Mag-log inMaddox is an aggressive , grumpy, violent Alpha .A cursed alpha who is an abomination to the werewolf species broken Inside and considers himself mateless,but as soon as he sets his eyes on Bloom a human girl who is full of Sunshine and eagerness. Does he change his mind about having a mate?
view more"Di dalam apa di luar?" Pria itu menatap intens ke arahku.
"Di luar!" jawabku ketus. Enak saja!
Dari awal, dia mah mau enaknya sendiri.
"Apa bedanya di luar dan di dalam? Toh kita sama-sama melaluinya." Mas Dareen protes. "Lagi pula kalau di luar, akulah yang tersiksa! Kamu, sih, enak!"
Mana ada yang enak? Harus melalui malam pertama dengan pria menyebalkan sepertinya. Membayangkan dekat dengannya saja tak pernah, apalagi sampai harus menikah dan satu kamar begini.
Ah, ngeselin! Kenapa juga aku harus bertukar tempat dengan Kinara, Tuhan?
"Terserah!" ucapku enteng. Mana peduli aku pada perasaannya? "Pokoknya di luar. Aku pinjemin selimut dan bantal! Bawel!"
"Tap ...." Suara Mas Dareen meninggi. Pasti mau protes, deh.
Ucapan itu belum selesai.
Namun, kami harus menoleh secara bersamaan kala mendengar derit dari arah pintu. Sudah kuduga, pria lain akan ke sini sekarang. Tak tahu malu!
"Kamu pasti sedang ngelindur, Mas! Sampai salah masuk kamar, Mas!" hardikku pada pria yang seharusnya sudah melakukan malam pertama bersamaku sekarang. "Ini kamar pengantinku dengan Mas Dareen."
Dia Mas Dewa, pria yang namanya berada dalam satu surat undangan pernikahan dengan namaku.
Bukan malah Mas Dareen yang mengucap akad nikah dan sekarang satu kamar denganku, pria yang terus mencoba bernegosiasi untuk malam pertama kami. Ya, dia yang tiba-tiba datang menggantikan mempelai laki-lakiku.
Meski aku masih sangat mencintai Mas Dewa, tapi nurani dan harga diriku sekaligus, memaksa menerima tawaran Mas Dareen dalam sekejap.
Siapa sangka, takdir berubah hanya dalam hitungan jam. Tadinya aku sudah duduk di depan penghulu bersama Mas Dewa. Namun, tiba-tiba Kirana adikku datang dan melempar tes pack dua garis merah ke hadapan kami.
Aku yang tadinya sangat bahagia karena akan menikah dengan kekasihku, hancur dalam sekejap. Kami telah menjalin hubungan tepat lima tahun, dan memutuskan menikah. Tak ada yang menduga Mas Dewa mendua, dan yang paling gila, selingkuhannya adalah adikku sendiri.
Siapa yang tidak syok! Sejak seminggu lalu, Qinara tak mau pulang meski kakaknya akan menikah. Bahkan memberi ucapan pun tidak. Tak ada yang tahu apa alasannya.
Namun, di hari H pernikahan kami, dia malah muncul. Bukan untuk membantu proses atau sekadar memberi selamat. Melainkan menghancurkan semua.
Gadis cantik itu berteriak dan menangis di depan semua orang.
Kontan saja pernikahan gaduh. Akadku dan Mas Dewa dibatalkan. Meski, calon suamiku itu mengatakan semua itu fitnah Kirana, tentu saja aku lebih percaya pada adikku.
Apalagi dia menyimpan banyak foto kemesraan Mas Dewa dengannya sebagai bukti. Hanya wanita tolol yang masih mau meneruskan pernikahan dengan pria yang selingkuh dan menodai adiknya sendiri.
Dan sekarang ... selain sebuah hardikan keras dan ucapan sinis, memangnya apa yang cocok kuucapkan untuk Mas Dewa? Pria yang namanya meski sangat kubenci masih memenuhi hati.
"Eum. Maaf aku mengganggu." Pria itu mengucap canggung.
"Ya, ganggu sekali. Pergilah sebelum suami sahku menghajarmu!" ketusku lagi. Berharap Mas Dareen peka dan bereaksi sama denganku.
Namun, tak ada reaksi Mas Dareen atas pernyataanku itu.
Sampai aku menoleh mengedip padanya, memberi isyarat agar marah seperti yang kulakukan.
Tapi emang dasar pria gak peka! Dia malah bertanya balik. "Apa?" tanyanya tanpa suara.
Ini benar-benar memalukan. Aku seperti mengatakan pada Mas Dewa kalau suamiku sangat mencintaiku, walau pernikahan ini dadakan, dan akan menghajarnya karena cemburu. Tapi kenyataannya zonk ....
Kuinjak saja kakinya sambil melotot membelakangi Mas Dewa. Hingga dia mengaduh kesakitan.
Hal itu jelas membuat Mas Dewa mengerutkan dahi. Seperti bertanya-tanya. Tak lama ekspresi itu berubah. Sebuah senyuman mengejek menghiasi wajah tampannya.
'Kan, sialan! Ini gara-gara Mas Dareen yang gak bisa diandalin. Ke mana kata-kata dia yang sangat meyakinkan tadi sore. Kalau dia jadi suamiku, aku bisa membalas sakit hati pada Mas Dewa, dan memberinya pelajaran padanya sekaligus. Lelaki seperti Dewa tak bisa dibiarkan, setelah menikah dengan Kinara bisa saja dia akan mengkhianatinya lagi.
Katanya aku harus bersabar dan bermain cantik, menikah dengannya. Sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan dengan sakral, tapi kali ini terjadi karena terpaksa dan ada motif tertentu.
Tapi kenyataannya apa? Setelah menikah, bukannya dia bantu membalas sakit hatiku pada Mas Dewa, malah yang ada aku dipermalukan seperti ini. Awas kamu ya, Mas Dareen!
"Sudahlah, La. Kita perlu bicara. Oke?" Mas Dewa mulai bicara sok dewasa dengan pede-nya.
Benar-benar tak tahu diri. Dia tak merasa bersalah sudah menghancurkan hidupku, menghancurkan hubungan ku dengan Kinara dan membuat keluarga kami malu.
"Kamu mau masuk, Mas?" tanyaku.
"Ya?" Pria itu melebarkan mata. Mungkin dia pikir aku memberinya kesempatan untuk bicara.
"Sini masuk, ngaca di cermin!" Aku mulai emosi sampai bangkit dari duduk. "Supaya kamu sadar pria seperti apa kamu itu?!"
Sudah lewat batas emosiku, aku pun bergerak ke arahnya, dan mendorong Mas Dewa keluar, lalu menutup pintu dengan keras.
"La, Kalila. Kita harus bicara!" Suara terdengar di luar. Pria itu terus memaksa dan meyakinkan. Padahal sudah kutegaskan, tak ada yang perlu dibicarakan.
Dengan dada naik turun, aku berdiri di depan pintu. Lalu melirik tajam pada pria bernama Dareen. Dia mneggaruk kepala tak gatal. Salah tingkah dan canggung.
"Em, sorry." Pria tampan itu meringis.
Kenapa pula aku harus terperdaya oleh kata-katanya tadi, sampai akhirnya kami menikah?
"Em, jadi di luar apa di dalam?" tanyanya seolah tak terjadi sesuatu.
Gila! Masih sempat dia membahas itu. Sudah jelas dia membuatku malu di depan Mas Dewa. Dengan kesal, kuambil bantal dan melempar ke arahnya.
"Keluar!!" teriakku kesal. Ingin pria itu segera enyah dari hadapan!
Ya Tuhan, apa aku sudah salah mengambil langkah? Bagaimana kalau Mas Dareen tak bisa diandalkan untuk memperbaiki keadaan, memberi pelajaran Mas Dewa dan memisahkannya dari Qinara. Bagaimana jika dia hanya membuatku semakin susah menghadapi keluarga?
Padahal tadinya aku sudah tenang karena kejadian tadi siang. Setelah menangis berjam. Namun, karena Mas Dewa salah kamar masuk kamarku, hatiku jadi berantakan lagi.
________
Kuputar volume musik dengan keras demi agar suara jeritan laknat dari kamar sebelah tak terdengar. Qinara dan Mas Dewa gila! Ya, dia pasti sudah gila!
Ini bukan hanya malam pengantin mereka. Tapi juga malam pengantinku. Kenapa mereka tega menyiksaku seperti ini?
Kuusap lelehan bening yang merembes hangat di pipi. Bukti bahwa hatiku terlalu sakit. Malam yang harusnya menjadi kebahagian setiap pengantin, telah menjadi neraka bagiku.
"La, buka pintunya." Suara lembut Mama terdengar. Aku pun mendesah. Buru-buru kuseka kasar airmata di pipi. Bangkit dengan malas untuk membukanya.
Saat membuka pintu, aku pun kembali mendesah lelah. Mama tak sendiri, ada Mas Dareen di sampingnya. Sudah kuduga, dia akan meminta bantuan untuk ini.
Pria itu mengangkat kedua alisnya berkali untuk menggoda. Ish ... pengen kutarik saja alis tebal itu! Biar botak dan tak bisa membanggakan ketampanan dirinya seperti biasa.
"Kamu gimana, sih, La. Masa suaminya suruh tidur di luar?" protes Mama
"Ma aku ...."
"Mama tau pernikahan kalian dadakan dan sulit diterima. Tapi jangan buat Mama dan Papa makin malu di depan keluarga. Kamu tau kan mereka masih di sini?"
"Eum, sudah Tante, em ... maksud saya, Mama. Tolong jangan marah pada Kalila, saya yang salah. Sebenarnya tidak apa-apa. Cuma di luar gak ada penghangat. Tadi ...."
"Nggak Dareen. Mama tahu kamu pria baik. Nyatanya kamu rela berkorban untuk keluarga ini. Keputusan menikahi Kalila pasti berat." Mama melemahkan suaranya pada pria menyebalkan itu.
"Tapi juga jangan terintimidasi pada Kalila," sambung Mama lagi sembari melirik tajam ke arahku.
What?! Jangan terintimidasi? Akulah yang selama ini terintimidasi oleh sikap mereka, dan sekarang akan ditambah oleh Dareen Biantara. Pria menyebalkan yang sudah sah menjadi suamiku.
Sah secara agama. Secara hukum sih belum. Karena pernikahan ini tak direncanakan sebelumnya. Setelah wajah keluarga kami dicoret oleh perzinahan Qinara dan Mas Dewa. Berjam-jam mereka berdebat dan ribut. Sementara aku yang tengah menangis sesenggukan seorang diri di-lobi oleh Mas Dareen.
Pria itu mengusap air mataku. Untuk sesaat, hatiku yang tengah terluka terasa hangat. Dia bicara penuh semangat, seperti tengah berkhutbah secara khusus padaku. Entah, kenapa. Hatiku tergerak. Mengikuti ide gilanya, yang membuatku lupa kalau menikah adalah hal sakral.
" ... kamu tak akan rugi menikah denganku, Kalila. Aku anak tunggal dari pengusaha terkaya di pulau ini. Hehm. Lagipula aku juga lebih tampan darinya. Harga dirimu akan terselamatkan dan kamu bisa membuat pria itu menyesal. Jika perlu balas dendam dan merebutnya kembali ... aku bisa membantumu!" ucapnya tadi siang.
Mendapat menantu dadakan sebaik Dareen, yah ... terang saja Papa dan Mama langsung iya-iya aja. Anehnya, Papi Mas Dareen sangat senang, dan langsung merestui hubungan kami. Ada apa ini? Apa mereka juga punya tujuan?
Bukan hanya dia playboy dan sok kecakepan di luar sana, dia juga sok manis di hadapan semua orang, terutama keluargaku.
Aku berbalik ke dalam. Pasrah dan kalah. Membiarkan pria itu masuk dan melihat betapa menyedihkannya aku. Siapa sangka, Mama mengikutiku. Mematikan musik di kamar ini.
"Jaga sikap dan sopan santunmu Kalila, kita sudah cukup malu," tegasnya sebelum akhirnya keluar.
"Kenapa tak bertahan sebentar di sini, agar Mama tahu alasan kenapa kunyalakan tape itu," celetukku, hingga kakinya tertahan sebentar. Hanya sebentar. Nyatanya dia tak peduli pada puterinya ini. Mama selalu mencintai dan kasihan pada Qinara tapi tidak padaku.
Wanita itu kemudian berjalan dengan tatapan dingin. Meninggalkan kamar pengantin kami.
Mas Dareen pun bergerak ke arah pintu. "Apa kamu ingin malam pertama kita ditemani Mama kamu?" tanyanya disertai tawa kecil. "Duh, lucu bayanginnya."
Dia masih juga bisa bercanda dan berkata seolah tak terjadi apa-apa. Dia tak tahu sakitnya segumpal darah dalam dadaku.
"Aa ....!"
Mas Dareen mendongak. Ia pasti terkejut mendengar suara itu. Lalu menatap ke arahku seolah menyelidik ekspresi di sana.
Gak usah ditanya, Mas! Hatiku rapuh. Tentu saja aku juga menjerit dalam hati. Bagaimana bisa pria yang kucintai tidur dengan adikku di malam pertama kami?
Suara jeritan itu terdengar tiga kali ini olehku, dalam sejam. Entah, kalau tak menyalakan tape tadi.
"Gak ada akhlak memang! Urat malunya juga sudah putus!"
Pria itu kini beralih menatap ke arahku. Namun, dengan cepat aku menunduk. Menyembunyikan wajahku yang terasa panas. Ada air mata yang entah sejak kapan berjejalan di sana. Inilah alasan utamaku tak mau membawa masuk Mas Dareen ke kamar. Aku tak ingin ia melihat wanita yang judes, tegar dan ceria di matanya, terlihat begitu mengsedihkan!
"La, kamu nangis?"
Mas Dareen tiba-tiba saja sudah di hadapanku, mengangkat daguku dengan jemarinya, hingga aku mendongak dan tatapan kami bertemu.
Ya Tuhan, bukankah malam pertama itu identik dengan kebahagiaan? Malam di mana sepasang pengantin menikmati kebahagiaan bersama. Namun yang kurasakan sekarang ....
Dan ... menatap dua mata itu, kenapa ada kehangatan di hatiku?
Bersambung
Jan omes, plisss! Jangan suudzon juga sama Dewa.🙈
Next bakal tau kok kenapa Qinara teriak-teriak.
Five years later. Charlotte pov Where are you going with Gigi it's 6am on a Sunday ,are you trying to hack someone, " Harper yawns as she looks at me "Of course not H ,I'm staying healthy unlike you ..." "Yeah but don't take Gigi along ," "Yeah you can ,listen to some music or shit like that but you are not taking Gigi she doesn't even love you,"she speaks without a care in the world. "Of course she does!"I feign hurt. "Well watch ,"She replies smugly, " " Sweet Gigi come and spend a day with mummy "She grabs a dog biscuit and waves it Infront of the poor pug.Gigi hurries over to Harper and eats the dog biscuits while snuggling next to her . "No amount of treats will take Gigi from me ,you can bet that.come here Gigi !"I yell. Gigi just stares at me like a stranger .what kind of betraya
Knox pov "Mate ! "my wolf shouts and the alarm goes off in my head. Her mindlink is off which is really weird because lately she has been tasting her mind link with me the whole day. Telling me every single thing that is happening to me. "She must be in trouble right now , "I growl to my wolf and immediately start turning away from Reese. "Where are you going? "Reese asks me as I turn my back to the other side if the forest. "I need to find your luna . Take care of the rest if the bodies and mnd link for back up, "I order her. "What happened ? "she stutters as she looks at me with a straight face. "Now is the not the time Reese . Just do what I tell you ! "I bark at her. "Okay alpha , "she replies with a curt nod and proceeds to deal with the dead bodies in front of her. Once I leave pack grounds . My clothes rip to shreds once I shift into my wolf. I don't know what the fuck is happening but I sprint to the pack house to look her and make sure she is safe. "H! "I
Charlotte pov "I think your father would find it acceptable that I should stay any longer so I have to go , "she smiles as she hugs me tightly. I can't believe my mother decided to leave on the day of my luna ceremony . But I do understand that my father will physically come and grab my mother . The mate bond is something so strong that even when two wolves are old with grey hair they are still bound to each other. This morning has been filled with so much anxiety. I don't know what's wrong with me but I feel like something isn't right and it's killing me. I haven't told anyone this but I have a bad feeling about today. "I know mum . I'm just going to miss you , "I snap myself from the thoughts I have right now. "Well when you have your first baby . I will be right here , "she answers with a huge grin on her face. "Oh mum stop , "I beat her arm playfully. "Well I'm just kidding , "she laughs with a loud voice and instantly gives me a straight face, "No I am not, " "Mum y
Charlotte pov I feel extremely uncomfortable and weird right how. I look at him and contemplate on what to do next. He grabs my arm and looks at me like he is about to do something that he knows he might regret . He shuts his eyes really tight and directs his hand to his chest. My heart skips a beat when I realize what he is about to do. "Knox , "I clear my throat and he opens his eyes revealing his dark blue eyes. "I don't want to change my mind Lottie. I can't tell you how exactly it started but I can let you feel it , "he speaks as he looks at me. "Are you sure about this ? "I ask as I look at him apprehensively. "When have I not being sure about something . I want you to feel the -"he pauses and takes a breath and fails to finish his sentence. He squeezes my hand gently and lifts up my hand . I wait p
Knox pov Another double fuck for what is about to happen. Harper looks at me tentatively as she bites her fingers nervously . She looks petrified like something is wrong . I don't pay attention to her for a while but that look on her face is irritating me so I end up asking her what's wrong. "Har
Knox pov Flash back "124!" "125 ! "My father screams again and the spit flying out of his mouth ends up landing on my face . I groan as the pain of the push-ups makes me exhausted. I can't do this anymore . I'm exhausted and tired. I'm only just 9 ye
Charlotte pov The kiss is so unexpected and raw .A low growl rumbles from his throat making his chest vibrate which sends waves of tingles straight to my pleasure core.I can already feel my panties getting completely wet and soaked. My wolf purrs as I grab his massive chest and unconsciously sniff
Reese pov I turn my head to face the wall . I'm better now because of the numbing pain . That bitch really thought she would kill me. I scoff and laugh at myself as I think about how someone so small and fat could have the chance to actually kill me. Maybe one of these days I might jus






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Mga Ratings
RebyuMore