MasukPesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh desisan pelan sistem ventilasi kabin.
Elvano duduk tegak di salah satu kursi tunggal, sandaran punggungnya hampir tegak lurus, membiarkan keheningan yang mahal itu menjadi kanvas tempat ia merangkai setiap langkah rencananya. Lampu-lampu kota di bawah, dari ketinggian ribuan kaki, tampak seperti permadani bintang yang terhampar luas, pemandangan yang seharusnya menenangkan jiwa yang letih, tetapi bagi Elvano, justru memicu gelombang ketegangan yang mendidih dalam dirinya. Uang yang seharusnya menjadi 'uang tutup mulut' atau bayaran untuk 'layanan semalam' yang paling menghina. "Membayarku," gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa perlu mengulang kata itu, menguji rasa ironi dan kehinaan yang ditimbulkannya. "Sebuah penghinaan." Seorang wanita asing berani memperlakukannya. Elvano, putra tunggal dari dinasti Adhitama Group yang mengendalikan hampir sepertiga sektor properti dan energi di Asia Tenggara, seolah-olah ia adalah pria bayaran. Darahnya terasa panas, bukan karena gairah, tetapi karena arogansi yang terlukai. Tepat saat pesawat mengurangi kecepatan dan mulai melakukan manuver pendaratan final, membelok di atas Teluk Jakarta, ponsel satelitnya yang terenkripsi berdering. Nama Mike, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling tepercaya, muncul di layar. Elvano mengangkatnya tanpa menunda satu detik pun. "Ya," jawab Elvano singkat, dingin, dan tanpa basa-basi, mencerminkan aura yang ia pancarkan sejak naik ke pesawat. Suara Mike terdengar lebih terengah-engah dari biasanya, menandakan bahwa asistennya itu pasti sedang bergerak cepat, kemungkinan besar di dalam Mansion Adhitama yang luas, mengatur segala sesuatunya di tengah malam. "Tuan," lapor Mike, suaranya menahan nada kegembiraan yang profesional. "Saya sudah berada di Mansion. Kamar Anda sudah disiapkan. Dan yang paling penting, Tuan... saya sudah berhasil mendapatkan nama lengkap wanita itu. Kami mengecek silang semua daftar penumpang maskapai komersial kelas utama yang tiba dari bandara Eropa, khususnya yang tidak/terdaftar dalam daftar VIP kami, pagi ini." Jantung Elvano berdenyut cepat, perpaduan yang aneh antara antisipasi yang membakar dan kemarahan yang mendidih. Dia tahu, begitu nama itu terucap, seluruh permainan akan berubah dari pencarian menjadi perburuan. "Siapa namanya?" tanyanya, nada suaranya berubah tajam, seperti ujung pisau yang baru diasah. Mike berdeham sejenak, jeda yang singkat itu cukup untuk menggaris bawahi rasa hormat dan mungkin sedikit gentar terhadap aura dingin tuannya, bahkan dari seberang telepon. "Nama lengkapnya adalah... Arabella Saskia Paramita. Dia terbang menggunakan visa turis, Tuan, tetapi alamat domisilinya di Jakarta." Arabella Saskia Paramita. Nama itu terasa pas, sebuah perpaduan klasik antara kekuatan dan keindahan, seolah menyatu sempurna dengan aroma samar lily of the valley yang ia ingat tercium dari rambut wanita itu. Elvano mengulangi nama itu dalam hati, membiarkan setiap suku kata menancap dalam ingatannya. "Jakarta," ulang Elvano, sebuah kata yang menjadi penanda bahwa mangsanya kini berada di wilayahnya, dalam kendalinya. "Lanjutkan!" "Ini bagian yang menarik, Tuan," lanjut Mike, yang terdengar menikmati detail-detail investigasi ini. "Dia berasal dari keluarga yang cukup dikenal, terdaftar dalam relasi bisnis keluarga Adhitama yang lama, meskipun bukan relasi yang aktif. Profilnya sendiri sangat... bersih. Tidak ada jejak publik yang signifikan, tidak ada skandal, atau keterlibatan media. Namun, kami menemukan satu hal yang pasti. Dia adalah Kepala Arsitek di sebuah perusahaan desain interior bergengsi di pusat kota, yakni Paramita Group." Elvano tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan seringai predator yang baru saja menemukan di mana mangsanya bersembunyi. Ironi nasib memang luar biasa. Wanita yang berani menghinanya dengan bayaran, ternyata secara tidak langsung, terhubung erat dengan dunia bisnis dan pengaruhnya. Takdir telah menyajikan Arabella di atas nampan emas. "Skenario ini semakin menarik," katanya, suaranya kembali datar, namun ada nada berbahaya yang terselip di sana. "Dia adalah seorang Arsitek. Sangat bagus." "Baik. Kirimkan semua detailnya, termasuk riwayat pekerjaan dan alamat ke email terenkripsi saya dalam lima menit. Pastikan tidak ada satu pun jejak digital di jaringan publik atau log internal yang mengaitkan pencarian ini dengan nama saya, Mike. Urusan ini adalah urusan pribadi dan harus tertutup rapat." "Siap, Tuan. Saya mengerti sepenuhnya. Semua data akan dibersihkan dari server internal setelah dikirim." "Langkah selanjutnya," Elvano melanjutkan, tidak memberikan waktu bagi Mike untuk bernapas. "Hubungi CEO perusahaan desain interior tersebut, Paramita Group. Atur Jadwal pertemuan. Segera." Ia menyandarkan kepala, mengatur skenario yang akan ia mainkan. "Beri alasan yang masuk akal bahwa saya, Elvano Narendra Adhitama, ingin mendiskusikan desain dan penambahan elemen lokal yang lebih mendalam pada proyek villa yang baru. Dan... saya ingin bertemu dengannya secepatnya. Pastikan dia, Arabella, yang datang sebagai perwakilan utama mereka." "Memastikan dia datang, Tuan?" tanya Mike, terdengar sedikit terkejut dengan permintaan yang spesifik dan tergesa-gesa itu. "Tentu," tegas Elvano. "Katakan, klien sekelas Adhitama Group hanya mau berdiskusi dengan orang yang bertanggung jawab penuh atas visi desainnya. Tekankan bahwa ini adalah kesempatan besar bagi Paramita Group, saya akan membayar desainnya 50% diawal. Lakukan sekarang." "Baik, Tuan. Akan saya laksanakan. Saya akan pastikan wanita itu menghadiri pertemuan di kantor secepatnya." Sambungan terputus. Elvano bersandar di kursi pesawat, matanya menatap pantulannya di jendela kabin yang gelap, di mana kini lampu-lampu bandara sudah terlihat jelas. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di udara, membelah batas benua dalam keheningan kabin jet pribadinya yang terisolasi, Elvano akhirnya merasakan sentuhan pertama tanah Indonesia. Ia melangkah keluar dari pesawat membuat kelembaban langsung menyergap, sangat kontras dengan udara kering dan dingin yang ia tinggalkan di Eropa. sebuah mobil sedan hitam mewah, Mercedes-Benz S-Class, sudah menunggu tepat di tepi landasan, di samping hangar pribadi Adhitama Group. Di balik kemudi, pengemudi pribadinya, Pak Herman, memberi hormat singkat yang penuh rasa hormat. Elvano hanya mengangguk tipis, meluncurkan dirinya ke jok belakang yang dilapisi kulit premium. Saat pintu tertutup, semua suara bising bandara seketika meredup. Ia menutup mata sejenak, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan zona waktu baru, meskipun pikirannya terlalu aktif untuk benar-benar beristirahat. Mobil memasuki gerbang tinggi Mansion Adhitama, Elvano merasakan nuansa Indonesia yang akrab, yang selalu kontras dengan kemewahan dingin di Eropa. Ada aroma melati dan kenanga yang kuat yang bercampur dengan kelembaban udara malam yang hangat dari taman yang terawat sempurna. Di ruang tengah Mansion, sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi dan lukisan klasik, Papanya, Alex, duduk dengan anggun di sofa kulit Italia, membaca koran bisnis. Sementara itu, Mamanya, Sandra, sedang menyesap tehnya di meja sudut, dikelilingi oleh pot-pot anggrek Phalaenopsis favoritnya. Sebuah sambutan yang formal, tetapi penuh kehangatan khas keluarga old money. "El!" Seru Sandra, wajahnya langsung berseri-seri ketika melihat putranya. Ia bangkit dengan gerakan anggun, membiarkan majalah yang ia baca jatuh pelan ke sofa. "Kenapa mendadak sekali? Mama pikir kamu baru akan kembali bulan depan setelah urusan selesai." Elvano mendekat, mencium pipi Mamanya dengan kasih sayang, lalu menjabat tangan Papanya yang kuat. "Ma, Pa," katanya, memaksakan senyum yang wajar, sebuah topeng sempurna yang ia pelajari sejak remaja. "Ada perubahan mendadak di rencana proyek pembangunan villa kita yang baru dan beberapa hal teknis yang harus El tangani langsung di Jakarta. Perusahaan desain interior yang kita tunjuk sepertinya kurang optimal dalam mengimplementasikan visi." Alex melipat korannya dengan sekali gerakan yang efisien, matanya yang tajam dan berwibawa mengamati putranya. "Perubahan rencana pembangunan villa baru? Hmm," ucap Alex, suaranya bernada menyelidik. "Kenapa tidak serahkan saja pada anak buahmu, El? Kamu terlalu keras bekerja. Kamu baru saja kembali dari perjalanan." "Tidak bisa, Pa," jawab Elvano, mempertahankan kontak mata tanpa berkedip. Ini adalah bagian yang paling krusial, meyakinkan Papanya. "Ini tentang sentuhan personal dan legacy keluarga," jawab Elvano meyakinkan, sambil menyamarkan alasan sesungguhnya di balik kata-katanya. "El ingin memastikan semua detailnya sempurna. Proyek ini harus menjadi yang terbaik." "Baiklah," kata Alex, akhirnya mengangguk, tampaknya menerima penjelasan yang terdengar ambisius. "Papa menghargai kerja kerasmu. Tapi jangan lupakan kesehatanmu." Elvano hanya berinteraksi sebentar, mengarahkan percakapan kembali ke alasan bisnisnya, lalu permisi untuk beristirahat. Di dalam kamar mewahnya, yang terasa sedikit asing setelah beberapa bulan ia tinggal di Eropa, Elvano melepas jasnya, melonggarkan dasi sutra, dan melemparkannya ke sofa. Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke kebun belakang yang gelap, memandangi bayangan pepohonan rindang yang bergoyang tertiup angin malam. Ponselnya berbunyi, nada notifikasi yang eksklusif untuk email terenkripsi. Dari: Mike Subjek: Data Arabella Saskia Paramita Elvano membukanya. Di sana, tertera informasi pribadi yang disusun rapi, termasuk riwayat pendidikan dari universitas ternama di London, portofolio pekerjaan yang mengesankan, dan yang paling dinantikannya, foto kecil beresolusi tinggi. Wajah itu. Wajah yang ia ingat samar-samar di bawah cahaya remang-remang klub malam, dan kemudian, dengan lebih jelas, di bawah lampu suite hotelnya. Dalam ingatannya, wajah itu sedikit pucat, dengan sedikit ketakutan dan keberanian yang bercampur gairah. Namun, di dalam foto profesional ini, wanita itu terlihat jauh berbeda. Mata yang lebar, garis wajah yang tegas, dan pandangan yang seolah menyembunyikan kecerdasan dan banyak hal yang tidak terucap. Dalam foto profil perusahaan itu, dia terlihat sepenuhnya kompeten, profesional, dan berkelas, mengenakan blazer kontras dengan kulitanya yang putih, memancarkan aura seorang wanita yang memegang kendali penuh atas hidupnya. Dia terlihat jauh berbeda dari wanita yang menjerit tertahan di pelukannya, yang meninggalkan cek di samping ranjangnya. Elvano mengambil liontin itu lagi, membandingkannya dengan foto itu. Liontin perak berinisial 'A'. Tidak ada keraguan lagi. Inilah dia. Ara. Dia mematikan layar ponsel, melemparkannya ke sofa, dan melangkah ke kamar mandi marmer. Air dingin dari shower tidak mampu mendinginkan panas yang menyebar dari dadanya. Dia memejamkan mata, membiarkan kemarahan, kehinaan, dan antisipasi merangkai benang takdir yang baru. "Besok pagi, aku akan melihat bagaimana ekspresimu, Ara, ketika kau menyadari bahwa klien barumu yang besar, penyelamat potensial bagi perusahaamu... adalah pria yang kau perlakukan seolah ia adalah barang sewaan semalam. Pria yang kau tinggalkan dengan bayaran sialan itu."Sepatu hak tinggi Clara bergema di lorong sunyi apartemen Dion. Dengan napas yang sedikit memburu karena rindu, ia menekan deretan angka yang sudah ia hafal di luar kepala pada keypad digital pintu unit Dion.Tit... tit... tit...Bip!Lampu merah menyala."Access Denied."Clara mengerutkan kening. Ia mencoba lagi, lebih lambat kali ini. Hasilnya tetap sama."Salah? Kenapa bisa salah?" gumamnya heran. Ia mencoba kombinasi tanggal lahir Dion, tanggal mereka pertama kali bertemu, namun pintu itu tetap membeku.Perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan menghubungi ponsel Dion.Di dalam kamar yang temaram, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Dion, yang saat itu tengah terbuai dalam gairah bersama Kania, melirik layar. Nama 'Clara' berkedip di sana. Ia mendecak kesal, namun tetap mengangkatnya dengan suara serak."Halo," jawab Dion pendek."Dion? Kamu di mana? Aku di depan pintu apartemenmu dan sandinya salah. Kamu menggantinya?" suara Clara
Malam semakin larut ketika Kania melangkah menyusuri lorong apartemen mewah milik Dion. Ia telah menanggalkan gaun merah ketatnya, menggantinya dengan setelan yang jauh lebih praktis namun tetap menggoda. Kemben hitam ketat yang menonjolkan lekukan dadanya, dibalut jaket kulit pendek, dan rok mini yang nyaris tidak menutupi paha mulusnya.Di dalam unitnya, Dion baru saja selesai mengganti kode akses pintu. Ia tidak ingin Clara atau siapa pun mengganggu kegiatannya malam ini. Begitu bel berbunyi, Dion membuka pintu dan langsung disambut oleh aroma parfum Kania yang kuat. Tanpa basa-basi, Dion menarik tengkuk Kania dan membungkam bibirnya dengan ciuman kasar yang penuh tuntutan.Kania terengah, telapak tangannya menahan dada bidang Dion untuk menciptakan sedikit jarak."Tunggu, Dion... Jangan terburu-buru. Katakan dulu, apa rencanamu untuk menghancurkan mereka?"Dion tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang gelap karena gairah dan dendam memindai tubuh Kania yang berdiri menantang
Ketegangan di ruang rapat tadi siang rupanya hanyalah pembuka dari badai yang sebenarnya. Sore itu, sebuah kurir datang membawakan sebuah undangan fisik berwarna hitam elegan dengan aksen emas yang mencolok."The Golden Muse: Grand Appreciation Night."Ara membaca nama di bagian pengirim: Kania. Nama itu bagaikan duri yang langsung menusuk ketenangan Ara. Kania, sang supermodel internasional sekaligus mantan tunangan Elvano yang pernah hampir bersanding di pelaminan sebelum ego dan karier wanita itu menghancurkan segalanya."Dia belum menyerah juga?" gumam Elvano dingin, melirik sekilas undangan itu sebelum melemparkannya ke atas meja."Sudah tiga nomor baru yang dia gunakan untuk menghubungiku minggu ini, dan semuanya sudah kublokir.""Dia mengundang kita berdua, El. Dia wanita dengan ambisi yang kuat" sahut Ara, tangannya meremas pinggiran undangan itu. Egonya terusik. Sebagai seorang wanita yang kini menyandang status istri sah, ia tidak bisa membiarkan masa lalu suaminya terus mem
Pagi itu, atmosfer di ruang rapat utama Adhitama Group terasa begitu kontras. Di satu sisi, ada ketenangan yang dingin dari Elvano, dan di sisi lain, ada aura manis yang terasa terlalu dibuat-buat dari sosok Clara.Clara datang mendampingi Dion untuk pertemuan lanjutan mengenai integrasi vendor. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya hari ini. Ia mengenakan terusan berwarna pastel yang memberikan kesan santun dan lembut, sangat berbeda dari gayanya yang biasanya sangat formal dan kaku."Selamat pagi, Pak Elvano, Ibu Ara," sapa Clara dengan suara lembut yang terdengar tulus, lengkap dengan senyum kecil yang terlihat malu-malu."Mohon maaf jika kehadiran kami sedikit menyita waktu sibuk anda berdua."Ara menyipitkan matanya. Insting wanitanya menangkap sesuatu yang ganjil. Ia memperhatikan bagaimana mata Clara tidak lepas dari sosok suaminya. Elvano hari ini memang terlihat sangat menawan, ia telah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga ke si
Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan lekuk tubuh mereka yang menari di dinding marmer. Udara dingin dari AC apartemen seolah menguap, digantikan oleh gelombang panas yang memancar dari persinggungan kulit mereka yang lembap.Elvano tidak lagi menahan diri. Setelah pintu kamar terkunci rapat, ia menunduk, membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Ara. Napasnya yang berat dan panas menyapu kulit sensitif Ara, mengirimkan sengatan listrik yang membuat wanita itu meremang hebat."Kamu tidak tahu... betapa kerasnya aku mencoba menahan diri sepanjang hari di kantor, Ra," bisik Elvano, suaranya serak dan rendah, penuh dengan damba yang berbahaya.Jemari besar Elvano merayap turun, perlahan namun pasti, menanggalkan penghalang terakhir di antara mereka. Saat telapak tangannya yang kapalan namun hangat menyentuh pinggang ramping Ara, Ara tersentak, punggungnya melengkung secara naluriah mencari sandaran pada dada bidang Elvano yang keras.Aku adalah istrinya yang sahnya, Sec
Ara menarik napas panjang, berusaha menormalkan detak jantungnya sebelum melangkah keluar dari lift. Ia melihat punggung tegap Elvano yang berjalan dengan langkah percaya diri, menyapa para staf dengan anggukan kepala yang kaku dan dingin."Dasar bermuka dua," gumam Ara pelan, namun ia tetap mengikuti langkah suaminya menuju ruang kerja utama.Sepanjang pagi, Ara mencoba fokus pada laporan audit, namun Elvano benar-benar tidak membiarkannya tenang. Ruang kerja mereka yang bersekat kaca transparan menjadi arena bermain bagi Elvano. Setiap kali Ara mendongak, ia mendapati Elvano sedang memperhatikannya. Pria itu sesekali melonggarkan dasinya sambil menatap Ara dengan tatapan menggoda.Elvano: Bisa ke ruanganku sebentar? Ada 'masalah teknis' dengan berkas pembangunan.Ara mengernyit. Ia bangkit dan berjalan menuju ruangan Elvano yang luas. Begitu ia masuk, Elvano sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar pulpen di antara jemarinya."Masalah teknis apa, El?" tanya Ara profesional.Elvan
Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup prope
Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mat
FLASHBACK ONAra memejamkan mata di tengah dentuman musik Trance yang memekakkan telinga di club tepi tebing Santorini. Sudah tiga minggu ia berada di sini, melarikan diri dari Jakarta dan dari cincin yang disiapkan oleh orang tuanya untuk menjodohkannya. Ia minum terlalu banyak malam ini. Ia butuh
Arabella Saskia Paramita, wanita yang berusia 23 tahun itu terbangun dari tidur lelapnya. Kesadaran datang perlahan, diikuti dengan rasa pusing yang berdenyut-denyut menghantam kepalanya.Ia mengerang pelan, perlahan mencoba menghilangkan kabut tebal yang menyelimuti pikirannya. Ia merasakan tekstu







