Share

BAB 5

Author: Ansaafh_
last update publish date: 2026-06-09 17:03:28

Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.

Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mata itu, suasana tetaplah membeku dan formal.

Ara, putri tunggal keluarga Paramita, mengenakan kaus oversized dan celana santai, kontras dengan keseriusan ruangan. Ia tahu, ketenangan di antara hiruk pikuk Jakarta di luar sana hanyalah jeda singkat sebelum badai yang telah ia prediksi.

Setelah para pelayan membersihkan meja marmer dari sisa-sisa santapan yang hampir tak tersentuh, Hendra, sang kepala keluarga, meletakkan cangkir kopinya. Gerakan kecil itu seolah menjadi penanda dimulainya negosiasi yang tak terhindarkan.

Ia menatap putrinya, ditemani pandangan tajam dari Ratih, istrinya. Keduanya menuntut jawaban.

"Sekarang," kata Hendra, suaranya tenang namun mengandung otoritas.

"Kita perlu membicarakan kepergianmu yang tiba-tiba ke luar kota. Kamu melarikan diri, Ara, karena kamu telah mengetahui perihal pertemuan dengan keluarga Satria telah kami jadwalkan."

Ara menghela napas panjang, sebuah usaha untuk menenangkan gejolak di dadanya.

"Ara hanya membutuhkan waktu, Pa. Untuk merenung dan berpikir jernih."

"Tidak ada yang perlu direnungkan," potong Ratih, nadanya tegas dan dingin, seperti embun pagi yang membeku.

"Masa depanmu telah kami putuskan. Kamu akan menikah dengan Dion, putra dari Tuan Satria. Pengumuman pertunangan akan kami sampaikan dua minggu mendatang. Keputusan ini final."

Mendengar nama Dion, Ara merasakan lonjakan rasa sakit yang familiar. Sakit yang sama seperti saat ia mengingat kembali trauma yang ia alami. Pengalaman pelecehan emosional dan perselingkuhan kejam yang dilakukan mantan kekasihnya di masa sekolah.

Trauma yang ara alami mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Saat itu, orang tuanya yang disibukkan oleh kepentingan bisnis di luar negeri hanya bisa mempercayakan perawatannya pada Bi Inah, kepala pembantu di rumah.

Ara harus berjuang untuk menolak perjodohan ini, namun ia juga harus menyembunyikan luka lama yang terlalu sensitif untuk diungkapkan pada mereka.

"Pa, Ma, Ara tidak mungkin menikah dengan Dion," protes Ara, berusaha keras menjaga suaranya agar terdengar setenang mungkin dan profesional.

"Mengapa tidak mungkin?" tanya Hendra, nada bicaranya mulai meninggi, menyiratkan ketidaksabaran.

"Kami mengetahui kalian pernah menjalin hubungan saat di sekolah menengah. Kalian saling mengenal! Ini merupakan koneksi yang sempurna untuk menjalin kemitraan bisnis!"

Mereka tahu tentang hubungan masa lalu Ara, tetapi mereka hanya memandangnya sebagai aset bisnis yang menguntungkan. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa di balik kisah asmara remaja itu terdapat trauma yang hampir menghancurkan putrinya sendiri.

"Justru karena itu, Pa," bela Ara.

"Kami telah lama berpisah. Kami berdua sudah menjadi pribadi yang berbeda. Hubungan kami di masa lalu berakhir tidak baik. Menikahinya sekarang sama saja dengan menikah dengan orang asing yang pernah menyakiti Ara."

"Menyakiti?" Ratih tertawa meremehkan, suaranya tajam.

"Itu hanya drama remaja, Ara. Setiap hubungan pasti mengalami pasang surut. Jangan bersikap kekanak-kanakan. Kami tidak peduli itu hanyalah masa lalu mu dan sekarang Dion sudah berubah menjadi lebih baik. Ini adalah kesepakatan bisnis bagi Paramita Group. Kamu akan menikah dengannya."

Hendra membelai janggut tipisnya, tatapannya menyiratkan perintah mutlak. "Kamu akan menikah dengan Dion. Kamu hanya perlu fokus dan persiapkan dirimu menjadi nyonya satria. Kami akan melupakan masalah pelarianmu jika kamu menunjukkan kepatuhan."

Ara terpaksa menunduk, menyadari bahwa permohonannya adalah sia-sia.

Tiba-tiba, Julian, asisten pribadi Hendra, masuk ke ruang makan, langkahnya cepat. Ia memegang Ipad ditangannya dengan notifikasi yang menyala.

"Mohon maaf mengganggu, Tuan," lapor Julian dengan nada mendesak.

"Ada pesan email yang sangat penting masuk dari kantor pusat Adhitama Group."

Hendra segera mengambil tablet itu, wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Adhitama Group? Ada apa mendadak seperti ini?"

Julian menjelaskan.

"Pesan itu berasal dari asisten pribadi Tuan Elvano Narendra Adhitama. Tuan Elvano secara pribadi mengundang tim desain Paramita Group untuk membahas proyek villa baru yang sedang mereka kembangkan. Tuan Elvano tertarik dengan portofolio Paramita Group dan ingin mendiskusikan detail proyek lebih lanjut. Mengenai pembayaran, asisten Tuan Elvano menginformasikan bahwa setengah dari total biaya jasa desain akan dikirimkan di awal."

Nama "Elvano Narendra Adhitama" membuat Ara bergumam, mengulangi nama itu dengan nada terkejut dan perasaan aneh yang tertahan. Ara hanya mengenali nama itu sebagai "klien paling berpengaruh di Asia Tenggara."

Hendra menghela napas berat, wajahnya kini menunjukkan kelelahan bercampur antusiasme atas tawaran yang fantastis itu.

"Sial! Justru beberapa hari ke depan saya ada proyek penting yang harus ditandatangani di luar kota, dan itu tidak mungkin dibatalkan!" gerutu Hendra.

Ia berpikir cepat, matanya tertuju pada Ara. Sebuah rencana segera terbentuk di benaknya. Hendra menyerahkan kembali tablet itu kepada Julian.

"Julian, balas pesan mereka sekarang juga," perintahnya tegas.

"Katakan bahwa Paramita Group menerima tawaran itu dan mengadakan pertemuan besok pagi di kantor Adhitama. Namun, saya tidak bisa hadir karena ada keperluan mendesak di luar kota dalam beberapa hari ke depan. Maka putri saya, Ara, Arsitek Kepala kami yang akan mewakili saya."

Ia menatap Ara, matanya memancarkan perintah mutlak.

"Ara, kamu harus mewakili Papa. Kamu adalah Arsitek Kepala, kamu yang paling papa percaya dan mampu menyelesaikan proyek besar ini. Ini prioritas utama. Jaga reputasi Paramita Group."

Ara bangkit. Ia merasa tertekan oleh tanggung jawab ini, tetapi setidaknya, ancaman pernikahan dengan Dion tertunda sejenak oleh tugas mendadak ini. Ia harus mewakili ayahnya untuk bertemu konglomerat terkenal yang namanya ia kenali sebagai seorang pebisnis muda terkenal se Asia Tenggara. Ara sekarang harus menghadapi sebuah tantangan profesional yang terasa jauh lebih aman daripada menghadapi trauma masa lalunya.

Malam hari di kediaman Paramita terasa dingin dan sunyi, kontras dengan gejolak emosi di benak Ara. Ancaman Dion telah tergeser oleh bayangan kerjasama proyek besar Adhitama Group. Jeda ini adalah kesempatan yang harus ia manfaatkan.

Di kamarnya, Ara tidak tidur. Ia mengubah studionya menjadi ruang perang. Lusinan cetak biru proyek villa milik Adhitama Group terhampar di atas meja kerja. Lampu meja menyorot tajam sketsa-sketsa yang ia buat dengan terburu-buru, mencoba menangkap visi yang sangat ambisius. Arsitektur yang harus berbicara dengan alam namun tetap futuristik.

Ara, sebagai Arsitek Kepala, tidak hanya harus mempertahankan reputasi perusahaannya, ia harus menggunakan proyek ini sebagai tameng. Proyek ini harus begitu besar dan penting, sehingga orang tuanya tidak akan berani mengganggu fokusnya dengan rencana pernikahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Wedding Agreement    BAB 9

    Ara mematikan ponselnya, meletakkannya dengan kasar di nakas. Ia tidak bisa kembali tidur. Kenyataan bahwa ia sekarang bekerja di bawah kendali Elvano, pria yang baru saja memenuhi mimpinya dengan hasrat yang membara terasa seperti ironi kejam dari takdir. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke jendela besar, menatap keheningan malam yang sunyi.Proyek villa mewah itu. Ia harus fokus. Ara adalah seorang arsitek profesional, dan ia telah berhasil merancang bangunan-bangunan yang menantang. Ia bisa menghadapi seorang klien berpengaruh seperti Elvano. Hubungan masa lalu mereka di Eropa adalah kesalahan satu malam yang ia kubur dalam-dalam, dan ia bertekad akan tetap terkubur.Namun, bagaimana ia bisa menguburnya, jika pria itu secara terang-terangan menggunakan masa lalu mereka sebagai 'kendali'?Tiba-tiba, Ara teringat sesuatu. Saat di ruang rapat, tatapan Elvano yang seolah tahu semua tentangnya, bisikan samar yang tidak ia hiraukan. Sebuah firasat dingin menjalar di punggung Ara.

  • The Wedding Agreement    BAB 8

    Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perlahan ke ruang makan, lalu ke ruang keluarga yang luas. Seluruh bagian rumah itu kosong, seperti sebuah museum mewah yang ditinggalkan. Ara lantas menuju dapur, tempat ia akhirnya menemukan sedikit kehangatan.Di sana, ia mendapati Bi Inah sedang menyiapkan sesuatu di atas meja marmer."Bi Inah!" sapa Ara, nada lega terselip di suaranya."Non Ara sudah pulang," balas Bi Inah, wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan yang tulus."Bagaimana pertemuannya, Non?""Berhasil, Bi," jawab Ara singkat, sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Papa dan Mama... sudah berangkat bi?""Sudah, Non. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih berangkat ke luar kota lima belas menit setelah Non meninggalkan rumah tad

  • The Wedding Agreement    BAB 7

    Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisai wanita sekuat Ara hanya dengan satu pandangan. Ia berpikir keras mengenai strategi untuk pertemuan dua hari ke depan. Pertemuan itu harus memadukan profesionalisme dengan sentuhan pribadi yang mengejutkan.Ia akan menggunakan kenangan mereka sebagai alat, bukan untuk negosiasi bisnis, tetapi untuk kendali pribadinya atas Ara. Elvano tersenyum tipis, merasakan adrenalin dari perburuan ini. Elvano adalah seorang maestro dalam mengendalikan pasar saham, dan sekarang ia akan mengendalikan hati seorang wanita.Tiba-tiba, pintu besar ruangannya terbuka tanpa ketukan formal. Elvano seketika menegang. Di ambang pintu, seorang wanita dengan gaun minim dan riasan mencolok berdiri, memancarkan aura y

  • The Wedding Agreement    BAB 6

    Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup properti ternama tetapi juga menambah pesonanya yang anggun dengan sentuhan modern dan percaya diri. Ia memilih perhiasan minimalis, hanya sepasang anting stud berlian kecil dan jam tangan stainless steel ramping.Di lobi mewah Adhitama Group, ia disambut oleh asisten Elvano, mereka memasuki lift privat yang melesat tanpa suara ke lantai paling atas. Ara berusaha mengatur napas, memastikan setiap helai rambutnya tertata sempurna, dan perisai profesionalismenya tidak retak.Saat pintu lift terbuka, ia dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat yang didominasi kaca, sebuah kubus kristal yang menggantung di atas kota. Jakarta terhampar di bawah, pemandangan spektakuler yang menelan gedung-gedung lain

  • The Wedding Agreement    BAB 5

    Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mata itu, suasana tetaplah membeku dan formal.Ara, putri tunggal keluarga Paramita, mengenakan kaus oversized dan celana santai, kontras dengan keseriusan ruangan. Ia tahu, ketenangan di antara hiruk pikuk Jakarta di luar sana hanyalah jeda singkat sebelum badai yang telah ia prediksi.Setelah para pelayan membersihkan meja marmer dari sisa-sisa santapan yang hampir tak tersentuh, Hendra, sang kepala keluarga, meletakkan cangkir kopinya. Gerakan kecil itu seolah menjadi penanda dimulainya negosiasi yang tak terhindarkan.Ia menatap putrinya, ditemani pandangan tajam dari Ratih, istrinya. Keduanya menuntut jawaban."Sekarang," kata Hendra, suaranya tenang namun mengandung otoritas."Kita perlu

  • The Wedding Agreement    BAB 4

    Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh desisan pelan sistem ventilasi kabin.Elvano duduk tegak di salah satu kursi tunggal, sandaran punggungnya hampir tegak lurus, membiarkan keheningan yang mahal itu menjadi kanvas tempat ia merangkai setiap langkah rencananya.Lampu-lampu kota di bawah, dari ketinggian ribuan kaki, tampak seperti permadani bintang yang terhampar luas, pemandangan yang seharusnya menenangkan jiwa yang letih, tetapi bagi Elvano, justru memicu gelombang ketegangan yang mendidih dalam dirinya.Uang yang seharusnya menjadi 'uang tutup mulut' atau bayaran untuk 'layanan semalam' yang paling menghina."Membayarku," gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa perlu men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status