, dan bagaimana kamu akan memperbaiki kesalahan yang kamu buat di luar sana." Itu bukan janji, melainkan ancaman terselubung. Ara tahu, percakapan besok pagi akan jauh lebih sulit dan menakutkan daripada konfrontasi dengan pria asing di Eropa. Ia tidak bisa melarikan diri dari Papanya sendiri. Ara hanya mengangguk kaku, lalu segera naik ke kamarnya. Kamar tidurnya terasa seperti sangkar emas. Ia melepas pakaiannya dengan gerakan lelah. Saat ia berdiri di depan cermin, ia melihat bekas-bekas kelelahan dan ketakutan. Jari-jarinya otomatis meraba lehernya lagi. Rasa kosong itu menusuk. Kalung itu hilang. Di tangan pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya. Ara menyadari, ia telah meninggalkan jejak, dan sekarang, mungkin pria itu tahu persis di mana Ara berada. Ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air hangat membasuh kulitnya, berharap air itu juga bisa membasuh rasa sakit dan kesalahan yang ia bawa dari Eropa. Saat Ara akhirnya berbaring di tempat tidur, ia menutup matanya, berusaha memaksakan diri tidur. Namun, yang terlintas di benaknya hanyalah suara pria itu, wajahnya yang dingin, dan desahan di malam panas itu. Dan Ara tahu, besok pagi, ia harus berhadapan dengan keluarganya. Setelah itu, ia harus menghadapi pria yang ia hina dengan selembar cek, pria yang kini memiliki liontin berharganya, pria yang mungkin tidak akan pernah membiarkan ini berakhir.Ara mematikan ponselnya, meletakkannya dengan kasar di nakas. Ia tidak bisa kembali tidur. Kenyataan bahwa ia sekarang bekerja di bawah kendali Elvano, pria yang baru saja memenuhi mimpinya dengan hasrat yang membara terasa seperti ironi kejam dari takdir. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke jendela besar, menatap keheningan malam yang sunyi.Proyek villa mewah itu. Ia harus fokus. Ara adalah seorang arsitek profesional, dan ia telah berhasil merancang bangunan-bangunan yang menantang. Ia bisa menghadapi seorang klien berpengaruh seperti Elvano. Hubungan masa lalu mereka di Eropa adalah kesalahan satu malam yang ia kubur dalam-dalam, dan ia bertekad akan tetap terkubur.Namun, bagaimana ia bisa menguburnya, jika pria itu secara terang-terangan menggunakan masa lalu mereka sebagai 'kendali'?Tiba-tiba, Ara teringat sesuatu. Saat di ruang rapat, tatapan Elvano yang seolah tahu semua tentangnya, bisikan samar yang tidak ia hiraukan. Sebuah firasat dingin menjalar di punggung Ara.
Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perlahan ke ruang makan, lalu ke ruang keluarga yang luas. Seluruh bagian rumah itu kosong, seperti sebuah museum mewah yang ditinggalkan. Ara lantas menuju dapur, tempat ia akhirnya menemukan sedikit kehangatan.Di sana, ia mendapati Bi Inah sedang menyiapkan sesuatu di atas meja marmer."Bi Inah!" sapa Ara, nada lega terselip di suaranya."Non Ara sudah pulang," balas Bi Inah, wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan yang tulus."Bagaimana pertemuannya, Non?""Berhasil, Bi," jawab Ara singkat, sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Papa dan Mama... sudah berangkat bi?""Sudah, Non. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih berangkat ke luar kota lima belas menit setelah Non meninggalkan rumah tad
Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisai wanita sekuat Ara hanya dengan satu pandangan. Ia berpikir keras mengenai strategi untuk pertemuan dua hari ke depan. Pertemuan itu harus memadukan profesionalisme dengan sentuhan pribadi yang mengejutkan.Ia akan menggunakan kenangan mereka sebagai alat, bukan untuk negosiasi bisnis, tetapi untuk kendali pribadinya atas Ara. Elvano tersenyum tipis, merasakan adrenalin dari perburuan ini. Elvano adalah seorang maestro dalam mengendalikan pasar saham, dan sekarang ia akan mengendalikan hati seorang wanita.Tiba-tiba, pintu besar ruangannya terbuka tanpa ketukan formal. Elvano seketika menegang. Di ambang pintu, seorang wanita dengan gaun minim dan riasan mencolok berdiri, memancarkan aura y
Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup properti ternama tetapi juga menambah pesonanya yang anggun dengan sentuhan modern dan percaya diri. Ia memilih perhiasan minimalis, hanya sepasang anting stud berlian kecil dan jam tangan stainless steel ramping.Di lobi mewah Adhitama Group, ia disambut oleh asisten Elvano, mereka memasuki lift privat yang melesat tanpa suara ke lantai paling atas. Ara berusaha mengatur napas, memastikan setiap helai rambutnya tertata sempurna, dan perisai profesionalismenya tidak retak.Saat pintu lift terbuka, ia dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat yang didominasi kaca, sebuah kubus kristal yang menggantung di atas kota. Jakarta terhampar di bawah, pemandangan spektakuler yang menelan gedung-gedung lain
Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mata itu, suasana tetaplah membeku dan formal.Ara, putri tunggal keluarga Paramita, mengenakan kaus oversized dan celana santai, kontras dengan keseriusan ruangan. Ia tahu, ketenangan di antara hiruk pikuk Jakarta di luar sana hanyalah jeda singkat sebelum badai yang telah ia prediksi.Setelah para pelayan membersihkan meja marmer dari sisa-sisa santapan yang hampir tak tersentuh, Hendra, sang kepala keluarga, meletakkan cangkir kopinya. Gerakan kecil itu seolah menjadi penanda dimulainya negosiasi yang tak terhindarkan.Ia menatap putrinya, ditemani pandangan tajam dari Ratih, istrinya. Keduanya menuntut jawaban."Sekarang," kata Hendra, suaranya tenang namun mengandung otoritas."Kita perlu
Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh desisan pelan sistem ventilasi kabin.Elvano duduk tegak di salah satu kursi tunggal, sandaran punggungnya hampir tegak lurus, membiarkan keheningan yang mahal itu menjadi kanvas tempat ia merangkai setiap langkah rencananya.Lampu-lampu kota di bawah, dari ketinggian ribuan kaki, tampak seperti permadani bintang yang terhampar luas, pemandangan yang seharusnya menenangkan jiwa yang letih, tetapi bagi Elvano, justru memicu gelombang ketegangan yang mendidih dalam dirinya.Uang yang seharusnya menjadi 'uang tutup mulut' atau bayaran untuk 'layanan semalam' yang paling menghina."Membayarku," gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa perlu men







