Share

BAB 2

Author: Ansaafh_
last update publish date: 2026-05-29 20:19:48

Disisi lain..

Elvano Narendra Adhitama, pria yang akan memasuki kepala tiga tersebut terbangun dengan rasa pusing yang menghantam kepalanya. Dia melihat ke sekeliling kamar dan meraba tempat disebelahnya.

Tempat tidur king size itu terasa terlalu lapang. Ia terbiasa tidur sendiri, tetapi malam yang baru saja berlalu meninggalkan bekas kehangatan yang asing. Kehangatan itu kini hilang.

Elvano memegang kepalanya yang berdenyut nyeri mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. Pikirannya melayang mengingat ia telah melewati malam panas dengan seorang wanita. Wanita yang ia selamatkan di sebuah club malam dan brengseknya ia malah menidurinya.

Elvano menjambak rambutnya frustasi mengingat teriakan menyakitkan dari wanita itu yang ia tahu bahwa malam itu adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua. Ia langsung bangkit, adrenalin memompa dingin di nadinya. Matanya yang tajam menyapu suite mewahnya dengan kecepatan kilat. Ia mencari ke kamar mandi berbalut marmer Italia.

Kosong.

Ke balkon, tempat ia sempat menghirup udara malam yang pekat.

Kosong.

Tidak ada tanda-tanda wanita itu. Hanya keheningan yang tebal dan aroma samar lily of the valley yang memudar, seolah wanita itu adalah ilusi yang ditiup angin pagi.

Di atas nakas kayu eboni yang mengilap, mata Elvano terpaku pada selembar kertas berwarna krem. Sebuah cek.

Napas Elvano tertahan. Ia meraihnya, jari-jarinya yang panjang mencengkeram kertas itu. Angka nominal yang tertulis di sana, angka yang tidak perlu ia lihat dua kali untuk memahami besarnya. Membuat raut wajahnya berubah seketika. Kemarahan dingin, mematikan, dan murni menghapus semua jejak kelelahan dan gairah yang tersisa.

Dia membacanya.

Nominalnya setara dengan biaya sewa bulanan salah satu aset propertinya yang paling kecil.

Elvano meremas cek itu di tangannya, menghasilkan suara gemerisik kertas yang keras di keheningan kamar. Suaranya rendah dan serak, penuh perintah yang ditujukan pada dinding, pada udara kosong.

"Dia pikir, dia siapa bisa membayarku untuk melupakan kejadian semalam? Bahkan tubuhku tidak sebanding dengan bayaran yang dia  berikan!" Geram elvano mengepalkan kedua tangannya.

Ini adalah penghinaan terbesar, sebuah tamparan keras terhadap seluruh eksistensi dan harga diri seorang Elvano.

Pria yang terbiasa membeli dan mengendalikan pasar, yang nilainya diukur dengan angka triliunan, kini diperlakukan seperti seorang pria bayaran. Seorang wanita asing yang ia selamatkan, yang ia angkut, yang ia lindungi, berani meninggalkannya dengan uang sebagai bayaran.

Ia melipat cek yang sudah tidak berbentuk itu, berusaha merapikannya kembali dengan kekakuan yang kejam, lalu menyimpannya di saku dalam jasnya yang ia ambil dari kursi. Ini akan menjadi bukti.

Saat ia memungut pakaiannya di tempat tidur, matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di antara lipatan seprai satin. Sebuah kalung liontin perak yang elegan. Liontin itu berbentuk bundar kecil dengan ukiran huruf 'A' yang halus.

Elvano mengambilnya. Liontin itu terasa dingin di telapak tangannya. Inisial. 'A'. Ia tidak tahu nama wanita itu, tetapi sekarang, ia punya petunjuk yang lebih konkret daripada sekadar aroma bunga yang memudar.

Elvano menatap liontin itu, bibirnya membentuk seulas garis tipis yang berbahaya.

"Kau bukan hanya melarikan diri, Kau juga menantang harga diriku."

Ia mengambil ponselnya, jarinya menekan tombol speed dial  untuk Mike, asisten pribadinya.

"Mike. Batalkan semua janji di Eropa. Saya harus kembali. Siapkan penerbangan pribadi ke Indonesia. Dalam satu jam." Perintah Elvano dengan nada yang tidak menerima bantahan, nada yang Mike tahu harus diikuti tanpa pertanyaan.

"Baik, Tuan. Apakah ada yang lain?" Suara Mike terdengar waspada, mengenali urgensi yang tidak normal.

"Cari tahu semua daftar penumpang wanita dengan inisial 'A' yang baru saja terbang dari bandara ini ke Indonesia. Saya ingin informasi lengkapnya secepat mungkin." Ia menekankan setiap kata, lalu memutuskan sambungan secara sepihak, tanpa menunggu konfirmasi Mike.

Setelah membersihkan diri dengan cepat di kamar mandi suite mewahnya, Elvano berdiri di depan cermin besar. Ia mengancingkan kemeja putihnya dengan gerakan tajam, refleks yang terlatih. Gerakan itu terasa mekanis, sebuah cara untuk mendapatkan kembali kontrol setelah malam penuh kekacauan.

Ia mengenakan jas mahalnya kembali, memastikan cek yang terlipat dan liontin berinisial 'A' itu aman di saku dalamnya. Liontin itu terasa berat, sebuah janji yang ia sematkan pada dirinya sendiri.

Ia mengambil kunci kartu, lalu melangkah keluar.

Di lobi hotel yang megah, salah satu asetnya di Eropa ini. Elvano mendekati meja resepsionis. Staf yang bertugas langsung membungkuk dengan hormat, terintimidasi oleh aura dingin yang menguar dari bos besar mereka, yang biasanya hanya mereka lihat di foto atau dalam rapat formal.

Elvano tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tatapan yang menyampaikan instruksi.

Siapkan mobil.

Di dalam mobilnya, saat mobil mewah itu melaju membelah jalanan kota yang masih sepi, Elvano menyandarkan kepalanya ke kursi, tatapannya kosong ke luar jendela. Ia membuka ponselnya dan menghubungi Mike sekali lagi.

"Mike, bersihkan kamar nomor 102 dan pastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Segera." perintah Elvano tanpa basa-basi, suaranya kembali ke dingin.

"Baik tuan," jawab Mike cepat.

"Dan satu hal lagi," lanjut Elvano, "Aku ingin rekaman CCTV koridor kamar 102 dari jam 11 malam hingga jam 8 pagi tadi. Kirimkan salinannya kepada saya dalam waktu satu jam."

"Tentu, Tuan. Akan segera saya proses."

Elvano mematikan sambungan teleponnya. Ia membiarkan keheningan mengambil alih. Pikirannya melayang kembali pada gumaman samar wanita itu semalam, kata-kata yang begitu akrab dan tak terduga.

Ia bergumam sendiri, suaranya pelan dan penuh ironi, sebuah pengakuan yang tertahan.

"Aku tidak menyangka... dia berasal dari Indonesia."

Elvano menutup matanya, sebuah garis tipis muncul di bibirnya.

"Dari semua tempat di dunia, wanita yang menantang harga diriku dan meninggalkanku dengan bayaran sialan ini... ternyata berasal dari tempat kelahiranku sendiri."

Malam liar itu kini terasa lebih personal, lebih terikat takdir. Dia adalah seorang wanita yang berasal dari Indonesia, yang berani memperlakukannya seperti seorang pria bayaran dan Elvano tidak akan pernah bisa menerima hal itu.

Perjalanan menuju villa pribadinya yang terletak di pinggiran kota, terasa singkat dalam keheningan yang dipenuhi rencana. Setibanya di sana, Elvano tidak membuang waktu. Ia tidak disambut oleh sapaan hangat, melainkan oleh keheningan terorganisir dari rumah yang terbiasa ditinggal.

Villa itu, dengan arsitektur minimalis yang dingin dan pemandangan hutan pinus, mencerminkan kepribadiannya, terstruktur, terisolasi, dan berkelas tinggi.

Elvano langsung menuju kamar ganti utamanya. Ia menelepon kepala pelayan pribadinya, yang sudah terbiasa dengan kepulangan dan keberangkatan mendadak.

"Siapkan koper. Penerbangan ke Jakarta dalam satu jam. Hanya barang penting," perintah Elvano, matanya menyapu deretan setelan jas yang tergantung sempurna.

Elvano memilih beberapa setelan bisnis terbaik yang memancarkan otoritas tanpa perlu berteriak. Warna-warna gelap, kain-kain mahal.

Sambil melipat kemeja dengan presisi militer, Elvano merenungkan situasinya.

Indonesia.

Kepulangan yang tidak terjadwal ini melanggar semua aturan ketat yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Seharusnya ia masih di Eropa, menutup kontrak properti raksasa. Tetapi sekarang, semua itu terasa dangkal.

Seorang wanita memberiku uang untuk dibungkam.

Tepat setelah koper perjalanannya siap, ponselnya berdering. Mike.

"Tuan, jet sudah siap. Saya sudah mendapatkan rekaman CCTV. Wanita itu meninggalkan kamar pukul enam lewat tiga menit. Kami juga telah memproses data penumpang pesawat. Saya akan kirimkan detail nama wanita tersebut setibanya kita di Jakarta Tuan."

"Bagus," jawab Elvano, tanpa ekspresi.

"Mike..."

"Ya, Tuan?"

"Pastikan kamar saya di Mansion Adhitama sudah siap. Saya tidak akan menginap di hotel."

Mengantongi liontin dan cek yang terlipat rapi, Elvano meninggalkan villa. Ia tidak menoleh ke belakang. Di matanya, Eropa hanyalah papan catur yang sementara ia tinggalkan. Jakarta tempat wanita itu bersembunyi, kini adalah satu-satunya tujuan yang penting.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Wedding Agreement    BAB 9

    Ara mematikan ponselnya, meletakkannya dengan kasar di nakas. Ia tidak bisa kembali tidur. Kenyataan bahwa ia sekarang bekerja di bawah kendali Elvano, pria yang baru saja memenuhi mimpinya dengan hasrat yang membara terasa seperti ironi kejam dari takdir. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke jendela besar, menatap keheningan malam yang sunyi.Proyek villa mewah itu. Ia harus fokus. Ara adalah seorang arsitek profesional, dan ia telah berhasil merancang bangunan-bangunan yang menantang. Ia bisa menghadapi seorang klien berpengaruh seperti Elvano. Hubungan masa lalu mereka di Eropa adalah kesalahan satu malam yang ia kubur dalam-dalam, dan ia bertekad akan tetap terkubur.Namun, bagaimana ia bisa menguburnya, jika pria itu secara terang-terangan menggunakan masa lalu mereka sebagai 'kendali'?Tiba-tiba, Ara teringat sesuatu. Saat di ruang rapat, tatapan Elvano yang seolah tahu semua tentangnya, bisikan samar yang tidak ia hiraukan. Sebuah firasat dingin menjalar di punggung Ara.

  • The Wedding Agreement    BAB 8

    Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perlahan ke ruang makan, lalu ke ruang keluarga yang luas. Seluruh bagian rumah itu kosong, seperti sebuah museum mewah yang ditinggalkan. Ara lantas menuju dapur, tempat ia akhirnya menemukan sedikit kehangatan.Di sana, ia mendapati Bi Inah sedang menyiapkan sesuatu di atas meja marmer."Bi Inah!" sapa Ara, nada lega terselip di suaranya."Non Ara sudah pulang," balas Bi Inah, wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan yang tulus."Bagaimana pertemuannya, Non?""Berhasil, Bi," jawab Ara singkat, sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Papa dan Mama... sudah berangkat bi?""Sudah, Non. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih berangkat ke luar kota lima belas menit setelah Non meninggalkan rumah tad

  • The Wedding Agreement    BAB 7

    Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisai wanita sekuat Ara hanya dengan satu pandangan. Ia berpikir keras mengenai strategi untuk pertemuan dua hari ke depan. Pertemuan itu harus memadukan profesionalisme dengan sentuhan pribadi yang mengejutkan.Ia akan menggunakan kenangan mereka sebagai alat, bukan untuk negosiasi bisnis, tetapi untuk kendali pribadinya atas Ara. Elvano tersenyum tipis, merasakan adrenalin dari perburuan ini. Elvano adalah seorang maestro dalam mengendalikan pasar saham, dan sekarang ia akan mengendalikan hati seorang wanita.Tiba-tiba, pintu besar ruangannya terbuka tanpa ketukan formal. Elvano seketika menegang. Di ambang pintu, seorang wanita dengan gaun minim dan riasan mencolok berdiri, memancarkan aura y

  • The Wedding Agreement    BAB 6

    Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup properti ternama tetapi juga menambah pesonanya yang anggun dengan sentuhan modern dan percaya diri. Ia memilih perhiasan minimalis, hanya sepasang anting stud berlian kecil dan jam tangan stainless steel ramping.Di lobi mewah Adhitama Group, ia disambut oleh asisten Elvano, mereka memasuki lift privat yang melesat tanpa suara ke lantai paling atas. Ara berusaha mengatur napas, memastikan setiap helai rambutnya tertata sempurna, dan perisai profesionalismenya tidak retak.Saat pintu lift terbuka, ia dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat yang didominasi kaca, sebuah kubus kristal yang menggantung di atas kota. Jakarta terhampar di bawah, pemandangan spektakuler yang menelan gedung-gedung lain

  • The Wedding Agreement    BAB 5

    Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mata itu, suasana tetaplah membeku dan formal.Ara, putri tunggal keluarga Paramita, mengenakan kaus oversized dan celana santai, kontras dengan keseriusan ruangan. Ia tahu, ketenangan di antara hiruk pikuk Jakarta di luar sana hanyalah jeda singkat sebelum badai yang telah ia prediksi.Setelah para pelayan membersihkan meja marmer dari sisa-sisa santapan yang hampir tak tersentuh, Hendra, sang kepala keluarga, meletakkan cangkir kopinya. Gerakan kecil itu seolah menjadi penanda dimulainya negosiasi yang tak terhindarkan.Ia menatap putrinya, ditemani pandangan tajam dari Ratih, istrinya. Keduanya menuntut jawaban."Sekarang," kata Hendra, suaranya tenang namun mengandung otoritas."Kita perlu

  • The Wedding Agreement    BAB 4

    Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh desisan pelan sistem ventilasi kabin.Elvano duduk tegak di salah satu kursi tunggal, sandaran punggungnya hampir tegak lurus, membiarkan keheningan yang mahal itu menjadi kanvas tempat ia merangkai setiap langkah rencananya.Lampu-lampu kota di bawah, dari ketinggian ribuan kaki, tampak seperti permadani bintang yang terhampar luas, pemandangan yang seharusnya menenangkan jiwa yang letih, tetapi bagi Elvano, justru memicu gelombang ketegangan yang mendidih dalam dirinya.Uang yang seharusnya menjadi 'uang tutup mulut' atau bayaran untuk 'layanan semalam' yang paling menghina."Membayarku," gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa perlu men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status