Share

Bab 3

Author: Grind
Sopir berkata dengan wajah serba salah, "Nona, orang-orang Keluarga Garga benar-benar keterlaluan!"

"Nyonya sudah pingsan karena kehilangan banyak darah, tapi mereka tetap ngotot mau ambil darah nyonya."

Kedua mata Sinta seketika memerah, dia langsung berlari menuju ruang operasi.

Kulit Virly cuma tergores sedikit!

Mana butuh ada orang yang transfusi darah untuknya!

Saat dia tiba, dokter baru saja mau mendorong ranjang pasien Merry ke dalam.

"Hentikan!"

Dia menghalangi di depan ranjang pasien, menatap Ronald dengan nada bicara yang sama sekali tidak ramah.

"Ronald, siapa yang izinkan kamu sentuh ibuku?"

Pria itu jarang-jarang berbicara padanya dengan nada lembut.

"Stok darah di rumah sakit kritis, cuma golongan darah tante yang cocok sama Virly."

Sinta menatap wajah pria itu yang tidak biasanya bersikap baik padanya, lalu tertawa kesal.

"Omong kosong."

"Ronald, coba aja kalau kamu berani sentuh ibuku sedikit aja, aku bakal hancurkan rumah sakit Keluarga Garga ini!"

Raut wajah Ronald seketika berubah muram.

"Sinta, kamu harusnya tahu kalau rumah sakit ini marganya Garga!"

"Lakukan!"

Bersamaan dengan runtuhnya kalimat itu, beberapa petugas keamanan menahannya dengan sangat kuat.

"Ronald!"

Sinta menyaksikan dengan mata kepala sendiri Merry yang sudah pingsan karena pendarahan didorong ke dalam ruang operasi, lalu diambil kantong darahnya hingga empat kantong penuh!

"Aku udah atur dokter spesialis terbaik buat konsultasi kondisi tante, gimanapun dia calon ibu mertuaku, dia pasti dapat perawatan terbaik."

Mendengar itu, Sinta rasanya ingin maju dan merobek wajah tanpa malu milik Ronald.

Dia berjuang sekuat tenaga, lalu tiba-tiba meluapkan kekuatan besar hingga lepas dari kuncian petugas keamanan dan merebut kantong darah itu.

Namun di detik berikutnya, sebujur jarum suntik mendadak ditancapkan ke lehernya.

Cairan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya mengikuti aliran darah.

Kekuatannya perlahan menghilang, kesadarannya makin kabur.

Pada akhirnya, dia tidak sanggup lagi menopang tubuhnya dan hampir roboh ke lantai.

Saat itu, Ronald maju dua langkah.

Dia mengambil kantong darah dari tangan Sinta dengan hati-hati, lalu tanpa melirik sedikit pun pada Sinta yang terhempas keras di lantai, dia berkata dengan suara datar.

"Segera bersiap buat transfusi darah ke Virly."

Ingatan terakhir Sinta berhenti pada punggung dingin pria itu.

Dia terbangun di kamar rawat rumah sakit.

Perawat yang datang untuk mengganti botol infus tidak menyadari kalau dia sudah sadar, lalu masih keasyikan bergosip dengan rekan di sampingnya.

"Tuan Ronald benar-benar manjakan Nona Virly! Padahal cuma tergores sedikit di punggung, tapi sampai panggil dokter kulit terbaik di rumah sakit buat konsultasi."

"Jangan omongin itu lagi, kalau ingat itu aku merasa sial banget. Luka Nona Virly yang cuma sedikit itu padahal udah mengering di ruang operasi, tapi dia nggak izinkan kita kasih tahu Tuan Ronald, tetap ngotot mau lihat kantong darah diantar ke dalam."

"Aku kira mau dipakai, siapa sangka dia malah langsung tusuk kantong darahnya sampai pecah! Darahnya mengalir ke mana-mana, aku sampai bersihkan semalaman!"

Setelah perawat pergi, Sinta perlahan membuka kedua matanya, tubuhnya gemetar karena emosi, kuku jarinya menancap dalam ke telapak tangan hingga berbekas.

Dia mencabut jarum infus dengan tenang, lalu mencari kamar rawat tempat Merry berada.

Merry kehilangan terlalu banyak darah, meski sudah memakai obat terbaik, dia tetap belum sadarkan diri.

Menatap Merry yang lemah, mata Sinta terasa panas berkaca-kaca, dia langsung mengatur orang-orang Keluarga Lioda untuk membawa Merry pergi dan pindah ke rumah sakit lain.

Setelah itu, dia membawa tongkat bisbol dan berjalan lurus menuju kamar VIP tempat Virly dirawat.

Di luar kamar rawat ada empat orang dokter yang bersiap memantau keadaan kapan saja, sedangkan di dalam kamar ada 10 orang perawat yang siap menerima perintah.

Cukup untuk membuktikan betapa Ronald peduli pada Virly.

Tapi, saat melihat Sinta yang memegang tongkat bisbol dengan wajah tidak bersahabat, para tenaga medis tidak ada yang berani maju menghalangi.

Virly sedang berbaring di atas ranjang pasien, memakan buah dengan suasana hati yang sangat baik.

Melihat Sinta yang datang dengan emosi membara, pupil matanya sedikit menyusut, suaranya gemetar.

"Sinta, kamu mau ngapain?"

"Aku peringatkan kamu ya, kalau kamu berani sentuh aku, Ronald pasti nggak bakal tinggal diam!"

Jawaban untuknya adalah ayunan tongkat bisbol Sinta yang tanpa ragu.

"Brak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status