Share

The Wedding Agreement
The Wedding Agreement
Author: Ansaafh_

BAB 1

Author: Ansaafh_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-29 20:18:21

Arabella Saskia Paramita, wanita yang berusia 23 tahun itu terbangun dari tidur lelapnya. Kesadaran datang perlahan, diikuti dengan rasa pusing yang berdenyut-denyut menghantam kepalanya.

Ia mengerang pelan, perlahan mencoba menghilangkan kabut tebal yang menyelimuti pikirannya. Ia merasakan tekstur yang sangat halus di bawah kulitnya, seprai satin dingin.

Lantas, ia membuka mata.

Seketika, seluruh tubuhnya menegang. Ini bukan kamarnya. Suite hotel mewah, elegan, dengan jendela besar yang memamerkan pemandangan dramatis.

Sinar matahari pagi dari balik cakrawala memancar, menerangi Laut Aegea yang biru berkilauan. Pemandangan Santorini yang indah dan damai itu terasa kontras, bahkan ironis, dengan kekacauan batin yang menghantam Ara.

Lebih buruk lagi, di sampingnya.

Nyaris menyentuh lengannya, ada seorang pria. Pria itu terlelap, napasnya teratur dan tenang. Wajahnya yang tegas tampak damai dalam tidurnya, rambutnya acak-acakan.

Ara tidak bisa tidak mengakui bahwa dia tampan, memancarkan aura maskulin yang kuat, bahkan saat tidak sadarkan diri. Ara menarik napas tajam, menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan yang tertahan. Ia segera memeriksa tubuhnya.

Ia polos. Dan ia menyadari bahwa pria di sampingnya juga dalam keadaan polos.

Kepalanya menggeleng panik, mencoba mengais-ngais ingatan dari malam yang gelap itu.

Kosong.

Ia tidak ingat apa-apa. Yang terakhir ia ingat hanyalah pergi ke klub malam untuk membebaskan diri dari semua tekanan perjodohan dan harapan keluarga yang menyesakkan. Ia ingat musik yang memekakkan telinga, gelas demi gelas alkohol, dan keinginan liar untuk melarikan diri.

Apa yang terjadi?

Sebuah kilasan muncul. Ia ingat ditarik paksa oleh seorang pria asing yang berniat melecehkannya di dekat pintu keluar klub. Lalu, ada intervensi. Seorang pria lain datang, membantu. Pahlawan tak dikenal itu.

Wajahnya kabur, hanya sebatas siluet tinggi dan suara yang tegas. Setelah itu, yang ada hanyalah sensasi panas, mual, dan kegelapan total.

Ara menelan ludah yang terasa pahit. Rasa malu dan panik bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu apa yang terjadi semalam, tetapi fakta bahwa mereka berdua terbangun di ranjang yang sama, dalam keadaan polos, sudah memberikan kesimpulan yang menampar.

Ini adalah kesalahan.

Kesalahan besar dan monumental yang harus segera ia hapus dari rekam jejaknya. Ia harus pergi. Sekarang juga.

Sebelum pria itu bangun dan menuntut penjelasan, atau lebih buruk lagi menganggap Ara telah setuju dengan situasi ini.

Ara beringsut perlahan dari tempat tidur, bergerak sehalus mungkin. Setiap gerakan kecil terasa seperti serangkaian perjuangan. Saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, ia merasakan sakit dan perih yang menusuk di pangkal pahanya, sebuah bukti fisik yang menyakitkan dari malam yang hilang. Ara menggertakkan gigi, memaksa dirinya mengabaikan rasa sakit itu.

Dalam ketergesaannya yang didorong kepanikan, ia sama sekali tidak menyadari bahwa kalung liontin perak berinisial 'A' yang selalu ia kenakan sebagai jimat keberuntungan dan inisial namanya telah terlepas dari lehernya dan tergeletak diantara lipatan seprai satin.

Prioritasnya adalah menghapus semua jejak. Ia meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai, mengeluarkan buku ceknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuliskan nominal yang besar, sebuah angka yang mencerminkan putus asa dan harga dirinya yang terinjak-injak. Uang adalah cara tercepat untuk mengakhiri masalah bagi orang-orang seperti dia.

Ia merobek cek itu, lalu menulis sebuah catatan kecil dengan tergesa-gesa.

"Maafkan saya. Untuk semalam, anggap saja kita tidak pernah bertemu."

Ara meletakkan cek dan catatan itu di meja nakas, tepat di samping ponsel dan jam tangan mewah pria itu. Ia menatap wajah damai pria itu sekali lagi, sebuah penyesalan cepat menusuknya. Sebelum memungut pakaiannya yang berserakan, lalu melangkah terseok-seok menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berkemas.

Lima belas menit kemudian, Ara keluar dari kamar hotel. Ia berhasil menyelinap tanpa membangunkan pria itu. Ia bergegas menuju lobi dan memesan taksi.

Tujuannya adalah hotel tempat ia menginap.

Setibanya di sana, ia meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar. Ia mengambil barang-barang pribadinya, memastikan semua bukti masa tinggalnya di Yunani sudah terangkat.

Ara kembali ke taksi dengan koper. Ia menarik napas dalam, wajahnya tegang dan matanya penuh determinasi.

"Ke bandara, Pak. Sekarang!."

Ia harus kembali. Kembali ke sangkar emasnya, kembali ke drama perjodohan, kembali ke kenyataan yang setidaknya ia kenal. Melarikan diri adalah satu-satunya keahliannya saat ini. Ia bertekad untuk mengubur rahasia malam itu di bawah lautan Aegea yang luas.

Ara duduk di kursi kelas bisnis yang sepi, menatap jendela pesawat yang menampilkan hamparan samudra luas di bawahnya. Pesawat itu melaju kencang, membawa tubuhnya kembali ke Jakarta.

Ia mencengkeram erat sandaran tangan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum reda sejak ia berlari keluar dari kamar hotel tersebut. Di lehernya, ia merasakan kekosongan yang aneh.

Baru ia sadari, liontin inisial 'A' yang selalu ia pakai pemberian dari mendiang neneknya sudah tidak ada.

Hilang.

Sama seperti dirinya telah kehilangan kendali dan martabatnya malam itu.

Ara memejamkan mata. Ingatan tentang pria itu menyeruak. Bau parfumnya, sentuhannya yang buas, dan gumaman terakhirnya di mobil.

"Aku membayar untuk melupakan. Itu satu-satunya cara," bisik Ara, suaranya sangat lirih, tertelan oleh deru mesin pesawat.

Ia menguatkan hati bahwa pria itu hanyalah orang asing yang ia temukan dalam keputusasaan.

"Sekarang, aku harus kembali dan menghadapi realitasku."

Ara membuka mata, memaksa pikirannya beralih ke masa depan. Masa depan yang buram, di mana ia harus menerima perjodohan yang telah orang tuanya siapkan dan menjadi istri dari putra rekan bisnis papanya. Ia telah lari sejauh mungkin, hanya untuk kembali ke titik awal.

"Aku kabur dari satu sangkar, hanya untuk menjebloskan diriku ke dalam sangkar yang lebih besar," gumam Ara, menatap kosong ke awan di luar jendela.

"Dan kini, aku membawa serta bayangan dosa dari pulau yang indah itu."

Ponselnya bergetar. Pesan dari Naya, sahabatnya, masuk.

Naya: Lo udah di pesawat? Mama Ratih marah saat tau lo kabur. Gw bilang ke mama Ratih kalau lo ada urusan kerjaan disana. Kalau udah sampai bandara, langsung pulang kerumah! Semoga lo punya alasan bagus kenapa lo lari ke Yunani.

Ara menghela napas panjang, dan tidak berminat untuk membalas pesan tersebut. Bahkan sahabatnya pun kini menjadi perpanjangan tangan orang tuanya. Ia tahu Naya hanya khawatir, tetapi peringatan itu hanya memperjelas betapa kecilnya ruang geraknya.

Ara kembali mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepala ke jendela dan memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar perjodohan itu tidak terjadi dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya.

Ara menutup mata sejenak dan berusaha untuk tidur. Tak lama lagi, roda pesawat akan menyentuh landasan di Jakarta. Ia harus siap menghadapi kedua orang tuanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • The Wedding Agreement    BAB 51

    Sepatu hak tinggi Clara bergema di lorong sunyi apartemen Dion. Dengan napas yang sedikit memburu karena rindu, ia menekan deretan angka yang sudah ia hafal di luar kepala pada keypad digital pintu unit Dion.Tit... tit... tit...Bip!Lampu merah menyala."Access Denied."Clara mengerutkan kening. Ia mencoba lagi, lebih lambat kali ini. Hasilnya tetap sama."Salah? Kenapa bisa salah?" gumamnya heran. Ia mencoba kombinasi tanggal lahir Dion, tanggal mereka pertama kali bertemu, namun pintu itu tetap membeku.Perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan menghubungi ponsel Dion.Di dalam kamar yang temaram, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Dion, yang saat itu tengah terbuai dalam gairah bersama Kania, melirik layar. Nama 'Clara' berkedip di sana. Ia mendecak kesal, namun tetap mengangkatnya dengan suara serak."Halo," jawab Dion pendek."Dion? Kamu di mana? Aku di depan pintu apartemenmu dan sandinya salah. Kamu menggantinya?" suara Clara

  • The Wedding Agreement    BAB 50

    Malam semakin larut ketika Kania melangkah menyusuri lorong apartemen mewah milik Dion. Ia telah menanggalkan gaun merah ketatnya, menggantinya dengan setelan yang jauh lebih praktis namun tetap menggoda. Kemben hitam ketat yang menonjolkan lekukan dadanya, dibalut jaket kulit pendek, dan rok mini yang nyaris tidak menutupi paha mulusnya.Di dalam unitnya, Dion baru saja selesai mengganti kode akses pintu. Ia tidak ingin Clara atau siapa pun mengganggu kegiatannya malam ini. Begitu bel berbunyi, Dion membuka pintu dan langsung disambut oleh aroma parfum Kania yang kuat. Tanpa basa-basi, Dion menarik tengkuk Kania dan membungkam bibirnya dengan ciuman kasar yang penuh tuntutan.Kania terengah, telapak tangannya menahan dada bidang Dion untuk menciptakan sedikit jarak."Tunggu, Dion... Jangan terburu-buru. Katakan dulu, apa rencanamu untuk menghancurkan mereka?"Dion tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang gelap karena gairah dan dendam memindai tubuh Kania yang berdiri menantang

  • The Wedding Agreement    BAB 49

    Ketegangan di ruang rapat tadi siang rupanya hanyalah pembuka dari badai yang sebenarnya. Sore itu, sebuah kurir datang membawakan sebuah undangan fisik berwarna hitam elegan dengan aksen emas yang mencolok."The Golden Muse: Grand Appreciation Night."Ara membaca nama di bagian pengirim: Kania. Nama itu bagaikan duri yang langsung menusuk ketenangan Ara. Kania, sang supermodel internasional sekaligus mantan tunangan Elvano yang pernah hampir bersanding di pelaminan sebelum ego dan karier wanita itu menghancurkan segalanya."Dia belum menyerah juga?" gumam Elvano dingin, melirik sekilas undangan itu sebelum melemparkannya ke atas meja."Sudah tiga nomor baru yang dia gunakan untuk menghubungiku minggu ini, dan semuanya sudah kublokir.""Dia mengundang kita berdua, El. Dia wanita dengan ambisi yang kuat" sahut Ara, tangannya meremas pinggiran undangan itu. Egonya terusik. Sebagai seorang wanita yang kini menyandang status istri sah, ia tidak bisa membiarkan masa lalu suaminya terus mem

  • The Wedding Agreement    BAB 48

    Pagi itu, atmosfer di ruang rapat utama Adhitama Group terasa begitu kontras. Di satu sisi, ada ketenangan yang dingin dari Elvano, dan di sisi lain, ada aura manis yang terasa terlalu dibuat-buat dari sosok Clara.Clara datang mendampingi Dion untuk pertemuan lanjutan mengenai integrasi vendor. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya hari ini. Ia mengenakan terusan berwarna pastel yang memberikan kesan santun dan lembut, sangat berbeda dari gayanya yang biasanya sangat formal dan kaku."Selamat pagi, Pak Elvano, Ibu Ara," sapa Clara dengan suara lembut yang terdengar tulus, lengkap dengan senyum kecil yang terlihat malu-malu."Mohon maaf jika kehadiran kami sedikit menyita waktu sibuk anda berdua."Ara menyipitkan matanya. Insting wanitanya menangkap sesuatu yang ganjil. Ia memperhatikan bagaimana mata Clara tidak lepas dari sosok suaminya. Elvano hari ini memang terlihat sangat menawan, ia telah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga ke si

  • The Wedding Agreement    BAB 47

    Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan lekuk tubuh mereka yang menari di dinding marmer. Udara dingin dari AC apartemen seolah menguap, digantikan oleh gelombang panas yang memancar dari persinggungan kulit mereka yang lembap.Elvano tidak lagi menahan diri. Setelah pintu kamar terkunci rapat, ia menunduk, membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Ara. Napasnya yang berat dan panas menyapu kulit sensitif Ara, mengirimkan sengatan listrik yang membuat wanita itu meremang hebat."Kamu tidak tahu... betapa kerasnya aku mencoba menahan diri sepanjang hari di kantor, Ra," bisik Elvano, suaranya serak dan rendah, penuh dengan damba yang berbahaya.Jemari besar Elvano merayap turun, perlahan namun pasti, menanggalkan penghalang terakhir di antara mereka. Saat telapak tangannya yang kapalan namun hangat menyentuh pinggang ramping Ara, Ara tersentak, punggungnya melengkung secara naluriah mencari sandaran pada dada bidang Elvano yang keras.Aku adalah istrinya yang sahnya, Sec

  • The Wedding Agreement    BAB 46

    Ara menarik napas panjang, berusaha menormalkan detak jantungnya sebelum melangkah keluar dari lift. Ia melihat punggung tegap Elvano yang berjalan dengan langkah percaya diri, menyapa para staf dengan anggukan kepala yang kaku dan dingin."Dasar bermuka dua," gumam Ara pelan, namun ia tetap mengikuti langkah suaminya menuju ruang kerja utama.Sepanjang pagi, Ara mencoba fokus pada laporan audit, namun Elvano benar-benar tidak membiarkannya tenang. Ruang kerja mereka yang bersekat kaca transparan menjadi arena bermain bagi Elvano. Setiap kali Ara mendongak, ia mendapati Elvano sedang memperhatikannya. Pria itu sesekali melonggarkan dasinya sambil menatap Ara dengan tatapan menggoda.Elvano: Bisa ke ruanganku sebentar? Ada 'masalah teknis' dengan berkas pembangunan.Ara mengernyit. Ia bangkit dan berjalan menuju ruangan Elvano yang luas. Begitu ia masuk, Elvano sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar pulpen di antara jemarinya."Masalah teknis apa, El?" tanya Ara profesional.Elvan

  • The Wedding Agreement    BAB 6

    Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup prope

  • The Wedding Agreement    BAB 5

    Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mat

  • The Wedding Agreement    BAB 4

    Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh

  • The Wedding Agreement    BAB 3

    FLASHBACK ONAra memejamkan mata di tengah dentuman musik Trance yang memekakkan telinga di club tepi tebing Santorini. Sudah tiga minggu ia berada di sini, melarikan diri dari Jakarta dan dari cincin yang disiapkan oleh orang tuanya untuk menjodohkannya. Ia minum terlalu banyak malam ini. Ia butuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status