Share

Bab 2

Author: Grind
Di telepon, Merry juga tidak kalah terkejut dan marah atas tindakan Ronald.

"Oke, Sinta, Ibu mendukungmu."

"Urusan pembatalan pertunangan sama Keluarga Garga dan perjodohan sama Keluarga Jerico, biar Ibu yang urus!"

Setelah menutup telepon, Sinta melihat pengingat jadwal yang bermunculan.

Seminggu lagi adalah hari mencoba gaun pengantin, setengah bulan lagi jadwal mengambil cincin kustom, dan sebulan lagi adalah jadwal foto pra-nikah ....

Dengan wajah dingin, dia menghapus jadwal itu satu per satu.

Semua hal yang berhubungan dengan Ronald di ponselnya pun disapu bersih ke tempat sampah.

Selesai melakukan itu semua, ponselnya berdering lagi saat dia baru mau memejamkan mata untuk beristirahat.

Itu adalah panggilan dari sopir Keluarga Lioda.

Sinta mengerutkan dahi, lalu mengangkat telepon.

Dari balik telepon, terdengar suara sopir yang panik.

"Nona, gawat! Ibu Merry jatuh dari tangga Vila Garga!"

Ekspresi Sinta mendadak berubah drastis.

Saat dia bergegas sampai di Vila Garga, Merry sudah dilarikan ke dalam ambulans.

Dia menendang pintu aula leluhur Keluarga Garga hingga terbuka, lalu melihat Ronald berlutut di hadapan Alin, ibu Ronald, melindungi Virly dengan erat di belakang tubuhnya.

Punggung pria itu dipukul hingga berdarah-darah, tapi dia tetap diam tanpa bersuara sedikit pun.

Begitu melihat Sinta, wajah Alin yang kelam memaksakan sebuah senyuman.

"Sinta udah datang."

Dia langsung bertanya ke inti permasalahan, "Tante, kenapa ibuku bisa mendadak jatuh dari tangga?"

Dari mulut Alin, dia baru tahu kalau Merry sedang berdiskusi dengan Alin soal pembatalan pertunangan, lalu Ronald membawa Virly pulang ke Vila Garga secara terang-terangan.

Merry tidak bisa menahan amarahnya, lalu menampar Virly beberapa kali dengan emosi.

Posisi berdirinya mereka berdua tepat di samping tangga.

Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya, mereka hanya melihat Merry tidak sengaja berguling jatuh dari tangga, hingga bagian belakang kepalanya membentur sudut tajam di tikungan dan langsung pingsan.

Virly berdiri di atas tangga dengan wajah panik.

Melihat raut wajah Sinta yang sangat buruk, Alin memegang tangannya dan berkata.

"Sinta, kamu tenang aja, masalah ini Tante pasti bela kalian!"

Namun, Ronald mengarahkan tatapannya yang tajam ke arah Sinta.

"Kejadian ini cuma kecelakaan, nggak ada hubungannya sama Virly.

"Soal Tante Merry, aku bakal suruh rumah sakit kasih perawatan yang terbaik."

Sinta tidak mempedulikannya, melepaskan pegangan tangan Alin, lalu berjalan ke hadapan Virly dan bertanya kata demi kata.

"Kamu yang dorong?"

Wajah Virly mendadak pucat pasi, dia menatap Ronald dengan tidak berdaya.

"Bukan aku ... aku nggak dorong ...."

Pria itu berdiri dengan mendadak dari lantai, berdiri menghalangi Sinta, merangkul Virly yang tidak bisa berdiri tegak ke dalam pelukannya, lalu berujar dengan tatapan mantap.

"'Kan udah aku bilang, ini kecelakaan."

Namun, Sinta menyadari sudut bibir Virly yang sedikit terangkat di balik beberapa helai rambutnya, serta tatapan provokatif yang samar di matanya saat menatap ke arahnya.

Tatapannya mendadak tajam, sebelum semua orang sempat bereaksi, dia merebut cambuk dari tangan pelayan di sampingnya, lalu mencambuk Virly dengan keras!

"Ah!"

Virly menjerit ketakutan, pakaian tipisnya seketika robek, darah segar merembes dari kulitnya yang mulus.

Saat Sinta baru mau mengayunkan cambukan kedua, Ronald yang baru menyadari situasi langsung mengangkat tangan dan menahannya.

Dia menatap Virly yang pingsan karena takut darah di pelukannya, lalu menatap Sinta dengan raut wajah seram dan nada bicara yang dingin.

"Sinta, kamu gila, ya?"

"Kamu tahu nggak, Virly bukan cuma punya golongan darah rhesus negatif, tapi juga punya gangguan pembekuan darah! Begitu terluka, nyawanya bisa terancam!"

Setelah berbicara, tangannya mendadak mengerahkan tenaga.

Tekanan tenaga yang sangat kuat langsung mematahkan tangan Sinta yang sedang memegang cambuk.

Tangan kanannya terkulai lemas tanpa tenaga di samping tubuhnya.

Namun, Ronald bersikap seolah tidak melihatnya, dia hanya menggendong Virly dengan wajah panik sambil melempar ancaman tajam.

"Kalau sampai timbul masalah pada Virly, aku nggak akan pernah melepaskanmu!"

Setelah selesai berbicara, dia langsung pergi tanpa menoleh lagi.

Alin yang baru saja sadar dari kekacauan itu melihat punggung Sinta yang bersiap untuk pergi.

Dia buru-buru berkata, "Sinta, pernikahan kedua keluarga kita ini melibatkan terlalu banyak hal, lagian kamu 'kan begitu menyukai Ronald, soal pembatalan pertunangan itu ...."

Sebelum kalimat itu selesai, Sinta menyela ucapannya.

"Tante, pembatalan pertunangan ini sudah pasti."

Setelah meninggalkan Vila Garga, Sinta bergegas tanpa henti menuju rumah sakit tempat Merry dirawat.

Tapi, saat tiba di rumah sakit, dia justru diberi tahu kalau Merry sudah masuk ke ruang operasi lagi!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status